Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
“Jadi kalian mau tinggal di mana? Mama sih, berharap kalian tinggal di sini,” ucap Nurul, sambil sarapan. Nisa dan Seno saling menatap. Canggung. Sebenarnya Nisa tidak masalah tinggal di rumah mertuanya, tapi jarak dari sana ke kantornya akan jauh sekali.
Seno berdeham. Sebisa mungkin dia harus mengucapkan kata-kata yang tidak menyinggung ibunya. Dibanding Nisa, Senolah yang keberatan tinggal dengan orang tuanya sendiri. Alasannya, nanti dia tidak akan bebas melakukan hal apapun, apalagi ayahnya yang masih ada keturunan darah biru, tentu banyak hal-hal yang tidak sejalan dengannya. Ayahnya yang menurutnya sangat kuno, Seno enggak mau berkonflik dengan orang tuanya sendiri. Apalagi dari masih bujangan Seno sudah terbiasa tinggal sendiri.
“Ma, Mama tau sendiri kan, jarak dari sini ke kantor Nisa itu jauh banget. Kasian dia entar. Seno juga enggak mau merepotkan Mama sama Papa.”
“Kami enggak merasa direpotkan, kok. Iya kan, Pa?” Ayah Seno mengangguk setuju sebelum menyeruput kopinya.
“Ya udah, gini aja deh. Tiap weekend kami akan menginap di sini. Gimana, setuju?” tawar Seno. Nurul terdiam. “Weekend?”
“Iya, Ma,” ucap Nisa.
“Ya udah deh. Tapi mama harap kalau kalian udah punya anak pindah ke sini. Tinggal di apartemen buat anak-anak itu kurang baik. Lagian mama kesepian di sini, nanti kalau ada cucu kan, bisa kehibur.”
Sekali lagi Nisa dan Seno saling tatap, Seno menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Nisa.
“Iya, Ma,” ucap Nisa. Senyum Nurul seketika menggembang dan menghela napas lega.
“Oh iya, Sen. Kapan wisuda kamu?” Ayah Seno bertanya.
“Bulan depan, Pa,” jawabnya. Aryan Kusuma ngangguk-ngangguk. “Nanti sekalian ajak Mas-mu sama kakak iparmu.”
“Mas Agam emang ada waktu, Pa?”
“Tanya aja dulu. Mertuamu juga sekalian ajak, sekalian kita berlibur sebentar di sana,” tutur ayah Seno.
“Hah? Berlibur? Tapi, Pa. Seno sama Nisa mana ada waktu buat liburan. Di kantor lagi banyak banget kerjaan. Nisa juga belum tentu dikasih izin.”
“Eh, sekalian kan kalian bulan madu juga. Emang kalian enggak ada rencana bulan madu? Awas jangan nunda-nunda punya momongan ya. Umur kamu tuh udah pantes jadi bapak,” tutur Nurul. Nisa dan Seno menelan saliva. Mendadak Seno geli sendiri mendengar ‘menjadi bapak.’ Tidak percaya, dirinya sebentar lagi akan menyandang status itu. Apa nanti dia siap? Nisa juga jadi mendadak canggung.
“Ada sih, Ma. Tapi kami lagi nyari waktu yang tepat. Kayaknya enggak dalam waktu dekat. Seno harus mengurus perusahaan dulu. Aku kan udah ninggalin perusahaan lama banget. Banyak banget yang harus diurusin.”
“Rencananya kalian mau bulan madu ke mana?”
“Swiss,” jawab Nisa.
“Swiss?”
“Iya, Ma.”
“Tauk tuh, Nisa tiba-tiba pengen ke sana.”
“Swiss, bagus juga,” cetus Aryan Kusuma. Nisa tersenyum lebar ayah mertuanya sepakat dengannya.
“Di sana kan dingin. Cocok buat yang bulan madu, biar nanti pulang-pulang kalian bawa cucu buat kami.”
Nisa dan Seno terlohok mendengar ucapan ayah mereka. Lagi-lagi mereka menyinggung soal anak.
“Kalian jangan stress dan kecapean ya. Terutama kamu, Nis. Pokoknya kalian harus jaga kesehatan. Uuuhh mama itu enggak sabar banget dapet cucu dari kalian.”
Lagi-lagi Nisa dan Seno menelan saliva. Suasana pagi ini mendadak kikuk gara-gara ngomongin cucu.
***
Sore hari, Nisa dan Seno pulang ke apartemen. Dan sekarang mereka bingung mau tinggal di apartemen siapa. Setelah berdebat secara sengit, akhirnya Nisa lah yang menang. Dengan berat hati Seno pun memindahkan baju-baju dan keperluan pribadinya ke apartemen Nisa. Bukan tanpa alasan, Nisa keukeuh ingin tetap tinggal di apartemennya, karena barang-barangnya lebih banyak ketibang Seno. Jadi berabe aja kalau harus memindahkannya ke apartemen Seno.
Setelah selesai beres-beres baju Seno, sekarang mereka duduk di sofa kelelahan.
“Sen, gue laper nih, lo laper gak?”
“Laper.”
“Kita makan apa ya enaknya? Lo kan tau gue gak bisa masak. Kita pesan lewat aplikasi aja gimana?”
“Boleh.”
Nisa mengambil ponselnya, membuka aplikasi Go Food. “Lo mau apa?”
“Apa aja, terserah kamu.” Nisa terenyak Seno menyebutnya ‘kamu.’ Ia melirik Seno sebentar gugup, lalu kembali ke ponselnya.
“Gimana kalau sushi?”
“Sushi? Boleh.”
“Ya udah, gue pesen ya.” Setelah selesai Nisa kembali menyimpan ponselnya.
“Nis ... aku ingin mulai hari ini kita, manggilnya jangan lo-gue lagi. Bisa?”
Nisa mengerjap. “Kayaknya butuh waktu, Sen. Gue udah biasa manggil lo itu hampir dua belas tahun. Pelan-pelan ya. Gue janji suatu saat, gue bisa manggil lo, kamu, atau ... Mas.”
Seno tersenyum. Tangannya terulur ke kepala Nisa dan mengusapnya dengan sayang.
“Aku harap, aku bisa jadi suami yang baik buat kamu, Nis.”
“Gue juga, Sen.” Nisa memasukan jari jemarinya ke sela-sela jemari Seno, menggenggam tangan Seno lalu menciumnya. “Makasih, lo udah mau nemenin gue selama ini. Makasih udah melangkah sejauh ini. Gue bersyukur waktu di Singapore lo kehilangan tas lo. Dari sana kita menjadi seperti sekarang.”
Seno mengangguk sambil tersenyum. “Jadi kapan haid kamu selesai?”
Nisa melotot kaget, melepaskan tangannya dari tangan Seno. “Hah? Itu ... itu masih tiga hari lagi. Lama. Hehe.”
“Tiga hari?” Nisa mengangguk.
“Kamu takut ya?” tanya Seno.
“Sedikit, hehe. Siapa sih yang enggak deg-degan akan kehilangan keperawanan?”
Seno meraih pundak Nisa, merangkulnya ke pelukan. “Jangan takut, aku enggak akan maksa kok, kalau kamu belum siap.”
“Enggak, Sen. Gue siap, kok.”
“Kalau sekarang aku cium kamu, siap?”
“Ap__”
Belum selesai bicara, tiba-tiba bibir Seno sudah mengunci bibir Nisa. Jantung Nisa seketika berdegup kencang tanpa kendali mendapat serangan secara tiba-tiba dari suaminya itu.
Mereka pun, meluapkan hasrat masing-masing tanpa canggung, tanpa ragu lagi. Aktivitas itu pun, selesai ketika pesanan mereka tiba.
***
sumpah
lanjutt thorr