NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

BAB 27 — PULAU ARKAN

DOR! DOR! DOR!

Rentetan peluru menghantam jendela laboratorium.

Pecahan kaca berhamburan ke segala arah.

"Semua berlindung!" teriak Ergan.

Mahendra segera menarik Eiri ke balik meja baja yang tebal. Peluru menghantam permukaannya hingga memercikkan bunga api.

Di luar gedung...

Dua helikopter hitam berputar rendah di atas laboratorium.

Belasan pria bersenjata lengkap turun menggunakan tali.

Mereka mengenakan seragam hitam tanpa identitas.

Satu-satunya tanda yang terlihat hanyalah lambang berbentuk gerhana matahari di lengan kanan mereka.

"The Eclipse..." gumam Mahendra.

Ergan mengintip dari balik perlindungan.

"Jumlah mereka sekitar dua puluh orang."

"Dan semuanya menggunakan perlengkapan militer."

Mahendra menggeleng.

"Bukan."

"Mereka jauh lebih terlatih."

Seolah membuktikan ucapannya, lima orang anggota tim Ergan yang mencoba keluar langsung dilumpuhkan hanya dalam hitungan detik.

Bukan dibunuh.

Melainkan ditembak di bagian bahu dan kaki.

"Mereka tidak ingin perang," kata Mahendra.

"Mereka datang mengambil sesuatu."

Tatapannya beralih kepada kartu memori yang masih berada di tangannya.

"Mereka mengincar ini."

---

Di luar laboratorium...

Seorang pria bertopeng berdiri di depan pintu utama.

Tubuhnya tinggi besar.

Jubah hitamnya berkibar diterpa angin malam.

Ia menekan tombol di earphone kecilnya.

"Target berada di lantai bawah."

"Prioritas utama."

"Ambil kartu memori."

"Subjek E boleh dibawa hidup."

"Target M..."

Ia terdiam sesaat.

"Lumpuhkan jika melawan."

Perintah itu langsung dijawab serempak.

"Siap."

---

Di dalam laboratorium...

Bram kembali batuk keras.

Darah segar mengalir dari luka tembaknya.

Mahendra berlutut di sampingnya.

"Bram."

"Ada jalan keluar lain?"

Bram mengangguk lemah.

"Dulu..."

"...laboratorium ini memiliki jalur evakuasi."

"Di belakang ruang observasi."

"Eiri..."

"Ambil liontin itu..."

"Liontin?"

Bram menunjuk ke arah leher Eiri.

Sejak kecil, Eiri memang selalu mengenakan liontin perak pemberian ayahnya.

Ia tidak pernah tahu kegunaannya.

Mahendra memperhatikan liontin itu.

"Selama ini..."

"...kita tidak pernah membukanya."

Bram tersenyum tipis.

"Itu..."

"...bukan sekadar liontin."

"Eiri..."

"...tekan batu birunya."

Dengan tangan gemetar, Eiri mengikuti petunjuk tersebut.

Klik...

Liontin itu terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah anak kunci yang sangat kecil.

Ergan membelalakkan mata.

"Ternyata..."

"Itu kunci."

Belum sempat mereka membahasnya lebih jauh...

BOOM!

Pintu baja laboratorium meledak.

Asap tebal memenuhi ruangan.

Beberapa sosok bersenjata mulai memasuki lorong.

"Sasaran ditemukan!"

Mahendra langsung mengangkat pistol.

"Dor!"

Peluru pertamanya mengenai senjata lawan hingga terpental.

Ergan dan anak buahnya ikut memberikan tembakan balasan.

Lorong sempit itu berubah menjadi medan baku tembak.

"Eiri!"

teriak Mahendra.

"Bawa Bram!"

"Aku dan Ergan akan menahan mereka!"

Eiri menggeleng.

"Aku tidak mau meninggalkanmu!"

Mahendra menatapnya dalam.

"Dengarkan aku."

"Kalau kartu memori ini jatuh ke tangan mereka..."

"Semua pengorbanan ayahmu akan sia-sia."

Mata Eiri mulai berkaca-kaca.

Mahendra menyelipkan kartu memori ke dalam tangan Eiri.

"Simpan baik-baik."

"Jangan berikan kepada siapa pun."

"Bahkan kepadaku..."

"...jika suatu saat aku berubah."

Eiri terdiam.

Ucapan itu terdengar sangat aneh.

Namun ia mengangguk.

"Aku janji."

Ergan berteriak dari depan.

"Tuan!"

"Mereka menerobos!"

Mahendra langsung berdiri.

"Dor! Dor!"

Dua orang lawan roboh.

Namun semakin banyak musuh berdatangan.

Mereka bergerak sangat rapi.

Seolah telah mempelajari denah laboratorium sejak lama.

Di tengah kekacauan itu...

Pria bertopeng yang memimpin The Eclipse akhirnya memasuki ruangan.

Ia menatap langsung ke arah Eiri.

"Sudah lama kita tidak bertemu..."

Subjek E."

Eiri membeku.

"Apa?"

"Aku tidak mengenalmu."

Pria itu tertawa pelan.

"Mungkin tidak."

"Karena ingatanmu sudah dihapus."

"Tapi aku..."

"...masih mengingat hari saat pertama kali melihatmu."

Mahendra melangkah maju, berdiri di depan Eiri.

"Aku tidak peduli siapa kau."

"Kalau ingin menyentuh Eiri..."

"Kau harus melewatiku lebih dulu."

Pria bertopeng itu perlahan mencabut pisaunya.

"Kalau begitu..."

"Biarkan aku melihat..."

"...apakah Target M benar-benar pantas melindungi Subjek E."

Ia mengambil satu langkah ke depan.

Sementara itu...

Jauh di luar gedung...

Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi.

Di balik kemudi...

Rivan menggenggam setir dengan wajah penuh tekad.

"Bertahanlah..."

"Eiri."

"Aku hampir sampai."

Ting...

Pisau di tangan pria bertopeng berkilat diterpa cahaya lampu yang berkedip.

Mahendra tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Keluarkan semua orang dari sini!" teriaknya kepada Ergan.

"Siap, Tuan!"

Ergan segera memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Tim satu, lindungi Nona Eiri!"

"Tim dua, buka jalur ke lorong evakuasi!"

Baku tembak kembali pecah.

Dor! Dor! Dor!

Peluru menghantam dinding beton.

Asap memenuhi lorong.

Pria bertopeng itu melangkah santai, seolah suara tembakan di sekitarnya bukan ancaman.

"Mahendra."

Suara pria itu terdengar tenang.

"Kau memang lebih hebat daripada laporan yang kubaca."

Mahendra mengernyit.

"Kau mengenalku?"

"Tentu."

"Kau adalah Target M."

"Orang yang selalu mengganggu rencana kami."

Mendengar kata Target M, Eiri langsung teringat isi buku hitam yang mereka temukan di ruang bawah tanah.

Dadanya kembali berdebar.

"Siapa sebenarnya kalian?"

Pria bertopeng itu menoleh kepadanya.

"Kami..."

"...adalah orang-orang yang menciptakan hidupmu."

Ucapan itu membuat Eiri membeku.

Mahendra langsung menyela.

"Omong kosong."

Pria bertopeng tertawa pelan.

"Kalau begitu..."

"Tanyakan saja pada liontin yang kau bawa."

Tatapan semua orang langsung tertuju pada liontin di tangan Eiri.

Mahendra mengepalkan tangannya.

"Apa maksudmu?"

Pria itu mengangkat bahu.

"Nanti juga kau akan tahu."

"Tapi sebelum itu..."

"Serahkan kartu memorinya."

Mahendra menggeleng.

"Mustahil."

"Kalau begitu..."

Pria bertopeng mengangkat tangan kanannya.

Seluruh anggota The Eclipse langsung berhenti menembak.

Suasana mendadak sunyi.

Mahendra merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Tiba-tiba...

Klik.

Suara pengaman granat terdengar dari berbagai arah.

Ergan membelalakkan mata.

"Granat!"

Sedikitnya enam granat dilemparkan ke dalam laboratorium.

"Waspada!"

Mahendra tanpa berpikir panjang langsung memeluk Eiri dan menjatuhkan tubuh mereka ke balik pilar beton.

BOOOOM!!

Ledakan mengguncang seluruh bangunan.

Langit-langit mulai runtuh.

Debu tebal memenuhi udara.

Jeritan terdengar di mana-mana.

"Batuk... batuk..."

Eiri membuka matanya perlahan.

Pandangan di sekelilingnya buram.

"Mahendra..."

Mahendra masih memeluknya erat.

"Aku di sini."

"Kamu terluka?"

Eiri menggeleng.

"Tidak..."

"Tapi..."

Matanya membelalak.

"Mahendra!"

Di bahu kiri Mahendra mengalir darah segar.

Pecahan beton tajam telah menancap cukup dalam.

Mahendra meringis, tetapi tetap berdiri.

"Hanya luka kecil."

"Bohong!"

teriak Eiri.

"Darahmu banyak sekali!"

Mahendra tersenyum tipis.

"Selama aku masih bisa berdiri..."

"...aku akan tetap melindungimu."

Air mata Eiri kembali jatuh.

Untuk sesaat...

Sebuah kilasan ingatan muncul.

Seorang anak laki-laki berdiri di depan dirinya yang masih kecil.

"Jangan menangis."

"Aku akan selalu melindungimu."

Eiri memegang kepalanya.

"Ah..."

Mahendra langsung menoleh.

"Eiri?"

"Aku..."

"Aku pernah mendengar kalimat itu..."

"Suaramu..."

"Saat kita masih kecil..."

Mahendra membeku.

"Eiri..."

Sebelum ia sempat berkata apa pun...

Bram yang sejak tadi dibopong oleh dua anggota tim tiba-tiba berteriak dengan suara lemah.

"Mahendra!"

"Jangan biarkan..."

"...mereka membawa Eiri..."

"Karena..."

"...dia adalah..."

Kalimat Bram terputus.

Sebuah peluru menembus kaca dan mengenai dadanya untuk kedua kalinya.

Dor!

"Bram!"

Eiri menjerit.

Tubuh Bram terjatuh.

Dengan sisa tenaganya, ia menunjuk ke arah lorong evakuasi.

"Pergi..."

"Ke..."

"Pulau..."

Belum sempat menyelesaikan ucapannya...

Tangannya terkulai.

Matanya tertutup.

Mahendra menundukkan kepala sejenak.

Lalu berdiri kembali.

"Kita pergi."

Ergan mengangguk.

"Jalur evakuasi sudah terbuka!"

Mahendra menggenggam tangan Eiri.

"Ayo."

Mereka berlari memasuki lorong rahasia.

Namun tak jauh di belakang mereka...

Pria bertopeng itu hanya berdiri sambil tersenyum.

Ia sama sekali tidak mengejar.

Salah seorang anak buahnya bertanya,

"Tuan, kenapa kita membiarkan mereka kabur?"

Pria bertopeng menatap lorong yang mulai tertutup reruntuhan.

"Karena..."

"Tujuan kita bukan menangkap mereka."

"Melainkan memastikan mereka pergi ke Pulau Arkan."

Ia tersenyum tipis.

"Di sanalah..."

"Permainan sesungguhnya dimulai."

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!