NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Udara di bibir jurang es itu terasa seperti terbelah. Di satu sisi, pendaran biru The Core Engine yang menyelimuti tubuh Ren bergetar hebat, memancarkan energi yang mampu meretakkan fondasi baja di bawah kakinya. Di sisi lain, Jenderal Vane terengah-engah, dengan zirah dada yang hancur berantakan dan darah yang merembes deras membasahi seragam militer kebanggaannya. Tatapan sang jenderal tidak lagi memancarkan kewibawaan seorang pemimpin militer, melainkan kebencian murni yang telah kehilangan akal sehatnya.

Ren melangkah maju, kakinya meninggalkan jejak merah di atas lantai lokomotif yang dingin. Setiap otot di tubuhnya menjerit, memohon untuk beristirahat, namun dorongan Wrath of the Last Heir memaksanya untuk terus bergerak. Ia mengangkat Rust-Bite Blade tinggi-tinggi, siap memberikan tebasan terakhir yang akan mengakhiri riwayat pria yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya.

"Ini untuk Lily," desis Ren, suaranya sedingin es yang abadi, membawa beban penderitaan selama sepuluh tahun yang terakumulasi dalam satu detik.

Namun, sebelum mata pedang itu sempat mencapai leher sang jenderal, Vane menarik sebuah benda kecil dari balik sabuk pinggangnya dengan gerakan yang sangat licin—sebuah Spatial Smoke Grenade prototipe kelas atas.

Pffft!

Dalam sekejap mata, kabut gas putih yang sangat pekat dan bersifat korosif meledak ke segala arah, menyelimuti anjungan lokomotif dengan kecepatan yang tidak wajar. Kabut itu tidak hanya menghalangi pandangan, tetapi juga mengacaukan sinyal termal dan sensor energi yang dipancarkan oleh inti mesin di dada Ren. Pandangan Ren yang tajam mendadak buta. Ia mengayunkan pedangnya dengan membabi buta ke arah pusat keberadaan Vane, namun bilahnya hanya membelah udara kosong.

"Kau beruntung hari ini, tikus Sektor 7!" suara Vane terdengar samar di tengah gema desis gas, terdengar jauh, terdistorsi, dan penuh dengan janji busuk yang memuakkan. "Tapi jangan harap bisa meloloskan diri. Aku akan memastikan seluruh kereta rongsokanmu itu menjadi debu di sepanjang Tembok Es Raksasa. Tidak akan ada satu pun sudut di dunia es ini yang cukup aman untuk tempat persembunyian kalian!"

Suara langkah sepatu bot Vane menjauh, disusul oleh suara mesin thruster darurat yang menderu pelan di atas jurang. Ren mencoba mengejar, namun kabut korosif itu mulai membakar kulitnya, memaksanya untuk mundur dan melindungi palka kereta tempat rekan-rekannya berada.

Saat kepulan asap perlahan menipis diterpa badai salju, anjungan lokomotif itu sudah kosong. Jenderal Vane telah menghilang.

Keheningan yang mencekam kembali menyergap, hanya menyisakan suara deru angin jurang yang melolong memilukan. Ren mematung di sana, pedangnya terkulai lemas di sisi tubuhnya. Nyala biru dari The Core Engine di dadanya meredup, perlahan-lahan padam seiring dengan menghilangnya adrenalin yang menopangnya.

Ren menjatuhkan dirinya ke atas lantai logam, napasnya tersengal-sengal. Rasa sakit yang tadi tertutup oleh amarah kini kembali menghantam dengan kekuatan sepuluh kali lipat. Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sesak yang merayap di dadanya.

Ia menatap kosong ke arah kegelapan jurang di depannya. Pikirannya melayang kembali ke sosok Lily. Bayangan adiknya yang sedang tertawa, memegang tangannya di stasiun tua sebelum tragedi itu terjadi, kini terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.

Lemah... batin Ren, suaranya terasa hancur di dalam kepalanya sendiri. Aku masih saja lemah.

Ren mengeraskan rahangnya hingga otot pipinya menegang. Ia benci dirinya sendiri. Ia membenci setiap detik yang ia habiskan untuk bertahan hidup, membenci setiap napas yang ia hirup sementara Lily telah lama menjadi bagian dari salju abadi. Sepuluh tahun ia mengasah kemampuannya, sepuluh tahun ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, namun saat ia berhadapan langsung dengan sang pembunuh—saat ia memiliki kesempatan emas untuk menuntaskan dendamnya—ia gagal.

Ia tidak cukup kuat untuk membunuh Vane. Ia bahkan tidak cukup kuat untuk melindungi adiknya di masa lalu.

"Kenapa..." gumam Ren lirih, suaranya tertelan oleh deru badai yang kian mengganas. "Kenapa aku selalu tertinggal satu langkah?"

Ren memejamkan matanya, membiarkan butiran salju dingin membasuh wajahnya yang berlumuran darah. Ia merasa jiwanya kosong, seolah-olah tujuan hidup yang selama ini ia genggam kuat-kuat telah retak. Ia mengira dengan bergabungnya kru baru dan perjalanannya menuju Tembok Es Raksasa, ia akan menemukan jawabannya. Tapi ternyata, dunia ini tetaplah tempat yang kejam bagi orang-orang yang membawa beban masa lalu.

Di belakangnya, pintu palka depan Vanguard terbuka perlahan. Soju, Leo, Gavin, dan Yuna melangkah keluar dengan raut wajah yang campur aduk antara kelegaan dan ketakutan melihat kondisi sang kapten. Mereka tidak berani mendekat, seolah takut mengusik keheningan yang menyelimuti sosok Ren.

Namun, Ren tidak berbalik. Ia hanya menunduk, memandang tetesan darahnya sendiri yang membeku di lantai kereta. Ia merasa begitu muak dengan ketidakberdayaannya.

Tiba-tiba, suara retakan besar terdengar dari arah jalur rel di depan kereta.

Bukan suara es yang pecah karena beban kereta. Itu adalah suara mekanik yang terdistorsi, suara aktivasi pemicu peledak jarak jauh yang baru saja diaktifkan oleh Vane sebelum dia benar-benar melarikan diri.

Gavin yang masih memegang tablet datanya langsung memucat. Ia menatap layar dengan mata yang terbelalak ngeri, jarinya gemetar hebat saat menunjuk ke arah tebing jurang yang mulai runtuh ke arah mereka.

"Ren! Semuanya! Vane tidak hanya meledakkan rel!" teriak Gavin dengan suara yang nyaris pecah karena histeris. "Dia memasang pemicu resonansi frekuensi tinggi pada pilar penyangga utama jurang ini! Seluruh tebing ini sedang diruntuhkan secara paksa ke arah kita dalam hitungan detik!"

Ren tersentak, matanya terbuka lebar saat merasakan tanah di bawah lokomotif mulai miring ke arah jurang yang menganga luas.

Sebelum Ren sempat berdiri untuk menginstruksikan evakuasi atau manuver darurat, sebuah bayangan hitam raksasa dari dinding es setinggi seratus meter di atas kepala mereka mendadak retak, terlepas dari struktur induknya, dan mulai jatuh menimpa seluruh bodi gerbong kereta Vanguard dengan kecepatan yang tidak memberi waktu bagi siapa pun untuk bernapas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!