Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapur milik berdua
2 Hari kemudian
Kemarin uang sebesar 50 juta sudah ditransfer oleh Zain ke rekening Paman Tiyas. Bibi' Tiyas pun langsung mengambilnya tanpa memberitahu anaknya. Ia tidak ingin uang tersebut juga direbut oleh Wawan nantinya. Meski Wawan adalah anak satu-satunya, namun ia tidak ingin memanjakannya lagi Sudah cukup pengorbanan mereka selama ini.
Mereka ingin Wawan sadar akan kesalahannya. Namun sepertinya Wawan masih saja bermain judi online. Bibi' pun langsung menghubungi Tiyas saat pamannya sudah menjalani operasi. Tiyas bersyukur keadaan pamannya sudah membaik saat ini. Ia berharap dengan kejadian ini ada hikmah yang bisa diambil agar pamannya itu menyadari kesalahannya. Meski begitu, Tiyas tetap mendo'akan pamannya. Bibi'nya juga berjanji akan mengembalikan uang yang dipinjam dengan cara mencicil. Tiyas tidak sama sekali tidak keberatan karena ia juga sudah mendapat ijin dari suaminya.
Hari ini Tiyas ingin memasak sendiri di dapur. Sudah lama ia tidak masak seperti di rumahnya. Bibi' bahkan tidak boleh membantunya.
"Tapi, non."
"Tolong ya, b'. Bibi' istirahat saja. Tenang saja, aku nggak akan bilang siapa-siapa. Aku kangen ingin masak sendiri, bi'
Akhirnya bibi' menuruti kemauan Tiyas. Bibi' masuk ke kamarnya namun bukan untuk bersama tau. Bibi' membereskan baju di lemarinya sendiri yang sudah berantakan.
Tiyas pun mulai memasak. Ia memasak peyek kacang dan membuat bumbu pecel sendiri. Ia juga merebus tauge dan kangkung. Untuk lauknya ia menggoreng ayam dan membuat sambal goreng tempe.
Zain baru saja turun dari tangga. Ia mencari keberadaan istrinya. Sejak setelah shalat Shubuh, Tiyas tidak kembali ke kamar. Ia bahkan lupa tidak membuatkan coklat hangat untuk suaminya. Dan sekarang sudah jam 7.
Zain mencari Tiyas ke depan rumah. Karena tidak ada, ia masuk lagi ke dalam. Kebetulan ia melihat bi' Titin.
"Bi', lihat istriku?"
"Eh, den Zain. Non Tiyas ada di dapur."
"Oh iya, makasih bi'."
"Sama-sama, den."
Zain pun langsung menyusul ke dapur.
Ternyata Tiyas sedang memblender kacang. Nampak ia sangat menikmati kegiatan.
Zain mendekatinya.
Tiyas masih fokus dengan pekerjaannya. Ia belum sadar ada orang di belakangnya.
Zain mengulum senyum.
Lalu ia memeluk perut istrinya dari belakang.
Tiyas terkejut.
"Astaghfirullah... "
"Hei, ini aku sayang."
"Ya Allah, mas... kamu ngagetin saja deh."
Tiyas mematikan blendernya.
"Kamu fokus sekali sih. Mana bibi' kok kamu yang masak?"
"Mas, aku yang minta sama bibi'. Aku kangen masak sendiri. Jadi jangan salahkan bibi' ya?"
Zain mengangguk lalu menempelkan dagunya di atas bahu Tiyas. Pelukannya juga semakin erat.
"Mas, lepas dong! Mana bisa masak kalau begini?Lagian malu nanti dilihat orang."
"Nggak mau. Kamu harus dihukum karena lupa membuatkan minuman untukku."
Tiyas menepuk dahinya sendiri. Ia benar-benar tidak ingat. Ia juga meminta maaf kepada Zain.
"Aku maafkan, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
Zain menunjuk pipinya sendiri.
Tiyas paham dengan maksudnya. Namun Tiyas enggan karena malu.
"Ayo, katanya mau dimaafkan."
Riyas pun menoleh ke sekitarnya lalu mengecup pipi Zain dengan sangat singkat.
"Singkat sekali. Kurang, bukan begitu! "
Tiyas pun mengecupnya lagi dengan durasi yang lebih lama. Dan Zain justru mengecup bibir istrinya
"Su-sudah, mas."
"Okey, makasih sayang."
Meeka berdua tidak sadar jika ada seseorang yang melihatnya. Orang tersebut adalah Zean yang hendak meletakkan gelas kotor ke dapur namun tidak jadi karena melihat adegan mesra abang dan kakak iparnya.
"Sialan, pagi-pagi sudah disuguhi adegan ciuman. Dia pikir dapur milik berdua. Si abang, nggak tahu tempat. Dasar bucin! Sudah tahu rasanya sih, ya kan?Arrrggghhh...! " Zean frustasi.
"Ada apa, den?" Tanya bi' Kokom.
"Eh bibi', nggak ada apa-apa kok, he... "
"Itu gelasnya mau dibawa ke dapur, den? Sini buat bibi' yang bawa."
"Eh eh jangan! Nggak kok ini gelas itu... gelas baru aku ambil. Bib" nggak usah ke dapur. "
"Kenapa, den?"
"Sudah ayo bibi' ke sana saja."
Zain mendorong tubuh bibi" seperti mendorong tubuh anak kecil.
30 menit kemudian, masakan Tiyas sudah jadi. Ia memanggil suaminya untuk sarapan.
"Mas, sekalian ajak Zean juga."
"Iya, aku panggil dia dulu. Kamu turun duluan saja."
Tiyas pun meninggalkan Zain.
Zain keluar dari kamarnya, lalu mengetuk pintu kamar Zean.
Tok tok tok
"Iya.... sebentar!"
Ceklek
"Dek, ayo sarapan. Istriku sudah masak untuk kita."
"Hem... iya iya.. "
Zain melihat sesuatu yang berbeda pada mimik wajah adiknya.
"Kamu kenapa, kok kayak bete gitu?"
"Tadi aku habis memergoki orang ciuman."
"Astaghfirullah.. di mana?"
"Di dapur."
Zain berpikir sejenak.
Zean pun bejalan meninggalkan Zain.
Zain baru menyadari maksud adiknya itu. Namun ia cukup terkejut karena ada yang melihatnya. Namun ia tidak begitu memikirkannya. Ia pun turun ke bawah.
Zain, Zean, dan Tiyas sudah berada di ruang makan. Seperti biasanya, Tiyas melayani suaminya. Sedangkan Zean langsung mengambil makanannya sendiri.
"Ini mbak semua yang masak? "
"Iya, kenapa?"
"Enak."
Tiyas mengulum senyum.
"Ternyata mbak ini paket lengkap. Sudah cantik, sholeha, pintar masak."
"Siapa yang nyuruh kamu puji istriku?"
"Cie... abang cemburu. Cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang..... " (nyanyi)
Zain hanya menggelengkan kepala melihat adiknya itu.
Akhirnya mereka selesai makan.
Tiyas membereskan piring kotor ke dapur. Zain dan Zean beranjak dari kursi lalu pergi ke kamatnya. Namun sebelum Zean membuka pintu kamarnya, Zain mengajaknya bicara.
"Dek, maaf ya."
"Maaf kenapa, bang?"
"Em... Soal di dapur tadi." Ujar Zain sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hem... ya ya, lain kali lihat tempat dong, bang. Untung aku yang lihat. Jadi kebagian dosa dikit.Haha..."
Zain pun masuk ke kamarnya, begitu pula Zean.
Keduanya sama-sama bersiap untuk pergi bekerja.
Zain memakai baju pilihan istrinya yang sudah disiapkan di atas tempat tidur.
Tidak lama kemudian, Tias kembali ke kamar. Ia membantu Zain merapikan rambutnya.
"Makasih, sayang."
"Sama-sama, mas."
Di hotel kota Makkah, Saat santai orang tua Zain beserta opa dan oma sedang membahas kembali resepsi pernikahan Zain dan Tiyas. Hari resepsi Zain dan Tiyas sudah ditentukan oleh opa. Acaranya akan diadakan setelah 40 hari bapak Tiyas. Menurut opa hari tersebut sudah diperhitungkan. Dan juga untuk kebaikan bersama. Mereka juga tidak mungkin mengadakan pesta saat belum usai 40 hari kepergian bapak Zakir. Abi sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk mencatat nama orang-orang yang akan diundang. Ummi juga meminta pihak vendor untuk datang ke rumah agar Tiyas dan Zain bisa memilih langsung konsep dekorasi yang mereka inginkan. Mereka masih berharap Zean segera menemukan jodohnya agar acara Zain dan Zean bisa dilaksanakan bersama.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...