Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.
Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.
Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.
Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.
Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.
Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAU BERSEDIA?
Ben masih menunggu jawaban dari Ayunda yang tak kunjung menjawab.
"Baiklah, lupakan! Aku hanya bercanda!" Ben tertawa kaku, sebelum akhirnya pria itu berbalik dan memunggungi Ayunda.
Ayunda bahkan belum memberikan jawaban, tapi kenapa Ben sudah menyimpulkannya sendiri begitu?
Dasar bocah!
Sikapnya selalu saja kekanakan!
"Ehem!" Ayunda berdehem ringan, dan Ben tetap tak mengubah posisinya. Sepertinya bocah tua nakal itu benar-benar merajuk sekarang.
"Hanya memeluk, kan?" Tanya Ayunda sedikit membesarkan volume suaranya.
Ben tak jadi merajuk dan berbalik dengan cepat.
"Ya!"
"Baiklah, aku tak keberatan," ucap Ayunda akhirnya seraya memejamkan kedua matanya.
"Benar?" Kedua mata Ben langsung berbinar bahagia seperti bocah yang baru saja mendapatkan hadiah lolipop.
Benntak membuang waktu, dan langsung menggeser posisinya mendekat ke arah Ayunda. Ayunda sontak berjenggit saat kulitnay bersentuhan dengan kulit Ben di daam selimut. Ini benar-benar pertama kalinya bagi Ayunda bersentuhan dengan lawan jenis secara intim.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Ayunda bingung.
"Terserah! Kau bisa menghadap ke arahku atau memunggungiku juga tak masalah," jawab Ben yang sekuat tenaga sedang menahan hasratnya yang mulai bergejolak.
Sial!
Ayunda segera berbalik memunggungi Ben, saat tiba-tiba bokongnya tak sengaja menyentuh milik Ben yang berada di dalam selimut dan terasa seperti sebuah tongkat.
Apa?
Apa milik Ben sudah benar-benar bangun hanya karena kulit mereka bersentuhan tadi?
"Eh, maaf jika yang itu sedikit mengganjal," cengir Ben seraya terkikik.
Ayunda hanya tertawa canggung dan merasa sedikit aneh dengan apa yang ia lakukan bersama Ben malam ini.
Padahal mereka berdua juga sudah sama-sama naked dan berada di dalam selimut yang sama. Tapi masih saja malu-malu seperti pasangan yang baru bertemu.
Ben memilih melingkarkan lengannya ke tubuh Ayunda di luar selimut, lalu sedikit mendekatkan bagian bawah tubuhnya ke arah bok*ng Ayunda yang kenyal.
Astaga!
Rasanya seperti tersengat listrik ribuan volt!
Ayunda berjenggit saat tangan Ben yang tadinya melongkar di pinggang sudah naik tanpa permisi dan merem*s dada Ayunda yang hanya terbalut selimut.
"Ben!" Gumam Ayunda yang tubuhnya terasa membeku karena dekapan hangat dari Ben.
Ben mengecup tengkuk Ayunda berulang kali tanpa sedikitpun bersuara. Ayunda seakan bisa merasakan lidah Ben yang kini menari-nari di tengkuknya, dan tangan Ben yang semakin erat menangkup dadanya, sambil sesekali memainkan ujungnya dari luar selimut.
Kaki Ben juga sudah ganti membelit Ayunda di dalam selimut, dan Ayunda bisa merasakan milik Ben yang semakin mengeras di dalam sana.
Ya ampun!
Sepertinya Ben benar-benar sudah bergairah, sama seperti halnya Ayunda yang mulai bergerak dengan gelisah dan menggeliat-menggeliat tak karuan karena decapan dan kecupan dari Ben di setiap jengkal tubuhnya.
"Ay," bisik Ben lembut di telinga Ayunda.
"Boleh aku-" Ben menyibak selimut yang sejak tadi menutupi tubuh polos Ayunda. Dan pria itu langsung terkesiap menyaksikan pemandangan paling indah yang baru ia lihat setelah hidup selama dua puluh dua tahun.
Sangat indah!
Dan membuat bergairah, tentu saja!
"Ay, kau seksi sekali!" Puji Ben yang tanpa basa-basi lagi, langsung melahap dua gundukan milik Ayunda dengan rakus dan bertingkah seperti bayi besar yang sedang menyusu.
Oh, ya ampun!
"Ben, pelan-pelan!" Ayunda melenguh dan berusaha menarik kepala Ben agar menjauh dari dadanya. Namun sepertinya hal itu sia-sia saja karena kini Ben malah menggigit kecil payud*ra Ayunda dan menariknya dengan nakal.
"Ben!" Pekik Ayunda yang malah membuat Ben tergelak.
"Menggemaskan sekali!" Celetuk Ben seolah tanpa dosa.
Ben masih terus bermain-main di dada Ayunda dan mempraktekkan apapun yang tadi Ben lihat di layar televisi. Praktek langsung rasanya lebih menyenangkan ketimbang hanya melihatnya.
"Ben, sudah!" Ayunda terus menggelinjang, dan tempat tidur yang kini mereka tempati bentuknya sudah semakin tak karuan.
Ben tetap keras kepala dan belum mau berhenti bermain-main di dada Ayunda.
Bibir Ben sudah merangkak naik sekarang, menyusuri leher Ayunda dan mencecapnya berulang kali, berharap Ben bisa meninggalkan tanpa kepemilikannya di sana. Namun msih juga belu berhasil.
Sial!
Bagaimana, sih caranya?
Ben memilih mengabaikan tanda yang sulit ia sematkan tersebit dan mrmilih untuk lanjut menyusuri dagu Ayunda, lalu semakin naik dan kini Ben bisa merasakan deru nafas Ayunda serta bibir kenyal istrinya tersebut.
Ben mengecupnya singkat, namun tak ada penolakan.
Ayunda hanya memejamkan matanya.
Ben mencecap sekali lagi, kali ini lebih lama dan dalam. Belum ada balasan dari Ayunda, namun istrinya tersebut juga tak menolaknya.
"Ay!" Panggil Ben mesra yang tanpa ia sadari, sidah mengungkung tubuh Ayunda yang berada di bawahnya.
Ayunda membuka mata dan menatap pada wajah sempurna Ben.
"I love you!" Bisik Ben yang langsung membuat Ayunda tersenyum tipis dan sedikit tersipu.
Ben kembali meraup bibir Ayunda, dan kali ini Ayunda membalasnya meskipun masih sedikit canggung dan malu-malu.
"Apa aku boleh melakukannya malam ini?" Ben meminta izin pada Ayunda di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam dan intim.
"Bukankah katamu tadi hanya memeluk?" Jawab Ayunda sedikit tersengal karena ciuman Ben yang semakin tak terkendali.
"Tapi aku menginginkannya, Ayunda! Aku menginginkannya," Ben menatap Ayunda dengan tatapan yang dipenuhi oleh kabut gairah.
Hasrat Ben rasanya sudah mencapai ubun-ubun sekarang dan minta segera dilepaskan.
Ayunda menyudahi ciumannya pada Ben dan malah memeluk kepala suaminya tersebut, lalu membimbingnya agar bersandar di atas dada Ayunda.
Ben akhirnya hanya bisa pasrah dengan penolakan dari Ayunda malam ini.
Sepertinya istri Ben ini memang belum siap untuk melakukannya dan mungkin Ayunda juga masih berkubang dengan kesedihannya.
Sabar, Ben!
Semua penantian ini pasti akan indah pada waktunya.
"Ben, apa kau tidur?" Tanya Ayunda seraya mengusap lembut kepala Ben yang masih bersandar di dadanya.
"Tidak! Tapi wajahku sedikit terjepit gunung kembar disini," jawab Ben sedikit bergumam yang sontak membuat Ayunda terkikik kecil.
"Jadi tidak?" Tanya Ayunda lagi yang tentu saja membuat Ben sedikit bingung.
Pria itu segera mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya pada Ayunda.
"Jadi apa?" Tanya Ben polos.
"Itu!" Ayunda salah tingkah dan hanya menjawab dengan bergumam.
Ben semakin mengernyit tak mengerti.
"Tadi katanya kamu mau-" Ayunda mengendikan dagunya ke bagian bawah tubuh Ben.
"Aku mau tidur kalau nggak jadi," lanjut Ayunda lagi yang langsung membuat Ben mengangkat tubuhnya dan kembali mengungkung Ayunda.
"Kau bersedia?" Mata Ben sudah kembali berbinar penuh kemenangan.
Ayunda mengangguk dengan malu-malu, saat tiba-tiba bibir Ben sudah mendarat dengan cepat di atas bibirnya dan kembali menghujani Ayunda dengan kecupan-kecupan dalam yang membuat mabuk kepayang.
.
.
.
Readernya ikut mabuk kepayang 😂😂😂
Kurang hot?
Kurang hot?
Kurang hot?
Peluk kompor, gih! Biar hot!
Ben 3 eps hari ini.
Teresa 4 eps hari ini.
Yang nggak ngasih like, nanti jempolnya cantengan 😂😂
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.