Kondisi keluarga yang berantakan, membawa Freya menjadi sosok anak yang berandal.
Freya kerap menghabiskan waktunya di club dan menjerumuskan dirinya kedalam obat-obatan terlarang.
Sean Bagaskara hadir di saat Freya nyaris dilecehkan.
Setelah pertemuan itu, takdir seolah terus mengikat keduanya hingga perasaan cinta tumbuh dihati mereka.
Sayangnya, disaat cinta itu kian menggebu, Freya harus mengetahui kenyataan pahit bahwa Sean adalah seorang gigolo, lebih tepatnya Gigolo ibu tirinya sendiri.
Selanjutnya, apa yang akan dilakukan Freya?
Simak ceritanya hanya disini guys!!!!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN SUBSCRIBE YA!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Dingin.
"Ini Gimana dong, udah gelap, pasti jarang ada mobil lewat. Kita harus kemana?" Freya sejak tadi bergerak gelisah, pasalnya sudah setengah jam mereka menunggu mobil lewat, tapi tidak ada sama sekali. Sedangkan di langit petir saling bersahutan bersamaan dengan kilat yang membuat bulu kuduk Freya merinding.
"Lebih baik kita jalan kedepan saja. Disana ada penginapan, kita nggak bisa terus nunggu disini," ujar Sean sama cemasnya, mereka tidak mungkin disana terus menerus, karena sekitarnya adalah hutan.
"Maksudmu, kita harus jalan kaki begitu?" Freya bertanya syok.
"Tidak ada jalan lain 'kan? Hanya 100 meter darisini, lihatlah sebentar lagi akan turun hujan," kata Sean melihat langit yang benar-benar sangat gelap, sepertinya akan turun badai.
"Tapi itu jauh Sean, aku capek, kakiku pegel. Aku nggak-" Freya tidak melanjutkan perkataannya, tatkala tiba-tiba Sean berjongkok di depannya dengan posisi membelakanginya.
"Ayo naik, aku akan menggendongmu," ujar Sean.
"Ha? Kau yakin? Aku berat loh," kata Freya tidak enak juga.
"Tidak ada yang lebih berat dari masalah hidupku. Ayo cepat, atau mau aku tinggal?" Sean menyahut dengan tidak sabar, ia hanya takut jika mereka akan kehujanan sebelum sampai di penginapan itu.
"Eh iya iya." Freya langsung melompat ke punggung Sean begitu mendengar akan ditinggal.
"Sudah siap?" tanya Sean dan dibalas anggukan singkat oleh Freya. Setelah itu ia membawa wanita itu pergi menuju penginapan yang dimaksudnya.
Freya tidak berani menatap sekelilingnya yang tampak cukup gelap, hanya ada lampu penerangan dari senter ponselnya membuat ia sangat takut dan memeluk Sean begitu erat. Ditambah suara petir yang terus menggelegar itu membuat suasana semakin mencekam.
"Kenapa kau takut? Tenang saja, disini tidak ada hantu," seloroh Sean tertawa kecil, menyadari jika wanita yang berada didalam gendongannya ini sangat ketakutan.
"Ish, bagaimana kalau ada? Dan tiba-tiba mereka muncul," kata Freya benar-benar parno sendiri.
"Hahaha, tidak akan. Lagipula ada yang lebih berbahaya dari hantu," ucap Sean dengan senyum tipisnya.
"Apa? Bandit?" Dengan polosnya Freya justru bertanya.
"Ya, bisa dibilang begitu. Pokoknya dia sangat berbahaya, dia bisa membuat perutmu membesar dengan sekali tusukan," ujar Sean terkikik geli.
"Ha? Apa itu?" Freya bertanya kaget, dalam otaknya langsung membayangkan apa yang dimaksud Sean.
Sean semakin terkikik-kikik geli, ternyata dibalik sikap bar-barnya, Freya itu sangat polos sekali. Membuat Sean senang sekali menggodanya.
"Kau benar-benar ingin tahu ya? Apa kau tidak takut perutmu akan membesar?" kata Sean.
"Apa memang sangat bahaya? Sekali tusukan? Apa?" Freya terus saja bertanya karena penasaran, wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud oleh Sean.
"Iya sangat berbahaya, apalagi kalau dia sudah mode on, sangat berbahaya. Kau pasti susah untuk menundukkannya. Kau harus membuatnya kelelahan baru dia akan tertidur," sahut Sean lagi.
Freya mengerutkan dahinya, merasa ucapan Sean itu semakin tidak masuk akal. Bandit apa yang bisa membuat wanita perutnya membesar dengan sekali tusukan? Lagipula kenapa harus perutnya yang membesar?
Puas berpikir sangat keras, tiba-tiba Freya tersadar akan apa yang dimaksud Sean membuat seketika matanya terbelalak lebar.
"Sean, kau!" Freya berteriak dan reflek mencubit lengan Sean dengan sangat keras.
"Aduh aduh, kenapa ini?"
"Kenapa-kenapa? Kau dasar mesum! Arghhhhhhhh menyebalkan!" teriak Freya terus saja mencubit gemas lengan Sean untuk meluapkan kekesalannya.
Sean justru tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Freya itu. "Hahaha, makanya jadi orang jangan terlalu polos," seloroh Sean masih dengan tawanya.
"Kau benar-benar menyebalkan," celetuk Freya mendengus kesal, ia benar-benar tidak tahu apa yang tadi dimaksud Sean. Dan ternyata itu sebuah ...
"Arghhhhhhhh sialan, otakku mulai mesum 'kan? Pantaslah dia bilang dengan sekali tusukan bisa membuat perutnya membesar. Ternyata ... "
"Jangan membayangkannya, nanti aku akan menunjukkannya padamu," cetus Sean asal saja.
"Ogah," ketus Freya masih dengan nada kesalnya.
"Benarkah? Bukannya kau suka? Waktu itu kau bahkan tidak mau aku berhenti," kata Sean terus saja menggoda Freya.
"Diamlah Sean! Kalau kau berbicara terus, aku akan benar-benar memukulmu sampai kau lupa ingatan!" bentak Freya, merasa sangat malu sekali jika mengingat kegiatan panas mereka. Wajah Freya bahkan sudah memerah membayangkan bagaimana Sean menyentuhnya begitu lembut dan juga sangat panas.
Sialan!
*****
Hujan ternyata sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Belum juga Sean dan Freya sampai di penginapan, hujan sangat deras mengguyur mereka berdua. Sean akhirnya harus berlari menuju penginapan itu meksi mereka sudah basah kuyup.
"Tidak ada kamar kosong lagi Tuan, hanya tinggal satu yang ada di ujung lorong itu."
Entah disengaja atau tidak, tapi malam itu juga hanya tersedia satu kamar yang berukuran sangat sempit. Bahkan kasurnya sangat kecil, dan jika ditempati oleh dua orang pasti harus berdesak-desakan.
"Nanti, aku akan tidur dibawah. Sebaiknya kau bersihkan dirimu," kata Sean melirik Freya yang tampak sudah sangat kedinginan itu. Apalagi kamar itu juga memiliki AC alami yang berasal dari jendela samping kamar.
"Baiklah." Freya mengangguk mengiyakan, ia langsung saja masuk kedalam kamar mandi yang berada disudut ruangan.
Udara sangat dingin sekali membuat tubuh Freya seperti terkena es. Freya segera membuka bajunya yang basah kuyup itu, ia lalu mencoba menyalakan kran air panas yang ternyata tidak bisa.
"Mati ya? Brengsek banget," gerutu Freya kesal sendiri, ia akhirnya terpaksa mandi dengan air dingin membuat tubuhnya kembali menggigil. Akan tetapi, baru juga ia mandi tiba-tiba lampu kamar mandi mati membuat Freya kaget.
"Arghhhhhhhh!" Freya berteriak keras dan reflek langsung keluar begitu saja tanpa mengambil handuknya. Ia sangat takut akan kegelapan dan ia tidak memikirkan apapun lagi.
"Freya?" Sean juga kaget mendengar teriakan Freya, ia langsung menghampiri wanita itu dengan menggunakan penerangan dari cahaya kilat dari jendela.
"Sean, Sean, aku takut, gelap sekali." Freya sendiri langsung berlari dan memeluk Sean, tidak peduli saat ini ia sedang tidak menggunakan apapun.
"Freya kau?" Sean kembali dibuat kaget, pasalnya kini ia merasakan sesuatu yang empuk menyentuh tubuhnya.
"Arghhhhhhhh, aku takut sekali!" Lagi-lagi Freya berteriak saat terdengar suara guntur yang sangat keras, cahayanya bahkan sampai masuk kedalam kamar itu dan Freya mengeratkan pelukannya pada Sean.
"Sepertinya semua lampu mati, karena hujannya sangat deras," kata Sean terdengar bergetar, pasalnya saat ini ada sesuatu yang bangkit dari dirinya karena kedekatan intim ini.
"Aku takut," kata Freya masih memeluk Sean sangat erat, ia tidak sadar jika tindakannya itu bisa membangunkan singa yang tadinya tertidur lelap.
"Freya ..." gumam Sean dengan suara yang rendah, hembusan nafasnya terdengar begitu berat karena tidak bisa menahan dirinya lagi.
Freya mengerutkan dahinya, ia menatap wajah Sean dari cahaya kilat dari arah luar, dan ia baru sadar jika pria itu menatapnya sangat tajam.
"Sean ..." ucap Freya mendadak begitu gugup, ia baru sadar jika saat ini ia tidak menggunakan apapun dan posisinya sangat dekat sekali dengan Sean.
"Bolehkah ... aku menciummu?" ujar Sean tanpa sadar memeluk pinggang Freya sangat erat.
Freya terdiam mematung mendengar ucapan Sean. Bersamaan dengan itu ternyata tiba-tiba menyala lagi membuat Freya bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Sean saat ini.
"Lampunya ... ehmppttttttt-"
Happy Reading.
TBC.
kaya dirinya paling benar aja...
anak zaen