NovelToon NovelToon
Setelah Dipenjara, Aku Dinikahi Diam-diam oleh CEO Triliuner

Setelah Dipenjara, Aku Dinikahi Diam-diam oleh CEO Triliuner

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sasi

Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Luka yang Tersembunyi

Leon menjemput Kirana malam itu tanpa banyak bicara.

Ia mendengarkan cerita tentang Jessica, CCTV, dan ancaman terakhir. Kali ini Kirana menceritakan lebih cepat, seolah ingin mengeluarkan racun sebelum mengendap. Leon tidak memotong, tetapi ketika nama Jessica disebut, wajahnya menjadi semakin dingin.

"Jangan lakukan apa pun yang membuat toko terkena masalah," kata Kirana sebelum ia sempat bicara.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Matamu sudah."

Leon meliriknya. "Kamu semakin pandai membaca."

"Kamu semakin buruk menyembunyikan."

Kalimat itu membuat keduanya diam. Mereka sama-sama tahu pembicaraan itu tidak hanya tentang Jessica.

Di apartemen, Kirana mandi lalu mengecek kabar Nio. Bu Rahayu mengirim foto Nio tidur di kursi dengan selimut tipis. Kirana menyimpan foto itu. Hidupnya masih berantakan, tetapi ada bukti kecil bahwa satu orang yang ia cintai malam ini aman.

Ia keluar membawa dua cangkir teh, satu untuk dirinya dan satu untuk Leon. Pertengkaran tentang nama Nathaniel belum selesai, tetapi setelah hari panjang dengan Jessica, ia tidak punya tenaga untuk menambah perang. Leon menerima cangkir itu dengan ucapan terima kasih pelan. Untuk beberapa menit, mereka duduk seperti pasangan yang benar-benar hanya lelah, bukan dua orang yang menyimpan terlalu banyak rahasia.

Ketika telepon Nadine masuk, ketenangan kecil itu pecah.

Leon berada di ruang tamu ketika ponselnya berdering.

Nama Nadine muncul.

Ia langsung mengangkat. "Di mana kamu?"

Di ujung sana, tidak ada jawaban beberapa detik. Hanya napas tertahan.

"Kak," suara Nadine akhirnya terdengar. Tidak ceria. Tidak bercanda. Terlalu pelan. "Kamu sibuk?"

Nathaniel berdiri. "Tidak. Ada apa?"

"Tidak apa-apa. Aku cuma..."

Suara benda jatuh terdengar di belakangnya. Lalu suara pria, jauh tetapi tajam.

"Dengan siapa kamu bicara?"

Nadine menarik napas cepat. "Nanti aku telepon lagi."

"Nadine," kata Nathaniel dengan nada memerintah.

Panggilan terputus.

Kirana keluar dari kamar dengan rambut masih basah. "Ada apa?"

Leon sudah mengambil kunci mobil.

"Adikku."

"Nadine?"

"Aku harus pergi."

Kirana tidak bertanya apakah ia boleh ikut. Dari wajah Leon, ia tahu ini bukan kunjungan biasa.

"Hati-hati," katanya.

Leon berhenti di pintu. Mungkin ia mengira Kirana akan menuntut penjelasan tentang Nathaniel lagi. Namun perempuan itu hanya berdiri di sana dengan kekhawatiran yang jernih.

"Aku akan kembali."

"Kalau butuh bantuan, hubungi aku."

Ia hampir tersenyum, meski situasinya tidak memberi ruang. "Kamu?"

"Aku pernah hidup dalam rumah yang membuat orang takut bernapas. Aku tahu sedikit."

Leon terdiam. Kalimat itu membuka gambaran yang tidak pernah Kirana ceritakan penuh: rumah keluarga Li, suara Sylvia Leng, meja makan yang membuat tubuh otomatis mengecil, dan cara seseorang belajar membaca langkah kaki sebelum membaca wajah. Ia ingin bertanya, tetapi malam ini bukan tentang lukanya. Malam ini ada perempuan lain yang mungkin sedang berdiri di ruangan sama takutnya.

Leon menatapnya lebih lama, lalu mengangguk.

Setelah pintu tertutup, Kirana tetap berdiri beberapa detik. Ia tidak tahu apa yang akan Leon temukan di rumah Nadine, tetapi rasa takut perempuan itu di telepon terlalu nyata. Kirana mengenal nada suara orang yang sedang berusaha terdengar biasa agar tidak dihukum setelah panggilan selesai.

Ia mengambil ponsel dan menulis pesan singkat: Kalau Nadine butuh tempat aman sementara, kamar tamu bisa dipakai.

Leon membalas dari lift: Terima kasih.

Kirana membaca dua kata itu lama sekali.

Malam itu, ia tidak memakai mobil sederhana. Di basement, ia mengambil mobil lain yang lebih cepat dan menelepon Leo.

"Alamat apartemen Nadine."

"Bos?"

"Sekarang."

"Saya kirim. Perlu orang?"

"Tunggu perintah."

Apartemen Nadine berada di kawasan bagus, tetapi tidak sebesar Westhill Estate. Gedungnya tinggi, lobi bersih, keamanan ketat. Nathaniel masuk tanpa menunggu lama karena namanya masih cukup untuk membuat manajer gedung turun sendiri.

"Pak Nathaniel, ada yang bisa kami bantu?"

"Unit Nadine Lok."

Manajer ragu. "Apakah Ibu Nadine..."

Nathaniel menatapnya.

Ragu itu hilang.

Lift terasa terlalu lambat. Di depan pintu unit Nadine, ia mendengar suara pria sebelum menekan bel.

Sepanjang perjalanan naik, Nathaniel mengingat semua tanda yang ia lewatkan. Nadine yang sering memakai lengan panjang meski cuaca panas. Nadine yang pulang lebih awal dari acara keluarga dengan alasan Gerald menjemput. Nadine yang bercanda terlalu keras setiap kali Yvonne bertanya apakah ia bahagia. Semua tanda itu dulu terlihat seperti kebiasaan kecil. Sekarang semuanya berbaris menjadi tuduhan terhadap dirinya sendiri.

"Aku sudah bilang jangan telepon keluargamu untuk hal kecil."

Suara Nadine lebih rendah. "Aku hanya..."

"Hanya apa? Mengadu?"

Nathaniel menekan bel.

Di dalam, suara berhenti.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit. Wajah Nadine muncul dari celah. Riasannya sudah dihapus sebagian, matanya merah, dan rambutnya tidak serapi tadi siang. Ia mencoba tersenyum.

"Kak? Kenapa datang?"

Nathaniel melihat tangannya yang memegang pintu.

Gelang lebar itu tidak ada.

Di pergelangan Nadine, memar biru keunguan terlihat jelas. Lebih dari satu. Ada juga bekas merah di dekat siku yang tidak mungkin berasal dari terbentur meja biasa.

Mata Nathaniel berubah.

Nadine segera menarik lengan, tetapi terlambat.

"Aku jatuh," katanya cepat.

Jawaban itu keluar terlalu siap. Seperti kalimat yang sudah dilatih di depan cermin, dipakai untuk dokter, teman, sopir, bahkan ibunya sendiri. Nathaniel merasa sesuatu di dalam dirinya turun menjadi sangat dingin.

"Buka pintu."

"Kak, jangan malam ini."

Dari dalam, suara Gerald Lok terdengar. "Siapa?"

Nathaniel menatap adiknya. "Buka."

Nadine menggeleng nyaris tak terlihat. Ketakutan di matanya bukan takut pada Nathaniel, melainkan takut pada apa yang akan terjadi setelah ia pergi.

Langkah kaki mendekat dari dalam unit.

Gerald muncul di belakang Nadine, memakai kemeja rumah yang mahal, wajahnya tampan dan kesal. "Oh. Kakak ipar."

Ia tersenyum, tetapi matanya menghitung.

"Ada urusan apa malam-malam?"

Nathaniel menatap tangan pria itu, lalu wajah Nadine, lalu memar di lengannya.

"Aku datang menjemput adikku."

Senyum Gerald menipis. "Nadine tidak pergi ke mana-mana."

Nadine berbisik, "Kak, pulang dulu."

Nathaniel tidak bergerak.

Koridor apartemen terasa terlalu terang, terlalu sunyi. Di balik pintu yang hanya terbuka setengah, bau alkohol tipis keluar bersama udara dingin AC.

Gerald membuka pintu sedikit lebih lebar, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak takut. Tetapi posisi tubuhnya menghalangi Nadine dengan cara yang terlalu biasa dilakukan.

Nathaniel mengepalkan tangan.

Di saat yang sama, dari dalam unit terdengar suara benda kaca berguling di lantai.

Nadine tersentak.

Gerald menoleh tajam. "Masuk."

Perintah itu bukan untuk Nathaniel. Itu untuk Nadine.

Nathaniel melangkah maju.

Malam yang sejak tadi tertahan akhirnya mencapai tepi.

1
Ma Em
Semoga pernikahan Kirana dgn Nataniel langgeng dan tdk ada yg bisa memisahkan kecuali maut yg memisahkan Kirana dan Nataniel , dan segera terbongkar siapa pembunuh yg sebenarnya agar nama Kirana bersih tdk di cap sebagai pembunuh lagi .
sunaryati jarum
Kali ini Jessica tidak bisa mengelak.lagi jika bukti pencurian desain.yang dilakukan meninggalkan jejak
Aidil Kenzie Zie
kali ini kau masuk jebakan Jalang🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga kamu jadi desainer yang bersinar, Kirana
sunaryati jarum
Semangat Kirana temukan diri sendiri
Aidil Kenzie Zie
belum tau dia siapa Nathaniel 🤭🤭🤭
Bilbina Shofie
lanjut thoor
Aidil Kenzie Zie
baru bertemu secara tidak langsung nyuruh ninggalin suaminya demi orang kaya ibu macam apa itu 🤔🤔🤔 belum tau dia siapa Nathaniel 🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
Nadine dapat KDRT masa nggak tau sih Nath🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si jalang ketakutan 🤣🤣🤣🤣
jekey
sukaaa
Aidil Kenzie Zie
👍🏻 Leon 🤦🏻 Nathaniel
ronarona rahma
😭
ceuceu
bukan nya baik tapi bodoh bukan nya pergi krn leon kena obat perangsang,malah nemenin bikin harga diri jatoh kn kirana,bodoh bgt
Aidil Kenzie Zie
santai Kiran🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
ayolah Nath jujur 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Nio neneknya Kirana 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
penasaran siapa Nio
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
mampir
Bilbina Shofie
semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!