Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Puja tersungkur di atas sofa, bahunya terguncang hebat akibat isak tangis yang tak lagi bisa ia bendung.
Ia merasa dadanya sesak, bukan hanya karena bentakan Jeffry, tapi karena ketidakmampuannya menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Aku tidak bermaksud begitu, Mas..." isak Puja di sela tangisnya.
"Mas Andy yang memaksa. Dia tidak percaya aku sudah menikah, dia menganggap semua yang kukatakan itu hanya bohong. Aku bahkan sudah menolaknya tadi, tapi dia malah memaksa mengantarku pulang."
Jeffry memalingkan wajah, menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
Amarahnya masih menyisakan sisa-sisa bara, namun melihat istrinya yang hancur berkeping-keping di depannya membuat ia sedikit melunak meski hatinya masih terluka.
"Kalau kamu tidak memberi celah, dia tidak akan berani memaksa, Puja," ucap Jeffry dengan suara yang lebih rendah, namun masih terdengar sangat dingin.
"Masalahnya bukan cuma soal dia, tapi tentang kejujuranmu kemarin. Kamu membiarkan dia berpikir bahwa kamu bisa didekati karena kamu menyembunyikan status pernikahan kita."
Puja mendongak, menatap suaminya dengan mata yang sembab.
"Aku takut, Mas. Aku takut kalau aku jujur, dia akan menghinaku, atau orang-orang di kampus menganggapku aneh karena menikah muda. Tapi ternyata diamku justru membuat masalah lebih besar."
Jeffry menatap lurus ke arah Puja. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat, hanya suara detak jam dinding yang terdengar menyiksa.
Jeffry berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di depan Puja yang masih duduk di sofa. Ia berjongkok agar posisi mereka sejajar.
"Mas bukan melarangmu sekolah. Mas ingin kamu meraih mimpimu," ujar Jeffry pelan, tangannya terulur menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jari.
"Tapi Mas adalah suamimu, pelindungmu. Kalau ada laki-laki yang berani memaksamu atau tidak menghargai batasanmu, kenapa kamu tidak memanggil Mas? Kenapa kamu justru membiarkan dia mengantar ke rumah kita?"
Puja terdiam, menyadari kesalahannya dalam bersikap.
"Mas kecewa," lanjut Jeffry dengan tatapan yang kembali melembut, menyisakan guratan kesedihan di sana.
"Mas percaya padamu, Puja. Tapi melihatmu pulang diantar laki-laki lain ke rumah kita sendiri... itu rasanya lebih sakit daripada apa pun yang pernah Mas bayangkan."
Puja meraih tangan Jeffry, menciumnya dengan penuh permohonan.
"Maafkan aku, Mas. Aku janji, tidak akan ada lagi laki-laki yang bisa mendekatiku seperti itu. Tolong jangan hukum aku dengan diammu lagi, Mas."
Jeffry menatap istrinya dalam-dalam. Pertarungan antara rasa cemburu dan rasa sayangnya kini berada di persimpangan.
Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan ego laki-lakinya demi mempertahankan ketenangan rumah tangga yang baru mereka bangun.
"Maaf, aku butuh waktu sendiri," ucap Jeffry lirih, suaranya tercekat di tenggorokan karena rasa bersalah dan lelah yang teramat sangat.
Puja tertegun sejenak mendengar perkataan suaminya.
Tatapan matanya yang tadinya melembut kini kembali bergeser menjadi dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas, pria itu berdiri tegak dari posisi jongkoknya.
Jeffry membalikkan badan, lalu melangkah meninggalkan Puja yang masih terpaku di sofa. Suara hantaman sepatunya terdengar tegas menaiki anak tangga satu per satu, hingga akhirnya derap langkah itu menghilang di balik pintu lantai atas.
Pria itu memilih menyendiri, memberikan jarak sejenak untuk mendinginkan kepala dan meredam gejolak hatinya yang masih terluka.
"Mas..." panggil Puja tercekat, mengulurkan tangan hampa ke udara seolah ingin menggapai bayangan suaminya.
Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya keheningan malam yang mulai merayap masuk ke dalam rumah.
Puja kembali membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara.
Ia tahu, kepercayaan tidak bisa dikembalikan hanya dengan kata maaf yang sederhana.
Hari pertama kuliah yang seharusnya menjadi awal impiannya, justru berubah menjadi ujian terberat bagi mahligai pernikahan yang baru saja ia bina bersama Jeffry.
Puja berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar.
Ia menghapus sisa air mata di wajahnya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan napasnya. Ia tidak boleh terus larut dalam kesedihan.
Ia harus melakukan sesuatu—setidaknya sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih sayangnya sebagai istri.
Ia melangkah menuju dapur. Tangannya bergerak lincah meski pikirannya masih kacau.
Ia mulai memotong sayuran, menyiapkan bumbu, dan menggoreng ayam.
Aroma sedap ayam goreng dan sayur sop panas perlahan memenuhi rumah, sebuah upaya kecil Puja untuk memanggil kembali kehangatan yang sempat memudar.
Saat adzan Maghrib berkumandang, suaranya yang melengking syahdu memenuhi penjuru rumah, membawa suasana yang jauh lebih sunyi. Puja menatap jam dinding.
Masakannya sudah siap, meja sudah tertata rapi, namun Jeffry masih belum juga turun dari lantai atas.
Dengan perasaan cemas, Puja menaiki anak tangga satu per satu.
Ia berhenti tepat di depan pintu kamar tempat Jeffry mengurung diri.
Tok... tok... tok...
"Mas..." panggil Puja pelan, suaranya sedikit parau.
"Mas Jeffry, sudah Maghrib. Aku sudah siapkan makan malam, Mas mau makan sekarang?"
Di dalam kamar, Jeffry duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong menatap jendela.
Ia mendengar suara istrinya dengan sangat jelas.
Hatinya masih dipenuhi gejolak—antara rasa kecewa yang mendalam dan keinginan untuk kembali memeluk Puja.
Namun, egonya masih menahan diri. Ia tidak menjawab, membiarkan suasana hening kembali menelan suara isak tertahan dari balik pintu.
Puja menunggu beberapa detik, berharap ada jawaban atau derap langkah pintu yang terbuka.
Namun, hanya sunyi yang ia dapatkan. Puja memejamkan mata sejenak, menghela napas pasrah, lalu menunduk dalam di depan pintu yang tertutup rapat itu.
Puja mengambil wudhu dengan hati yang berat. Ia menunaikan sholat Maghrib sendirian di kamar bawah, melantunkan doa-doa dengan suara bergetar, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan ketenangan dan pintu maaf dari suaminya.
Selesai berdoa, Puja merapikan mukena lalu melangkah menuju meja makan.
Hidangan ayam goreng dan sayur sop hangat yang ia masak dengan penuh ketulusan sudah tersaji rapi di sana.
Puja duduk seorang diri di kursi meja makan, menatap kursi kosong di sebelah kanannya—tempat yang seharusnya diduduki oleh Jeffry. Ia memutuskan untuk menunggu.
Waktu terus berjalan. Jarum jam dinding bergeser perlahan, melewati waktu Isyak, namun batang hidung Jeffry sama sekali tidak terlihat.
Suara derap langkah di lantai atas tidak terdengar sejak tadi sore.
Pria itu benar-benar mengurung diri, seolah sengaja menghindari kontak dengannya malam ini.
Makanan di hadapan Puja perlahan mendingin, begitu pula dengan secangkir teh hangat yang ia siapkan khusus untuk suaminya.
Tenggorokan Puja terasa tercekat. Rasa bersalah kembali menghantam dadanya dengan keras.
Ia menyadari bahwa luka yang ia torehkan di hati Jeffry jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.