Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Mau Menyerah
Gizel senang saat Mahendra masuk ke kamarnya.
"Sayang......!" ia langsung melingkarkan tangannya di lengan Mahendra.
"Bagaimana kabar papamu? Kamu belum pulang untuk menjenguknya?"
"Belum, sayang. Tapi papa dalam keadaan baik. Sekarang sudah bisa jalan sendiri. Tak memerlukan kursi roda atau tongkat lagi. Perawat yang biasa merawat papa juga sudah tak 24 jam menjaganya."
"Alhamdulilah." kata Mahendra. Ia duduk di sofa. Gizel ikut duduk di sampingnya tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Mahendra.
"Sayang, aku senang kamu ada di sini. Walaupun sebenarnya malam ini kita belum bisa bercinta karena aku belum benar-benar bersih. Aku rindu dirimu yang dulu hanya milikku."
"Aku tak berubah."
"Kamu berubah, sayang. Aku merasa kalau kamu itu lebih perhatian sama istri muda mu."
"Perasaan kamu saja."
"Sayang, bagaimana kalau kita liburan berdua? Rasanya sudah lama sekali kita tidak liburan."
"Kamu kan tahu kalau aku masih banyak pekerjaan."
Gizel nampak cemberut. "Tahun ini aku ingin segera memiliki anak. Rasanya capek mengikuti program hamil dari mamamu. Apakah sebaiknya kita mencoba dengan pengobatan di luar negeri?"
"Aku kan tak mempermasalahkan kita akan punya anak atau tidak."
"Tapi aku ingin, sayang."
Mahendra akan bicara namun ponsel Gizel berdering. "Sebentar sayang, ini dari mitra kerjaku." Gizel menjauh lalu menerima panggilan itu.
Mahendra pun memeriksa ponselnya. Ia kaget melihat ada pesan dari Sinta.
Abang, aku dan Arsen memang makan bersama tadi karena pas dia datang ke rumah sakit, aku juga mau cari makan. Tak ada percakapan istimewa selain dia menanyakan tentang kabar bibiku. Kami memang dulu dekat, namun Arsen tahu kalau aku sudah menikah. Dia sama sekali tak pernah berbuat yang kurang ajar padaku. Aku tunggu di kamarmu.
Mahendra menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap ke arah Gizel yang baru saja selesai bicara.
"Sayang, ayo kita tidur. Sudah jam sepuluh lewat. Aku sudah ngantuk." kata Gizel. Ia menarik tangan Mahendra menuju ke ranjangnya.
1 jam kemudian......
Gizel sudah tertidur nyenyak. Mahendra sama sekali tak bisa tidur. Ia terus memikirkan pesan dari Sinta. Apakah benar istrinya itu menunggu di kamarnya? Untuk apa?
Mahendra terus diserang oleh pertanyaan yang sama. Tak lama kemudian ia memilih keluar dari kamar Gizel. Ia melangkah menuju ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, nampak Sinta yang tertidur di atas sofa. Gaun tidurnya yang pendek sudah tersingkap, menampakan tubuh bagian bawah istrinya itu.
Mahendra mencoba tak tergoda. Namun tubuh Sinta bagaikan magnet yang menariknya untuk mendekat.
Sinta sebenarnya tidak tertidur. Ia hanya pura-pura tidur karena ingin menggoda Mahendra.
Lelaki itu duduk di pinggiran sofa sambil tangannya menyibakkan rambut Sinta yang menutipi wajahnya.
Sinta tiba-tiba bergerak gelisah. Mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak jelas lalu ia tersentak bangun. "Ah.....takut...." ia langsung memeluk Mahendra dengan erat. Bahkan tubuhnya bergerak cepat dan duduk di pangkuan lelaki itu. "Abang, aku takut"
"Sinta kamu hanya mimpi."
"Jangan tinggalkan aku!" Sinta terus berada di pangkuan Mahendra. Tubuhnya bergerak tepat di atas Palo sehingga setiap kali Sinta bergerak, si palo bertambah keras.
Sinta sengaja meletakan hidung di dekat leher Mahendra. Hangat napas Sinta membuat bulu kuduk Mahendra berdiri.
"Sinta, ayo ke kamarmu."
"Aku nggak mau. Aku takut. Mimpi itu seperti nyata."
"Sinta.....!"
Sinta mengendurkan pelukannya. Kini wajah mereka begitu dekat. Sinta dengan nekat mencium bibir Mahendra. Ia mencium dengan sensual membuat membuat Mahendra kaget karena Sinta tak pernah menciumnya lebih dulu. Namun tubuh Mahendra menginginkan ciuman panas ini. Apalagi Sinta yang memulai lebih dulu.
"Abang, aku pingin." bisiknya lembut walaupun dalam hati Sinta mengutuk dirinya sendiri karena seperti perempuan murahan.
Mahendra tak bersuara namun tangannya dengan cepat menurunkan tali gaun malam yang Sinta kenakan.
Malam itu, semua kemarahan Mahendra hilang saat tubuh mereka kembali menjadi satu.
**********
Gizel bangun pagi dan tak menemukan Mahendra ada di sampingnya. Ia pun bergegas turun dari ranjang dan segera mandi untuk.menyiapkan sarapan bagi suami. Gizel tahu kalau hari ini ia sudah benar-benar bersih dan ingin menikmati malam panjang bersama suaminya sebelum giliran Sinta tiba.
Saat ia turun kelantai bawah setelah mandi, ia melihat Risna yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca sesuatu dari tabletnya.
"Selamat pagi, ma."
"Selamat pagi."
"Ma, aku sudah selesai datang bulan."
"Obatnya sudah habis?"
"Iya."
"Nanti mama berikan lagi."
"Ma, aku ingin mencoba pengobatan di luar negeri."
Risna mengerutkan dahinya. "Kamu meragukan kemampuan mama dalam merawat mu?"
"Bukan begitu, ma. Tapi ini sudah 6 tahun dan belum ada hasilnya juga. Aku ingin menjalani program bayi tabung."
Risna nampak kesal. "Kamu tahu Mahendra tak akan suka jika hal seperti itu dilakukan."
Gizel segera meninggalkan ruang tamu dan menuju ke dapur.
"Nyonya, tuan bersama nyonya Sinta." lapor Yanti.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Semalam saya melihat dia naik ke atas dan tak turun lagi."
Apakah Mahendra keluar dari kamarku sejak semalam? Awas kau Sinta! Batin Gizel.
Mahendra turun dari lantai dua bersama dengan Sinta. Gizel dapat melihat rambut Sinta yang basah. Hatinya marah, cemburu, kesal saat membayangkan mereka menghabiskan malam bersama.
"Sinta, mama cari kamu tadi pagi namun kamarmu kosong. Kamu tidur di mana semalam?" tanya Risna.
"Di.....!" Sinta melirik Mahendra. Laki-laki itu nampak menikmati sarapannya dengan tenang.
"Di mana?" Risna mengulangnya lagi.
"Di kamarku." Mahendra yang menjawab. Suaranya terdengar datar dan tenang.
Gizel mencengkram garpu di tangannya dengan sangat kuat. Ia menatap Sinta dengan tajam. Gina yang duduk di samping adiknya itu segera menyenggol kaki adiknya untuk mengalihkan perhatian adiknya.
"Aku mau ke kantor desa pagi ini. Jangan tunggu aku untuk makan siang. "Mahendra menyelesaikan sarapannya lalu segera pergi.
Saat Sinta akan meninggalkan ruang makan, Gizel menyusulnya dan segera menarik tangan perempuan itu sampai di taman samping.
"Lepaskan, mba. Ini sakit!"
"Jadi kamu pikir apa yang kamu lakukan padaku tidak menyakiti aku? Semalam masih giliranku namun kenapa kamu bersama Mahendra? Bukankah kita punya pembagian waktu?"
Sinta menarik tangannya dengan kasar. "Lalu aku harus bagaimana jika Abang yang meminta aku menunggu di kamarnya?"
"Dasar murahan!"
Plak !
"Sinta, kamu sudah gila ya menampar aku?" Gizel berteriak histeris.
"Mba, perempuan murahan itu adalah mereka yang mengganggu hubungan orang lain. Saya tidak murahan! Karena pada saat Abang menyentuh saya, saya ini masih perawan." kata Sinta dengan suara yang dipenuhi amarah. Dia langsung meninggalkan Gizel. Dengan sepeda, ia memilih menyusuri setiap sudut desa. Sampai akhirnya Sinta mengingat rumah pondok di dekat sungai.
Abang, aku ada di sini
Sinta mengirim foto selfienya di depan pondok itu. Sinta hampir menyerah. Makanya ia bertekad akan membuat Mahendra selalu ada untuknya dan bukan pada Gizel lagi.
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣