NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Gema Di Balik Dinding Kaca

Langkah kaki Zayyan yang berbalik menuju pintu keluar paviliun meninggalkan getaran halus pada permukaan lantai kayu ek. Olin tetap bergemih di sisi perapian, sepasang matanya menatap lurus pada punggung tegap yang perlahan menghilang di balik daun pintu jati yang menutup rapat. Begitu selot besi mengunci dengan bunyi klik yang berat, Olin meluruhkan bahunya. Ketegangan yang sejak di galeri tadi menopang tulang punggungnya mendadak lenyap, menyisakan rasa lelah yang teramat sangat di sekujur sendi.

Di sudut ruangan, ketukan papan ketik Xavi masih terdengar konstan. Ritme ketukannya cepat, bersahut-sahutan dengan desis api perapian yang melahap bongkahan kayu pinus.

"Mommy," cicit Xavi tanpa mengalihkan pandangan dari barisan matriks hijau yang memantul di lensa kacamatanya. "Frekuensi pembatas di kamar sebelah kanan sudah aktif. Kamar itu bersih dari sensor audio nirkabel."

Olin berjalan mendekat, menyeret langkah sepatunya di atas karpet beludru yang tebal. Dia duduk di tepi meja kerja Xavi, memperhatikan jemari mungil putranya yang bergerak tangkas. "Kau yakin? Pria itu memiliki teknisi terbaik di negeri ini, Xavi."

"Teknisi mereka menggunakan protokol standar industri, Mommy. Mereka patuh pada aturan," Xavi mendongak, menyentuh bingkai kacamatanya yang melorot dengan ujung telunjuk. Seulas senyum tipis, khas anak kecil yang berhasil menyembunyikan mainan, terukir di wajahnya. "Sedangkan aku tidak menggunakan aturan. Aku memodifikasi jalurnya melalui distorsi gelombang AC di dinding. Tuan CEO tidak akan tahu kalau kita sedang membagi jaringan privat ini dengan peladen luar."

Olin mengusap pipi Xavi yang lembut. Ada rasa bangga yang berbaur dengan kecemasan yang pekat di dalam dadanya. Kejeniusan siber Xavi adalah berkah, namun di tempat seperti ini, kemampuan itu tak ubahnya sebilah belati bermata dua yang bisa menarik perhatian para predator korporasi yang jauh lebih kejam dari Zayyan.

"Mulai besok, batasi aktivitasmu, Jagoan," bisik Olin, suaranya parau. Dia merapikan beberapa helai rambut hitam Xavi yang menutup dahi. "Kita di sini hanya untuk dua tahun. Begitu situasi di luar tenang dan nama keluarga kita bersih, kita akan pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh satelit mana pun."

Xavi terdiam sejenak. Jemarinya berhenti di atas tombol Spacebar. Mata bulatnya menatap Olin, memindai gurat-gurat halus kelelahan dan bayang-bayang ketakutan masa lalu yang masih tertinggal di sudut mata ibunya. "Aku tahu, Mommy. Aku akan menjaga garis pertahanan kita tetap tidak terlihat."

Olin tersenyum tipis, lalu mengecup puncak kepala putranya sebelum bangkit berdiri. Dia melangkah menuju kamar di sebelah kanan yang ditunjuk Zayyan tadi.

Kamar tidur itu luas, didominasi warna abu-abu arang dan putih gading. Sebuah ranjang berukuran king-size dengan sprei katun Mesir yang rapi berdiri di tengah ruangan, menghadap langsung ke dinding kaca besar. Di luar, kabut malam bergulung lambat di antara pucuk-pucuk pohon pinus, menyembunyikan kerlip lampu kota Pekanbaru di kejauhan. Gerimis telah reda, meninggalkan jejak-jejak air yang merayap turun di permukaan kaca seperti air mata yang membeku.

Olin berjalan mendekati dinding kaca tersebut, menempelkan telapak tangannya pada permukaan bening yang terasa sedingin es. Pantulan dirinya di kaca memperlihatkan seorang wanita yang tampak rapuh, namun rahangnya yang mengatup rapat menyiratkan keras kepala yang tak akan luntur oleh waktu.

Dia teringat tujuh tahun lalu. Dermaga tua yang basah, deru mesin kapal logistik, dan surat perjanjian pelepasan aset yang dia tanda tangani dengan tangan gemetar demi menyelamatkan nama baik ayahnya. Kala itu, Zayyan memilih berdiri di balik meja direksi, membiarkan Olin pergi ke dalam kegelapan malam tanpa satu patah kata pun pembelaan.

Dan sekarang, takdir menariknya kembali ke pusat badai yang sama, mengenakan topeng pernikahan kontrak yang dirancang oleh anaknya sendiri.

Tok. Tok.

Ketukan pelan di pintu penghubung kamar membuyarkan lamunan Olin. Dia berbalik cepat, seluruh insting defensifnya kembali bangkit. Namun yang muncul dari balik celah pintu bukanlah sosok tegap Zayyan, melainkan Xavi yang sudah menggandong guling kecil berlogo robot miliknya.

"Mommy, sistem pendingin di kamarku terlalu berisik. Aku tidak bisa menghitung algoritma tidurnya," dusta Xavi dengan wajah polos, meski Olin tahu itu hanya alasan putranya agar bisa memastikan sang ibu tidak menangis sendirian di malam pertama mereka di mansion asing ini.

Olin menghela napas panjang, ketegangan di dadanya perlahan mencair. Dia menyibak selimut tebal di atas ranjang, lalu menepuk kasur di sampingnya. "Kemarilah, Arsitek Kecil. Kamar ini sudah bersih dari kebisingan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!