NovelToon NovelToon
Perfect Oracle

Perfect Oracle

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:417.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ulfa Fauzi

Hidup Jemima serasa dijungkirbalikkan ketika tiba-tiba orang tuanya memaksanya menikah dengan orang asing yang tidak dia kenal.

Jemima terpaksa menerima. Demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Namun, di saat dia mulai bisa menjalankan pernikahan 'terpaksa' ini, satu per satu rahasia suaminya terkuak.

Antara pergi atau bertahan demi orang-orang yang dicintainya. Jemima dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Namun, bagaimana cara dia bertahan jika nyawanya sendiri berada dalam bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Fauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hope

Jemima berjalan menuju meja di mana Astrid duduk. Sembari membawa nampan berisi kopi instan yang baru saja dia ambil. Dua pria asing duduk di meja belakangnya. Sekilas dia mengamati pria satunya. Paruh baya dan berkepala plontos. Sementara pria satunya tidak terlihat dengan jelas karena duduk membelakanginya. Sepertinya masih muda.

“Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku? Satu tahun, Jem. Satu tahun!”

“Kau sudah kembali ke kamar hotel. Lagipula..aku merasa kejadian malam itu bukanlah sesuatu yang penting untuk diceritakan.”

“Demi Tuhan, Jemima!! Tidak penting kau bilang? Wanita itu ingin menikahkanmu dengan cucunya.”

Astrid mengacak rambutnya frustrasi. Dia lalu meneguk kopinya sampai tandas.

“Think, Jemima. Think! Siapa tahu semua ini ada kaitannya dengan kejadian malam itu?”

“Aku pun berpikir demikian. Karena itulah aku tidak berani menolak pernikahan ini.” Jemima menghela napas kemudian melanjutkan ucapannya.

“Kau tahu apa yang kurasakan ketika 'wanita itu' yang datang ke rumahku untuk melamar? Kejadian satu tahun lalu berkelebat di pikiranku dan aku menjadi paranoid. Aku takut jika menolak, keluargaku yang akan terluka.”

Jemima mengatakannya dengan suara lirih namun sarat emosi. Dua butir bening bahkan sudah muncul di kedua sudut matanya.

“Apa yang harus aku lakukan, Astrid”

“Dia mengancammu?”

“Tidak. Tidak secara verbal. Tapi matanya menyiratkan ancaman itu.”

Tubuh Astrid langsung lunglai mendengar jawabannya. Tubuhnya sendiri tak kalah lemas. Mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing. Jemima menyesap hazelnut-nya pelan-pelan. Pandangannya jauh menembus jendela kaca.

Dua orang lelaki berjalan di sisi luar jendela. Ternyata dua orang bule yang tadi duduk di belakang mejanya. Yang paruh baya terlihat terburu-buru mengejar pria muda di depannya. Sementara yang muda berjalan dengan santai.

Sama saja dengan sebelumnya. Wajah si pria muda tetap tidak terlihat dengan jelas. Hanya rambut ikalnya yang berwarna kecokelatan tampak berkibar terkena angin..

Masa bodoh dengan orang itu. Masalah yang dia hadapi saat ini lebih memusingkan daripada sekedar mengurusi seorang pria asing.

——

Kepingan peristiwa lalu itu muncul begitu saja. Membuat Jemima menyadari sesuatu. “Kau orang itu.” Mulut pisau itu berhenti tepat di depan dadanya.

Lelaki di hadapannya menelengkan kepala. “Siapa yang kau maksud?” tanyanya penuh senyuman licik.

“Kau pria yang waktu itu duduk di belakang mejaku. Di kedai kopi.”

“Ah. Ya. Ya. Ya. Kau mengingatnya.” Jari-jari tangan lelaki itu memainkan mata pisau. “Padahal aku pikir kau tidak melihatku. Percakapanmu dengan temanmu waktu itu sungguh menarik. ”

“Apa kau sudah merencanakan ini semua sejak saat itu?”

Lelaki itu pura-pura berpikir. Wajahnya begitu berbeda dengan wajah orang yang biasa Jemima lihat. Jika dulu dia terlihat sangat baik--kali ini dia berwajah bengis.

"Kau percaya pada kebetulan, Jem? Kebetulan aku bertemu denganmu. Kebetulan kau menikah dengan musuhku. Kebetulan aku mendengar percakapanmu. Semuanya penuh kebetulan. Bagiku."

Lelaki itu berjalan mengitari kursi. Masih sambil memainkan pisau di tangan.

“Ketika mendengar percakapanmu waktu itu...” Lelaki itu memberi jeda. “Aku seperti mendapat durian runtuh. Keberuntungan yang tidak terduga.” Kemudian tawanya membahana.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa harus dengan cara seperti ini?"

Kelelahan menyertai suaranya. Darah di lengannya sudah mulai mengering. Menyisakan denyut dan perih yang tak kunjung hilang.

"Sebenarnya aku bukan orang jahat. Aku pun tidak ingin melakukan ini. Tapi suamimu—dia mulai membuat kesabaranku habis."

Teriakannya menyuarakan kesakitan. Satu goresan tipis disematkan di lengannya lagi. Tepat di bawah goresan sebelumnya. Darah kembali membasahi kulitnya yang putih.

"Aku mohon. Lepaskan aku. Aku sedang hamil." Air matanya menderas. Jemima tidak tahu harus melakukan apalagi selain memohon.

"Karena itulah aku membawamu ke sini. Keberuntungan yang lain."

Lelaki itu menempatkan kedua tangannya di sisi kursi. Mendekatkan wajahnya ke wajah Jemima. "Lelaki cenderung lemah melihat orang yang paling dicintainya terluka. Apa yang akan dilakukan Alek ketika melihatmu dan bayi kalian terluka?"

"Bangsat kau, Maximillian! Alek akan membunuhmu. Aku pastikan itu."

"Kau yakin? Sudah hari ke empat. Dan masih belum ada tanda-tanda Alek mencarimu." Max mendecakkan lidah. "Kau yakin dia masih peduli padamu?"

Kata-katanya begitu menusuk. Membuat pertahanan Jemima rubuh. Benarkah Alek sudah tidak peduli padanya? Benarkah sampai sekarang Alek tidak punya niat mencarinya?

"Aku melihat keraguan di matamu. Sayang sekali ya, Jem. Seharusnya kau menerimaku. Karena aku bisa memperlakukanmu lebih baik daripada Alek. I really like you. A lot."

"I'd rather die. Dan aku tidak pernah menyesal dengan pilihanku."

Jawabannya sekali lagi menggemakan tawa. "Sudah cukup percakapan kita hari ini. Saatnya memancing."

"Apa yang akan kau lakukan, Berengsek?" Jemima mendengar ada yang tidak beres dengan kalimat terakhir Max.

"Memancing ikan besar, tentu saja. Tapi sebelum itu, aku butuh umpan."

Rasa panas menjalari pipi kanannya. Sebuah tamparan keras dilayangkan Max. Jeritan tertahan lagi-lagi dia suarakan. Kali ini giliran pipi kirinya yang mendapatkan tamparan.

Jemima tidak kuasa lagi. Tubuhnya benar-benar terasa lemah. Dia tidak sanggup lagi pura-pura bertahan. Yang tersisa dari dirinya hanyalah harapan. 

Harapan bahwa Alek akan menemukannya. Harapan bahwa dia akan bisa bertemu lagi dengan Alek. 

"Kalian bisa mengambil fotonya. Dan kirimkan ke suaminya. Kita lihat, apa yang akan dilakukan suamimu."

——

Alek mengambil setumpuk kertas dan laptop Jemima yang tadi dibawanya. Dengan penuh ketelitian, dia membaca satu per satu isi kertas tersebut. Isinya sama dengan informasi yang diberikan detektif sewaannya. Alek juga melihat foto yang dia temukan waktu itu.

Benar-benar tidak membantu. Pikirnya dalam hati. Alek kembali memasukkan kertas-kertas itu ke dalam map. Saat sedang membereskannya, sebuah foto terjatuh.

Foto seorang lelaki berkepala plontos. Xander. Alek menghitung baru tiga kali dia bertemu secara langsung dengan lelaki ini. Semuanya dalam pertemuan bisnis.

Lelaki itu gencar mengirimkan wakilnya untuk memaksa Alek menjual salah satu perusahaannya. Dia menolak, tentu saja. Penolakannya sepeetinya berdampak cukup buruk.

Xander mulai bertindak melebihi batas. Mengirimkan penyusup. Membuat kekacauan di perusahaannya, salah satunya membakar satu ruangan di perusahaannya dan menyebabkan beberapa orang terluka.

Yang dilakukan lelaki itu membuat Alek geram. Xander tidak hanya mengancamnya, tapi juga orang-orang yang bekerja untuknya. Hal ini tentu saja memaksa Alek untuk menyelidiki lebih lanjut. Menyeret lelaki itu ke penjara merupakan tujuannya.

Tapi Nikolay Xanderov adalah orang yang pintar. Jika bukan karena kurangnya bukti, lelaki itu dengan mudahnya bisa berkelit. Mengelabui pihak polisi yang sengaja dikirimkan Alek.

Hingga akhirnya istrinya yang jadi korban. Alek tidak pernah berhenti merutuki kebodohannya sampai semua ini bisa terjadi.

Apapun akan dilakukannya untuk membawa Jemima kembali. Termasuk menghabisi orang itu jika perlu. Satu-satunya hal yang tidak pernah Alek lakukan sebelumnya. Membunuh.

——

Alek menutup pintu kamarnya pelan. Seharian ini dia berkeliling untuk menyatukan kepingan-kepingan informasi yang sudah didapatkannya dari polisi.

Saat Alek keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan jubah, pintu kamarnya diketuk.

“Who?” tanyanya dengan nada lelah. Hari ini dia benar-benar kelelahan. Dia ingin berbaring sebentar saja.

“Joaquin, Sir.” Alek mengerutkan kening dan melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Hampir tengah malam dan Joaquin ingin bertemu dengannya.

“Aku akan keluar sebentar lagi. Tunggu aku di ruang duduk.”

“Ya, Tuan.”

Selepas kepergian Joaquin, Alek segera berganti pakaian dan menyusul lelaki itu ke ruang duduk. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Joaquin di jam seperti ini.

“Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?” Alek bertanya tanpa basa-basi sesampainya di ruang duduk.

"Ada yang mengirimkan ini untuk Anda." Tubuh Alek menegang melihat amplop coklat yang disodorkan Joaquin.

"Paket ini baru saja datang?" Nada cemas mulai menyelimuti Alek.

"Tidak, Tuan. Sudah sejak tadi siang. Saya seharian mencari anda, bahkan saya sudah menghubungi ponsel anda berkali-kali, namun tidak aktif."

Alek mengumpat dalam hati. Seharian ini dia memang mematikan ponselnya yang biasa dia gunakan. Dia hanya menghidupkan satu ponselnya yang nomornya hanya diketahui orang-orang tertentu seperti Matt dan Astrid. Dia tidak ingin dirinya diganggu dengan telepon-telepon tidak penting.

"Saya tidak berani membukanya, karena di luar amplop tertulis nama Anda."

Tanpa pikir panjang Alek langsung merebut amplop itu dari tangan Joaquin dan membukanya. Tubuhnya membeku seketika. Rasa panik langsung menjalar ke otaknya.

"Apakah ada sesuatu di dalam amplop tersebut, Tuan?"

Alek mendengar Joaquin bertanya. Tanpa bermaksud untuk menjawab, Alek segera keluar meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Joaquin sendirian yang saat itu nyalinya menciut melihat raut kemarahan yang diperlihatkan Alek.

——

Alek menyetir seperti orang kesetanan. Detak jantungnya masih belum melambat, bahkan semakin keras terdengar. Tangannya yang memegang setir tampak gemetaran. Rasa panik belum bisa dia singkirkan dari pikirannya.

Dia melihat Jemima.

Ya Tuhan. Dalam amplop itu dia melihat Jemima. Ada lebih dari tiga foto istrinya yang sedang diikat dan disiksa. Alek juga melihat darah di baju Jemima. Demi Tuhan! Dia akan membunuh siapa saja yang telah melukai istrinya.

Dalam kekalutan itu, ponsel Alek berbunyi. Dia langsung mengangkatnya tanpa melirik nama yang tertera di layar.

"Alek's here."

"Alek, kau di mana? Saat ini aku dan Astrid ada di rumahmu dan kau tidak ada." Ternyata Matt yang meneleponnya.

"Maaf, Matt... Ada yang harus aku lakukan. Aku..."

"Shut your mouth up and listen to me carefully! This is an emergency call."

Alek mengerutkan kening mendengar nada panik dalam suara Matt. Tidak ingin membantah, Alek akhirnya diam saja dan mendengarkan.

Setiap kata yang keluar dari mulut Matt membuatnya semakin menekan pedal gasnya kuat-kuat. Tangannya juga tak kalah erat memegang setir. Rasa panik yang tadi dia rasakan kini berubah menjadi amarah.

Setelah dirasa cukup mendengarkan informasi dari Matt, Alek mematikan teleponnya. Namun sebelumnya, dia memberitahukan Matt alamat yang dia tuju sekarang. Alek kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia menambah kecepatan mobilnya, berharap bisa segera sampai di tempat tujuan dan bertemu dengan Jemima.

"Wait me, Jemima. Please, wait me."

1
Mooie Jkt
Menarik..
Rhenii RA
Anak buah si Alek dan yang lainnya kemana? Kok bisa pergi sendiri tanpa perhitungan lebih dulu? Padahal untuk ukuran pengusaha yang musuhnya banyak sudah pasti jago pegang senjata dan jago berkelahi sedangkan dia gak bisa apa2😂
Rhenii RA
Emang beneran bodoh sih si Alek, niat mau nolongin istrinya malah jadi beban batin
Rhenii RA
Mau ngakak rasanya😆
Rhenii RA
Dungu sih lu jadi orang
meitree
ini sambungan atau cerita baru ??
meitree: lama..bgtss..kayana harus baca depan n tengah nya dikit ni.. 😃😁✌🏾✌🏾
total 2 replies
ngrajut story
Nama suaminya Alek ya? Bukan alex thor?
Ulfa Fauzi: Iya. Alek. Pake 'K' ya..bukan 'X'.
total 1 replies
ngrajut story
Terharu aja baca percakapan ayah anak ini.
Ulfa Fauzi: hehehehe...aku yg nulis juga terharu kok.
total 1 replies
ngrajut story
Sepertinya bagus. Lanjut baca ya.
Ulfa Fauzi: makasih...
total 1 replies
Qeena
hai kk..aku mmpir..dari LELAKI MASA DEPAN..mkasih kk..
Dewi Djordan
lanjut
Ulfa Fauzi: makasih. Semoga suka dengan ceroitanya dan bisa melanjutkan sampai selesai. 🥰
total 1 replies
Yulestiani Desy Wulandari Soewarno
Novelmu keren thoor... Ditunggu karya mu selnjutnyaaa 😘
Ulfa Fauzi: Aakkk..Terimakasih..terimakasih....Semoga bisa bersabar menunggu karyaku slanjutnya ya.
total 1 replies
Dina Avioni
thanks thor ceritamu sangat bagus. semangat untuk terus berkarya. kutunggu karyamu selanjutnya
Ulfa Fauzi: Terimakasih juga sudah mau membaca sampai akhir. Jangan lupa nonton lanjutannya ya...Uhm, bukan lanjutan sih, tapi buku ke dua dengan tokoh beda tapi berkaitan. Prolog sudah aku up di sini juga. Silakan dibaca. xixixi....
total 1 replies
Dina Avioni
woah terimakasih thor karyamu bagus bgt aku suka feelnya dpet smpek aku ikut greget
Ulfa Fauzi: Terimakasih..Terimakasih...... Yang nulis juga ikutan gereget ini. hehe...
total 1 replies
Yenni Efita
bagus ,,,, g bertele tele jln ceritany. singkat padat jelas😁
season 2 ny Thor , rada nanggung ceritanya , happy ending sih tp sep kurang ja. season 2 in skalian sm anak'' ny
Ulfa Fauzi: Waaah.. Terimakasih. Ga ada Season 2 sih.. Tapi ada novelku satu lagi yang berkaitan sama buku ini. Judulnya Perfect Match. Sudah ada prolog-nya. Mungkin bisa dibaca dulu prolognya. xixixi.. Terimakasih ya sudah mau mampir.
total 1 replies
sweet martabak
mksh utk novel nya thor..🙏🙏😍
ini novel pertama yg sy kasih like setiap bab nya krn tak terlalu bnyk.. dan bisa kebut semalam smpe slesai.. 😀
sukaaaa bngt novel nya gak terlalu panjang tp berkesan..
semangat trs ya thor..
tetap berkarya.. 👍👍👍
Ulfa Fauzi: Waaahhh.. Terimakasih ya. Saya amin kan untuk doanya. Semoga doa yang sama kembali ke kamu. Terimakasih sudah mau bertahan membaca cerita ini sampai selesai.
total 1 replies
Mendez Ae
baru kali ini aku maraton baca novel sampai tamat.
cerita yang menarik walaupun perlu kesabaran untuk memahami alurnya..
terimakasih tor.
Ulfa Fauzi: Terimakasih...Terimakasih..... Seneng bnaget kalau ada yang suka. Saya juga menerima kritik lho ya. Kalau mau kritik yang pedes juga gapapa. Buat saya belajar. :))
total 1 replies
Ranella Verghea
beneran suka dan jatuh cinta sama karyamu thorr!! sukses selaluuu 🥰🥰
Ranella Verghea: amin...
Terima kasih kembaliii 😆😆😆
total 2 replies
Juli Trisnawati Pane
ceritanya banyak b.inggrisnya gäk ngerti dah
Ulfa Fauzi: Mungkin jika dibaca dulu sampai akhir nanti akan bisa dimengerti. Hehe.. Terimakasih btw sudah mau mampir.
total 1 replies
Siti Julaeha Julai
sampe sini aku masih blm ngerti alurnya thorr
Ulfa Fauzi: Yang bagian belum dimengerti di mananya? Mungkin bisa lebih diperjelas? Biar bisa saya jadikan koreksi untuk diri saya juga. hehe...Terimakasih sudah mau mampir kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!