Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN SANG MAEAR HITAM
Kereta api senja terus melaju, membelah keheningan pinggiran kota yang perlahan berganti menjadi hamparan perbukitan hijau dan persawahan yang mulai menguning. Setiap deru roda besi yang beradu dengan rel seolah mengikis satu per satu beban yang selama ini menghimpit dada Kirana. Kota Valerion, dengan segala lampu strobo, kepulan asap cerutu, dan aroma alkoholnya yang memuakkan, kini telah tertinggal jauh di belakang sebagai sebentuk masa lalu yang kelam namun berhasil ia taklukkan.
Ketika matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat warna jingga keunguan di langit, kereta akhirnya memperlambat lajunya. Suara peluit lokomotif melengking panjang, menyapa stasiun kecil di tepi desa yang tampak lengang.
Kirana berdiri, membetulkan letak tas kain sederhananya di bahu. Saat kakinya melangkah turun menyentuh peron semen yang retak-retak, udara dingin khas pegunungan seketika menyergap permukaan kulitnya. Aroma tanah basah setelah hujan sore dan wangi tanaman padi yang tertiup angin terasa begitu murni—sebuah kemewahan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan lembaran uang lima milyar milik Tuan Surya di Distrik Menteng.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju batas desa. Rumah-rumah kayu dengan lampu teras yang temaram mulai terlihat di balik rimbunan pohon bambu. Beberapa warga desa yang sedang ronda malam sempat menatapnya dengan dahi berkerut, mencoba mengenali sosok gadis berbaju kurung usang yang berjalan dengan punggung tegak dan tatapan mata yang begitu teduh itu.
"Kirana? Kamu... Kirana anaknya Pak Broto?" tanya seorang lelaki paruh baya berkopiah, menghentikan langkahnya sembari mengangkat senter minyaknya agak tinggi.
Kirana menghentikan langkah, menyunggingkan senyum tulus yang sudah sangat lama tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di The Velvet Rose. "Benar, Pak RT. Saya Kirana. Saya pulang."
Wajah Pak RT seketika berubah penuh haru sekaligus kelegaan yang luar biasa. "Ya Tuhan, Nak... Kabar dari kota sudah sampai ke sini sejak tadi siang melalui televisi di balai desa. Juragan Jaya ditangkap polisi! Kabarnya seluruh hartanya disita karena kasus suap besar di kota. Orang-orang suruhannya yang biasa berjaga di pabrik gilingan padi sore tadi langsung kabur tunggang-langgang karena takut ikut diseret."
Pak RT melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. "Kepala desa baru saja mengumumkan bahwa seluruh surat tanah warga yang sempat ditahan secara paksa oleh si jaya tua bangka itu akan ditinjau kembali oleh pengadilan kabupaten minggu depan. Sawah bapakmu, Kirana... sawah yang dulu dirampas... akan segera kembali ke tanganmu."
Mendengar hal itu, ada sesuatu yang retak di dalam dada Kirana—bukan karena kesedihan, melainkan pertahanan es batu di hatinya yang akhirnya mencair oleh keadilan. "Terima kasih, Pak RT. Terima kasih sudah menjaga desa ini selama saya pergi."
Malam kian larut ketika Kirana sampai di ujung pemakaman umum desa yang terletak di bawah pohon kamboja tua. Suasana begitu sunyi, hanya diiringi oleh suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan. Kirana melangkah perlahan di antara gundukan tanah, hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah nisan kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Broto Wiryo.
Kirana menjatuhkan lututnya di atas rumput liar yang basah oleh embun malam. Ia mengusap permukaan nisan kayu milik bapaknya dengan jemari tangan yang gemetar. Air mata yang selama berbulan-bulan ia tahan di dalam kamar remang-remang The Velvet Rose, kini tumpah tak terbendung, mengalir membasahi pipinya dan jatuh ke atas tanah makam.
"Bapak..." bisik Kirana, suaranya tercekat oleh isak tangis yang begitu dalam. "Kirana pulang, Pak. Kirana sudah menyelesaikan semuanya."
Ia menyandarkan keningnya pada nisan kayu tersebut, membiarkan seluruh rasa sakit, penindasan, dan kepalsuan yang ia jalani di kota luruh bersama air matanya. "Orang yang membuat Bapak jatuh sakit hingga tiada... orang yang merampas keringat Bapak, malam ini sudah memakai baju tahanan. Dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di tanah desa ini lagi untuk menindas orang-orang kecil."
Kirana mengambil segenggam tanah makam, meremasnya lembut di dalam genggaman tangannya. "Sawah kita akan kembali, Pak. Dan Kirana berjanji... mawar hitam yang penuh duri beracun di kota itu telah mati malam ini di Valerion. Di sini, di depan makam Bapak, Kirana akan kembali menjadi anak gadis Bapak yang dulu... yang merawat tanah ini dengan jujur."
Angin malam berembus lembut, menggoyang dedaunan pohon kamboja di atasnya, seolah menjadi jawaban gaib bahwa jiwa sang bapak kini telah beristirahat dengan tenang di alam sana.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan kehangatan yang sempurna, mengusir sisa-sisa kabut pagi di hamparan persawahan desa. Kirana berdiri di tepi pematang sawah milik keluarganya yang selama ini telantar. Ia mengenakan caping bambu milik mendiang bapaknya, menatap lurus ke depan di mana beberapa warga desa mulai turun ke sawah dengan senyum lebar di wajah mereka.
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan. Tidak ada lagi jerat kebohongan sutra. Badai di Distrik Amethyst telah sepenuhnya usai, dan dari reruntuhan menara keserakahan para penguasa kota, sebuah kehidupan yang baru, yang murni dan merdeka, kini resmi dimulai di bawah langit desa yang damai.