NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Suka Main Sama Brondong?

"Malam ini kamu ikut aku. Nggak ada penolakan."

Josie meletakkan gaun hitam di atas meja kerja Karina pada Jumat sore.

"Aku masih punya pekerjaan."

"Kamu sudah menatap satu slide selama dua puluh menit. Itu bukan bekerja, itu berkabung dengan PowerPoint."

Karina menutup laptop. Sidang, telepon Mama Kusnadi, dan pesan-pesan Nathan membuat kepalanya penuh. Mungkin satu malam di luar tidak akan membunuhnya.

Dua jam kemudian, mereka memasuki Allure Club. Musik menghantam dada, lampu biru bergerak di antara kerumunan, dan udara berbau parfum mahal bercampur alkohol. Josie memesankan koktail ringan, tetapi Karina memilih soda setelah satu gelas. Dia ingin melupakan, bukan kehilangan kesadaran.

"Akhirnya keputusan yang sehat," kata Josie sambil mengangkat gelas. "Untuk hidup baru tanpa Andri."

Karina menyentuhkan gelasnya. "Untuk hidup yang lebih sepi."

"Lebih sepi lebih baik daripada diisi pembohong."

Mereka menari sebentar. Untuk pertama kalinya setelah hotel, bahu Karina tidak terasa seperti menanggung rumah yang runtuh. Dia tertawa ketika Josie hampir menabrak pelayan, lalu mundur menuju toilet.

Karina tidak melihat tatapan dari balkon VIP.

Nathan datang bersama Nick dan Bobby. Begitu melihat gaun hitam di tengah lantai dansa, dia berhenti mendengar cerita Nick tentang mobil baru.

"Kenal?" tanya Nick.

"Belum cukup."

Nathan meninggalkan meja.

Di lorong toilet, Karina sedang mencuci tangan ketika bayangan tinggi muncul di cermin. Jantungnya langsung salah langkah.

"Kamu mengikutiku lagi?"

Nathan bersandar di dinding. "Jakarta punya dua belas juta orang. Kenapa tiap ketemu aku selalu dituduh mengikuti?"

"Karena kamu memang melakukannya."

"Malam ini nggak." Tatapannya menyapu gaun Karina lalu kembali ke mata. "Tapi aku senang dunia membantu."

Karina mengambil tisu. "Minggir."

Nathan bergeser, tetapi berjalan di sampingnya. "Datang sama siapa?"

"Teman."

"Lelaki?"

"Kenapa kamu peduli?"

"Karena aku cemburu."

Jawaban itu begitu cepat hingga Karina kehilangan kata. Nathan tersenyum melihat reaksinya.

"Bercanda," katanya.

"Nggak lucu."

"Tapi kamu lega."

Karina berhenti di tikungan lorong yang lebih sepi. "Dengar, Nathan. Malam itu nggak akan terulang. Aku sedang kacau. Kamu muncul di waktu yang salah."

"Kalau waktunya salah, kenapa tubuhmu selalu kaku setiap aku mendekat?"

Nathan mengambil satu langkah. Karina mundur sampai punggungnya menyentuh dinding berlapis beludru.

"Jangan macam-macam."

"Suka main sama brondong, Kak?"

Nada rendahnya membuat panas menjalar dari leher Karina. "Aku nggak suka anak kecil."

"Kamu sudah tahu aku bukan anak kecil."

Ingatan kamar hotel menyala begitu saja. Karina mengangkat tangan hendak mendorong dada Nathan, tetapi telapak tangannya justru berhenti di sana. Detak jantung pemuda itu terasa cepat di balik kaus.

"Kamu minum?" tanya Nathan.

"Satu gelas. Aku sadar penuh."

"Bagus."

Dia tidak mencium Karina. Nathan hanya menunduk sampai napas mereka bertemu, membiarkan jarak tipis itu menjadi siksaan.

"Kalau mau aku pergi, bilang."

Karina seharusnya menjawab sekarang. Namun suaranya tertahan ketika jari Nathan menyentuh ujung rambutnya.

"Kamu memblokirku," katanya.

"Karena kamu mengganggu."

"Kamu tetap membaca semua pesan sebelum memblokir."

"Aku bahkan nggak menyimpan nomormu."

"Tapi kamu hafal empat digit terakhirnya. Mau tes?"

Karina membenci bahwa Nathan mungkin benar.

Suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong. Josie muncul, siap marah, lalu berhenti saat melihat mereka.

"Oh," katanya panjang. "Jadi ini nomor isengnya."

Karina segera menjauh. "Josie, bukan begitu."

"Aku nggak bertanya. Aku cuma mau memastikan kamu aman."

Nathan mengangguk sopan. "Dia aman."

"Aku tanya dia, bukan kamu."

Karina mengusap kening. "Aku aman. Kita pulang."

Mereka baru keluar dari lorong ketika seorang lelaki dari meja sebelah menghampiri. Dia sudah beberapa kali mengirim minuman yang ditolak Josie.

"Mbak, kenalan dulu. Saya Dimas."

"Terima kasih, tapi saya mau pulang," jawab Karina.

Lelaki itu menghalangi jalan. "Satu lagu saja. Dari tadi saya lihat Mbak sendirian."

Nathan muncul di sisi Karina. "Dia sudah bilang nggak."

"Siapa lu?"

"Orang yang masih sopan karena dia ada di sini."

Nada Nathan datar, tetapi bahunya menegang. Nick dan Bobby sudah berdiri beberapa meter di belakang. Dimas melihat jumlah mereka, mendecakkan lidah, lalu pergi.

Karina menoleh tajam. "Aku bisa menangani sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa ikut campur?"

"Karena aku ingin."

"Kamu selalu melakukan apa yang kamu inginkan?"

Nathan menatapnya beberapa detik. "Nggak. Kalau menyangkut kamu, aku masih menunggu izin."

Kalimat itu menutup mulut Karina. Josie mengangkat alis, jelas menyimpan banyak pertanyaan untuk nanti.

Di meja VIP, Nick bersiul pelan saat mereka lewat. "Pantas Nathan kabur dari kami."

"Diam," kata Nathan.

Bobby menggeser segelas air mineral ke arah Karina. "Minum dulu, Bu. Hujan deras. Jalan depan macet total."

Karina menerima gelas itu. "Terima kasih."

"Saya Bobby. Yang berisik Nick."

Nick menaruh tangan di dada. "Fitnah di depan orang baru."

Interaksi singkat itu memperlihatkan dunia Nathan yang belum Karina kenal. Mereka berpakaian mahal, bicara santai tentang mobil dan saham, tetapi berhenti menggoda begitu Nathan melirik. Pemuda ini bukan hanya mahasiswa iseng seperti yang selama ini dia bayangkan.

Justru semakin banyak yang tidak dia ketahui, semakin berbahaya rasa penasarannya.

Nathan menahan pintu lorong saat mereka lewat. "Aku antar."

"Nggak perlu."

Di depan klub, hujan turun deras dan pesanan taksi daring berkali-kali dibatalkan. Josie menerima telepon pekerjaan darurat dan harus pergi dengan asistennya yang datang menjemput. Dia menatap Nathan lama sebelum menyerahkan payung kepada Karina.

"Kirim lokasi langsung ke aku," pesannya. "Kalau dia aneh, telepon."

Nathan membawa Karina ke mobil sport gelap di parkiran. Karina berhenti. "Katanya mahasiswa."

"Mahasiswa nggak boleh punya mobil?"

"Mobil seperti ini?"

"Punya sepupuku."

Dia membukakan pintu. Karina masuk karena hujan semakin deras.

Sepanjang jalan, Nathan tidak menggoda. Dia mengecilkan musik dan mengemudi hati-hati. Ketika mobil berhenti di depan apartemen, Karina justru merasa gelisah oleh sikap baik itu.

"Terima kasih," katanya.

Nathan mematikan mesin. "Kamu benar-benar nggak mau menyimpan nomorku?"

"Nggak."

"Baik."

Dia meraih ponsel Karina yang diletakkan di konsol, mengetik sesuatu sebelum Karina sempat mencegah, lalu mengembalikannya. Di layar tertulis satu kontak baru.

Gangguan.

"Nathan!"

Dia tertawa. "Sekarang kamu bisa memblokir nama yang benar."

Karina turun dan membanting pintu. Baru tiga langkah menuju lobi, ponselnya bergetar.

Pesan dari Gangguan.

Lain kali jangan pakai gaun itu kalau nggak mau aku benar-benar hilang kendali.

Karina berbalik. Di balik kaca yang basah oleh hujan, Nathan masih menatapnya.

Tatapan itu tetap melekat bahkan setelah mobil bergerak pergi, meninggalkan Karina dengan denyut kacau yang terasa makin nyata dan tidak bisa lagi dia salahkan pada alkohol sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!