Aku istrinya, tapi aku disembunyikan layaknya simpanan. Dinikahi secara siri, kemudian suamiku menikah lagi. Aku pikir itu adalah puncak neraka duniaku, aku salah. Berpisah dengan putriku yang baru lahir ke dunia, itu lebih sakit dari pada luka hatiku.
Akulah Padma, wanita yang kalian hina hanya karena starta sosial yang berbeda. Ini aku, ini kisahku, tentang istri siri yang bangkit dari lubang hina yang kalian gali untukku. Satu persatu, akan kubalas kalian! Ini janjiku, dari jiwa yang kalian benci selama ini.
Follow IG author Sept : Sept_September2020
Selamat datang di karyaku ke 22. Selamat membaca, semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geram
Istri Rasa Simpanan Bab 29
Oleh Sept
Padma tersentak kaget, ketika Guntur terduduk lemas di bawah kakinya. Ia mundur, menghindar dari Guntur. Setelah apa yang terjadi, rasanya pria itu hutang maaf ribuan kali. Apa ini cara guntur minta maaf?
"Mengapa kamu pergi meninggalkan aku?"
Padma langsung tertegun, dia memperhatikan Guntur yang masih terduduk lemas, dan berbicara dengan nada yang mulai rendah. Tidak meledek-ledak seperti beberapa saat yang lalu.
"Mengapa kamu meninggalkan aku saat aku berjuang untuk kalian?" tanya Guntur lagi, kini ia mendongak, menatap wajah Padma.
Padma sendiri langsung menoleh, memalingkan wajah ketika Guntur menatap ke arahnya. Padahal, dia tidak pergi, dia disuri. Ditambah itu ulah Bella. Ingat Bella, Padma kembali emosi.
"Itu sudah berlalu, mari saling melupakan!" ujar Padma dingin.
Guntur mencebik, kemudian perlahan bangkit. Ia kembali berdiri, kemudian menuntut jawab dari Padma. Hanya saja, kini mulai kalem.
"Bagimu mungkin sudah berlalu, tapi tidak untukku," ucap Guntur lesu.
Padma menarik napas panjang.
"Dari awal pernikahan ini sudah salah! Kita sangat berbeda, aku yang terlalu naif dan terlanjur bodohhh! Harusnya kita berpisah sejak lama."
Guntur tersenyum getir mendengar kata-kata Padma.
"Ya ... pernikahan Kita memang kesalahanku."
JLEB
Entah mengapa hati Padma sedikit tersentil dan agak sakit. Jika pernikahan mereka salah, apakah Keny lahir dari sebuah kesalahan? Bukan karena cinta mereka?
"Kalau begitu, mari kita jangan saling mengusik. Aku mau hidup tenang," kata Padma.
Guntur diam, mengusap wajahnya lagi.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tanya pria tersebut.
Guntur menatap Padma lama sekali, seolah ingin menembus mata wanita tersebut. Ingin mencari tahu, kebenaran dalam sorot mata Padma. Apakah memang di hati Padma sudah tidak ada dirinya?
Ya, Padma kalah. Dia tidak betah saling menatap lama. Guntur selalu punya cara untuk menekan wanita tersebut.
"Kamu tidak mau diusik, kan? Tapi matamu bicara lain!" ucap Guntur yakin.
Padma langsung membalas, "Apa yang mataku bicarakan? Hanya ada benci! Itu yang aku rasakan, dulu ... dan sekarang!" terang Padma tegas.
"Mana mungkin ... mana mungkin kamu membenci ayah dari anakmu? Kalau mau berbohong ... kamu perlu belajar!" ucap Guntur dengan nada menyindir.
Guntur seperti di atas angin, dia begitu yakin. Meskipun Padma mendorong keras dirinya, ia tahu, masih ada dirinya di hati Padma. Mata wanita itu tidak bisa menipu. Padma sekarang tidak bisa menatapnya lama. Tidak akan bisa, karena Padma tidak bisa berbohong padanya.
'Padma ... jangan lemah. Jangan tunjukkan kelemahanmu di depannya.' Padma berusaha menguatkan diri. Dia tidak mau seperti dulu, terluka seorang diri karena terlalu mencintai Guntur.
Kring ... kring ...
Ponsel Padma yang sempat mati, kini berdering lagi. Padma langsung mengangkat teleponnya, ia juga menjauh, tidak mau Guntur merebut ponselnya lagi.
"Ya, Sayang. Mama pulang ... tunggu ya."
Setelah mematikan ponsel, Padma bicara baik-baik pada Guntur.
"Aku minta dengan baik-baik, sekarang kembalikan kunci mobilku. Dan buka pintunya."
Guntur langsung beranjak, kemudian mengambil dompet. Ia lalu berjalan keluar, berjalan mendahului Padma.
"Cepat lah!" kata Guntur sembari menoleh ke belakang.
Padma berjalan pelan, karena masih terasa perih di bagian sensitif, akibat ulah Guntur. Yang penting ia sudah keluar dari apartemen. Ia sudah merasa lega.
Saat di parkiran mobil, Guntur membuka pintu mobil Padma, dan langsung duduk di balik kemudi.
"Aku bisa pulang sendiri, mana kuncinya?" pinta Padma.
"Aku ingin bertemu putriku!" ujar Guntur tegas.
Padma melihat ke sekeliling. Mana sepi tidak ada orang. Akhirnya ia naik saja.
"Mana alamatnya?"
Padma melirik, kemudian mengucapkan sebuah alamat. Tidak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah perumahan.
Portalnya sudah ditutup. Padma pun keluar, lama sekali ia bicara pada petugas security, hingga Guntur curiga dan akhirnya turun. Sebab ada dua security yang terus menatap mobil yang ia kendarai. Rasa curiga itu, membuat Guntur langsung turun. Dan mendekati mereka.
"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Guntur.
Padma melirik security, kemudian mengangguk. Padma jalan cepat mendahului Guntur. Begitu ia masuk mobil, ia langsung mengunci pintu dari dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Buka!"
Padma langsung memundurkan mobilnya, lalu melaju meninggalkan Guntur di depan komplek.
Ia sempat melirik spion, Guntur terlihat sangat marah. Namun, entah mengapa, Padma sedikit merasa puas.
Ketika mobil Padma sudah melaju jauh, Guntur mengumpat kesal. Ia semakin geram tatkala dua security menatapnya seperti penjahat. Bersambung
IG Sept_September2020
Sekali-kali ngerjain mas petir gpp kan ya? Biar rasa. Wanita itu mahluk halus, eh ... lembut. Jadi gak bisa dikasarin, apalagi dibanting!
maaf ya,klo slh..jngn di bully/Pray/