NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Cinta beda status
Popularitas:74.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kristiyana Nopiyana

Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.

Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.

Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Go Home 2

Safa Zaina

Mobil yang di tumpanginya mulai memasuki jalanan menuju Asrama tempat dia tinggal. Sepanjang perjalanannya dari mall elektronik itu, dia hanya diam mematung sembari menggenggam erat paper bag berisi pemberian Azka untuknya tadi. Jujur saja dia sungguh tak enak hati menerima pemberian Azka tadi. Barang itu sangat mahal. Barang yang tak akan mungkin dapat di milikinya.

Namun Azka, terus memaksa Safa untuk menerima pemberiannya saat di cafe tadi. Membuat Safa akhirnya mengalah, karena tak ingin lebih lama menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe.

"Makasih untuk semuanya" katanya lirih setelah mobil terparkir sempurna di depan gerbang Asrama. Azka hanya mengangguk sambil menatapnya. Tangannya sudah memegang handle pintu, hendak membuka pintu mobil saat Azka meraih tangan kanannya. Dia menoleh ke arah Azka. Mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.

Matanya menatap kearah Azka dengan tatapan tanya 'ada apa?'

Azka menarik nafasnya sebelum akhirnya dia berkata "Rasanya malas bagiku pulang ke rumah" kalimat Azka terdengar berat. Membuatnya semakin mengernyitkan kening. "Tolong, percaya sama aku. Apapun yang terjadi nanti. Aku cinta sama kamu. Dan tak akan ada yang dapat merubah semua itu. Untuk sekarang aku tak akan memintamu untuk menjadi pacarku. Apalagi memaksamu. Hanya 1 yang aku minta..." Lanjutnya dengan suara yang semakin berat dan bergetar. "Aku ingin kamu percaya sama aku" Azka terdiam sesaat. "Ya hanya itu. Tak ada yang lain" lanjutnya lagi. Perlahan Azka melepaskan genggaman tangan Azka dari pergelangan tangannya.

"Aku gak ngerti" jawabnya sambil terus menatap dalam mata Azka. Seolah dia mencari pembenaran dari ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Azka.

"Sepertinya aku akan bertunangan dengan Dinda..." Jawab Azka dengan suara yang begitu berat. Bahkan lebih berat dari kalimatnya tadi.

Matanya memanas. Air mata yang sudah hendak keluar membuat pandangannya semakin berbayang. Dia mencoba menarik nafas panjang. Memalingkan pandangannya ke atap mobil. Berharap dengan menengadahkan kepalanya dia akan berhasil menahan airmata yang sudah siap terjun dari sudut matanya. "Ke...na...pa.. ka.. mu bilang gitu?" Dengan susah payah dia lontarkan kalimat itu. Bersamaan dengan suaranya yang bergetar lolos dari bibirnya, air matanya jatuh tanpa bisa dia tahan. Dengan gerakan cepat, dia memalingkan pandangannya ke arah kiri. Hingga matanya menatap sosok Jenny yang berjalan menuju Asrama.

"Kejadian malam itu. Demi Tuhan aku tak melakukan apapun pada Dinda. Tapi Dinda bilang bahwa aku sudah melakukan apa yang seharusnya hanya di lakukan oleh orang dewasa pada Dinda pada mami dan papiku. Juga pada orang tuanya. Aku su..."

"Tak mungkin, Dinda mengatakan itu jika kalian tidak melakukannya" Safa memotong kalimat Azka cepat.

"Demi Tuhan, Safa. Aku tak melakukan hal itu" Azka kembali meraih tangannya. Namun dengan gerakan cepat dia mengibaskan genggaman tangan Azka.

"Aku akan mencoba percaya sama kamu. Meski aku sendiri tak yakin apa kamu jujur atau sebaliknya. Karena aku yakin, kebenaran akan selalu terungkap. Cepat atau lambat" jawabnya seraya tak memandang wajah Azka. "Dan jika ternyata kamu yang berbohong. Maka aku yang akan pergi tanpa kamu minta" lanjutnya lagi. "Maaf, hari sudah sore. Aku harus pergi sekarang. Terimakasih untuk semuanya" dia buru-buru memegang handle pintu. Mendorongnya lantas pergi menjauh tanpa sempat dia menutup pintu mobil. Tangisnya kembali pecah. Deras. Semakin deras lagi. Dia terus berlari melewati tempat parkir dan taman depan yang tampak di tumbuhi rumput hijau dan beberapa tanaman bunga yang indah terawat.

Air matanya terus saja mengalir tanpa henti. Meski beberapa pasang mata menatapnya dengan perasaan heran penuh ingin tau. Tapi dia menghiraukan tatapan itu. Dia terus saja berlari. Rasanya saat ini dia ingin menumpahkan segala kecewa dan sakit hatinya. Dia sadar, jika sekarang dia sudah mencintai Azka. Yang entah sejak kapan rasa itu muncul. Dan kalimat Azka barusan...

"Sepertinya aku akan bertunangan dengan Dinda..." kalimat Azka terus berputar dalam kepalanya. Terngiang di telinganya. Seperti kaset rusak yang terus berputar berulangkali.

Ahh, Tuhan...

____________________________________________

Azka Imam Haqiqi

Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Sekelebatan foto Dinda dengan Gaun warna putih terus berputar di kepalanya. "Si al" umpatnya dengan suara lantang sembari memukul kemudi yang sedang dia pegang.

Tentu saja dia tau apa yang akan terjadi di rumah nanti. Dan semua itu sudah pasti. Dia tak mungkin bisa membantah perintah Pappi. Sungguh dia bukan anak seperti itu.

Pertunangannya dengan Dinda jelas sudah di depan mata. Tanpa dia bisa menolak atau mencegah.

Dering ponselnya berbunyi. Membuatnya kembali mengutuk dirinya sendiri karena tadi dia memasukan sim card dari ponsel lamanya ke ponsel barunya. Nama si pemanggil telepon jelas terpangpang dengan huruf besar di layar ponselnya.

Pappi calling...

Membuat suasana hatinya semakin tak karuan. Dia sempat menepikan mobilnya sebelum dia memijit tombol gagang telepon berwarna hijau.

"Iya pih?" Tanyanya dengan suara bergetar.

"Dimana kamu?" Tanya pappi dengan nada suara yang dia hafal betul bahwa pappinya sedang murka.

"Di jalan menuju rumah" katanya berbohong. Karena jalan ini jelas menuju rumah Ghea, bukan rumahnya. Dia hendak menukarkan mobil ghea terlebih dahulu sebelum dia ke rumah.

"Pulang sesegera mungkin. Pappi tunggu" jawab pappi dari seberang sana sebelum akhirnya pappinya itu mengakhiri sambungan telepon.

Setelah sambungan telepon terputus dia kembali melajukan kendaraannya menuju rumah Ghea. Untuk menukarkan mobil. Dan kemudian segera mengemudikan mobilnya ke rumahnya sendiri.

Rumahnya tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil terparkir di halaman depan rumahnya. Salah satunya tentu mobil Oom Anwar. Dan yang lainnya entah mobil siapa.

Dia menghentikan mobilnya di depan gerbang rumahnya. Melempar kunci pada Satpam di rumahnya tanpa berkata apapun. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu utama.

"Nah ini dia orangnya..." Seru pappi saat dia berdiri di ambang pintu.

Membuat semua mata yang berada di ruang tamu rumahnya lantas menoleh ke arahnya. Ada 6 orang yang berada di ruang tamu rumahnya. Papi, Mami, Dinda, Tante Amira dan 2 orang wanita lain yang entah siapa.

"Sayang, aku udah pilihin 4 jas untuk acara pertunangan kita nanti. Kamu tinggal pilih yang paling cocok dengan kamu yang mana" Dinda berkata padanya dengan senyum bahagia penuh kemenangan yang tersungging di bibirnya seraya berjalan mendekat ke arahnya. "Aku juga udah..."

"Atur aja semua. Aku cape" jawabnya ketus.

Dia melangkah meninggalkan ruang tamu, masuk lebih dalam ke rumahnya dengan perasaan yang sangat dongkol tentunya. Ya dongkol. Bahkan mungkin lebih dari itu.

Pertunangan? Yang benar saja? Bahkan dia belum menyetujui pertunangan ini. Jangankan menyetujui, di ajak bicara pun tentang masalah ini tidak.

Wait... Tidak di ajak berbicara? Atau memang dia yang tak ada di rumah untuk di ajak bicara. Entahlah. Mungkin cara terbaik untuk sedikit mendinginkan kepalanya, adalah menenggelamkan dirinya di bathtub. Menghirup aroma terapi yang tercium dari dalam bak mandinya yang tadi dia tetesi esensial. Juga dari lilin aroma terapi yang dia sengaja nyalakan sebelumnya.

1
Ummu Hisbuh
lanjut thor
Lusi Mariana
tetap semangat
Endah Hkw
lanjut yaaa
Jujuk
lanjut kak
Jujuk
lanjut
Jujuk
semangat kak
Jujuk
bawa like
Jujuk
aku mampir kak
Heni Lestari
lanjut 👍
🌹Dina Yomaliana🌹
10 like mendarat😘😘😘
🌹Dina Yomaliana🌹
semangat up kakak😘😘😘
Mahdiana Mahmud
nekad ksli tuh cewek gk punya harga diri ya 👊👊👊👊👊👊👊👊
Si Hell Helmiati
mana ni lanjutan nya..
BELVA
mampir kembali di novel
#gadis imut diantara dua raja

mksh ya ka
BELVA
datang membawa like banyak untuk mu
BELVA
hallo author kece aku datang nih
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
Hania
semangat kk
lanjut
WieFan
ayo kak, lanjutkan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
jejakku kembali hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!