"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 | Tragedi
"Buset dah, selow ae neng," lerai Joko memadamkan emosi gue yang kebakar. Cowok itu membantu Bintang berdiri seakan gak terjadi apa-apa.
"Tuh cewek stress Al, semacam jailangkung dia! Gak diundang dateng sendiri." kini Ares yang bersuara. Tanpa menunggu lama, Hazel menarik lengan gue menuju sekumpulan keluarga besarnya.
"Ngapain lo woi! Gue gak mau gabung ama mereka!" maki gue gregetan. Hazel tersenyum manis. "Gak usah takut, kok. Lagian lo bebas mau bicara sama siapa aja di sana, Mamah gue pengen ketemu ama lo," ucapnya.
"Yah, gue gak jago maen silat lidah woi! Lo liat aje tuh Mak Emak bicaranya udah ketinggian, bahas tas branded lagi... Gue mau bahas paan coba? Bahas ketoprak Mang Aden yang udah naek harga?!" cela gue mendumel panjang.
"Jago apaan aje dah! Jago bantuin ngelahirin anak babi juga boleh."
"Yeh... Begonya menular sih lo," cerca gue pelan. Senyum terkembang lebar di ujung mulut, sambil bergaya bak duta shampoo keselek busa. Gue bertutur ramah.
"Malam, Tante."
"Ah, malam juga... Jadi ini yang namanya Alpha, Zel?" ujar Mamanya gak kalah ramah. "Iya, Mah. Rada-rada sih orangnya, tapi baik kok."
Wah, ngajak ribut tuh anak gue dikatain rada-rada. Belum juga gue gampar sama higheels.
"Alpha, kenalin Tante Mamanya Hazel. Katanya kamu dulu anak panti Cempaka, yah?" tanya Mamahnya lembut. Gue terkesiap beberapa detik, lalu mengangguk kaku.
"Dulu Tante sering main ke sana, ngajak Hazel juga. Tapi Tante gak pernah ketemu sama kamu, atau karena Tante lupa, yah?"
"Ah itu... Waktu umur 9 tahun Alpha pulang ke rumah sendiri aja." gue menggaruk tengkuk gelisah, obrolan kali ini benar-benar membuat gak nyaman.
"Lho? Kenapa? Kalau kamu balik siapa yang nafkahi kamu? Bukannya orang tua kamu---"
"Udah Mah, liat Alpha jadi gak enak tuh!" potong Hazel menyelamatkan gue.
"Ah iya, Tante minta maaf... Habisnya penasaran banget sama Alpha, bisa hidup mandiri terus baik lagi. Gak kayak kamu Zel," sindir Mamanya, Hazel memasang tampang dongkol.
"Udah minum dulu, kamu mau minum apa?"
"Apa aja Tante, aer keran boleh juga." gue menjawab asal jeplak, Hazel makin dongkol dibuatnya.
"Gobloknya asli anugrah yang Maha Kuasa," timpal Hazel dibalas cekikikan Mamahnya, saudara Hazel yang lainnya pun ikut menimbrungi dengan tawa bahagia.
Jadi...
Gini, ya punya keluarga yang bahagia?
Atau gue yang gak pernah bersyukur? Terlalu melihat kebahagiaan orang sampai lupa bersyukur. Atau bisa jadi, gak ada kebahagiaan selama ini yang gue rasakan.
Banyak canda tawa yang saling bersahutan, gue berijin pamit pada Mama Hazel dan yang lainnya berniat menjaga Bintang yang entah ke mana perginya sekarang.
"Hati-hati Al... Kalo jatoh bangun sendiri," ucap Hazel.
"Yah bangun sendiri, lah! Masa minta dukun beranak bantuin, lo sih Zel. Gobloknya emang natural, tanpa rekayasa genetika!" umpat gue membalas perkataan dia sebelumnya.
"Wah, kampret lo Al! Mah, liat deh Hazel dikatain."
Bodo amat!
Mamahnya makin ngakak. Mampus lu Zel diketawain.
"Oy!" hadang seseorang, sekarang gue lagi mengelilingi halaman depan rumah yang dihias dengan lampu-lampu kecil dan kolam yang memantulkan sinar dari lampu itu.
Dia makin mendekat, tentu dengan wajah iblisnya yang gak pernah berubah. Dari yang dulunya iblis kecil sekarang benar-benar jadi saytonnirrajim. Mata sipitnya membuat jantung gue berdebar, teringat sepintas beberapa ingatan masa lalu yang seharusnya udah hilang.
Tapi, tanpa diminta pun semua hal buruk makin menghantui gue. Semua ingatan itu kembali, karena mereka juga kembali. Mereka yang membuat hari-hari gue menjadi berat.
"Masih hidup aja lo, ya?" sinisnya dengan sorot penuh dendam.
Gue terdiam, tanpa kata-kata. Mengingat semuanya, ketika berlari di lorong rumah sakit lalu bertemu seseorang yang tengah bermain sendirian dengan iPad-nya, melirik gue kesal lalu berjalan menjauh. Ada perasaan yang membuat gue yakin, kalau kami itu sama.
Sama-sama kesepian.
"Gue gak nyangka... Rupanya lo bakal balik lagi nampakin wajah jelek lo itu," ocehnya membuat tangan gue mengepal erat.
"Situ kang kuli bangunan yang perawatannya cuma maskeran semen diam aja! Apa hak lo ngatur gue, hah?!"
"Karena lo cuma bawa sial! Lebih baik lo jauh-jauh dari dia, atau lo bakal tahu akibatnya!!"
Puluhan pasang mata melirik penasaran, gue gak suka masalah pribadi dibawa-bawa apalagi dengan mulut laknat cewek itu.
"Apa urusan lo, njing?! Memang lo siapa?!"
"Gue orang yang bakal menjauhin sampah kayak lo menempel lagi sama dia, ingat itu baik-baik! Gue beri peringatan kali ini, kalau lo tahu diri lebih baik lo pergi dari dia!!!"
Peringatan? Emang siapa yang pengen ngerebut siapa? Wah mulai ngelantur nih anak keknya mabok sirih nih.
"Gue gak takut sama ancaman lo, nyed! Asal lo tahu, cewek busuk kayak lo tempatnya bukan di dunia. Tapi di jahanam!!" maki gue kasar. Bagi gue ucapan itu pantas buat dia, atas semua perlakuan dia dulu dengan teman-temannya. Termasuk Saga.
"Kita buktikan... Siapa yang pantes di sini dan siapa yang pantes di jahanam!!!" pekik Ussy tiba-tiba menarik tubuh gue jatuh ke dalam kolam.
Byuurrr!
Suara gaduh memenuhi pendengaran gue, suara cipratan air dan tawa bengis cewek itu yang kini menghempas gue hingga tenggelam makin dalam.
Apa sebenarnya yang dalam otak dia sih? Sialan!
"Ugh...." tangan gue menggapai permukaan, tapi Ussy semakin menenggelamkan gue dengan kakinya.
"Uhuk! Uhuk!"
"Bunda..."
Tangan gue mengais-ngais permukaan, gue takut dengan air dalam, saking paniknya kaki dan tangan gue kram dan susah bergerak.
Gue mencoba beberapa kali menggerakkan kaki dan tangan tapi hasilnya nihil, tubuh gue semakin tenggelam. Sedangkan napas makin menipis, pandangan memudar hingga tubuh gue menyentuh dasar kolam.
"Kak Alpha!!!"
"Alpha!"
"Siapa pun... Tolong gue," batin gue pasrah.
×××
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️