"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa rujak
"Nih, udah jadi!" seru Tias memecah keheningan sembari meletakkan cobek batu besar berisi bumbu rujak yang kental dan pekat di tengah-tengah tikar."Yok, sikat! Makan, makan!" sahut Jono tidak sabar, langsung menusuk sepotong nanas dan mencocolnya dalam-dalam ke bumbu.
Mereka semua mulai makan bersama. Namun baru dua kali kunyahan, mata Agus langsung melotot. Wajahnya mendadak memerah menahan hawa panas yang membakar lidah.
"Buset!" umpat Agus setengah terbatuk.
"Ini bumbu rujak mah beneran buat modal begadang, Jon! Gila!"
Dian yang sedang mengunyah timun menoleh sambil menahan tawa. "Emangnya kenapa, Gus?"
"Pedas banget! Cabe berapa ini tadi?" keluh Agus yang tanpa babibu lagi langsung menyambar minuman kaleng dinginnya, menenggaknya hingga tandas demi memadamkan api di mulutnya.
Melihat ekspresi tersiksa Agus, ketiga wanita pabrik itu langsung tertawa terbahak-bahak. Suasana yang sempat canggung akibat ucapan filosofis Salman tadi seketika mencair kembali.
Jono mengunyah santai seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menoleh ke arah Salman.
"Man... kita nyantai aja malam ini. Gak usah buru-buru, toh besok hari Minggu kita libur juga. Nikmatin aja."
Siska yang sejak tadi duduk agak menyamping diam-diam terus memperhatikan gerak-gerik Salman.
Pemuda itu masih saja tenang, sesekali merokok dan hanya mengambil potongan buah yang tidak terlalu banyak dicocol bumbu.
"Eh Man, jangan bengong dong. Dari tadi diam terus, mikirin apa sih? Mikirin orang tua... atau mikirin pacar di kampung?" tanya Siska blak-blakan, berniat mencairkan suasana agar Salman bisa ikut membaur.
Mendengar pertanyaan sensitif itu, Salman hanya menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis.
Sebelum Siska bertanya lebih jauh, Jono yang duduk di sebelah gadis itu langsung bergerak cepat. Ia menyikut lengan Siska dengan agak keras, lalu mendekatkan wajahnya untuk berbisik dengan volume sangat rendah.
"Dia yatim piatu, pacarnya mau nikah..."
Mendengar bisikan kilat dari Jono, mata Siska langsung melotot sempurna. Ia terperanjat, buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, merasa bersalah karena pertanyaannya barusan justru menghantam dua luka paling dalam di hidup Salman sekaligus.
"Maaf, Man... duh, aku gak tahu," ucap Siska dengan raut wajah yang mendadak panik dan tidak enak hati.
Salman mengibaskan tangannya santai, wajahnya tetap tenang tanpa riak kemarahan. "Udah, gak apa-apa. Santai aja," sahut Salman tulus, mencoba menenangkan kepanikan Siska.
Namun, rasa penasaran Siska tampaknya lebih besar dari rasa bersalahnya. Ia memberanikan diri untuk berbisik lagi, memastikan potongan informasi kedua dari Jono. "Lalu... kalau soal pacar tadi gimana, Man?"
Salman mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
"Awal bulan besok dia menikah. Sama orang lain."
"Aduuuh..." Siska langsung menepuk jidatnya sendiri, lalu menoleh ke arah Dian dan Tias dengan wajah pasrah. "Gua malah jadi bingung mau ngobrol apa sama nih anak. Berat banget hidup lu, Man."
Salman terkekeh melihat kepolosan Siska.
"Mungkin aku cuma perlu adaptasi aja di sini," kata Salman pelan, suaranya terdengar sangat dewasa. "Yah... dulu waktu masih di desa, malam minggu gak pernah seramai ini.
"Tias yang sedang memotong bengkuang ikut menimpali sambil mengangguk setuju.
"Nah, bener itu. Memang tiap-tiap tempat itu budayanya beda, Man. Di kota ini emang ritmenya cepat dan ramai. Nanti lama-lama kamu juga bakal terbiasa kok."
Melihat obrolan mulai mengarah ke topik yang terlalu serius, Jono memutuskan sudah waktunya mengeluarkan "senjata pamungkas" malam minggu mereka. Ia membuka tas ransel kecilnya, lalu mengeluarkan dua botol minuman beralkohol dengan label lokal dari dalamnya.
Plak! Plak! Jono meletakkan kedua botol itu di atas tikar dengan senyum lebar penuh kemenangan.
"Hehe... ini buat kita malam ini. Biar badan agak anget dikit, sekalian nemenin bumbu rujak pedasnya Agus," seloroh Jono sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mata Dian langsung berbinar melihat dua botol cair penghangat suasana tersebut. Ia langsung bertepuk tangan kecil.
"Naaaahhh... mantap! Ini baru namanya malam mingguan!"