"PERJODOHAN" adalah kata yang tidak jamannya lagi tapi itulah yang karina alamai sekarang.
orang tua karin mendojodohkannya dengan duda anak satu, banyak hal yang terjadi dalam hidup karin setelah menerima perjodohan itu.
"alisya sayang Bunda".
kata yang selalu membuat karin merasa bahagia dan bertahan dengan pernikahan perjodohan itu.
masalah silih berganti dalam rumah tangganya, kesabaran, keikhlasan dan setiaan karin di uji.
seiring berjalannya waktu, karin bisa mencintai suami dan anaknya dengan tulus. kasih sayang yang karin berikan pada alisya melebihi dari apapun.
suatu ketika saat karin melahirkan anak, hal yang tidak terduga terjadi yaitu anaknya meninggal karena dalam keadaan prematur.
kehidupan karin seketika runtuh dan hatinya sakit melihat anaknya pergi untuk selamanya. separuh dari nyawa karin hilang begitu saja.
karin bisa bangkit dari kesedihannya karena dukungan suami, anak dan keluarganya. mereka semua yang membuat karin bisa lebih baik dan semangat lagi dalam menjalankan kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Memei Melita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"mas, aku ingin jalan-jalan". aku merasa capek karna harus miring terus.
"kamu sanggup sayang?". mas bram terus mengkhawatirkan aku.
"iya mas".
aku perlahan bangun, mas bram terus membantuku dan mengikuti dari belakang.
"hhmmm.... hhuuuufff..... ". aku terus menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan.
"sakit ya sayang?". mas bram memperhatikanku.
"sedikit mas. oh iya mas, mama dan papa udah sampai? ". karena aku belum mendengar kabar dari mama dan papa.
"sudah sayang, tapi mama dan papa pulang ke rumah dulu, mungkin besok akan kemari?". jawab mas bram.
"iya mas, tidak apa-apa". aku terus berjalan-jalan di sekitar ruangan.
"hooamm". mas bram terlihat lelah dan mengantuk.
"mas, aku ingin tiduran lagi".
"loh, kenapa sayang? kan kamu baru sebentar jalan-jalannya".mas bram menuntunku ke ranjang.
"mas, kamu istirahat aja".
"pasti karena aku menguap tadi kan. aku gak ngantuk sayang, aku masih mau temani kamu aja".
"mas, coba kamu lihat udah jam berapa?". ucapku.
"jam 00:15 sayang".maus bram melihat jam tangannya.
"itu artinya kamu harus istirahat sayang, kenapa kamu paksakan sih mas jika lelah".
"oke, aku akan tidur di sofa itu dan kalau kamu merasa kesakitan atau perlu yang lain panggil aku aja ya sayang". akhirnya mas bram mendengarkanku.
"iya mas".
mas bram pergi ke sofa dan merbahkan tubuhnya, dia terlihat sangat lelah tapi dia berusaha untuk menjagaku dengan baik.
"aku tidur ya sayang". mas bram mulai memejamkan matanya.
saat mas bram tertidur, sedangkan aku sendiri tidak bisa memejamkan mata. aku merasa gelisah tapi aku tidak ingin menunjukkannya di depan mas bram, karena aku tidak ingin membuatnya semakin khawatir.
"hhmm... hhufft... hhmm.. hhufftt". rasa sakitnya mulai datang lagi dan kali ini lebih sakit.
"auuwwhh perutku... sakit banget". tanganku menggenggam ujung ranjang.
rasa sakitnya luar biasa kali ini dan aku hampir tidak bisa menahannya, rasanya seperti akan keluar bayinya.
"apa aku buang air kecil, kok sepertinya banyak air yang keluar". aku merasa ada air yang keluar.
setelah aku periksa, ternya banyak air yang keluar dan membasahi tubuhku.
"mas... mas... ". aku mencoba membangunkan mas bram tapi mas bram tidak mendengarkannya.
"aahhhh sakit banget".
berkali-kali aku membangunkan mas bram tapi dia tidak bangun juga. aku juga mencoba menekan tombol darurat tapi tanganku dan tidak bisa menggapainya.
"mas... sakit banget mas". aku mulai meneteskan air mataku.
mendengar aku menangis kesakitan, mas bram langsung terbangun dan berlari ke arahku.
"sayang, kamu kenapa?".
"sakit mas, sakit banget perut ku". aku menangis karena tidak sanggup menahan sakit.
"sebentar ya sayang, aku panggil dokter dulu". mas bram langsung keluar memanggil dokter.
"cepetan mas, aku gak tahan lagi".
beberapa saat kemudian mas bram datang bersama dokter dan beberapa suster. mereka mulai memeriksaku dan mengatakan bahwa bayinya akan segera lahir.
"dok, ketubannya sudah pecah dan sudah kering". ucap suster yang memeriksaku.
"apa sudah lengkap pembukaannya?". tanya dokter.
"sudah dok, kepala bayi sudah terlihat".
"baiklah, segera atur posisinya senyaman mungkin dan siapkan alat-alatnya".
"baik dok".para suster terlihat tengah sibuk mempersiapkan segalanya untuk menolong persalinanku.
"karin, tolong atur nafasnya dan mengedanlah sepanjang mungkin,kalau bisa sekali saja mengedan". ucap dokter jeff.
"iyaa dok". jawabku sambil menahan sakit.
"sayang, kamu pasti bisa. kamu harus semangat ya". mas bram berdiri di sampingku.
"tunggu sampai sangat sakit dulu, baru kamu mulai mengedan ya ,semangat ya karin". dokter jeff juga memberikan dukungan kepada ku.
"hmmmm...... ahhh". aku mengeluarkan seluruh tenaga ku untuk mengedan.
"iyaa Bagus ibu karin, ayo ngedan sedikit lagi kepala bayinya akan segera keluar". ucap suster yang membantuku.
"ayoo sayang semangat ya". sesekali mas bram menyeka keringat ku.
"hhuuhh... huuhh... hhuhh... aku gak sanggup mas". aku merasa seluruh tenaga ku habis terkuras.
"sayang jangan berkata seperti itu, kamu pasti bisa sayang". mas bram tak henti-hentinya menyemangati ku.
"ayo karin, sekali lagi kamu mengedan pasti bayinya langsung lahir. coba atur dulu nafasnya agar bisa mengedan dengan baik". ucap dokter jeff.
"emmmmmmppp..... aaghhh". rasanya seperti nyawaku melayang dan seluruh tubuhku bergetar.
"oeekkk.. ooeekk... ooeekkk... "aku mendengar suara tangisan bayi yang begitu menenangkan pikiranku.
"bayinya sudah keluar ,selamat dan sehat". ucap susternya.
"sayang, kamu berhasil melahirkan anak kita dengan selamat". mas bran tampak begitu bahagia.
aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa tersenyum lebar melihat kenyataan bahwa anak ku telah lahir ke dunia.
"bayinya laki-laki dan dalam keadaan sempurna dan selamat.". ucap dokter jeff.
"sayang, anak kita udah lahir". ucap mas bram sangat bahagia.
aku hanya bisa menangis, air mataku mengalir deras tak tertahankan. aku merasa sangat bahagia dan lega, aku bisa mendengar tangisan bayiku dan melihatnya lahir dengan selamat.
rasa bahagia yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, semua aku curahkan dengan air mata. aku juga melihat hal yang sama dengan mas bram, ia meneteskan air matanya dengan baik.
"suster segera masukkan bayinya ke dalam inkubator dan bawa ke ruang neonatus (bayi)". ucap dokter jeff kepada suster.
"baik dok". segera suster itu melakukan yang di perintahkan dokter jeff.
"untuk sementara kita pisahkan dulu bayinya keruangan khusus, karena berat bayinya 1300 gram jadi harus di masukkan ke dalam inkubator".dokter jeff menjelaskannya padaku dan mas bram.
"iyaa aku mengerti jeff, lakukanlah yang terbaik untuk anakku". jawab mas bram.
setelah dokter jeff mengeluarkan plasenta bayinya, dokter jeff memberikan ku beberapa jahitan di jalan lahir yang sedikit sobek.
"sudah selesai semuanya, tunggu 2 jam untuk pemantauan pendarahannya ya. kalau semuanya sudah aman tidak ada pendarahan, karin bisa di pindahkan ke ruang rawatan". ucap dokter jeff.
"baik jeff, terima kasih banyak". mas bram menyalami tangan dokter jeff.
"sama-sama bram, baiklah aku permisi dulu". dokter jeff keluar meninggalkan aku dan mas bram.
"mas, aku haus ". ucapku yang baru merasakan haus setelah berjuang.
"oh, ini sayang minum pelan-pelan ya". mas bram membantu ku untuk minum.
"gimana sayang?". tanya mas bram.
"aku merasa lega mas dan aku bahagia tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan". aku menatap mas bram dengan mata berkaca-kaca.
"aku juga bahagia sayang, terima kasih telah melahirkan anak kita dengan selamat dan terima kasih atas perjuangan kamu sayang". mas bram mencium keningku.
"sudah kabari mama dan ibu mas?".
"sudah sayang, mama akan kemari nanti dan ibu akan mengantar alisya sekolah dulu baru datang". jawab mas bram.
aku terus menggenggam tangan mas bram yang berada di sampingku. rasa bahagia, haru, sedih nyampur jadi satu. rasa sedih saat aku tidak bisa melihat anak ku secara langsung, bahkan aku belum bisa untuk memeluknya.
mas bram yang melihat aku sedih langsung menghapuskan air mata ku yang mengalir di pipi.
"jangan sedih sayang, kita berdoa semoga anak kita baik-baik saja". mas bram mengelus kepalaku.
"iya mas". jawab ku dengan tersedu-sedu.
aku juga berharap anakku cepat membaik kondisinya, sehingga aku dapat memeluknya dan memberikannya ASI secara langsung.
tidak lama kemudian, mama dan papa mas bram datang menjenguk ku.
"karin". mama menghampiriku dan mencium keningku.
"maaf, kalau papa dan mama terlambat". ucap papa.
"tidak apa-apa pa". jawabku.
"apakah sudah si beri nama?". tanya papa.
"sudah pa, namanya Abyan Alexi pa". jawab mas bram.
"wahh nama yang keren". mama senang mendengar namanya yang Bagus.
"papa suka dengan namanya, semoga dia bisa menjadi pelindung bagi keluarganya". papa tahu betul apa arti dari nama anakku.
".mau lihat cucu baru papa". tanya mas bram.
"iyaa mau, dimana cucu papa". jawab papa.
"ada di ruangan khusus pa, ayo aku antar kesana".
"mama mau ikut juga". tanya papa
"gak pa, mama di sini aja temani karin".
"baiklah". jawab papa.
"sayang, aku temani papa sebentar ya".
"iya mas". mas bram dan papa pergi ke ruangan bayi.
"nah ini, mama bawakan bunga dan kado untuk anak kalian". ucap mama.
"terima kasih ma".
"ibu kamu gak datang?". tanya mama.
"datang ma, semalam sudah kemari tapi ibu pulang kerumah untuk temani alisya". jawab ku.
beberapa saat kemudian, mas bram dan papa kembali bersamaan dengan ayah dan ibu.
"ibu". ucapku saat melihat ibu datang.
ibu menghampiri ku dan mengacup keningku.
"maaf sayang, ibu tidak ada di samping kamu saat melahirkan".
"tidak apa-apa buk, lagian sudah ada mas bram yang nemani aku". jawabku pada ibu.
papa, mama, ayah, ibu dan mas bram mereka duduk di sofa ruangan, mereka terlihat berbincang-bincang dengan baik.
sudah 5 jam sejak aku melahirkan, payudara ku terasa kaku dan sakit, sesekali aku merengek kesakitan.
mas bram yang melihat aku merintih kesakitan langsung menghampiri ku.
"kenapa sayang? ".
"sakit banget mas payudara ku, sepertinya bengkak mas".
"sebentar ya, aku panggil suster dulu". mas bram pergi keluar memanggil suster.
"kenapa sayang?". ibu juga datang menghampiri ku.
"sakit bu". aku memegang payudaraku yang terasa sakit.
"ohh, ini karena kamu tidak memberikan ASI pada anak kamu, makanya terasa sakit".
suster yang di panggil mas bram datang untuk memeriksa keadaan ku.
"ibu karin mengalami peradangan karena ASI nya, jadi kita akan lakukan pompa ASI agar bengkaknya berkurang". ucap suster.
"baiklah suster, saya sudah tak tahan lagi". aku merintih kesakitan.
"sebentar ya bu, kita pompa ASI nya". suster mengambil alat untuk mengeluarkan ASI.
"tahan sedikit ya sayang". mas bram memberikan ku semangat.
"apa bayinya sudah minum ASI?". tanya ibu pada suster.
"sudah bu, tadi kami berikan susu formula dan ASI ini juga akan di berikan agar berat badannya cepat bertambah". jelas suster.
Radang Payudara yang aku rasakan benar-benar sakit dan nyeri bahkan di sentuh pun sakit. tapi setelah suster mempompa ASI ku, sakitnya berkurang dan sudah tidak bangkak lagi.
"sudah selesai bu, nanti per 2 jam sekali akan kita lakukan pompa kembali agar tidak bengkak lagi". ucap suster.
"iya suster, terima kasih". jawabku.
"gimana sayang? udah enakkann?". tanya mas bram.
"sudah mas, gak terlalu sakit lagi".
"apa kamu mau makan?". tanya ibu.
"gak bu, nanti saja".
"ya sudah, kamu istirahat aja ya". ibu kembali duduk bersama orang tua mas bram.
"sudah jam berapa ini mas?". tanyaku.
"masih jam 9 pagi, ada apa sayang?".ucap mas bram.
"aku kepikiran alisya mas".
"jangan khawatir sayang, tadi aku sudah telpon bi nina untuk bawa alisya kemari jika sudah pulang sekolah". jawab mas bram.
"dia pasti merasa kesepian mas, karena kita tidak memperhatikan dia dan aku jadi makin rindu alisya mas". aku merasa sedikit sedih.
baru beberapa jam aku tidak melihat alisya, aku merasa sangat rindu padanya. yang biasanya setiap hari aku selalu bersama alisya dan sekarang kami terpisah jarak antara rumah dan rumah sakit.
"sudah sayang, jangan terlalu di pikirkan. alisya baik-baik saja dan dia pasti ngerti sayang". ucap mas bram.
di saat pikiran ku terbagi-bagi antara alisya dan abyan, mas bram selalu memberikan ku semangat dan dukungannya padaku.
aku sangat bersyukur atas di anugrahkan suami yang baik dan pengertian seperti mas bram, bahkan memiliki keluarga yang selalu ada dan siap membantu ku.
"bram, papa dan mama mau ke kantor dulu ya. ada seseorang yang ingin bertemu dengan papa". ucap papa.
"iya pa, hati-hati di jalan". jawab mas bram.
"mama pergi sebentar ya, nanti mama balik lagi kemari". ucap mama padaku.
"iya ma, tidak apa-apa".
bagaimanapun papa masih memiliki saham di perusahaan mas bram, sebagian kerjaan perusahaan juga di pegang oleh papa. jika papa sudah pulang, ia akan sedikit sibuk dengan urusannya.
"apa ada masalah mas dengan perusahaan?". tanyaku penasaran.
"tidak sayang, papa hanya bertemu dengan koleganya dari Belanda". jawab mas bram.
"bram, alisya jam berapa pulang sekolah ?". tanya ayah.
"jam 11 siang yah". jawab mas bram.
"nanti biar ayah yang jemput alisya ya".
"ohh iya yah".
"ibu ikut ya ayah". ucap ibu.
"ayah cuma jemput alisya aja bu". jawab ayah.
"sekalian antar ibu belanja ke supermarket yah, ibu mau buatkan makan siang untuk karin dan bram".
"gak apa bu, nanti biar aku beli saja makan siangnya". jawab mas bram.
"eehh jangan, jangan biasakan semua harus beli. ibu akan masakkan buat kalian". ucap ibu.
"sudahlah bram, biarkan saja kalau ibu mu ingin membuatkan makan siang untuk kalian". ayah tersenyum.
"iya ayah". mas bram juga ikut tersenyum.
itulah ibu, ia tidak suka makan makanan yang siap saji. ibu selalu memperhatikan kualitas makanan yang di makan oleh keluarganya. maka dari itu ibu sangat menyukai masak meskipun bagi sebagian orang sangat merepotkan.
"emang seperti itu ibu mas, maklumi saja ya". ucapku pada mas bram, aku takut mas bram tersinggung.
"iya sayang tidak apa-apa, ibu juga mau yang terbaik untuk anaknya". jawab mas bram dengan tersenyum.
meskipun mas bram jarang bertemu dengan ibu tapi mas bram sangat bisa memahami ibu.
.
balik mampir dukungan kk