Visual Novel ini ada di akun Dedek, yuk follow
- Tiktok @Tanti
- Instagram @ Tantye005
Kika Naziah, gadis korban pembulian karena wajah dan penampilannya, membuatnya di gelar gadis buruk rupa. Suatu hari ia didatangi pria paruh baya yang menawarkan sebuah perkejaan dengan bayaran lumayan mengiurkan. Ingin terlepas dari jeratan Virgo Verdinan yang selalu membulinya tanpa pikir panjang Kika menerima tawaran itu.
Sejak saat itu kehidupan Kika berubah 180°, tak ada lagi Kika buruk rupa. Kini penampilannya sangat modis dan mempunyai wajah yang cantik.
Dirinya bertekad akan membalaskan dendam sakit hatinya pada Virgo suatu hari nanti.
Akankah Kika berhasil membalaskan dendamnya? Atau ia akan terjatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan orang Biasa
Byurr
Segelas jus membasahi rambut juga wajah Ziah karena perbuatan seseorang. Ziah berdiri dan menatap tajam gadis yang baru saja menumpahkan jus ketubuhnya.
"Selina!" bentak Virgo dengan gigi bergemulutuk, tak terima seseorang mempermalukan Ziah di depan umum seperti ini.
"Jadi cewek murahan ini yang buat lo putus sama gue? Dan marah seakan-akan gue yang selingkuh?" Selinya senyum tipis menatap remeh pada Ziah.
"Jangan mulut lo Selina!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Selina, siapa lagi pelakunya kalau bukan Ziah. Jangan harap dirinya menerima di permalukan di depan orang banyak. Bahkan para remaja kepo mulai mengerumuni keduanya.
"Murahan lo bilang? Lalu seberapa tinggi harga diri lo selama ini? Gue nggak kenal sama lo, dan datang-datang nyiram seperti ini," sinis Ziah mendorong tubuh Selina hingga sedikit terjungkal kebelakang. Gadis senyum manis itu terus maju membuat Selina semakin mundur.
"Berhenti lo mau apa?" Selina mencoba menghentikan Ziah.
Bukannya berhenti, Ziah terus maju, mengambil jus di atas meja entah punya siapa dan membalas perbuatan Selina tadi padanya.
"Segar bukan?" tanya Ziah penuh tekanan.
Ziah menelusuri wajah Selina yang mulai ketakutan karena tatapan intimidasi yang ia layangkan. "Bukan gue yang goda mantan pacar lo, tapi dia yang tegila-gila keran kencantikan gue. Kenapa lo belum sadar juga, kalau lo cantik hanya kerana polosen make up, Hm? Apa perlu gue bongkar semunya di depan semua orang?" bisik Ziah.
Tubuh Selina ambruk kelantai mendengar bisikan demi bisikan Ziah. Siapa sebenarnya gadis di hadapannya ini, kenapa begitu kuat dan tak tersentuh, bahkan tahu hal yang ia sembunyikan dari semua orang.
"Apa ini yang di rasakan Kika saat Virgo dan gue nyiksa dan permalukan dia?" batin Selina mulai mengingat perlakuannya pada Kika dulu.
"Kenapa diam? lo teringat sama seseorang? Mungkin orang itu merasakan rasa sakit lebih dari ini, lo mau ngerasain hal yang sama?" bisik Ziah.
"Siapa lo sebenarnya?" Selina mendongak berusaha mengenali gadis badas di depannya, nihil, ia tak dapat mengenalinya.
"Ah ya, gue lupa perkenalkan diri." Ziah mengulurkan tangannya. "Nama gue Naziah putri, semoga lo nggak ketemu gue lagi di jalan."
Usai mengatakan itu, Ziah meninggalkan rooftop tempatnya makan siang bersama Virgo. Tak memperdulikan Virgo yang sedari tadi memanggil namanya. Seseorang menarik Ziah kesebuah ruangan tanpa penghuni, mendekap tubuh Ziah begitu erat.
"Semuanya baik-baik saja, semua yang lakuin udah benar," bisik Panji.
Ziah mendongak menatap Panji, rasa takut yang sedari tadi ia tahan menguap begitu saja berada di dekapan Panji. "Lo di sini? Gue ..."
"Ssstttt." Panji meletakkan telunjuk di bibir pink Ziah. "Virgo ada di luar nyariin lo," bisik Panji.
Setelah memastikan Virgo menjauh, barulah Panji melepaskan dekapannya dari Ziah. Membuka hoodie yang ia gunakan lalu memasang di tubuh gadis manis itu. Kemeja yang di pakai Ziah tembus pandang.
"Panji kok detak jantung lo sama kayak detak jantung gue?" tanya Ziah saat merasakan detak jantung mereka saling beradu saat berpelukan tadi.
"Itu karena kita masih dihup Zi, bloon banget sih lo jadi cewek." Panji menjitak kepala Ziah.
Bukannya menjawab, Ziah malah mendekatkan telinganya tepat di dada kiri Panji, mencoba mendengar detak jantung Panji yang begitu terasa. "Tapi ini tuh beda Ji, lo kayak habis lari gitu, sama kayak jantung gue, padahal tadi gue cuma jalan nggak kari."
Panji menelan salivanya kasar, seberapa keras ia menyambunyikan rasa sukanya, sepertinya akan tercium juga jika Ziah terus bersikap seperti ini.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😊