NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Darah segar masih menetes perlahan dari ujung jemari Damian, sementara genangan merah di lantai kayu toko roti menjadi saksi bisu atas pertarungan brutal yang baru saja diselesaikan. Setelah ancaman terakhir musuh tuntas tersingkir, Damian tidak langsung memedulikan dirinya sendiri. Dengan langkah kaki yang sedikit limbung menahan beban luka di perutnya, sang Jenderal menyeret tubuhnya mendekati sudut ruangan tempat Aurelia meringkuk.

Begitu Damian tiba di hadapannya, Aurelia tidak lagi mampu menahan runtuhnya pertahanan emosional di dalam dadanya. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga piring-piring kecil di dekat etalase ikut bergetar, wanita itu segera merobek secarik kain dari ujung gaunnya. Ia berlutut di atas lantai yang dingin, lalu menekan kuat-kuat kain tersebut ke luka tikaman di perut Damian, berusaha menghentikan aliran darah yang terus merembes keluar.

Aurelia menggigit bibirnya dengan sangat keras hingga warna merah alaminya memudar, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Ia takut. Ia takut pria di hadapannya ini akan mati di pangkuannya.

Damian, meskipun kesadaran dan tenaganya terkuras habis, menyadari gestur menyakitkan yang dilakukan wanita itu. Dengan jemari besarnya yang bersimbah darah, ia perlahan mengangkat tangan dan mengusap lembut bibir bawah Aurelia yang tergigit luka.

"Jangan gigit bibirmu..." bisik Damian parau, suaranya terdengar begitu berat namun dipenuhi kelembutan yang menyayat hati. "Jika kau butuh sesuatu untuk digigit... gigit saja bibirku."

Mendengar kalimat itu di tengah situasi hidup dan mati, Aurelia sontak mengerutkan keningnya di sela-sela air mata yang tumpah. Karena panik bercampur emosi yang meluap-luap, ia menekan luka di perut Damian sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

Shhh!

Damian meringis kesakitan, mendesis pelan sambil menutup matanya sesaat akibat tekanan telak pada luka tusuknya.

Melihat pria itu meringis kesakitan, kepanikan Aurelia langsung berubah menjadi omelan penuh geram. Ia mendongak, menatap tajam wajah Damian dengan mata basah dan hidung yang memerah.

"Kau ini benar-benar gila!" omel Aurelia dengan suara bergetar, air matanya semakin deras mengalir. "Sudah tahu terluka parah, masih sempat-sempatnya bersikap mesum seperti itu! Siapa yang mau menggigit bibirmu, hah? Kau mau mati karena kehabisan darah atau bagaimana? Kenapa kau harus separah ini mempertaruhkan nyawamu?! Bodoh! Jenderal macam apa yang bertindak seceroboh ini?!"

Damian tidak marah mendengar omelan tersebut. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman kecil yang lemah. Di dalam dunianya yang selama ini dipenuhi oleh kepatuhan kaku, ketakutan, dan kehampaan, mendengar wanita itu mengomelinya dengan begitu hidup adalah hal paling berharga yang pernah ia rasakan.

Sebelum Damian sempat membalas omelan tersebut, suara derap kaki kuda yang memecah badai salju terdengar berhenti tepat di depan toko. Pintu yang sudah hancur itu diterobos oleh masuknya cahaya obor dari para pengawal kekaisaran.

"Yang Mulia Jenderal!" seru suara seorang pengawal senior yang datang bersama rombongan penyelamat.

Di belakang para pengawal, sosok Putri Mahkota Elaina Valancaster melangkah masuk dengan anggun namun tergesa-gesa. Mantel bulu tebalnya tersampir di bahu, dan tatapan matanya langsung menyapu seisi ruangan yang penuh dengan genangan darah dan mayat-mayat pembunuh bayaran.

Namun, langkah Elaina terhenti seketika saat pandangannya jatuh ke sudut ruangan.

Di sana, di tengah reruntuhan dan sisa pertarungan, ia melihat sang Jenderal agung yang ditakuti—pria yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun—kini terduduk lemah di lantai, membiarkan dirinya dirawat oleh seorang wanita bergaun sederhana yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang luka di perut sang Jenderal.

Elaina terdiam. Manik mata safirnya menatap interaksi penuh keputusasaan dan ketulusan obsesif yang terpancar jelas dari cara Damian memandang Aurelia. Tidak ada sisa ruang bagi orang lain di mata pria itu. Bahkan di ambang kematian, seluruh jiwa raga Damian hanya terfokus pada wanita di pelukannya.

Angin badai salju berhembus masuk melalui dinding yang jebol, meniup helai rambut Elaina. Di dalam dadanya, rasa sakit yang pelan mulai merayap. Elaina menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia sangkal: ia mencintai Damian, ia mengagumi kekuatan pria itu, dan ia berharap bisa mengisi ruang di sisi sang Jenderal. Namun, melihat pemandangan di hadapannya saat ini, Elaina akhirnya terbangun dari ilusi panjangnya.

Ia bukanlah pemilik hati pria itu. Cinta tidak bisa dipaksa tumbuh di atas tanah yang kering, dan obsesi kelam Damian terhadap Aurelia adalah sebuah ikatan tak kasat mata yang tidak akan pernah bisa diputus oleh siapapun—bahkan oleh seorang Putri Mahkota.

Dengan senyuman tipis yang getir di bibirnya, Elaina perlahan membalikkan tubuhnya, memutuskan untuk mundur secara terhormat dari lingkaran hidup mereka. Ia tahu bahwa Damian tidak pernah melihatnya lebih dari sekadar sekutu politik, dan bahwa pria itu harus berjuang dari nol untuk membangun kembali kepercayaan dari reruntuhan dosa masa lalunya.

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!