Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebenarnya, siapa dia?
...#••...
Sejujurnya, Jay masih penasaran dengan perempuan yang ia temui Minggu lalu di gereja.
Tangisan yang begitu memilukan itu seakan terus terngiang-ngiang di kepalanya, sampai akhirnya, membuat Jay tergerak untuk kembali ke gereja tersebut.
Oleh sebab itu, kini ia kembali ke gereja tanpa diketahui ayahnya.
Begitu pintu gereja itu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada punggung seorang perempuan. Namun kali ini, kepalanya tidak lagi tertunduk seperti Minggu lalu.
Entah perempuan itu memang perempuan yang sama atau bukan, Jay tidak tahu. Minggu sebelumnya, ia bahkan tidak sempat melihat wajahnya.
Namun entah kenapa, ia merasa perempuan yang dilihatnya kali ini memang orang yang sama.
Jay pun langsung berjalan masuk, dan menempati kursi di tempat biasa.
Begitu duduk, pandangannya kembali tertuju pada perempuan itu. Kepalanya yang tegak menghadap altar membuat Jay kini bisa melihat sisi wajahnya.
“Indah sekali…” gumamnya tanpa sadar.
Hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih, garis rahangnya yang tegas, tetapi tetap halus. Ciptaan Tuhan memang benar-benar sempurna!
Jay pun baru menyadari perempuan itu memiliki rambut pendek sebahu. Pakaian yang dikenakannya juga serba hitam.
Apa dia baru saja kehilangan anggota keluarganya?
Tanpa disangka-sangka, perempuan itu menoleh ke belakang dan menatap Jay.
Jay yang merasa terciduk langsung mengalihkan pandangan. Dadanya berdetak begitu cepat. Benar-benar seperti orang yang ketahuan mencuri!
Dari sudut matanya, ia melirik untuk memastikan apakah perempuan itu masih menatapnya atau tidak. Begitu merasa tidak ditatap balik, Jay kembali menatap perempuan itu sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke altar.
“Semoga… perempuan itu menjadi jodohku.” Begitulah yang Jay minta pada Tuhan.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Begitu membuka matanya dan kembali menatap ke kursi itu, ternyata perempuan tersebut sudah pergi.
Jay langsung berdiri. Matanya menyapu seluruh ruangan, tetapi perempuan itu tidak terlihat di mana pun.
Pintu gereja tampak tidak tertutup rapat. Jay segera berlari ke luar, berharap masih bisa mengejarnya. Namun, begitu sampai di luar, tidak ada siapa-siapa. Perempuan itu sudah pergi.
Melihat seorang petugas yang baru saja berjalan keluar dari sisi lain gereja, Jay langsung menghampirinya.
“Maaf, Pak. Tadi liat ada perempuan yang keluar nggak?”
Penjaga laki-laki itu menggeleng. "Perempuan? Nggak lihat saya, Dek."
“Oh, iya, Pak. Makasih.” Kata Jay langsung pergi begitu saja.
Sepertinya… Minggu depan ia harus ke gereja ini lagi, pikirnya.
...•••...
Hampir pukul 10 malam ketika Jay dan Sian akhirnya keluar dari gedung laboratorium.
Seharian mereka sudah berkutat dengan praktikum dan laporan. Sejak siang, meja kerja mereka dipenuhi catatan, sampel, hasil pengukuran, dan laptop yang digunakan untuk mengolah data sebelum laporan dikumpulkan.
Sian berjalan paling belakang dengan wajah kusut. Matanya sudah berat, rambutnya berantakan setelah seharian berkutat di kampus. Beberapa teman mereka bahkan langsung berpisah begitu sampai di parkiran. Tidak ada yang punya tenaga untuk nongkrong lebih lama.
Berbeda dengan Jay. Entah kenapa, setelah menerima kabar siang tadi, laki-laki itu justru terlihat seperti baru mendapatkan tambahan tenaga.
“Ke kafe dulu?” Jay bersandar pada body mobilnya, menatap Sian dengan ekspresi santainya, yang tidak menunjukkan raut kelelahan sedikit pun.
Sian menatapnya malas. “Gue mau pulang.”
“Gue traktir.” Jay mendekati Sian, lalu merangkul pundak sahabatnya itu.
“Ogah!” Jawab Sian melepaskan rangkulan Jay.
“Tega bener lo sama sahabat sendiri?” Jay kembali merangkul pundak laki-laki itu. “Semua yang lo minta gue kabulin deh," katanya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Jay menggiring Sian menuju mobilnya.
“Motor gue gimana, anjir?”
“Santai ajalah, Cil.” Itulah panggilan Jay pada Sian. “Kampus kita kan aman.”
“Aman dari Hongkong!” Sian menepis lengan Jay. “Itu satu-satunya motor gue! Ya lo gampang, kalo ilang tinggal beli lagi. Lah gue? Meratapi nasib 7 turunan!” Semprot Sian menggebu-gebu.
Jay dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku jaket dan menelpon seseorang.
“Udah tuh,” kata Jay begitu panggilan teleponnya terputus. “Gue udah nyuruh orang buat nganterin motor lo ke kosan lo nanti.”
“Emang beda, ya, jadi orang kaya tuh," kata Sian lalu membuka pintu samping mobil dan masuk ke dalam.
“Nanti kunci motornya titip dulu ke pos satpam,” kata Jay sebelum menutup pintu mobilnya.
Setelah keluar dari halaman kampus, keduanya melanjutkan perjalanan menuju kafe tempat biasa mereka nongkrong. Kunci motor Sian sudah dititipkan kepada satpam untuk kemudian dibawa ke kosannya.
Kafe itu buka 24 jam, khusus buat orang-orang yang hidupnya terbalik. Anak teknik semester tua, misalnya.
Tapi bukan cuma mereka. Di kota metropolitan seperti ini, banyak orang yang hidupnya nyaris tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Berangkat sejak pagi, bekerja seharian, pulang malam, lalu mengulang semuanya lagi keesokan harinya.
Kalau tidak menyempatkan diri untuk berhenti sebentar, hidup rasanya cuma akan diisi dengan bekerja.
Mungkin itu sebabnya banyak kafe yang justru lebih ramai pada malam hari. Orang-orang datang untuk makan, mengobrol, mengerjakan sesuatu, atau sekadar duduk lebih lama sebelum kembali menghadapi kehidupan mereka masing-masing.
“Seneng banget kayaknya," kata Sian sambil menoleh ke arah Jay.
“Ya gimana nggak seneng? Orang yang selama ini gue tunggu-tunggu bakal ketemu!" jawab Jay. Dia melirik Sian sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalanan yang masih padat.
“Emang… kalau udah ketemu, lo mau ngapain?”
“Kepo."
Mendengar jawaban itu, Sian mendelik, lalu menyandarkan punggungnya ke jok penumpang. Pandangannya beralih ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu kendaraan yang berderet di tengah kemacetan malam.
“Selama 2 tahun terakhir ini lo sering cerita tentang dia, sampai gumoh gue dengernya,” sindir Sian. “Tapi lo nggak pernah nyebut namanya.”
Sian kembali menoleh ke arah Jay. “Sebenarnya siapa nama dia?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
Aku kasih tanda pembeda ya, teman-teman. Buat memudahkan kalian membedakan masa lalu dan masa sekarang.
SAY HI, DONGGG