Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Feng Wu tidak ingin berlama-lama di tempat yang terus menuduhnya tanpa alasan. Ia menunduk hormat kepada Ibu Suri, suaranya tenang namun tegas.
"Ibu Suri, saya pamit undur diri untuk merawat luka di kepala ini. Sebelum pergi, izinkan saya meninggalkan obat herbal buatan tangan saya sendiri. Silakan diminum secara teratur, ini akan membantu mempercepat kesembuhan Ibu Suri."
Ia menyodorkan dua botol porselen kecil ke arah pelayan, lalu melanjutkan dengan lembut.
"Semoga Ibu Suri senantiasa diberikan kesehatan dan kesembuhan yang sempurna."
Tanpa menatap Putri Anning sedikit pun, Feng Wu berbalik dan melangkah keluar dari kediaman Ibu Suri.
Baru saja ia melangkah melewati gerbang, sesosok pria berhenti di tempat. Itu adalah Pangeran Ketiga. Matanya yang biasanya dingin dan datar seketika bergetar saat melihat pelipis Feng Wu yang berdarah, wajahnya pucat pasi namun tatapannya tetap tegak dan tak pernah merendah.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia ingin sekali melangkah maju, menghampiri gadis itu, dan menanyakan siapa yang berani melukainya. Namun ia sadar banyak pelayan dan pengawal yang lalu-lalang, mata-mata istana ada di mana-mana. Jika ia mendekat sekarang, justru akan menimbulkan gosip dan membahayakan Feng Wu lebih jauh lagi.
Pangeran Ketiga mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik lengan jubah, menahan diri agar tidak bergerak. Ia menatap punggung Feng Wu hingga sosoknya menghilang di ujung lorong, lalu berbalik perlahan ke arah pengawal bayangannya yang berdiri tak jauh dari sana. Suaranya rendah namun penuh tekanan yang mengerikan.
"Cari tahu apa yang baru saja terjadi di kediaman Ibu Suri. Siapa yang berani melukainya... dan bawakan semua laporan itu kepadaku secepatnya."
Pengawal itu menunduk hormat. "Baik, Yang Mulia."
Di dalam kereta yang bergerak perlahan meninggalkan area istana, Qing Su segera mengeluarkan perlengkapan perban dan obat bubuk dari tas kecilnya. Wajahnya tampak cemas melihat darah yang sempat mengering di pelipis tuannya.
"Nona, biarkan aku membersihkan dan membalut lukanya dulu," ucap Qing Su pelan namun sigap, mulai menyeka darah dengan kain basah.
Feng Wu meringis pelan saat kain itu menyentuh luka di kepalanya. Ia menghela napas panjang, matanya menyipit menahan rasa sakit sekaligus rasa kesal yang membara di dada.
"Putri Anning... berani sekali dia memperlakukanku seperti ini. Hanya karena dia seorang putri, sembarangan melukai orang lain tanpa rasa bersalah sedikit pun," gumam Feng Wu dingin, tangannya mengepal erat di atas lutut. "Dia pikir aku akan diam saja membiarkan perlakuan kasar itu? jika saja dia bukan putri kekaisaran, maka aku akan menghabisinya ditempat''
Qing Su berhenti sejenak, menatap tuannya dengan bingung namun tetap patuh. "Nona, jangan gegabah, Putri Anning itu putri kesayangan permaisuri"
Feng Wu menoleh padanya, tatapannya tajam dan penuh tekad. "Qing Su, aku ingin kau mencari tahu di mana kediaman pribadi Putri Anning berada".
"Baik, aku akan segera mencari tahu," jawab Qing Su mantap, lalu kembali melanjutkan membalut luka itu dengan hati-hati.
Setelah luka itu tertutup rapi dengan perban tipis yang tak terlalu mencolok, Feng Wu merapikan rambutnya agar menutupi sebagian perban itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang dibawa Qing Su, lalu berbicara dengan nada lembut namun tegas.
"Sampai di kediaman Wen, jangan ceritakan soal lukaku kepada siapa pun termasuk Kakek dan keluarga lainnya. Aku tidak ingin mereka cemas dan mengkhawatirkan diriku. Katakan saja aku baik-baik saja."
Qing Su mengangguk patuh meski hatinya merasa kasihan. "Siap, Nona. aku akan menjaga rahasia ini."
Kereta terus melaju, membawa Feng Wu yang wajahnya tampak tenang, namun di dalam hatinya, rencana balas dendam perlahan mulai tersusun.
Malam semakin larut, bulan sabit bersinar redup di langit malam. Feng Wu mengenakan pakaian gelap yang menyatu dengan kegelapan, menyelinap keluar dari kediaman Wen tanpa ada yang menyadarinya.
Tujuannya satu yaitu Kediaman Melati, tempat tinggal pribadi Putri Anning. Malam ini ia berniat membalas dendam atas perlakuan kasar wanita itu padanya.
Ia melompat ringan ke atas dahan pohon besar yang mengelilingi kediaman itu, bersembunyi di balik dedaunan lebat untuk mengamati keadaan. Namun baru saja ia hendak melangkah turun, sesosok bayangan hitam bergerak begitu cepat dan mendarat tepat di cabang yang sama dengannya tanpa suara. Feng Wu menegang, tangannya langsung meraih jarum perak di pinggang.
"Menyelinap di tengah malam, bermaksud mengganggu kediaman orang lain... Nona Feng Wu memang berani sekali," suara rendah namun berat terdengar di sampingnya, penuh nada sindiran.
Feng Wu menoleh cepat, matanya menyipit menatap sosok di balik pakaian hitam itu. "Siapa kau?!"
Pria itu melangkah maju, wajahnya terbuka samar di bawah cahaya bulan. Itu adalah Pangeran Ketiga. Tatapannya tajam seolah sudah menunggunya sejak tadi.
"Tak perlu bertanya. Aku tahu kau kemari untuk membalas dendam pada Putri Anning, bukan?" ucapnya pasti, seolah bisa membaca isi hati gadis itu. "Tapi kau pikir semudah itu masuk ke sini? Sebelum kau melangkah lebih jauh, sebaiknya kau kembali dan merawat lukamu yang belum kering itu."
Feng Wu mengerutkan kening, tak terima dinasihati begitu saja. "Kenapa Yang mulia Pangeran selalu ikut campur urusanku? Dan soal lukaku, itu bukan urusan Yang mulia Pangeran juga."
Pangeran Ketiga menatapnya lekat, suaranya berubah lebih serius dan rendah agar tak terdengar orang lain.
"Aku mengingatkanmu demi keselamatanmu. Kediaman Melati ini bukan sembarang tempat. Di setiap penjuru, di balik setiap pohon dan tembok, tersembunyi pengawal bayangan kelas atas, pasukan khusus yang sangat tangguh dan setia kepada Permaisuri. Sekali kau terdeteksi, kau takkan bisa keluar dengan selamat, apalagi dengan kepala yang masih berdarah itu."
Feng Wu terdiam mendengar penjelasannya, namun rasa kesal masih membara di dadanya. "Lalu apa? Haruskah aku diam saja membiarkan dia memperlakukanku semena-mena?"
"Bukan begitu," jawab Pangeran Ketiga pelan namun tegas. "Tapi bukan dengan cara ceroboh seperti ini. Balas dendam butuh waktu dan perencanaan yang matang, bukan terburu-buru di tengah malam tanpa persiapan. Sekarang... pulanglah."
Namun Feng Wu tetap bersikeras, matanya menatap tajam ke arah kediaman Melati di bawah sana.
"Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum memberi pelajaran pada wanita itu! Bagaimana pun bahayanya, aku tetap harus masuk!" tekadnya tak tergoyahkan sedikit pun, kaki ia siap melompat turun.
Pangeran Ketiga menghela napas pelan, menyadari betapa keras kepalanya gadis di hadapannya ini. Ia tak punya pilihan lain. Dengan isyarat tangan yang hampir tak terlihat, ia memberi perintah kepada pasukan bayangan pribadinya yang bersembunyi di sekitar sana.
Dalam sekejap, beberapa sosok bergerak cepat memasuki area kediaman Melati. Tanpa menimbulkan suara bising, mereka membuat gerakan seolah hendak menyerang dan melumpuhkan pengawal di pos jaga, lalu segera menghilang kembali ke dalam kegelapan hanya untuk sesaat, sekadar untuk membuktikan betapa ketat dan berbahayanya penjagaan di sana.
Tak lama kemudian, suara terompet tanda bahaya berkumandang dari dalam kediaman Melati. Lampu-lampu yang tadinya redup seketika menyala terang benderang di setiap sudut. Puluhan pengawal keluar dengan senjata terhunus, berpatroli dengan sangat waspada dan sigap. Bahkan dari bayang-bayang pohon dan tembok, sosok-sosok pengawal bayangan mulai muncul, mengawasi setiap gerak-gerik di luar pagar.
Feng Wu terpaku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa penjagaan di dalam sana begitu ketat dan luar biasa. Kalau saja ia nekat masuk tadi, mungkin saat ini ia sudah dikepung dan tak bisa lolos begitu saja.
"Kau lihat sendiri?" bisik Pangeran Ketiga pelan namun tegas di sampingnya. "Aku tidak berbohong. Setiap jengkal tanah di sini diawasi dengan ketat. Sekali kau terlihat, kau takkan bisa pergi dengan selamat. Apalagi dengan lukamu yang belum sembuh itu."
Feng Wu terdiam, menatap kekacauan di bawah sana lalu menunduk pelan. Harus diakui, apa yang dikatakan Pangeran Ketiga benar sepenuhnya. Jika bukan karena ia mencegahnya, mungkin ia sudah terjebak dalam masalah besar.
"Jika kau ingin berterima kasih, maka aku akan menerimanya dengan senang hati" ucap Pangeran ketiga dengan percaya diri.
"Dih, jangan narsis ya!" seru Feng Wu menahan rasa kesalnya.