NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Bom N+3

Vina Maharani memasuki kantor pusat Es Madu Kopi seperti seseorang memasuki istana yang sudah lama dijanjikan kepadanya.

Sepatu haknya mengetuk lantai marmer. Di belakangnya, dua asisten Yamamoto Group membawa map, laptop, dan jadwal rapat. Logo Es Madu Kopi masih terpasang di dinding lobi, tetapi di bawahnya sudah ada papan kecil baru:

Under Yamamoto Group Management.

Beberapa karyawan lama berdiri di sisi ruangan. Mereka bertepuk tangan pelan karena tidak tahu harus melakukan apa.

Vina berhenti di tengah lobi.

"Mulai hari ini," katanya, suaranya jernih dan tajam, "perusahaan ini akan berjalan dengan standar Yamamoto. Efisiensi, disiplin, dan kepatuhan pada target. Semua orang yang tidak sesuai standar, silakan menyesuaikan diri atau meninggalkan tempat ini."

Tidak ada yang berani menjawab.

Bagas Wicaksono berdiri di barisan depan. Ia memakai kemeja yang sedikit kusut, rambutnya tidak serapi orang korporat lain, dan di tangannya masih ada gelas Es Madu Kopi ukuran besar. Ia memang bukan manajer paling rapi di dunia. Ia sering bicara terlalu spontan, sering lupa istilah formal, dan lebih paham rasa madu daripada tabel KPI.

Tetapi banyak karyawan tahu satu hal: Bagas tidak pernah membuat orang merasa kecil.

Vina menatapnya.

"Bagas Wicaksono?"

Bagas mengangkat tangan setengah. "Saya."

"Anda sebelumnya memegang fungsi manajemen operasional dan brand?"

"Kurang lebih, ya. Saya bantu dari awal."

Vina membuka tablet.

"Berdasarkan evaluasi awal, kompetensi Anda tidak sesuai dengan kebutuhan manajemen pascaakuisisi. Mulai hari ini, Anda dibebastugaskan. Serahkan akses, dokumen, kontak vendor, dan semua aset perusahaan sebelum pukul lima sore."

Ruangan seperti kehilangan udara.

Bagas berkedip.

"Maksudnya... saya keluar hari ini?"

"Benar."

"Tidak ada masa transisi?"

"Tim kami akan mengambil alih."

Bagas menatap karyawan di sekitarnya. Beberapa orang menunduk. Seorang barista senior menggigit bibir. Pegawai HR yang dulu sering bercanda dengannya tampak ingin bicara, tetapi takut.

Bagas menarik napas panjang.

Ia bisa marah.

Ia bisa membuat keributan.

Tetapi ini bukan lagi perusahaannya. Es Madu Kopi sudah dijual. Jika ia membuat kekacauan, karyawan lama yang tersisa bisa kena akibatnya.

"Oke," katanya pelan. "Saya bereskan."

Di ruang kerjanya, Bagas memasukkan barang-barang pribadi ke dalam kardus kecil: mug retak dari cabang pertama, foto tim pembukaan Jakarta, gantungan kunci Kijang tua, dan satu catatan tangan dari karyawan yang dulu menulis, Terima kasih sudah ngajarin kami bikin kopi tanpa takut salah.

Ketika ia keluar, karyawan lama berkumpul di lorong.

Tidak ada yang berteriak.

Mereka hanya maju satu per satu, memeluknya.

"Terima kasih, Mas Bagas."

"Maaf, Mas."

"Jangan lupa kami, ya."

Bagas tertawa kecil, tetapi matanya merah.

"Gila kalian. Gue cuma dikeluarin, bukan pergi perang."

Namun saat ia masuk lift, senyumnya hilang.

Di parkiran, ia menelepon Rian.

Telepon tersambung cepat.

"Gas?"

Bagas memegang kardusnya lebih erat.

"Bos... gue diusir."

Di seberang sana, Rian diam.

Diam itu membuat Bagas semakin ingin tertawa agar tidak menangis.

"Vina bilang gue nggak kompeten. Ya, mungkin bener juga sih. Gue memang nggak hafal semua istilah manajemen."

Suara Rian akhirnya terdengar.

"Pulang."

Bagas menutup mata.

"Ke mana?"

"Ke Garuda Emas. Ke saya. Di sini selalu ada tempat untuk kamu."

Bagas menunduk. Bahunya bergetar.

"Bos, jangan ngomong gitu. Gue lagi di parkiran. Malu kalau nangis."

"Nangis saja. Parkiran tidak akan menilai KPI kamu."

Untuk pertama kalinya hari itu, Bagas tertawa sungguhan.

Sementara Bagas pulang, Lingkaran Garuda berkumpul di tempat lain.

Pak Budiman Hartono berdiri di depan papan tulis putih. Di tangannya ada spidol hitam. Raka Wijaya duduk paling depan, wajahnya tegang seperti menunggu boss battle. Pak Wahyu bersandar dengan tangan terlipat. Pak Agung, Pak Djoko, dan Pak Ferry melihat angka di laptop.

"Kita hitung risiko yang baru saja dibeli Yamamoto," kata Pak Budiman.

Ia menulis angka pertama.

Jumlah karyawan Es Madu Kopi: 20.000 orang.

Angka kedua.

Rata-rata gaji: Rp 15.000.000 per bulan.

Angka ketiga.

Standar pesangon: N+3.

Pak Budiman menoleh. "Dengan rata-rata masa kerja kita anggap satu tahun, maka setiap karyawan berhak sekitar empat bulan gaji jika terjadi pemutusan hubungan kerja."

Ia menulis:

Rp 15.000.000 x 4 \= Rp 60.000.000 per orang.

Lalu:

20.000 x Rp 60.000.000 \= Rp 1.200.000.000.000.

Raka membuka mulut.

"Satu koma dua triliun?"

Pak Wahyu tertawa pendek. "Itu baru pesangon dasar. Belum reputasi, gugatan, gangguan operasional, boikot pelanggan, dan kehilangan budaya layanan."

Pak Ferry mengetuk laptop. "Kalau Vina memotong benefit terlalu cepat, karyawan inti akan keluar. Jika keluar massal, Yamamoto harus membayar. Jika tidak membayar, kasus hukum dan media akan meledak."

Pak Djoko mengangguk pelan. "Aset yang mereka beli punya fondasi manusia. Kalau mereka mengira bisa mengganti manusia seperti mengganti lantai gedung, biaya fondasinya akan muncul."

Raka menatap papan tulis seperti melihat mantra sihir.

"Jadi ini bom."

Pak Budiman menutup spidol.

"Bom yang ditanam bukan di ruang rapat, tapi di kontrak kerja."

Semua orang diam beberapa detik.

Lalu Pak Budiman tersenyum kagum.

"Mas Rian menjual aset, menerima uang, dan memindahkan beban terbesar ke Yamamoto. Satu langkah, tiga lapis."

Padahal pada saat itu, Rian sama sekali tidak sedang merayakan tiga lapis apa pun.

Ia sedang menunggu Bagas di kantor, menyiapkan teh panas, dan merasa marah dengan cara yang sangat tidak lucu.

Menjual Es Madu Kopi adalah satu hal.

Membiarkan orang seperti Vina merendahkan Bagas adalah hal lain.

Ketika Bagas masuk dengan kardus kecil, Rian berdiri.

"Taruh barangmu di sini dulu."

Bagas mencoba tersenyum. "Jabatan apa buat gue sekarang, Bos? Pengangguran kehormatan?"

"Sahabat saya."

Bagas membeku.

Rian menambahkan, "Jabatan itu belum ada slip gajinya, tapi nanti kita cari."

Bagas menunduk cepat.

"Anjir, Bos. Jangan bikin gue sentimental."

Rian mengambil kardus dari tangannya dan meletakkannya di meja samping, seolah barang-barang kecil itu juga punya hak untuk pulang dengan hormat.

Di dalam kardus, mug retak dari cabang pertama terlihat konyol dan menyedihkan. Rian menunjuk benda itu.

"Itu jangan dibuang."

"Mug jelek begini?"

"Itu saksi sejarah. Dan juga bukti selera desain kamu dulu buruk sekali."

Bagas tertawa, kali ini lebih ringan.

"Oke. Kalau begitu gue simpan buat museum kegagalan lu nanti."

Rian ingin membantah kata kegagalan, lalu sadar bahwa sebenarnya ia sangat membutuhkan museum seperti itu.

Di kantor CEO Es Madu Kopi yang baru, Vina duduk di kursi besar dan membuka dokumen perusahaan. Ia berhenti di bagian kebijakan ketenagakerjaan.

Kebijakan Pesangon N+3.

Ia membaca sekilas, lalu mendengus.

"Sistem lokal yang boros."

Asistennya bertanya, "Apakah akan diubah, Bu?"

Vina menatap bayangannya di kaca jendela. Blazer hitamnya rapi. Rambutnya sempurna. Di belakangnya, logo Es Madu Kopi kini terasa seperti mahkota baru.

"Tentu," katanya. "Suatu hari kita ubah. Perusahaan ini harus belajar siapa pemiliknya sekarang."

Ia tidak tahu, setiap karyawan sudah menandatangani kontrak yang memasukkan N+3 sebagai hak.

Ia juga tidak tahu, bom itu tidak perlu izin darinya untuk meledak.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!