NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hinaan Lagi

"Lho, Mbak, masih juga buka toko? Nggak istirahat?" tanya Aya yang baru saja masuk ke dalam toko.

Hari sudah berganti pagi kembali.

Setelah kejadian kemarin—mulai dari Naresta yang pingsan, mengetahui dirinya hamil, hingga pemeriksaan kandungan sore harinya—kehidupan mereka sedikit berubah.

Terutama Elvan.

Pria yang awalnya tidak pernah banyak bicara itu sekarang justru menjadi lebih cerewet kepada istrinya.

Naresta yang sedang duduk di belakang meja kasir hanya tersenyum.

"Aku cuma duduk, Mbak Aya."

Aya meletakkan tasnya.

"Tapi tetap saja kerja."

"Kalau tokonya nggak dibuka, nanti pelanggan pada bingung."

Tiba-tiba Elvan datang dari arah belakang sambil membawa segelas susu.

"S-sayang."

Naresta langsung menoleh.

"Iya, Mas?"

"M-minum."

Naresta melihat gelas yang disodorkan suaminya.

"Mas, aku baru sarapan."

"M-minum."

Aya langsung menahan tawanya.

"Waduh, Mbak. Sekarang ada yang galak."

Naresta terkekeh.

"Makanya. Sejak tahu aku hamil, Mas Elvan berubah."

Elvan menggeleng cepat.

"T-tidak g-galak."

"Terus apa?"

"J-jaga b-bayi."

Naresta menerima gelas tersebut.

"Iya, calon Ayah."

Ia mulai meminum susunya perlahan.

Elvan tidak langsung pergi. Ia berdiri di samping istrinya sambil memperhatikan sampai Naresta benar-benar minum.

Aya yang melihatnya semakin geli.

"Mas Elvan, kalau Mbak Naresta nggak habisin, gimana?"

Elvan langsung menatap gelas di tangan istrinya.

"H-harus h-habis."

Naresta hampir tersedak.

"Mas!"

Aya langsung tertawa.

"Rasakan, Mbak. Sekarang punya pengawas."

Naresta menggeleng sambil tersenyum.

"Padahal kemarin-kemarin aku yang selalu ngawasin dia."

Belum lama mereka berbincang...

Kring!

Pintu toko terbuka.

Beberapa pelanggan masuk hampir bersamaan.

"Pagi, Mbak Naresta."

"Pagi, Bu. Silakan."

Salah seorang wanita yang baru masuk langsung memperhatikan Elvan yang berdiri di samping Naresta sambil memegang gelas kosong.

"Lho, suaminya sekarang nempel terus?"

Naresta tersenyum.

"Memang dari dulu, Bu."

Wanita itu mendekati meja kasir.

"Saya dengar kemarin Mbak pingsan."

"Iya, Bu. Tapi sekarang sudah baik-baik saja."

"Katanya hamil juga?"

Naresta mengangguk.

"Alhamdulillah."

Namun, wanita lain yang berdiri di belakangnya justru terkekeh kecil.

"Yang benar aja."

Naresta mengernyit.

"Kenapa, Mbak?"

Wanita itu melirik Elvan dari atas sampai bawah.

"Saya masih nggak habis pikir."

Naresta mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.

"Nggak habis pikir apa?"

Wanita tersebut tersenyum miring.

"Suaminya begitu kok bisa bikin hamil."

Seketika senyum di wajah Naresta menghilang.

Aya yang tadi masih bercanda pun langsung menatap wanita itu dengan wajah tidak percaya.

Sementara Elvan perlahan menundukkan kepalanya.

Hinaan itu kembali terdengar. Bahkan setelah kebahagiaan yang baru satu hari mereka rasakan.

"Bu, ke sini mau belanja atau cuma mau menghina saya saja?" tanya Naresta dengan wajah yang mulai serius.

Wanita itu mengangkat alisnya.

"Lho, kok menghina? Saya cuma bertanya."

"Kalau bertanya, tidak perlu menggunakan kalimat seperti itu, Bu."

"Memangnya saya salah?"

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Suami saya penyandang autisme, bukan berarti dia tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang lain."

Wanita itu terdiam sesaat.

"Saya cuma heran."

"Heran boleh."

Naresta menatapnya lurus.

"Tapi jangan sampai rasa penasaran Ibu membuat suami saya merasa direndahkan."

Elvan yang berdiri di samping Naresta perlahan menggenggam ujung bajunya sendiri.

Melihat itu, Naresta langsung meraih tangan suaminya.

"Mas."

Elvan menoleh.

"Jangan didengarkan."

Elvan mengangguk kecil.

"I-iya."

Aya yang sejak tadi menahan kesal akhirnya ikut membuka suara.

"Kalau mau belanja, silakan, Bu. Tapi kalau datang cuma untuk membahas kehidupan pribadi Mbak Naresta sama Mas Elvan, lebih baik jangan."

Wanita itu langsung menatap Aya.

"Kamu lagi. Karyawan kok suka ikut campur."

Aya tersenyum tipis.

"Saya memang karyawan."

Ia menunjuk keadaan toko di sekelilingnya.

"Tapi saya juga punya telinga. Kalau ada orang menghina pemilik toko tempat saya bekerja di depan saya, masa saya harus pura-pura nggak dengar?"

Naresta mengusap pelan tangan Elvan sebelum kembali menatap wanita tersebut.

"Jadi bagaimana, Bu? Mau belanja? Kalau mau, saya layani dengan baik. Tapi kalau cuma ingin menghina suami saya, pintunya ada di sana."

Tring!

"Apa lagi ini pagi-pagi?" terdengar suara seseorang dari arah pintu.

Naresta langsung menoleh.

"Bu RT?"

"Iya, Mbak. Saya mau membeli bahan buat besok. Kemarin, kan, nggak jadi."

Naresta tersenyum sedikit tidak enak.

"Iya, maaf ya, Bu. Kemarin malah jadi tutup."

Bu Ratih langsung mengibaskan tangannya.

"Lho, kenapa malah minta maaf? Kamu pingsan, bukan sengaja tutup toko."

Naresta terkekeh kecil.

"Iya juga, sih."

Bu Ratih berjalan mendekati meja kasir sambil membawa catatan belanja.

"Ini seperti biasa, ya. Gula sepuluh kilo, tepung terigu sepuluh kilo, minyak goreng lima liter, sama telur dua rak."

"Baik, Bu."

Naresta langsung menoleh ke arah Aya.

"Mbak Aya, tolong siapkan pesanannya Bu Ratih, ya."

"Siap, Mbak."

Aya menerima catatan tersebut, lalu mulai mengambil barang-barang yang dibutuhkan.

Bu Ratih kemudian memperhatikan wajah Naresta.

"Kamu sudah baikan?"

"Sudah, Bu. Alhamdulillah."

"Terus ngapain masih duduk di kasir?"

Naresta tertawa kecil.

"Bu Ratih sama saja kayak Mas Elvan."

"Memangnya Mas Elvan kenapa?"

Belum sempat Naresta menjawab, Elvan langsung menyodorkan gelas kepada istrinya.

"S-sayang, m-minum l-lagi."

Bu Ratih langsung tertawa.

"Nah, bagus! Sekarang ada yang ngawasin kamu."

"Bu..."

"Memangnya kenapa? Bagus itu. Kamu suka lupa istirahat kalau toko ramai."

Bu Ratih kemudian baru menyadari ada beberapa pelanggan yang sejak tadi berdiri dalam suasana sedikit tegang.

Ia mengernyit.

"Tapi tadi saya dengar dari luar kayak ada yang ribut."

Naresta mengembuskan napas pelan.

"Nggak apa-apa, Bu."

Bu Ratih langsung menatapnya curiga.

"Nggak apa-apa bagaimana? Wajah kamu saja sudah beda."

Pandangan Bu Ratih kemudian beralih kepada wanita yang tadi menghina Elvan.

"Jangan bilang baru pagi begini sudah ada yang cari masalah lagi?"

Brak!

Aya yang membawa beberapa bungkus tepung meletakkannya di atas meja dengan wajah kesal.

"Benar, Bu RT. Tadi mereka menghina Mbak Naresta lagi," ucap Aya dengan gayanya yang ceplas-ceplos.

Bu Ratih langsung menoleh.

"Menghina lagi?"

"Iya, Bu."

Aya menunjuk pelan ke arah wanita yang sejak tadi berdiri di dekat kasir.

"Katanya, bagaimana bisa Mbak Naresta hamil? Padahal suaminya autisme."

Mata Bu Ratih langsung membesar.

"Hah?"

Wanita itu buru-buru membela diri.

"Saya cuma bertanya, Bu."

Aya langsung berkacak pinggang.

"Bertanya dari mana? Nadanya saja meremehkan."

"Aya," tegur Naresta pelan.

"Apa, Mbak? Saya ngomong kenyataan."

Bu Ratih mengembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

"Kemarin sore saya dengar pertanyaan seperti itu di klinik kandungan."

Ia menatap wanita tersebut.

"Sekarang pagi-pagi datang ke toko, pertanyaannya sama lagi."

Wanita itu mulai terlihat tidak nyaman.

"Memangnya salah kalau penasaran?"

"Nggak salah penasaran," jawab Bu Ratih. "Tapi kalian ini kenapa heran sekali melihat pasangan suami istri punya anak?"

Wanita itu terdiam.

Bu Ratih menunjuk Elvan yang kini berdiri dekat Naresta.

"Mas Elvan itu suaminya Naresta."

"Laki-laki dewasa."

"Usianya tiga puluh tahun."

"Dia menikah secara sah dengan Naresta."

Bu Ratih menggeleng pelan.

"Terus bagian mana yang membuat kalian heran ketika istrinya hamil?"

Aya langsung mengangguk cepat.

"Nah! Itu yang dari tadi mau saya bilang, Bu."

Naresta mengusap dahinya.

"Mbak Aya..."

"Benar, Mbak."

Aya kembali mengambil barang pesanan Bu Ratih.

"Orang suami istri punya anak kok malah dijadikan bahan gosip."

Bu Ratih menatap wanita itu sekali lagi.

"Autisme bukan berarti Mas Elvan bukan manusia."

"Dia tetap punya perasaan, punya kehidupan, dan punya rumah tangga."

Wanita tersebut kini hanya bisa terdiam.

Sementara Naresta menggenggam tangan Elvan yang sejak tadi memilih tidak membalas satu kata pun.

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!