Nyaris diperkosa oleh teman suaminya, membuat Syma mengalami trauma yang mendalam. Sang suami sendiri, bukannya merangkul sang istri. malah menuduhnya melakukan perselingkuhan dan dengan kejamnya merampas hak asuh anaknya. Memisahkan sang anak dari ibunya.
hal itulah yang menyebabkan Syma terpaksa menjadi simpanan pria kaya yang memiliki kekuasaan tinggi agar bisa mengambil kembali hak asuh atas anaknya.
"Tidak ada yang menyayangi anakku, melebihi aku sendiri !
aku mungkin bisa kehilangan suami, tapi tidak dengan anakku. Akan kuperjuangkan sampai mati."
"Jadilah simpananku, maka aku akan membuatmu mendapatkan kembali hak asuh anakmu."
Tentu saja Syma menerimanya meski ada rasa berat dihatinya. Namun demi anaknya, dia rela menerima tawaran itu.
Dari tawaran itu juga Syma meminta agar Ersad menikahinya sah secara agama.
Ersad menyetujui keinginan Syma.
Kehidupan rumah tangga mereka awalnya harmonis. Ersad juga mulai terbuka dengan istri barunya itu. Dan perlahan... rasa itu mulai tumbuh.
Semuanya berubah ketika istri pertama Ersad meninggal. Syma harus menghadapi kebencian suaminya karena tuduhan atas pembunuhan istri pertamanya yang bernama Erika.
Lalu bagaimana cara Syma mengembalikan cinta suaminya? akankah kebenarannya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMS EPS 28: APA SALAHKU?
Satu minggu telah berlalu.
Para tahanan pun dipindahkan secara acak untuk merasakan berada di lantai atas maupun bawah.
Seperti yang Syma rasakan saat ini. Dia dipindahkan dilantai paling bawah. Kali ini ada tiga orang bersamanya didalam tahanan itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi. Dia mendapati sosok yang begitu familiar baginya. Orang yang menjadi penyebab semua kekacauan hidupnya.
Siapa lagi kalau bukan Mia.
Yah, kali ini Syma berada satu ruangan dengan Mia. Menatap penuh amarah pada wanita yang telah membuatnya menderita.
"Kenapa kau lakukan ini padaku, Mia? padahal aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Lihatlah akibat dari perbuatanmu...
Apa salahku padamu, katakan !!" suara Syma terdengar lembut. Wajahnya menyiratkan sebuah kekecewaan.
Sementara Mia hanya menatap kosong. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri seperti orang ketakutan. Kondisi Mia nampak menyedihkan. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang mengalami depresi berat.
"Percuma saja kau bicara padanya. Dia gila," saut wanita paruh baya yang juga satu ruangan dengannya.
"Kenapa Anda bicara seperti itu?" Syma menatapnya bingung.
"Karena wanita itu sering meraung dan memukul-mukul dirinya sendiri. Sesekali dia mencoba untuk bunuh diri. Namun hal itu langsung digagalkan oleh petugas kepolisian."
Sontak hal itu membuat Syma terkejut. Dan kembali menatap Mia dengan begitu prihatin.
"Aku yakin dia pasti akan melakukan percobaan bunuh diri lagi. Apalagi ketika dia sadar bahwa dilantai bawah seperti ini, kita akan kelaparan karena tidak akan mendapatkan sisa makanan,"
Mendengar hal itu. Membuat dia ingat dengan rencana yang waktu itu dia buat. Jika para tahanan melakukan semua yang dia katakan, tentu mereka tidak akan merasa kelaparan. Namun Syma masih ragu akan hal itu. Apalagi saat ini dia berada dilantai bawah. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi, selain pasrah.
"Aku harap itu tidak akan terjadi," gumam Syma.
Perlahan, Syma mendekat kearah Mia. "Apapun yang kau lakukan padaku, aku telah memaafkanmu Mia. Jangan membebani dirimu sendiri dengan keterpurukan seperti ini. Jadikan hal ini sebagai pelajaran dalam hidupmu.
Bangkitlah...
Perjuangkan apa yang sudah kau lakukan sampai sejauh ini. Tapi kali ini, aku harap kau mengubah tata caranya. Jangan lagi menyakiti orang lain. Karena meski sekalipun kau bahagia, tidak akan ada keberkahan didalamnya." Syma menghentikan ucapannya sembari menatap lurus kedepan.
"Dan lagi... mas Revan pasti sedih melihatmu seperti ini,"
Mendengar nama orang yang dicintainya membuat Mia tiba-tiba membalas tatapan Syma. Entah apa maksud dari tatapan itu, Syma sendiri tidak bisa mengartikannya.
Kemudian pandangan mereka beralih ketika mendengar suara alarm, tanda makanan akan segera datang.
Wanita paruh baya yang sekamar dengan mereka, bersorak senang. Ketika melihat masih terdapat makanan dimeja itu.
Namun makanan itu tidaklah banyak. Bahkan jauh dari kata banyak. Lebih tepatnya hanya setengah piring nasi, dan ada beberapa daging yang sudah nyaris tinggal tulang.
Air minumnya pun tidak kalah memprihatinkan. Hanya sekitar setengah gelas. Bagaimana mereka bisa mengonsumsi makanan yang sangat sedikit itu, sementara jumlah mereka tiga orang.
Hanya ada satu cara. Yaitu berbagi seadanya dengan rata, gumam Syma.
Namun sayangnya wanita paruh baya itu tidak sebaik itu. Bahkan dari tatapannya saja sudah terlihat jelas, ada ketamakkan disana.
"Sepertinya ini keberuntunganku. Aku adalah penghuni paling lama dipenjara ini. Jadi makanan ini hanya untukku," ucapnya dengan penuh keangkuhan.
"Tidak bisa seperti itu, Nyonya. Didalam tahanan ini ada tiga orang, termasuk Aku. Makanan itu harus dibagi dengan rata," ucap Syma yang tidak setuju dengan ucapan wanita itu.
"Kejadian seperti ini sangat jarang sekali terjadi. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Siapa tahu kesempatan ini tidak datang lagi besok, dan aku pasti akan kelaparan,"
"Lalu bagaimana dengan kami?"
"Aku tidak perduli !" teriak wanita itu dan dengan langkah cepat, ingin menyergap seonggok makanan dimeja itu. Namun tanpa diduga Mia tiba-tiba mendorongnya hingga tersungkur disudut ruangan itu.
"Wanita gila....
beraninya kau mendorongku !"
Tidak sampai disitu saja. Mia langsung menyergap tubuh wanita paruh baya itu sehingga dia tidak bisa berkutik. Lalu Mia langsung menatap Syma, seolah sedang memberi isyarat.
Syma segera mengerti maksud tatapan itu, dan segera meringkus makanan itu sehingga menjadi tiga bagian.
Setelah selesai, Mia langsung melepaskan wanita itu. Dan duduk dimeja makan. Memakan makanannya dengan lahap, namun tatapan membunuhnya masih saja tertuju ke wanita paruh baya itu.
"Makanan secuil ini tidak akan cukup untuk membuat perutku kenyang. Kalian memang bedebah.... " maki wanita itu, namun dia langsung menunduk ketika Mia lagi-lagi menatapnya penuh permusuhan.
"Tidak bisakah Anda bersyukur sedikit saja. Bukankah tadi Anda katakan bahwa sangat jarang sekali sisa makanan sampai ke lantai paling bawah ini?
Bayangkan jika tidak ada satu butir nasi pun yang tersisa, maka kita sudah pasti akan kelaparan.
Lalu nikmat Tuhan yang manakah yang Anda dustakan?" Syma berucap tajam. Membuat wanita itu terdiam.
Akhirnya mereka makan dalam diam. Tidak ada lagi perseteruan sampai semuanya selesai.
*****
"Sampai saat ini, Mas Revan masih belum mengetahui semuanya," ucap Mia yang tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.
Syma menoleh kearahnya. "Itu karena Kau tidak mengatakannya." Syma memyahuti dengan datar.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu lemah dalam hal ini," lirihnya.
"Kalau begitu bersiaplah menjalani hidup dengan penuh kebohongan." Syma tersenyum kecut sebelum melanjutkan ucapannya. "Akan ada akhir dari semua ini. Dan akhir itu akan terjadi, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Jika sikap kita baik. Maka semuanya akan berakhir baik pula. Tapi jika penuh dengan kebohongan dan tipuan, maka jangan berharap akan berakhir bahagia."
"Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan," ujar Mia pahit.
"Allah memang tidak pernah memberikan apa yang kita inginkan. Tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan."
Air mata Mia tiba-tiba menetes tanpa bisa dicegah. Dia terisak dalam diam.
Sementara Syma yang tidak tega melihatnya, malah memeluk wanita itu. Sesekali Syma mengusap lembut punggungnya.
"Masih pantaskah aku mendapatkan maaf darimu Syma? Aku telah melukaimu. Aku bahkan merusak hidupmu. Dan karena aku juga, Kau sampai berada disini.
Jika Kau ingin menghukumku, maka aku akan menerimanya. Katakan padaku Syma, apa yang harus aku lakukan agar Kau mau memaafkanku," ucap Mia disela isak tangisnya. Air matanya sudah menggenang diwajahnya. Tangisan pilu dari Mia, mampu membuat Syma juga meneteskan air mata.
"Aku sudah memaafkanmu, Mia. Bagiku kau tetaplah temanku. Aku senang ketika Kau telah menemukan hidayahmu. Tetaplah istiqomah. Jangan ulangi lagi kesalahan yang akan membuatmu sengsara seperti ini."
TBC
AFF REAL