NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

(Flashback H-50 sebelumnya)

Rumah Audrey berdiri megah di ujung jalan yang tenang. Malam ini, halaman belakangnya sudah berubah menjadi tempat pesta kecil yang hangat. Lampu gantung melingkar di antara pepohonan, memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Dan musik pop mengalun pelan dari pengeras suara, cukup untuk mengisi udara tanpa menenggelamkan percakapan yang berlangsung di sana.

Di sekitar halaman, para mahasiswa jurusan fashion design tampak sedang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang tertawa keras, ada yang berfoto, dan ada juga yang duduk di pinggir kolam sambil berbicara tentang masa depan yang terasa begitu dekat.

Besok kami akan lulus. Empat tahun yang panjang akhirnya sampai di titik ini. Aku berdiri di dekat meja minuman bersama tiga orang yang selama ini membuat perjalanan kuliahku terasa lebih ringan. Linda, Amber, dan Brie. Mereka adalah sahabatku, dan kami sudah bersahabat sejak tahun pertama kuliah. Empat orang yang sangat berbeda, tapi entah bagaimana selalu menemukan cara untuk tetap berjalan bersama.

Amber berdiri paling tegak di antara kami. Rambutnya selalu rapi, bahkan di pesta seperti ini. Ia tipe orang yang tidak pernah melakukan sesuatu secara setengah-setengah. Brie berada di sisi lain spektrum. Ia memegang gelas minuman sambil tertawa pada sesuatu yang bahkan belum selesai ia ceritakan. Sementara Linda berdiri di antara kami semua, seperti biasa—tampak tenang, hangat, dan selalu menjadi penyeimbang jika salah satu dari kami terlalu berlebihan.

Setelah puas menari, mengikuti irama musik yang mengalun kencang, kami akhirnya duduk di sofa outdoor di dekat kolam. Angin malam ini terasa lembut menyapu kulitku, membuat tubuhku sesekali bergidik karena menahan dinginnya.

Brie menatap sekeliling halaman dengan ekspresi setengah tidak percaya. “Aku tidak percaya kita benar-benar sampai di titik ini.”

Linda mengangguk perlahan. “Empat tahun terasa cepat sekali.”

Sementara Amber langsung menyela sambil mengangkat alis. “Cepat? Kau lupa semester tiga saat kita hampir mati karena tugas desain koleksi musim dingin?”

Aku tertawa kecil mengingatnya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Studio yang penuh dengan kain, benang yang berserakan di lantai, juga mesin jahit yang tidak pernah berhenti berbunyi bahkan saat tengah malam.

Brie pun menggeleng dramatis. “Dosen itu benar-benar ingin melihat kita hancur.”

Amber tampak menyilangkan tangan. “Dia hanya ingin melihat siapa yang benar-benar serius.”

Brie menunjuk ke arahku. “Hazel bahkan pernah tidur di lantai studio.”

Aku langsung mengangkat tangan membela diri. “Aku tidak tidur. Aku hanya… memejamkan mata sebentar.”

Amber menatapku datar. “Selama tiga jam.” , sahutnya, hingga membuat tawa kami akhirnya pecah.

Suara kami bercampur dengan suara musik dan percakapan dari mahasiswa lain. Untuk beberapa saat, semuanya terasa ringan. Empat tahun yang melelahkan, tapi juga indah.

Kami sudah melalui banyak hal bersama—tugas yang hampir membuat kami menyerah, lomba desain yang membuat kami begadang berminggu-minggu, bahkan dosen yang terkenal galak di seluruh fakultas. Dan sekarang semua itu hampir selesai.

Setelah tawa perlahan mereda, Amber tiba-tiba terlihat lebih serius. Ia menatap kami satu per satu. “Jadi setelah besok… rencana kalian apa?”

Pertanyaan itu menggantung di udara di antara kami. Dan Brie langsung menjawab tanpa berpikir panjang. “Aku akan traveling.”

Amber mengangkat alis. “Serius?”

Brie mengangguk mantap. “Aku ingin melihat dunia sebelum dunia melihat koleksiku.”

Aku sontak tidak bisa menahan tawa kecil. Kalimat itu terdengar sangat seperti Brie.

Linda pun mengangkat bahu ringan. “Aku akan kembali ke kota orang tuaku. Aku akan membantu butik keluarga, seperti yang sudah direncanakan sejak awal.”

Amber lalu mengangguk. “Itu masuk akal.”

Lalu Brie menoleh ke arah Amber. “Kau sendiri bagaimana, Amber?”

Amber langsung tersenyum tipis. “Sebenarnya, aku sudah diterima program master di New York.”

Kami semua langsung menoleh padanya. “Amber!” seruku. “Kau tidak pernah bilang!”

Amber hanya mengangkat bahu kecil. “Aku ingin memastikan dulu sebelum mengatakan apa pun.”

Brie langsung memeluknya. “New York! Kau akan jadi desainer besar!”

Amber tertawa kecil, tapi aku bisa melihat kebanggaan di matanya. Setelah beberapa saat, percakapan kami berhenti. Tiga pasang mata kini menatapku.

Linda tersenyum lembut, sebelum akhirnya melemparkan pertanyaan untukku. “Hazel, bagaimana denganmu?”

Brie mencondongkan tubuhnya ke depan. “Jangan bilang kau akan membuka label sendiri.”

Amber menyela dengan nada setengah menggoda. “Atau bekerja di rumah mode Paris.”

Aku menatap mereka beberapa detik. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berputar di kepalaku sejak beberapa hari lalu. Aku pun menarik napas kecil. “Aku mungkin akan menikah.”

Keheningan pun langsung jatuh di antara kami. Brie berkedip, tidak percaya. Amber mengerutkan kening. Dan Linda tertawa kecil, seolah mengira aku sedang bercanda. “Kau bercanda, kan?”, tanyanya, memastikan.

Aku menggeleng pelan. “Aku serius.”

Suasana pun berubah seketika. Amber menatapku tajam. “Kau bahkan belum pernah punya kekasih.”

Brie mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Siapa pria malang itu?”

Aku tidak bisa menahan tawa kecil. Namun aku tahu mereka pantas mendapat penjelasan. Jadi, aku mulai menceritakan semuanya. Tentang makan malam bersama keluargaku beberapa hari yang lalu, tentang ayahku yang bertemu teman lamanya, juga tentang keluarga Roux dan ide perjodohan yang muncul dari percakapan mereka.

Aku menceritakan semuanya dengan tenang. Dan ketika aku selesai, ketiga sahabatku menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Linda yang pertama berbicara. “Hazel… kau serius mempertimbangkan ini?”

Amber tampak menggeleng kecil. “Ini sudah abad dua puluh satu, Hazel.”

Sementara Brie menambahkan dengan nada tidak percaya, “Kau bahkan belum pernah bertemu pria itu!”

Aku mengangguk, sebelum memberi penjelasan lebih lanjut. “Aku akan bertemu dengannya besok.”

Brie langsung bersandar lebih dekat. “Siapa dia?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Brie. Tapi, aku mengambil ponsel dari dalam tas kecilku dan membuka sebuah artikel berita bisnis yang tadi siang sempat kulihat. Di sana, rampak foto seorang pria muncul di layar ponselku. Lalu, aku memutar ponsel itu agar mereka bisa melihatnya.

“Namanya Mason Roux.”, jawabku, pada akhirnya.

Reaksi mereka langsung muncul. Brie hampir menjatuhkan minumannya, Amber mendekat ke layar ponselku, dan Linda benar-benar membeku.

“Tidak mungkin,” bisik Brie.

Amber membaca nama di artikel itu dengan suara pelan. “Mason Roux?”

Linda menatapku. “Kau pasti bercanda, Hazel.”

Sementara aku hanya tersenyum kecil. “Tidak.”

Artikel itu menampilkan foto Mason dengan jelas. Ia mengenakan jas hitam yang sempurna. Tubuhnya tinggi, dan bahunya lebar. Rahangnya tampak tegas, dan ekspresinya tenang, bahkan hampir dingin. Ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang membuatnya terlihat sangat percaya diri.

Brie menatap foto itu dalam waktu yang cukup lama. “Dia… sangat tampan.”, katanya, akhirnya berkomentar.

Amber mengangguk, setuju. “Tidak hanya tampan. Dia pewaris Roux Group.”

Linda pun menoleh kepadaku. “Dan kau akan menikah dengannya?”

Aku mengangguk perlahan. Amber masih memegang ponselku sambil membaca artikel lain. Tiba-tiba ia menyipitkan mata. “Tapi, ada rumor aneh tentang dia.”

Brie langsung penasaran. “Apa?”

Amber membaca cepat. “Banyak yang menduga dia gay.”

Suasana pun kembali hening. Linda langsung berkata, “Itu hanya rumor media.”

Amber mengangkat bahu. “Tapi tetap aneh. Dia sudah sukses, tampan, kaya… tapi tidak pernah terlihat dekat dengan wanita.”

Brie menatapku. “Apakah ayahmu tahu ini?”

Aku berusaha tetap tenang. “Ayahku tidak mungkin membuat keputusan sembarangan.”, balasku dengan yakin.

Linda lantas menatapku lama. “Kau benar-benar percaya itu?”

Aku pun mengangguk. “Aku percaya padanya.” Lalu aku menurunkan ponselku ke pangkuan. “Lagipula… aku akan mulai mengenalnya besok.”

Setelah beberapa saat, ketegangan di antara kami perlahan menghilang. Brie tiba-tiba tersenyum lebar. “Sebentar.”

Ia menatapku dengan mata berbinar. “Jadi, besok dia akan datang?”

Aku mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”

Brie hampir berteriak. “Kita akan bertemu Mason Roux!”

Amber tertawa kecil. “Ini jauh lebih menarik daripada pesta kelulusan.”

Linda tersenyum. “Kalau begitu kita harus datang lebih awal.” tukasnya, dan aku hanya bisa tertawa melihat reaksi mereka.

Waktu terus berjalan. Musik mulai terdengar lebih pelan dan beberapa tamu mulai berpamitan pulang. Langit malam tampak semakin gelap, dan akhirnya kami berdiri di depan rumah Audrey.

Kami saling berpelukan satu per satu. “Besok kita bertemu calon suamimu,” kata Brie dengan senyum lebar.

Amber menyilangkan tangan. “Aku ingin melihat apakah dia setampan di foto.”

Linda menatapku hangat. “Besok akan jadi hari besar.”

Aku tersenyum kecil. “Ya.”

Aku pulang tidak lama setelah itu. Rumah tampak sudah sepi ketika aku tiba. Lampu ruang tamu menyala redup, meninggalkan bayangan panjang di lantai. Ayah dan ibu pasti sudah tidur, begitu pun dengan Jake.

Aku berjalan perlahan menuju kamarku, lalu menutup pintu dengan pelan. Setelah berganti pakaian, aku berbaring di tempat tidur, menatap langit malam yang terlihat dari jendela kamarku.

Untuk beberapa saat aku hanya menatap langit itu tanpa berpikir apa pun. Lalu aku mengambil ponselku lagi. Artikel tentang Mason Roux masih terbuka—aku menatap fotonya cukup lama.

Besok aku akan bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Aku mempelajari wajahnya lagi. Ekspresinya yang tenang, juga tatapannya yang sulit dibaca. Aku menatap foto pria yang hampir tidak kukenal, dan pria itulah yang mungkin akan menjadi suamiku.

Aku menutup ponselku perlahan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Saat ini, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin rasa gugup, penasaran, dan sesuatu yang terasa seperti harapan kecil.

Aku memejamkan mata. Aku belum pernah bertemu Mason Roux. Tapi entah kenapa, aku tidak sabar menunggu besok datang.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!