Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisakah Kembali ke Awal?
"Kenapa kamu tanya kayak gitu?"
Jax mencelos, rupanya apa yag selama ini telah ia perbuat membuahkan keraguan tak bertepi di hati Dania. Ia menghela napasnya, melempar tatapan lirih ke istrinya.
Rambut terurai panjang, baru pertama kali ia lihat. Kancing baju pasien yang terbuka satu, bukanlah dirinya. Biasanya Dania sangat teratur, sempurna tanpa celah, sampai membuatnya merasa kerdil.
"Aku akan tetap di sisimu, apapun yang terjadi," lanjut Jax, menggenggam lebih erat tangan kurus istrinya.
"Apapun?"
"Iya," angguknya.
Namun, alih-alih tersenyum senang, Dania malah menunduk menatap tangannya. Seolah masih ada yang mengganjal di hatinya. Ekspresi wajah itu sungguh tak mengenakan.
Lalu apa lagi yang diharapkan? Jax sudah melakukan semua kesalahan yang mungkin tidak akan termaafkan. Justru lebih aneh kalau Dania menerima Jax begitu saja.
"Ku mohon percayalah sekali ini saja..." Pinta Jax. Ia mendekatkan tubuhnya, mencondongkan wajahnya, dan menatap lekat mata Dania hingga terlihat jelas titik air mata yang ingin keluar.
Dania membalas tatapan itu dalam diam. Semua kalimat yang ada di kepalanya seolah terkunci rapat lalu terpendam. Pertanyaan yang selalu muncul di malam-malam panjang penantiannya, terhempas begitu saja bersamaan dengan detik-detik jam yang terdengar jelas dalam kesunyian.
"Apakah kamu mencintaiku, Jax?"
Dari semua pertanyaan, kata-kata itulah yang dominan muncul. Menggedor dan memberontak itu segera mendapat jawaban.
"Dari awal, Dan. Aku mencintaimu dari awal kita ketemu."
Pupil mata Dania membesar, dadanya terasa sangat sakit melebihi perutnya yang nyeri, pundak kakunya perlahan merosot seolah telah kehilangan bebannya. Tak disangka, hanya jawaban itu yang selama ini ia tunggu.
"Hiks hiks...." Tangisnya keluar begitu saja. Ia sudah menyekanya berulang kali, namun mereka tidak mau berhenti.
"Hiks...hiks... Bukankah seharusnya aku dapat pelukan?"
Tentu saja Jax langsung memeluk Dania. Mendekapnya sangat erat dan menempelkan tubuhnya hingga tidak ada satu senti-pun jarak.
'Benar, Jax adalah suamiku. Hanya berpelukan seperti ini, tidak masalah,' batinnya.
"Aku sangat mencintaimu Dania. Maafkan kelakuanku selama ini..." Bisik jax. Akhirnya ia mengatakan kalimat yang tertahan itu. Jax benar-benar tak ingin membahas kekhilafannya karena takut ingatan Dania kembali ke hari-hari kelam itu.
Untuk itu, Jax memeluknya lebih erat lagi. Berharap Dania tidak bisa melepaskannya atau mendorongnya jauh.
"Jax?"
"Mmm?" Jax mengeratkan lagi.
"Bisa lepas sebentar?"
"Nggak mau."
"Ehem Jax?"
"Aku bilang nggak mau."
"Tapi Jax..."
"Nggak mau...." Jax malah menggoyangkan tubuhnya yang otomatis membuat tubuh Dania ikut goyang.
"Ada yang mau ngebersihin kamar. Aku malu..."
Astaga!
Jax langsung melompat dari ranjang pasien dan menemukan seorang petugas wanita membawa sapu meringis kearahnya.
"Maaf, permisi sebentar ya..."
Petugas itu berjalan menuju ranjang untuk menyapu kolong dengan senyum jahil ala-ala ibu yang suka bergosip.
"Suami, aku suaminya..." Bisiknya dari tempatnya berdiri, takut kalau ada kesalah pahaman. Padahal Ibu itu tidak bertanya dan tidak mau bertanya. Beliau hanya membulatkan mulutnya untuk sekedar memberikan respon formalitas.
Sementara itu, Dania menutup bibirnya dengan kedua tangannya, menahan tawa dan malu.
Apalagi saat Jax berpura-pura melihat langit-langit sambil menunggu pekerjaan Ibu itu selesai, bagi dania itu sangat menggemaskan.
"Permisi, silahkan dilanjutkan..." Ucap Ibu itu melirik Jax yang masih berdiri kaku dengan kedua tangan di belakang, melebihi sikap saat upacara bendera.
Ceklek
Akhirnya pengganggu pergi, hening sejenak.
"Wkwkwkwk," tawa Dania pecah.
"Ck, kamu sih nggak bilang." Jax kembali duduk, di sebelah Dania.
Udara terasa tercekat. Jujur saja, Dania masih belum terbiasa dengan kedekatan ini. Tak hanya Jax, Dania tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya.
Trauma yang masih tertinggal, menghalanginya dekat dengan lawan jenis meskipun hanya bersebelahan.
Tapi ini Jax, suaminya.
Kalau ia kembali berjarak, maka pernikahannya akan mengalami kesalah pahaman lagi. Dania tidak ingin Jax mencari kehangatan dari wanita lain lagi.
"Ini kasurnya terlalu kecil nggak sih? Padahal ini sudah kamar VIP," protes Jax.
"Kalau gitu, duduk saja di sofa sana."
"Yahh... Padahal mau dekat kamu terus," Jax memanyunkan bibirnya.
Namun ia masih menuruti permintaan Dania untuk pindah ke sofa. Sepertinya Jax merasakan ketidak nyamanan Dania.
"Besok pagi, kamu dioperasi, jadi kamu harus puasa dulu. Kamu nggak apa-apa kan?"
Tanya Jax sambil merebahkan tubuhnya, tiduran di sofa empuk seperti kebiasaannya.
Dania menangguk.
"Mau aku belikan sesuatu? Jus atau sate? Atau apapun?" Tanya Jax.
"Hei, katanya disuruh puasa."
"Oh iya, lupa."
"Ck, apaan sih..."
"Wkwkwkwk... Bercanda, Bu dosen satu ini terlalu sepaneng."
Drrrrt...drrrrt...
Jax merogoh sakunya dan memeriksa layar smartphone-nya, lalu meletakkannya lagi.
Akan tetapi, HP-nya kembali berdering lagi dan lagi, sampai Dania, menyuruhnya untuk mengangkatnya dulu.
"Cuma Jason, nggak penting," jawabnya.
"Seenggaknya kasih tahu temen kamu kalau kamu lagi disini. Siapa tahu mereka khawatir."
"Mereka khawatir? Ck, nggak bakalan. Udah... Nanti kalau capek, mereka bakal berhenti menelpon."
Dania menganggukkan kepala.
"Oh ya," ucap Dania tiba-tiba. "Kasih nomornya Jason dong."
Jax yang setengah tertidur karena kelelahan langsung terbelalak. Tubuhnya terduduk otomatis mendengar istrinya meminta nomor sahabatnya sekaligus rivalnya yang ingin merebut istrinya itu.
"Buat apa? Nggak usah dekat-dekat sama Jason. Dia itu playboy parah."
"Kayak kamu enggak aja! Sini, minta nomornya."
Jax terheran dengan selera istrinya. Apa memang Dania suka sama pria brengsek? Apakah setelah dia tobat, Dania akan kehilangan ketertarikannya? Kalau begitu, mending dia tetap jadi brengsek saja.
"Kosong delapan...." Jax mengatakannya dengan malas dan mulut dikuncir. Namun ia tidak bisa apa-apa kalau istrinya yang minta. Takut kalau ia Dania marah dan meninggalkannya.
"Tu udah, buat apa sih? Jangan bilang kamu menyukainya. Mau balas dendam ini ceritanya?"
Dania tersenyum, "buat koleksi."
"Whattttt???"
"Wkwkwkwk... Cuma buat nanti kalau kamu nggak bisa dihubungi, aku bisa tanya Jason kamu dimana."
Mendengarnya Jax bersumpah pada dirinya kalau kesalahan yang lalu tidak akan terulang lagi. Ia juga tidak mau Dania menggunakan alasan itu untuk menghubungi Jason.
"Aku akan terus mengabarimu, ngga perlu tanya ke Jason."
"Ya, buat jaga-jaga aja."
"Ck!" Jax melengos dengan alisnya yang berkerut.
Lucu sekali, di mata Dania Jax seperti adik kecil yang menggembungkan pipinya karena tidak diberi permen.
Senyumnya mengembang hingga membuatnya merona.
Tidak, seharusnya bukan adik kecil.
Seharusnya Dania tidak memandang Jax seperti anak kecil. Dia suaminya yang sudah mengatakan kalau mencintainya. Tapi kenapa label itu masih saja menempel di hatinya.
"Haaah...." Jax menghela napasnya. "Aku ke kamar mandi dulu ya."
Dania hanya mengangguk dan mencoba untuk merebahkan punggungnya.
Drrrt... Drrrrt...
HP Jax kembali berdering.
"Pasti Jason sangat khawatir."
Ia menggeser tiang infus. Dania berusaha untuk bangun dan menggapai HP milik Jax yang tergeletak di sofa.
Namun tidak ada nama Jason di layar. Hanya ada nomor saja.
Apakah itu spam?
"Halo, Jax. Kamu dimana?"
Dania mendengar suara lembut seorang gadis begitu ia mengangkat panggilan itu.
"Udah lama nih kita nggak ketemu. Ayok kita main, aku kangen banget!"
Dania terbelalak, mematung pada posisi duduknya. Setelah semua hal manis ini, apakah hatinya bisa menerima Jax yang seperti ini? Batinnya bergejolak, tangannya gemetar hampir melempar HP itu.
.
.
wkwkwk... jax minggir dulu yess...