Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 01
PENGANTIN PENGGANTI???
Irlandia, Mansion McManaman
“Selamat datang di kediaman McManaman.” sambut Eleanor tersenyum lebar. Wanita paruh baya itu menyambutnya layaknya seorang ibu.
“Terima kasih, Nyonya.”
“Jangan panggil nyonya, panggil saja Ibu. Kau akan tinggal seperti keluarga bukan.”
Mendengar itu Laura Sharon (27th), merasa dihargai di tempat tinggalnya sebagai pekerja baru Nanny dan tersenyum lebar menyapa ke bocah tampan berusia 4 tahun yang akan dia jaga.
Bobby melambaikan tangannya ke arah Laura sambil tersenyum lebar.
“Hai!”
“Hai!”
Tak lama seorang pria paruh baya dengan kemeja putih rapi, datang berwibawa dan ramah. “Kau Laura Sharon?”
Laura menatap gugup dan tersenyum. “Iya.”
“Kieran McManaman. Senang bertemu denganmu dan anggaplah rumah sendiri dan kami... Keluargamu!” kata pria itu berjabatan tangan sejenak dengan Laura.
Hingga Eleanor segera menyuruh pelayan membawa Bobby ke kamar. Dan tentunya semua itu tidak mencurigakan bagi Laura sendiri.
Bahkan saat dia dipersilahkan masuk, Eleanor dan kieran sesekali menjelaskan detail rumah mewah itu yang terus Laura tatap dengan kagum.
“Aku harap kau tidak akan bosan dan menyesal di sini, laura.” kata kieran menoleh sekilas ke Laura.
“Tentu tidak, Tuan.”
“Panggil saja aku ayah. Kita akan menjadi keluarga.” ujar pria itu yang hanya dibalas anggukan. Dan itu sama seperti yang Eleanor katakan kepadanya. Sungguh, mereka terlihat sangat ramah dan Laura tidak menyesal bekerja di luar negeri sebagai Nanny di rumah mewah itu.
“Silahkan.” Kata kieran mempersilahkan masuk ke ruang makan tersebut yang nampak indah.
Baru saja melangkah mendekat ke meja makan, belum menyentuh apapun. Seorang pria bertubuh tegap melangkah mendekat tanpa suara. Sebelum Laura sempat berbalik atau bertanya, tangan kanannya dicengkeram kuat, ditarik ke belakang punggung hingga bahunya terasa nyeri. Tubuhnya didesak ke permukaan meja yang dingin dan keras.
Brugh!!
"Apa yang terjadi? Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan huh?" seru Laura, matanya terbelalak, kaget sekaligus marah. Ia meronta, namun cengkeraman itu tak tergoyahkan. "Sakit! Katakan apa maksudnya ini!"
Kieran berbalik perlahan. Senyumnya lenyap, digantikan wajah yang dingin dan tajam. Eleanor berdiri di sampingnya dengan jarak, tatapannya pun tak lagi ramah.
"Selamat datang di McManaman," ucap Kieran, suaranya rendah namun menekan dan dingin.
"Apa kesalahanku? Lepaskan aku!"
"Kau memang diperlukan di sini," jawab Kieran, melangkah mendekat. "Bukan untuk mengasuh anak. Kau akan menikah."
Laura mengerutkan kening, tak memahami. "Menikah? Yang benar saja, lepaskan aku sialan!” kesalnya menggertak marah.
"Kau akan menggantikan seseorang" jawab Kieran datar. "Putriku tidak akan dikirim ke sana tapi mau yang akan menggantikannya."
"Omong kosong! Aku tidak peduli dan aku menolak! Aku akan melaporkan kalian semua karena penipuan!" ancam Laura.
Pria yang menahannya menarik pergelangan tangan itu lebih erat. Laura meringis menahan sakit. Kieran berdiri tepat di hadapannya, menatapnya tajam.
“Laporkan saja jika kau bisa, gadis.” kata Eleanor menyeringai kecil. “Kita lihat siapa yang akan ditahan di negara asing bagimu.”
Laura terdiam menatap tajam dan masih mencoba meronta meski sia-sia.
Hingga kieran duduk dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tahu segala hal tentangmu — siapa orang tuamu, adikmu, dan di mana mereka berada. Kau pikir aku membiarkan orang asing masuk ke rumah ini tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya hm?"
Laura terdiam, hatinya mencelos. "Apa maksudmu? APA YANG KALIAN MAU HAH!!"
Eleanor memberi isyarat. Seorang anak buah menyerahkan sebuah tablet kepada Kieran lalu meletakkannya tepat di depan wajah Laura.
"Lihat sendiri."
Di layar itu, terlihat rumah tempat ia dibesarkan. Ia melihat ayah dan ibunya tergeletak di lantai, bersimbah darah. Lalu sosok-sosok tak dikenal mengangkat tubuh mereka keluar, dan tak lama kemudian asap hitam mengepul dari kejauhan. Semuanya dibakar, tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang mengurus.
"No... No..." air mata menetes tanpa dapat ditahan. Ia menatap Kieran dengan pandangan yang perih sekaligus tajam lalu menunduk sedih menangis histeris. “Tidak... ”
"Kau sekarang tahu posisimu," ucap Kieran tanpa rasa bersalah. "Ada satu hal lagi yang belum tersentuh. Adikmu, Lily Sharon."
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia melupakan rasa sakit di tangannya. "Apa yang kalian lakukan padanya? LEPASKAN DIA!"
"Tenang saja, kami pindahkan gadis itu," kata Eleanor dengan tenang yang mengerikan. "Kini dia berada di rumah sakit jiwa. Setiap hari ia akan mendapat suntikan. Selama kau menuruti kami, dia akan aman. Jika kau berani melawan..."
"Jangan! Jangan sakiti dia!" Laura meronta sekuat tenaga. "Dia tidak tahu apa-apa! Lakukan apa saja kepadaku, tapi lepaskan adikku, aku mohon... Please..!"
"Maka lakukan apa yang kuperintahkan," kata Kieran tegas. "Menikahlah dengan pria itu, jalani hidup sebagai istri keluarga Marcano, dan patuh pada setiap perintah yang kami kirimkan. Itu harga yang harus kau bayar demi keselamatan adikmu."
Laura terkulai lemas. Ia sendirian, tak ada tempat berlindung, tak ada yang bisa ia minta pertolongan. Orang tuanya telah tiada, adiknya dijadikan sandera. Ia tak memiliki pilihan lain. Dan lebih parahnya lagi... Dia tidak tahu siapa yang akan dia nikahi dan sedang berurusan dengan siapa dia saat ini.
Perlahan ia mengangguk, bahunya bergetar menahan tangis. "Baik... aku, aku akan melakukannya... Tapi lepaskan Lily, aku mohon..."
Kieran memberi isyarat. Pria itu melepaskan cengkeramannya dan mundur. Laura duduk kembali di kursi, menunduk, menahan isak tangis agar tak terdengar. Hatinya benar-benar sakit dalam satu hari itu.
"Bagus," ucap Kieran. Ia melempar selembar kertas dan pena ke meja. "Tulis namamu di sana. Bukan Laura Sharon. Mulai hari ini, kaulah Laura McManaman, putri kami. Itu nama yang akan kau pakai saat menikah."
Laura menatap kertas itu, lalu menatap mereka dengan pandangan yang tajam penuh air mata. "Kenapa? Kenapa bukan putrimu sendiri yang pergi? Kenapa harus menghancurkan hidup orang lain huh?"
Eleanor hendak membalas dengan nada tinggi, namun Kieran mendahuluinya. Wajahnya tegang, matanya menyala.
"Putriku adalah hal paling berharga yang kumiliki. Aku tidak akan pernah menyerahkannya kepada keluarga Marcano — keluarga yang kejam, licik, dan tak dapat dipercaya. Mereka akan menghancurkannya. Anakku tidak akan kuserahkan kepada musuh. Maka kaulah yang pergi."
Laura menunduk. Pikirannya kembali pada wajah ayah dan ibunya, lalu pada adiknya yang sendirian di tempat yang asing. Ia tak berdaya. Ia tersenyum miris sambil meneteskan air matanya tak percaya.
“Lakukan saja, jika kau ingin adikmu hidup.”
Dengan tangan yang gemetar, ia meraih pena itu saking emosinya. Ia menulis nama yang bukan miliknya — Laura McManaman — dengan goresan yang tegang dan penuh amarah yang tertahan.
Setelah selesai, ia meletakkan pena di atas meja. Ia tak berkata apa-apa lagi, hanya menunduk, menyimpan rasa sakit dan kebencian itu jauh di dalam hatinya.
Eleanor menatap penuh kelegaan dan Kieran sendiri juga lega meski konsekuensinya akan mengerikan bila Marcano tahu kebenarannya bahwa yang menikah dengan Killian Marcano bukanlah putri aslinya, melainkan orang lain.
Sementara Laura mengepalkan tangannya dengan penuh amarah yang tak bisa ia luapkan.
“Kirim pesan kepada keluarga Marcano. Bahwa McManaman menyetujui pernikahan itu.” pinta Kieran dingin dan tegas kepada anak buahnya.