Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emergency.
Mendengar rintihan dari Gwiyomi, Rain langsung peka, ia menghempaskan Hazel dengan kasar lalu berlari mendatangi Gwiyomi yang terus meringis kesakitan.
"Kita akan kerumah sakit sekarang, kau masih bisa menahannya 'kan?" Ujar Rain dengan wajah paniknya, ia menatap wajah Gwiyomi yang pucat seperti tidak dialiri darah. Wanita itu gemetaran saat Rain menyentuhnya, Rain semakin kaget saat melihat kebawah dimana ia melihat darah.
"Astaga, kau berdarah, kita harus cepat." Tanpa membuang waktu, Rain segera menggendong Gwiyomi.
Namun, Hazel tidak terima, ia malah menarik tangan Gwiyomi hingga beralih ke pelukannya.
"Jangan menyentuh istriku!" Hardik Hazel dengan mata yang melotot tajam.
"Bang sat! Lu nggak lihat dia sakit!" Teriak Rain ikut meradang, Hazel ini benar-benar egois sekali, pikirnya.
"Gua bisa membawanya sendiri tanpa bantuan lu, ayo Gwi," ucap Hazel pongah.
"Lepas! Aku tidak mau bersamamu Hazel, kau pria jahat, aku tidak mau." Dengan tenaga yang masih tersisa, Gwiyomi mendorong Hazel dengan kasar.
"Gwi, jangan keras kepala, aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ujar Hazel menarik Gwiyomi sedikit kasar agar wanita itu tetap bersamanya.
"Kau keterlaluan! Dia bilang tidak mau, jangan memaksanya!" Rain sama sekali tidak sabar, dengan penuh kekuatan, ia menendang perut Hazel lalu meraih Gwiyomi dalam gendongannya.
"Arghhhhhhhh! Kau mau membawa istriku kemana! Kembali ba ji ngan!" Hazel berteriak seraya meringis kesakitan, ia bergegas bangkit untuk menyusul Gwiyomi dan Rain.
Rain tidak menggubris Hazel sama sekali, pria itu memang pantas diberi pelajaran. Memang sudah seharusnya Gwiyomi mengetahui semuanya lebih awal, tapi sayang sekali sekarang sudah terlambat karena Gwiyomi sudah jatuh cinta kepada Hazel.
"Sakit ..." ucap Gwiyomi pelan, ia terus memegang perut bawahnya yang semakin mual.
"Sabar ya, kita akan kerumah sakit sekarang," kata Rain mencoba menenangkan Gwiyomi dengan mengusap pelan rambut wanita itu.
Sejujurnya Rain juga tidak tega melihat Gwiyomi terus meringis kesakitan. Maka dari itu ia bergegas membawa Gwiyomi kerumah sakit agar bisa segera ditangani.
Sepanjang perjalanan mereka kerumah sakit, Gwiyomi terus meringis kesakitan, antara sakit kontraksi dan juga sakit hati membuat ia terus menangis.
"Sakit ... Mama ..." Tangis Gwiyomi semakin kencang membuat kepanikan Rain meningkat menjadi level satu.
"Tenang Gwi, tenang, kita akan segera sampai ya," ujar Rain terus mencoba menenangkan Gwiyomi. "Kamu mau aku hubungi keluarga kamu?" Tanya Rain perhatian, mungkin Gwiyomi akan lebih tenang jika bersama keluarganya, pikir Rain.
"Mama ... " Gwiyomi saat ini hanya butuh satu orang untuk menjadi tempatnya bersandar, dunia ini benar-benar sangat kejam, rasa sakit hatinya terus menggerogoti tubuh hingga membuat ia seperti tidak berdaya, bertambah sakit akan kontraksi membuat Gwiyomi seperti antara hidup dan mati.
"Mana ponselmu? Aku akan menghubungi keluargamu," kata Rain.
Gwiyomi hanya menunjuk tas miliknya sebagai jawaban, Rain segera mengambilnya. Setelah mendapatkan kata sandinya, Rain segera menggulir nomor ponsel Mamanya Gwiyomi dan langsung menghubunginya.
"Halo Gwi? Ada apa Nak? Tumben telfon Mama malam-malam?" Bella langsung menyahut begitu Gwiyomi menghubunginya.
"Halo Tante, ini saya Rain. Sekarang Gwi ... ." Rain menjelaskan dengan padat dan jelas, ia juga menyebutkan dimana ia membawa Gwiyomi saat ini.
"Astaga, bagaimana bisa? Aku akan segera kesana sekarang."
Rain segera menutup panggilan itu setelah memastikan jika Mama Gwiyomi akan datang. Rain fokus menyetir mobilnya, tak sampai 10 menit, ia sudah berada dirumah sakit terdekat. Rain setengah melompat dari mobilnya, ia membuka pintu sebelah dan kembali menggendong Gwiyomi.
"Emergency Sus, Emergency!" Rain bahkan berlari seraya berteriak-teriak sebelum ia sampai di dalam.
Beberapa perawat segera sigap memberikan brankar untuk Gwiyomi dan Rain segera membaringkan Gwiyomi disana.
"Keluhan pasien?" Tanya salah satu perawat.
"Sepertinya dia akan melahirkan," ucap Rain juga tidak begitu tahu apakah Gwiyomi hanya mengalami kontraksi atau ingin melahirkan.
"Baik, silahkan Tuan mengisi data-datanya terlebih dulu, kami akan segera menangani istri Anda," ujar Perawat itu menunjuk bagian administrasi, ia kemudian mendorong brankar Gwiyomi menuju Unit Gawat Darurat.
Rain justru mematung, kata istri yang dikatakan oleh perawat itu membuat jiwanya seperti tergelitik. Tapi Rain tidak ingin mengambil untung, ia disini murni ingin menolong Gwiyomi, tidak ada niat lain. Meski sebenarnya ia berharap kalau anak yang dikandung Gwiyomi adalah anaknya, tapi takdir Tuhan memang tidak ada yang bisa menebak.
Jadi, malam itu aku tidak melakukannya pada Gwiyomi? Yang melakukan hal itu justru Hazel, benar-benar pria licik. Dia bertingkah seperti seorang pahlawan, tapi sejatinya dialah penjahatnya disini.
Rain cukup geram juga dengan cara Hazel ini, sebagai seorang pria, Rain menilai kalau Hazel sangat pengecut.
"Tuan, bisa tolong diisi surat persetujuan ini, saat ini Istri Anda mengalami pecah ketuban dan saat ini ketuban pasien hampir habis. Kami terpaksa harus melahirkan bayi Anda sekarang karena kondisi ini cukup berbahaya bagi keduanya," ujar Perawat kembali mendatangi Rain setelah melakukan pengecekan terhadap Gwiyomi.
"Tapi sus, saya-"
"Dia sama sekali tidak berhak! Aku yang berhak disini, karena aku suaminya!" Tiba-tiba terdengar suara Hazel yang begitu besar datang ke rumah sakit itu. Pria itu berhasil datang setelah ia mengikuti mobil Rain dengan kecepatan penuh.
Rain mendesis sinis, ia hampir saja memaki tapi ia menahannya, saat ini ia dirumah sakit, ia harus menjaga sikapnya.
"Jadi, siapa suaminya yang asli?" Perawat itu malah ikut kebingungan saat melihat dua pria tampan didepannya.
"Aku suaminya, mana surat yang harus aku setujui?" Hazel langsung menyahut cepat.
"Ini Tuan, satu jam kedepan proses persalinan akan segera dimulai. Tuan bisa masuk untuk menemani istrinya," ujar Perawat lagi.
Hazel mengangguk siap, ia mengisi semua data tentang Gwiyomi dan juga membaca semua surat tentang penanganan terhadap Gwiyomi. Setelah menandatanganinya, Hazel langsung bisa masuk kedalam ruangan.
"Untuk apalagi kau disini? Kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan!" Seru Hazel mendorong bahu Rain dengan kasar.
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar," sahut Rain kesal juga lama-lama dengan sikap Hazel yang sangat tengil itu.
"Hazel, bagaimana keadaan Gwiyomi?"
Ketegangan antara keduanya langsung terputus tatkala melihat Axel dan Bella datang kerumah sakit. Wajah mereka sangat panik karena tahu jika usia kandungan Gwiyomi masih 8 bulan. Namun, sesampainya disana, mereka malah bingung melihat Hazel dan pria asing.
"Mama, Gwiyomi akan melahirkan, Ma. Siapa yang memberitahu Mama Gwiyomi ada disini?" Sahut Hazel dengan wajah gugupnya, ia takut jika orang tua Gwiyomi juga akan tahu apa yang sudah dilakukannya.
"Tadi Nak Rain yang menghubungi Mama, sebenarnya ada apa?" Tanya Bella menatap Rain dan Hazel bergantian, melihat wajah mereka yang cukup babak belur, membuat Bella semakin bertanya-tanya.
"Saya Rain Tante, tadi-"
"Tidak terjadi apapun, aku akan masuk menemani Gwiyomi dulu, Ma." Hazel langsung menyahut sebelum Rain menyelesaikan ucapannya, ia memberikan tatapan tajamnya pada pria itu agar tidak berbicara macam-macam.
Bella mengerutkan dahinya, ia melirik suaminya yang hanya diam memperhatikan kedua pria yang sibuk beradu tatapan sengit itu.
"Baiklah Nak, sebaiknya kau masuk saja, Gwiyomi pasti membutuhkanmu," turut Bella mengusap lengan Hazel perlahan.
"Iya, Ma." Hazel mengangguk singkat, ia segera masuk kedalam ruang bersalin untuk menemani istrinya.
Sedangkan Rain tersenyum canggung, karena tidak begitu mengenal orang tua Gwiyomi.
"Nak Rain ini temannya Gwiyomi?" Tanya Bella basa-basi.
"Bukan Tante, saya hanya kebetulan ada disana saat Gwiyomi kesakitan," sahut Rain dengan sangat sopan.
"Ada masalah apa? Nak Rain tahu 'kan kalau Gwiyomi sudah menikah dengan Hazel? Tante harap, Nak Rain tidak terlalu menaruh harapan atau perasaan pada putri Tante," ujar Bella bukan bermaksud kejam, ia hanya ingin membuat Rain mengerti sebelum bertindak lebih jauh. Apalagi Bella melihat kalau mereka sama-sama babak belur, alasannya tentu baru saja bertengkar 'kan?
Rain tersenyum kecut, ia bahkan belum melakukan apapun, tapi sudah mendapatkan peringatan. Apakah memang jatuh cinta sesulit itu?
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa