NovelToon NovelToon
Bad Girl Vs Ice Boy

Bad Girl Vs Ice Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: blue rose

Ig: @nabilakim28

"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-

Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.

Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?

"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-

Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!

Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?

Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keduapuluhdelapan

Sejauh apapun kamu pergi, aku akan mencarimu ke mana pun itu

-Hera-

S E L A M A T  M E M B A C A

Hera turun tangga sambil tersenyam senyum sendiri. Dia sesekali tertawa nggak jelas, yang mungkin akan membuat dia terlihat seperti orang gila saat ini, Henry bergidik ngeri melihat kembarannya itu. "Kenapa lo? pagi\-pagi udah kayak kuntianak?" tanya Henry sambil mematikan tv nya yang baru saja menayangkan serial kartun kesayangannya. "Sirik aja lo?" balas Hera.

Hera langsung berlalu melewati Henry yang sedang menikmati sarapannya di depan tv. Dia berjalan ke arah meja makan, dapat terlihat kak Riana sedang mengoleskan selai ke sepotong roti tawar. Tanpa babibu, Hera langsung mengambil roti yang seharusnya mendarat di mulut Riana. "Untuk aku ya," ujarnya seenak jidat. Ingin rasanya Riana nabok Hera ..., untung dia masih anggap Hera adeknya.

"Oh ya kak, Seannya udah datang?" tanya Hera.

"Lho? Hari ini bukannya kamu diantar sama Henry ya?" tanya Kak Riana ke arah seonggok manusia yang sedang siap\-siap mencuri roti yang dibuat Riana lagi. Henry yang terpergok mencuri hanya bisa tersenyum kikuk.

"Ah iya, Sean gak kasih tau?" tanya Henry, sekarang dia sudah terduduk manis di atas kursi yang terletak di samping tempat duduk Hera.

"Nggak," jawab Hera. Dia bingung, biasanya Sean bakal memberitahunya semalam kalau dia tidak akan mengantar Hera. Tapi ini, dia tidak memberitahunya sama sekali. Hera langsung mengecek smartphonenya, siapa tau Sean sudah memberitahunya melalui chat. Tapi hasilnya nihil, dia benar\-benar tidak dapat kabar apapun.

Hera meninggalkan pesan, mungkin Sean punya kesibukan sendiri dan tidak dapat mengabarinya seperti biasa. Iya, dia harus positive thinking sekarang kepada pacarnya. Iya, itu yang harus dia lakukan ... kan? Tapi kenapa dia merasa kecewa? Sean nya tidak pernah seperti ini, pacarnya itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Yaudah ayo pergi, nanti telat." Hera langsung berjalan menjauh menuju pintu depan. Tampak terlihat bahwa dia sangat badmood sekarang, baik Henry ataupun kak Riana sangat tahu akan hal itu.

Setelah memastikan sosok Hera sudah menghilang dari balik pintu, kak Riana mulai bertanya kepada Henry, "ada apa dengan mereka? Padahal kemaren baru kencan, kan?" tanya kak Riana dan diangguki oleh Henry.

"Sepertinya Sean harus mengurus sesuatu yang penting, dia bahkan tidak memberitahuku apapun tentang masalah ini. Dia hanya menyuruhku menjaga Hera selama dia pergi. Jujur aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan," jelas Henry dengan nada lesu. Bagaimanapun Sean adalah temannya, dan Sean yang menghilang tanpa kabar seperti ini benar\-benar membuatnya khawatir.

Riana menepuk pundak adik laki\-lakinya itu. "Dia pasti akan baik\-baik saja, setidaknya dia lebih pinter berkelahi dan lebih pintar dalam segalanya di banding kamu," ujar kak Riana guna mencairkan suasana.

"WOI JADI SEKOLAH GAK SIH?!" teriak Hera dari luar. Henry langsung pamit dan berlari keluar rumah, dia takut Hera maung, bisa gawat kalau dia maung.

 

                          😬😬😬

"Kenapa gak bareng kak Sean?" tanya Gina. Dia menyadari ada yang berbeda dengan mood sahabat satu\-satunya ini.

"Pasti diputisin sama kak Sean!" ujar Siswi lain dengan yang berdandan sangat menor. "Iya dong, kan peletnya udah basi," tambah seorang siswi lagi. Awalnya Hera hanya ingin mengistirahatkan kepalanya, karena masalah Sean yang tiba\-tiba gak ada kabar sudah cukup membuat kepalanya mumet. Sekarang malah ada curut\-curut yang gak tau tempat untuk ngatain dia. Gina berusaha untuk menenangkan temannya itu, tapi semua nya pecuma saja. Hera yang sudah marah hanya pawangnya yang bisa jinakin.

Hera mengambil pulpen yang ada di atas mejanya, lalu melempar pulpen itu ke arah dia siswi yang tadi mengetawainya. Gina sendiri bingung sebenarnya tadi pulpen yang terbang atau peluru, soalnya cepat banget. Dan hanya sekejap pulpen itu telah menghilang dari radar, dan pipi seorang siswi tadi sudah tergores dan meninggalkan jejak. Siswi itu langsung histeris ketika mendapati pipinya berdarah.

"Kenapa? Takut? Mungkin karena gue terlalu baik akhir\-akhir ini makanya monyet\-monyet kayak lo pada jadi ngelunjak. Tadi itu sengaja gue buat gak tepat sasaran, lain kali pulpennya bakal nancep di kepala lu." Setelah mengatakan itu Hera langsung pergi dengan membawa Gina keluar kelas. Sungguh sekarang Gina sangat berharap bahwa ada Sean di sini, karena dia tau bahwa hanya cowok dingin itu yang bisa menenangkan Hera.

"Her, sekarang kita mau kemana?" tanya Gina.

"Ke kelas tunangan kamu. Mau liat Sean ada sekolah atau gak?" jawab Hera.

Sesampainya di kelas Sean, Hera main nyelonong masuk aja. Gina menutup mukanya malu, dia harus meruntuki dirinya sendiri kenapa punya temen bar\-bar kayak Hera.

"Sean kemana?" tanya Hera kepada Chandra yang sedang memainkan handphonenya. "Sean? Kenapa lo nanya sama gue? Kan lo pacarnya." Chandra masih fokus pada handphonenya. Dia tidak tau aja sekarang Hera seperti akan memakannya hidup\-hidup. Gina mengkode Chandra untuk memberitahukan informasi tentang Sean, tapi Chandra hanya menaikkan bahunya tanda tidak tahu.

"Jadi lo gak tau kan? Ok, gue gak nanya lagi. Tapi kalo sampe lo bohongin gue, jangan harap lo idup besok!" bentak Hera lalu berlalu meninggalkan Gina dan Chandra.

"Kamu beneran gak tau?" tanya Gina kepada Chandra seteleh memastika bahwa Hera sudah pergi.

"Iya sayang, aku gak bohong kok." Chandra mengelus kepala Gina. Gina hanya mengangguk lalu berlari menyusul Hera.

Chandra menelepon seseorang menggunakan handphonenya.

"Udah ketemu? Sial! Kemana sih tu anak ngilang gitu aja,"

"...."

"Hera tadi nyamperin gue."

"...."

"Gak, gue gak bilang apapun tentang Sean. Lo cepat nyari tau di mana Sean sekarang. Gue khawatir si pororo lagi cari masalah lagi." Chandra menutup teleponnya, dia menghela napas berat. Menyebalkan rasanya saat dia tidak mendapat kabar apapun dari temannya sendiri. Sebenarnya bukan cuma dia, 5 prince yang adalah teman dekat Sean tidak dapat kabar apapun dari pria dingin itu. Mereka semua curiga setelah Henry mengatakan pesan yang ditinggalkan Sean untuknya. Mereka hanya berharap supaya si kulkas tidak dalam bahaya.

                            😁😁😁

5 jam sebelumnya \(3 a.m\)

"Lo beneran mau ladenin taruhan kekanak\-kanakan itu?" tanya Tristan sambil merakit sesuatu di meja milik Sean.

"Lebih tepatnya harus," balas Sean datar sambil memakai hoodie hitamnya.

"Lo gak kasih tau Hera kan?" tebak Tristan, Sean hanya membalasnya dengan senyuman penuh arti. "Udah gue duga dah! Trus temen lo yang lain?" Sean hanya membalas dengan menaikkan bahunya. Dia terlalu malas untuk menjawabnya.

"Nih," ujar Tristan sambil memberikan Sean sebuah kalung yang memiliki liontin berbentuk bintang. "Apaan?" tanya Sean sambil menatap aneh ke arah kalung itu. "Kalung \*\*\*\*! Masa kalung pun lo gak tau," balas Tristan ngegas.

"Ngapain lo kasih kalung buat gue?" tanya Sean aneh. "GPS, kalung itu ada GPS\-nya. Kalo lo dalam bahaya tekat aja liontinnya, nanti koordinat tempat lo bakal langsung keliatan di labtop gue," jelas Tristas panjang lebar. Sean hanya mengangguk mengiyakan lalu memakai kalung itu, ternyata kalung ini yang sedang di rakit oleh Tristan tadi.

"Gue tau Reza itu orang gila, jadi lo jangan sampe masuk ke dalam perangkap dia ..., lo gak mau ninggalin Hera gitu aja kan?" Tristan menepuk bahu temannya itu. Sean membalas dengan senyuman,

"gue bakal balik kok."

                            😁😁😁

Entah sudah berapa putaran yang telah di lakukan oleh Hera di ruang keluarga ini, sepertinya kegiatan absrud ini di mulai ketika dia pulang sekolah tadi. Henry menatapnya aneh, sepertinya saudara kembarnya ini benar\-benar di buat menjadi gila oleh Sean.

"Ngapain lu muter\-muter dari tadi?" tanya Henry yang tidak tahan akhirnya angkat bicara. Hera menghentikan sesaat kegiatan mutar\-mutarnya sesaat. "Udah dapat kabar dari Sean?" tanya Hera khawatir. Yee bambank, tadi sok ngebadgirl sana sini, padahal dia lagi khawatir tuh dengan si pororo yang tiba\-tiba gak ada kabar sama sekali.

"Belom ada," jawab Henry.

Brak!

Hera menendang sofa yang sedang diduduki oleh Henry. "Aku gak tahan lagi, ayo ke tempat Tristan ..., dia seharusnya tau di mana Sean sekarang." Hera langsung memakai outernya dan menarik tangan Henry agar mau mengantarnya ke apartemen Tristan. "Udah, kamu jangan panik gitu ..., percaya sama Sean aja, aku yakin dia gak apa\-apa." Henry menepuk kepala adiknya itu, dia tau sekarang Hera sangat khawatir tentang keadaan Sean\-\-\-lebih dari siapapun. Mata Hera berkaca\-kaca, bohong jika bilang dia tidak khawatir, ini pertama kali Sean tidak mengabarinya apapun ... Hera bahkan menelepon mama nya Sean dan mama Sean bilang kalau dia tidak ada di rumah. Bagaimana dia bisa tidak khawatir? Seharusnya dia sadar dari awal kalau si kulkas itu sedang menyembunyikan sesuatu. Pantas aja dia tiba\-tiba sweet kemarin.

Hera akhirnya menangis sejadi\-jadinya di dalam mobil, "Di\-dia bakal baik\-baik aja kan?" tanya Hera terbata\-bata. Napasnya terasa berat bahkan jika hanya untuk dihembuskan sesaat terasa sakit. Dia tahu sifat pacarnya lebih dari siapapun, pacarnya bukan tipe orang yang akan sembarang maju tanpa rencana, Sean juga bukan tipe orang yang sembrono ..., tapi semuanya berbeda jika menyangkut dengan Hera, Sean tidak takut bertaruh apapun demi Hera\-\-\-dan itulah yang membuat Hera sangat khawatir saat ini.

"Iya dia pasti baik\-baik saja," jawab Henry untuk menenangkan Hera. Setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini\-\-\-sebagai saudara Hera, dan teman Sean.

Sesampainya di gedung apartemen yang di tuju, Hera langsung berlari masuk begitu aja meninggalkan Henry di mobil. Hera sepertinya benar\-benar tidak bisa berpikir saat ini, bagaimana bisa dia meninggalkan Henry di saat dia sendiri tidak tau apartemen Tristan unit nomer berapa. Nah, sekarang sepertinya dia sudah sadar akan keteledorannya, dia menunggu Henry yang sekarang sedang berlari menuju lift menyusul Hera yang sudah berada di dalam lift duluan. Henry menekan nomor lantai paling atas begitu masuk ke dalam lift, dia menatap kembarannya yang terlihat sangat panik dan khawatir. Henry menggengam tangan saudaranya itu.

Sesampainya di lantai tujuan, Hera langsung mencari unit apartemen yang diberi tahu oleh Henry tadi. "Hera?" panggil sebuah suara yang familiar di telinga Hera. "Andrew? Chandra? Brian? Kenapa kalian di sini?" tanya Hera. Andrew langsung menatap Brian, menyuruhnya untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini. "Kami ke sini mau cari tau tentang Sean," jelas Brian. Entahlah Brian tiba\-tiba jadi serius hari ini.

"Ngapain pada ngerumpi, ayo samperin yang tau masalahnya apa," seru Henry yang tiba\-tiba berjalan mendahului mereka dan langsung menekan bell di apartemen Tristan. Hanya berselang beberapa menit dan akhirnya empu apartemen yang di tunggu\-tunggu akhirnya keliatan batang hidungnya. "Apaan nih? mau tawuran kalian? Ngapain rame\-rame ke apartemem gue?" tanya Tristan.

"Alah lo gak usah banyak bacot, lo tau kan di mana Sean? Dia gak ada kabar dari pagi." Andrew langsung to the point, Tristan langsung kicep. Yang buat masalah Sean tapi malah dia yang kena imbasnya. "Yaudah, masuk dulu biar gue jelasin." Mereka nurut\-nurut aja dan langsung mengikuti Tristan masuk ke apartemennya.

"Udah gak usah ngulur waktu lagi, lo jelasin sekarang," suruh Chandra.

"Iya, jadi sebenarnya Sean\-\-\-" kalimat Tristan terpotong begitu menyadari ada tanda merah yang berkedip di peta GPS yang terpampang di layar labtopnya. Air muka Tristan langsung berubah, dia mengambil jaketnya. "Eh lo mau kemana? Lo belum selesai jelasin," cegat Brian.

"Mau nyusul Sean, dia sedang dalam bahaya."

\-TBC\-

ps: semoga menghibur kalian yang sedang puasa, dan yang sedang bosen di rumah

1
...
sama andrew aja sis..
...
knp ya aku ngerasa kalau si X ini ada berada di sekitar mereka..
Queen Sha
ahhhciyeeee.... aauthorrr keseringan lihat drakor kayak aq juga
Jennifer Jatam
Luar biasa
Jennifer Jatam
Biasa
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
ntahlah, agak lain memang.

tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.
Novia Ayu Apriani
🥰🥰🥰
Qaisaa Nazarudin
Oh si cntik Gina menyamar jadi cewek cupu ternyata...ckck..😅😅
Alvinda68
Luar biasa
Qaisaa Nazarudin
Yang anehnya, Kenapa Gina harus baca buku ditempat itu? malam2 lagi..🤫🤫
Qaisaa Nazarudin
Kamu akan di jodohkan dgn Sean deh Hera 😂😜
Qaisaa Nazarudin
Cowok ini Sean kan temennya Henry??
Qaisaa Nazarudin
Whaat Hera baru kelas X? ku pikir kelas X1.. Tapi cerdas nih anak bisa masuk kelas IPA ..
Qaisaa Nazarudin
Asem🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Sekolah lama kak Rendy kan itu 🤣🤣
Yuki azura
kk boleh masukin aku ke grup chat
Riska Auliaa
Y
f1q.x3a
aaa gemes😭
f1q.x3a
adik ipar😂✨
Uma Hidayah
cocok...sesuai imajinasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!