Mami...mami..."
Kedua bocah-bocah itu kembali mendekati nya, perlahan Mutiara mencoba mundur, namun terlambat.
"Ya Tuhan, apakah mereka Anak-anakku. lalu siapa ayahnya. kenapa semua ini membuat ku semakin bingung dan frustasi. tidak.... tidak...aku bukan mami kalian." teriak Mutiara syok. namun terlalu kedua bocah-bocah mengemaskan tersebut berhasil bergelayut manja di sebelah kanan dan kiri kakinya. dan tidak mau dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang sama
"Mami!"
"Mami!"
Kedua bocah kembar dengan wajah berseri-seri menghambur memeluk Mutiara.
"Anak-anakku sayang, mami bahagia memiliki kalian. dan tidak akan pernah menyesali masa lalu." bathin Mutiara seraya memeluk hangat twins.
"Tumben kamu pulang cepat, apa ngak lembur lagi?" tanya bibi membantu menyusun belanjaan Mutiara yang lumayan banyak, cukup untuk kebutuhan mereka beberapa hari kedepanya.
"Ngak bibi, sekarang pekerjaan ku jauh lebih santai dibandingkan sebelumnya."
"Syukurlah, bibi ikut senang mendengar nya. padahal kemaren bibi sempat kawathir melihat mu yang sering lembur dan kecapean sehabis pulang kerja." ucap bibi yang tidak mengetahui jika Mutiara bekerja di restoran, dan sekarang sudah kembali lagi bekerja diperusahaan The King'G.
"Iya bi."
Mutiara tersenyum menutupi apa yang dirasakannya, dimana dia tidak nyaman dengan perlakuan Devan akir-akir ini.
"Ya Tuhan, aku bingung dengan posisi pekerjaan ku sendiri. bahkan aku merasa layaknya seorang barista yang harus setiap saat membuat kan kopi untuk Devan, bukannya karyawan kantor seperti yang lainnya, huuuffp...."
Mutiara menarik nafas dalam, setelah membersihkan tubuhnya dan menghabiskan makan malam yang indah bersama anak-anak, Mutiara melanjutkan istrahat. menyiapkan tenaga dan mental untuk menghadapi Devan esok harinya.
"Ahhhghh sial, aku merasa seperti Devan ada disini. ada apa denganku sekarang?" kembali mencoba untuk memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah.
Dalam tidurnya, Mutiara terlihat gelisah. bahkan keringat dingin terlihat membasahi wajahnya yang cantik.
Tidak butuh waktu lama, Mutiara sudah terbang menuju alam mimpinya yang indah, dimana dia sedang mengerjai Devan.
"Rasain kamu Devan, kali ini aku akan mencampur kopi mu dengan garam dan obat pencuci perut." berjalan menghampiri Devan seraya membawa kopi hasil racikan resep terbaru nya, Mutiara senyum-senyum, seperti tanpa dosa saat melihat Devano yang hendak menyeduh kopi nya.
"Bruueessh...kopi apaan ini."
Devano menyemburkan kopi buatan Mutiara, tepat mengenai wajah cantik nya.
"Mutiara, kamu ingin mengerjai saya ya?" teriak Devan menatap gadis itu tajam.
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak sengaja."
"Tidak bisa, Mutiara kesalahanmu ini terlalu sering dan banyak. sehingga kamu harus menerima hukuman dariku, jika tidak, maka hari ini juga kita akan menikah, dan aku akan menjadikan kamu pelayan pribadi ku selamanya." ancam Devano.
"Tuan, anda tidak bisa seenaknya saja, ini tidak adil Karena masih banyak OG dan OB yang bisa anda suruh, kenapa harus aku? dan kenapa hukuman nya harus menikah?" Mutia mengebrak meja Devan saking emosi nya, menunjukkan keberanian nya menantang atasannya itu.
"Kamu berani melawan ku?" balas Devano sambil berdiri dan menghadang Mutiara, dengan jarak yang begitu dekat.
"Ya!"
"Okey, bersiaplah. dua puluh menit lagi penghulu akan datang untuk menikahkan kita berdua. dan aku pastikan juga jika kamu tidak akan pernah lolos dariku." Devano kembali mengancam, berhasil membuat nyali Mutiara menciut dan kembali bersikap manis setelah mendapatkan ancaman.
"Ternyata Tuan, sangat tampan sekali ya, meskipun sedang marah sekalipun," Mutiara tiba-tiba mendekat dan semakin mendekat, membuat Devan terbawa perasaan dan suasana.
"Muuuacch."
Ciuman hangat bibir Mutiara singgah dikedua pipinya, membuat Devan juga tidak tahan melihat bibir indah merekah itu dan membalasnya, namun saat dia ingin merengkuh tubuh Mutiara tidak bisa dijangkau, hingga Devan terguling jatuh kelantai.
"Astaga, ternyata cuma mimpi," gumam Devano. mengusap jidatnya yang sempat terbentur sisi meja.
Begitu juga dengan Mutiara, dia segera mengusap bibirnya, karena merasa habis ******* mesra bibir Devan yang sangat dibencinya.
"Syukurlah cuma mimpi, kalau tidak betapa malunya aku. udah nyosor bibir Devan duluan." bathin nya bersiap mandi dan berangkat kerja, tanpa mereka berdua sadari. malam ini Devan dan Mutiara mengalami mimpi yang sama. bercinta di alam bawah sadar.
emang bos go da akhlak
rem dadakan aja jims
biar bos mu kepentok🤣🤣🤣🤣