Adara hamil, sialnya ia tidak tahu ia hamil anak siapa. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah dirinya terbangun dalam keadaan telanjang bulat bersama dengan empat sahabat laki laki nya yang juga tidak mengenakan pakaian apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theshittyqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SEMBILAN
Cherryl tersenyum riang melihat rumah nya yang sudah di hias sedemikian rupa untuk merayakan hari ulang tahunnya.
"Sayang, lebih baik sekarang kita bersiap siap. Karena sebentar lagi teman teman mu pasti akan datang." Adara menggandeng Cherryl, membawa putrinya tersebut ke dalam kamarnya. Adara sudah menyiapkan gaun yang indah untuk Cherryl.
"Ma, dandani Cherryl yang cantik ya. Soalnya nanti Papa Markus datang, Cherryl mau kelihatan cantik di depan Papa."
Adara terdiam, entah Adara harus mengatakan apa kepada Cherryl. Adara tidak berani mengatakan bahwa Markus tidak akan datang, itu hanya akan merusak suasana hati Cherryl di hari bahagia nya.
Tapi melihat Cherryl yang begitu bersemangat mengenai kedatangan Markus membuat Adara merasa kasihan, betapa putrinya ini sangat amat ingin bersama dengan Markus.
***
Pesta berjalan meriah, semua teman Cherryl hadir, memberikan banyak kado untuk Cherryl. Namun nampaknya hal itu tidak bisa membuat Cherryl bahagia.
Cherryl senang ulang tahun nya dirayakan, teman temannya datang dan memberikan ia kado. Hanya saja semuanya terasa tidak lengkap tanpa kehadiran Markus.
Cherryl terus meyakinkan dirinya bahwa mungkin Papa nya itu datang agak terlambat, ia tetap tersenyum dan merayakan ulang tahunnya bersama teman temannya.
Namun hati Cherryl mulai resah saat tiba waktunya untuk meniup lilin dan memotong kue ulang tahun nya, Cherryl ingin Papa nya berada di sisinya. Menerima potongan kue ulang tahunnya bersama dengan Mama nya.
Namun nyata nya Markus tidak kunjung datang, bahkan saat Cherryl meniup lilin ulang tahun nya setelah mengatakan penggarapannya di dalam hati dan memotong kue itu Markus tetap tidak datang.
Cherryl memberikan potongan kue pertama kepada Adara, lalu kepada nenek dan kakek nya, lalu kepada Lucas dan berakhir di kakek dan neneknya dari pihak Markus.
Pihak keluarga yang melihat kesedihan Cherryl hanya bisa diam, merasa kasihan kepada Cherryl.
Cherryl terus murung sampai tamu tamu undangan pulang satu persatu.
Lucas mendekati Cherryl yang duduk di teras rumah meski waktu sudah malam, "Sayang.. masuk ke dalam ya, angin malam nya kencang sekali. Nanti Cherryl bisa sakit."
Cherryl menggelengkan kepala nya lemah, air mata nya mulai menetes. Ia tidak bisa menahan air mata nya, ia terlalu sedih karena Markus tidak bisa datang ke pesta ulang tahun nya.
Lucas panik dan memeluk keponakannya itu, "Sayangnya Om kenapa nangis?" Lucas mengusap air mata gadis kecil itu.
"Papa pasti tidak datang karena Cherryl cengeng kan Om? Cherryl masih sering nangis, makanya Papa gak datang karena Cherryl gak jadi anak yang baik." Cherryl menatap Lucas masih dengan mata berkaca-kaca membuat Lucas merasa sangat tidak tega.
Lucas menggelengkan kepala nya, kembali mengusap air mata Cherryl yang masih saja menetes membasahi pipi Cherryl.
"Papa tidak bisa datang bukan karena Cherryl tidak jadi anak baik, Cherryl sudah sangat baik. Cherryl tahu kan Papa sakit, Papa tidak bisa datang karena Papa belum sehat."
"Memang nya Papa sakit apa, kenapa lama sekali sembuh nya?" tanya Cherryl masih tersendat sendat oleh tangisnya.
Kali ini Lucas terdiam tidak menjawab, mana mungkin ia mengatakan kepada Cherryl bahwa Markus sakit secara mental.
Baru saja Lucas membuka mulut hendak mengatakan kebohongan kebohongan lain untuk menjaga perasaan Cherryl, namun ia terhenti karena tiba tiba saja Cherryl bangun dari posisi nya dan berlari keluar gerbang rumah.
Lucas panik, ia berusaha untuk mengejar Cherryl. Namun langkah nya langsung terhenti ketika ia melihat di luar sana Cherryl tengah memeluk sosok yang ia rindukan.
Cherryl memeluk Markus yang berjongkok di depan nya.
Bagaimana bisa Markus bisa ada disini?
"Papa datang! Kenapa Papa lama sekali, acara nya sudah selesai. Cherryl pikir Papa tidak datang." Cherryl memeluk erat Markus, ia menangis dalam dekapan Papa nya itu.
Markus tertawa dan menepuk nepuk punggung putrinya itu lembut. "Yang penting Papa datangkan?"
"Tapi kan Cherryl mau tunjukan Papa ke teman teman Cherryl, Cherryl mau tunjukkan kalau Cherryl juga punya Papa."
Markus terdiam, ia mengeratkan pelukannya kepada putrinya itu. Ia merasa bersalah, merasa bersalah karena telah meninggalkan putrinya itu. Cherryl pasti merasakan apa yang dulu Markus rasakan, rasanya menyedihkan tanpa seorang Ayah. Meski Cherryl punya Lucas, itu tetap saja tidak bisa menggantikan posisinya. Belum lagi hinaan yang di dapat dari orang orang.
"Maafkan Papa ya, tapi kalau Cherryl mau tunjukkan Papa ke teman Cherryl, Cherryl bisa melakukannya kapan saja. Karena Papa janji Papa tidak akan meninggalkan Cherryl lagi." Markus mengecup puncak kepala putri kecilnya itu, "Sekarang kita masuk ke dalam ya. Di luar dingin, nanti putri kesayangan Papa bisa sakit."
Markus menggendong Cherryl, ia membawa Cherryl masuk ke dalam sementara Lucas hanya mengikuti dari belakang, Lucas masih kebingungan.
"Ma-markus?!" teriakan heboh Adara yang menyambut Markus saat ia masuk ke dalam rumah keluarga Leonardus itu bersama dengan Cherryl di gendongannya.
"Mama!! Papa datang!"
Adara kebingungan sama seperti Lucas, "Ba-bagaimana bisa?"
Anggota keluarga yang mendengar suara Adara itu muncul dan ikut terkejut melihat kehadiran Markus.
"Haha, sepertinya kalian sangat terkejut. Aku sudah sehat, aku sudah di ijinkan untuk kembali. Ya meski aku harus rajin mengunjungi dokter untuk memastikan aku benar benar sudah stabil."
Markus menurunkan Cherryl dari gendongannya, ia memberikan Cherryl kado yang sejak awal Markus pegang. "Ini hadiah dari Papa, Selamat ulang tahun ya sayang."
Maaf karena sejak kau lahir baru kali ini Papa merayakan hari ulang tahun mu
Markus hanya melanjutkan kalimat itu di dalam hatinya.
Cherryl menerima kado itu dengan riang, "Sebenarnya Papa tidak kasih hadiah juga tidak Papa. Papa datang saja Cherryl sudah senang!"
Markus menggigit lidah nya berusaha menahan tangisnya nya, ia tidak ingin menangis di depan putri nya.
"Iya, Papa juga senang bertemu dengan Cherryl lagi."
"Papa jangan pergi jauh jauh lagi ya, janji?" Cherryl menyodorkan jari kelingking kecil nya.
Markus tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking kecil Cherryl. "Iya, Papa janji."
sukses
semangat
mksh