Amila Pranadja adalah anak ketiga dari pasangan terkenal Amora dan Dion Pranadja. Di usianya yang masih muda, ia harus menangani bisnis hotel keluarganya. Bahkan ia pun sudah mandiri dengan tinggal di salah satu rumah milik keluarganya.
Kesibukan Amila dengan bisnis, membuatnya melupakan masalah pribadinya terutama soal pasangan hingga membuat orang tuanya khawatir.
Suatu saat ia bertemu dengan pria berkebangsaan Inggris bernama Louis. Pria itu adalah teman dari kakak iparnya Veronica Jukler.
Pada pandangan pertama, Louis langsung jatuh cinta pada Amila. Namun tidak dengan wanita itu, ia justru berusaha menjauhi Louis karena tak ingin menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing.
Lika liku cinta mereka akan menjadi hal menarik karena Louis akhirnya berinvestasi pada bisnis Novotel, yang membuatnya harus terus kembali ke Indonesia. Investasi yang Louis lakukan salah satu alasannya adalah Amila.
Akankah cinta mereka terwujud...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Louis keluar dari kamarnya setelah ia selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia tak melihat siapapun di ruang keluarga. Akhirnya ia langsung menuju dapur. Bu Mini dan Veronica sedang berbagi tugas untuk menyiapkan makanan. Bu Mini ingin menyapa tuannya setelah melihatnya di dapur, tapi seketika Louis mengangkat jari telunjuknya ke bibir agar pelayannya diam.
Louis terus menatap Veronica yang sibuk dengan bumbu masakannya. Ia tersenyum melihat wanita itu yang selalu serius jika sedang memasak.
"Seorang ibu dan istri idaman." goda Louis.
Veronica terkesiap mendengar suara Louis. "Astaga kau mengejutkanku." jawabnya.
Louis tertawa. "Kau tak pernah berubah jika sedang memasak selalu saja serius."
"Bukan serius, lebih tepatnya fokus. Aku tak ingin memasukkan bumbu yang salah pada masakanku."
"Baiklah, aku terima jawabanmu."
Veronica mendekati Louis sambil mengupas bawangnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Pertanyaan itu mengarah pada bagaimana Louis akhirnya bisa membawa kedua orang tuanya.
"Sebenarnya aku malas membahasnya, tapi ini permintaan adik iparmu yang keras kepala. Ia memberiku pilihan yang sulit Vero." jawan Louis.
"Aku pikir kaulah yang keras kepala, aku bisa melihat mereka dengan jelas. Begitu mirip denganmu."
"Apakah aku bisa mudah menerima mereka setelah puluhan tahun Vero. Bukankah sikapku ini adalah hal yang wajar karena begitu terkejut."
"Kau ada benarnya, tapi bukankah kau sudah menceritakan padaku, jika mereka tidak menginginkan apapun darimu, justru mereka mencarimu untuk menyerahkan warisan padamu."
"Tetap aku belum mempercayainya sebelum tes DNA itu keluar."
"Ciiiih, kau lebih keras kepala dari suamiku dan Amila."
"Enak saja, aku melakukan ini karena sangat tepat dengan alasannya." ujar Louis beralasan.
"Oke baiklah tuan Louis Vuitton, aku tak akan berkomentar lebih panjang lagi. Tapi keputusanmu membawa mereka sudah benar, setidaknya kau memikirkan hubunganmu dengan Amila. Tapi mengapa kau belum memberitahu Amila?"
"Aku ingin membuat kejutan untuknya."
Veronica menggelengkan kepalanya. "Kau memberikan kejutan pada orang yang salah."
"Apa maksudmu?" tanya Louis bingung.
Veronica tertawa. "Tidak apa apa, sudah sana jangan menggangguku memasak."
"Heeeem... baiklah. Aku sangat berterima kasih karena kau mau menghidangkan masakan untukku."
"Jangan terlalu percaya diri tuan, aku melakukan ini untuk tamuku dari jauh." ejek Veronica.
"Tak bisakah kau membuatku senang sedikit." jawab Louis seraya menekuk wajahnya.
Veronica kembali tertawa. "Pergilah sebelum suamiku menemukanmu berada di sampingku seperti ini. Aku tak ingin Kevin membunuhmu dan menjadikan Amila seorang janda sebelum menikah."
"Ya Tuhan pria gila itu, bahkan masih cemburu padaku. Bukankah sudah jelas aku mencintai adiknya."
"Kau katakan suamiku pria gila, aku yang akan membunuhmu sekarang." ancam Veronica seraya mengacungkan pisaunya.
Louis terkekeh geli, ia mengangkat kedua tangannya lalu kabur dari dapur. Bu Mini hanya bisa tertawa melihat sisi lain dari tuannya. Ini pertama kalinya Louis membawa orang lain ke rumahnya. Dan sebentar lagi, tuannya akan membawa istrinya ke rumah besar itu. Veronica melanjutkan pekerjaan menyiapkan masakan itu bersama bu Mini.
*****
Kevin terkejut saat sampai di rumahnya, adiknya Amila sedang menggendong Nathan berdiri di pintu masuk sambil menatapnya tajam. Kevin turun dari mobilnya lalu menghampiri mereka.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Kevin.
Amila mencari keberadaan Veronica lalu kembali menatap Kevin. "Kemana?" tanyanya datar.
"Ada urusan sedikit. Aku pulang untuk membawa Nathan." jawab Kevin.
"Kemana?" tanya Amila lagi.
"Kau tak perlu tahu, ini rahasia."
"Pagi pagi sekali kalian pergi tanpa membawa Nathan. Sekarang kakak kembali ingin menjemput Nathan."
"Apa yang ingin kau katakan Ami, aku tahu ada yang ingin kau sampaikan hingga ke rumahku pagi pagi sekali. Bukankah mami melarangmu pergi pergi." ujar Kevin.
"Aku datang bersama supir kak."
"Baiklah, ayo kita duduk dulu." ajak Kevin sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Kevin memanggil pelayannya untuk mengambil Nathan dari Amila. Setelah tinggal mereka berdua saja. Kevin mulai bertanya kembali pada adiknya.
"Aku sedang dilema." ujar Amila.
"Katakan Ami, kau tak boleh stress. Pernikahanmu tinggal dua hari. Bagaimana jika kau jatuh sakit?"
"Aku baik baik saja. Aku hanya bingung bagaimana cara menghadapi Louis. Entah ia kembali kemari atau tidak." jawab Amila terlihat galau.
"Mengapa kau tak yakin jika Louis akan kembali dan menikahimu Ami?"
"Aku memberinya ancaman soal orang tuanya. Aku ingin ia membawa orang tuanya kemari, jika tidak aku akan membatalkan pernikahan ini. Setelah itu, ia sama sekali belum memberiku kabar kak. Ia sepertinya sangat marah padaku."
"Haruskah aku mengatakannya jika Louis dan orang tuanya sudah datang. Aku tak tega melihatnya seperti ini, tapi Veronica bilang Louis ingin memberi kejutan pada Amila." pikir Kevin.
"Kak..." panggil Amila. "Apa kau mendengarkan aku?" sambungnya.
"Iya aku dengar. Mengapa kau memberikan pilihan yang sulit untuk Louis Ami. Kau jangan egois dan keras kepala, Louis baru saja bertemu orang yang mengaku sebagai orang tuanya. Ini sangat berat untuknya. Sedangkan kau malah mengancam dengan pernikahan kalian yang selama ini Louis inginkan." ujar Kevin.
"Aku ingin minta maaf padanya, tapi harga diriku." ujar Amila kesal.
Kevin tertawa. "Keluarga Pranadja memang memiliki harga diri yang tinggi. Aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Tapi yakinlah, jika calon suamimu akan kembali untuk menikahimu. Baik membawa orang tuanya ataupun tidak. Ia sangat mencintaimu Ami."
"Kau begitu yakin jika Louis mencintaiku, tapi mengapa kau masih sering cemburu jika Louis dekat dengan kak Vero." ejek Amila.
Seketika Kevin mengumpat. "Mengapa jadi aku?"
"Aku sering mendapat keluhan dari istrimu."
"Sepertinya kakak iparmu ingin diberi hukuman karena selalu mengatakan apapun padamu."
"Ciiiih, itu sih mau kakak. Hukuman yang kakak berikan bertanda kutip." goda Amila seraya mengangkat jarinya membentuk tanda kutip.
"Ya Tuhan, apakah Veronica mengatakan hal itu juga?" tanya Kevin.
Amila terkekeh. "Tidak seperti itu, tapi aku adikmu tuan Kevin Pranadja."
"Oke baiklah aku kalah. Sudah sana pulang, aku akan pergi bersama Nathan." usir Kevin.
"Aku ikut." pinta Amila penasaran kemana mereka akan pergi.
"Tidak akan, aku bilang ini rahasia." jawab Kevin.
"Ayolah kak, ajak aku." rengek Amila.
Kevin mengambil ponselnya dan berpura-pura menghubungi Amora. "Mi, kau tahu jika Amila datang..."
"Kak Kevin..." teriak Amila. "Benar benar menyebalkan." sambungnya seraya beranjak.
Kevin melepaskan tawanya. "Sampai jumpai lagi nona."
"Ciiiih..." ujar Amila seraya meninggalkan rumah Kevin.
Kevin menghela nafas panjang. "Huuufffttt... hampir saja aku tak bisa menjaga rahasia. Sialan Louis, belum resmi menjadi adik iparku sudah membuatku seperti ini." gumamnya.
Kevin kembali memanggil pelayannya. Setelah pelayan itu datang menemuinya bersama Nathan, ia menyuruhnya agar menyiapkan barang barang Nathan yang akan dibawa. Nathan anak yang pintar, ia sama sekali tak rewel ketika tak melihat ibunya. Kevin menggendong Nathan sambil menepuk punggungnya lembut.
"Putraku yang pintar, kita akan segera bertemu mama. Dan kau juga akan bertemu om dan tante dari Inggris. Ia sahabat mama saat kabur membawamu dariku." ujar Kevin sambil tertawa sendiri.
"Jika aku ingat, aku hampir saja kehilangan kalian. Untung saja, papa mu ini bisa menemukan kalian dengan cepat." ujarnya lagi.
Pelayan itu keluar dari kamar Nathan sambil membawa tas besar yang berisikan barang barang milik Nathan lalu menyerahkannya pada Kevin.
"Mungkin kami akan pulang larut bu. Jaga rumah dengan baik ya." ujar Kevin.
"Tentu saja tuan, berhati hatilah di jalan." jawab pelayan itu.
Kevin menganggukkan kepalanya lalu keluar dari rumah menuju mobilnya sendiri. Nathan di dudukkan di kursi belakang dengan kursi spesial miliknya. Lalu Kevin duduk di kursi pengemudi, ia menyalakan mobilnya dan bergegas untuk kembali ke rumah Louis.
*****
Happy Reading All...😘😘😘
Love You
sukses dan sehat terus untuk Miss 🤗🤗🤗