Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Permohonan
[Sejujurnya, belakangan aku merasa ingin hidup. Tapi, tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Jadi, aku bisa apa? —Blue Hawkins]
Drrt....
Drrt....
Baru saja Blue hendak terlelap, suara getaran ponsel Hope di atas nakas kembali mengusiknya.
"Siapa lagi, sih!" geramnya. Jika mantan pacar Hope yang menghubungi lagi, maka Blue bersumpah akan memblokir nomor tersebut.
Blue menjulurkan tangannya untuk mengambil ponsel Hope tanpa bangkit dari posisinya dan tetap berbaring. Di tatapnya layar ponsel yang sekarang menampilkan tulisan 'Kakek.'
Blue menempelkan ponsel ke telinganya setelah panggilan tersebut terhubung.
"Kau belum tidur?" terdengar suara Hope yang langsung menyembur begitu ponsel menempel sempurna di telinga Blue.
"Jika aku tidur, maka aku tidak dapat menjawab panggilan darimu," jawab Blue santai sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih polos.
"Ini sudah larut malam kau harus beristirahat!" seru Hope.
"Kau yang menghubungiku. Dengan kata lain kau-lah yang menganggu jam istirahatku," balas Blue.
"Ah, benar! Aku harusnya tidak menghubungimu selarut ini. Ini sudah sangat larut malam. Maafkan aku, aku hanya menghawatirkanmu."
Blue mengangkat kedua bahunya acuh, walaupun Hope tak dapat melihatnya. "Tak masalah."
"Apa ada suatu hal yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Hope yang terdengar agak khawatir.
"Ada."
"Apa?"
"Kamu," kata Blue dengan pandangan menerawang menatap ke arah langit-langit kamar rumah sakit.
terdengar helaan napas pelan dari ujung telepon. "Baiklah, istirahatlah. Aku tidak akan menganggumu lebih jauh lagi. Jika ada apa-apa kau bisa segera menghubungiku."
"Siap, Ma'am."
"Kamu benar-benar tidak mau menjalani pengobatan?" tanya Hope sambil membuka pintu mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Setelah beberapa hari dirawat dibrumah sakit, tubuh Blue sudah kembali fit, dan ia sudah diizinkan untuk pulang. Hope sudah beberapa kali membujuk Blue untuk menjalani prosedur pengobatan HIV-nya tapi, Blue selalu menolaknya.
Blue menatap ke luar jendela saat mobil Hope perlahan keluar dari parkiran rumah sakit. "Tidak," jawabnya singkat.
Hope menghembuskan napasnya pelan. "Tapi, penyakitmu bisa memburuk sewaktu-waktu."
"Lagi pula pengobatan hanya memperlambat waktu penyakit ini semakin memburuk. Tidak dapat menyembuhkannya." Blue masih menatap ke arah luar jendela, menatap objek-objek di luar jendela yang selalu berganti seiring mobil melaju.
Hope menolehkan wajahnya sejenak ke arah Blud. Ia sungguh ingin Blue menjalani pengobatan. Karena ia khawatir dengan keadaan Blue. Tapi, jika Blue menolak sarannya, ia bisa apa lagi? Ia sudah cukip sering membujuk Blue dan selalu ditolak oleh pria itu.
Hope membuka kaca jendela di samping kepala Blue. Agar angin dapat menerpa wajah Blue. Blue memejamkan matanya dan menghirup udara musim gugur dalam-dalam. Sejenak suasana di dalam mobil menjadi hening. Hope dan Blue terjebak dalam pikiran mereka masing-masing.
Sejujurnya Blue belakangan merasa ingin hidup. Tapi, ia bisa apa saat penyakitnya tidak akan bisa disembuhkan?
Sementara Hope sambil menatap lurus ke depan ke arah jalanan yang cukup sepi. Tidak seperti jalanan di London yang jauh lebih padat. Perasaanya campur aduk. Ia juga tak mengerti mengapa ia sangat mengkhawatirkan Blue padahal ia belum lama bertemu dengan Blue, dan mereka hanya orang asing sebelum Hope pergi tinggal di rumah kakeknya.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan ruman Kakek Sam. Hope memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah kakeknya dan mematikan mobilnya. Blue turun dari mobil disusul Hope kemudian.
"Hope," panggil Blue saat Hope baru saja menutup pintu mobilnya.
"Ya?"
"Terima kasih atas bantuanmu selama ini," kata Blue tulus sambil tersenyum simpul.
Hope melambaikan tangan di depan wajahnya. "Aku tidak membantumu untuk mendapatkan ucapan terima kasih darimu."
Blue menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku tidak suka berutang. Terutama utang budi. Jadi, jika kau butuh sesuatu dariku entah bantuan jasa atau apapun itu, kau bisa memberi tahuku. Aku akan berusaha mewujudkannya untukmu."
Mata Hope melebar penuh binar. "Benarkah? Akan kupikirkan apa yang kuinginkan, dan jika saat itu aku sudah menemukan apa yang kuinginkan maka kau harus benar-benar mengabulkannya," kata Hope dengan senyum lebar penuh minat.
Blue menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku berjanji padamu. Asalkan kau tak memintaku melakukan tindakan kriminal."
.
.
.
.
.
.
.
Note: Halo semua, maaf ya kalau chapter kali ini sangat pendek padahal udah lama gak update. Soalnya belakangan saya kurang sehat jadi agak susah mikir 😅
Jadi, buat kalian, jaga kesehatan yaa karena sakit itu gak enak dan sekarang lagi musim penyakit😊😉.
Hope you all still enjoy my story and stay healthy, thank you 😊
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain