Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 27
...Melihatnya sesaat itu sudah lebih cukup untuk hari ini!...
...- Ardanayudha -...
Terlalu mudah untuk tersenyum, diam pun tidak akan membuat raut wajah itu terlihat jutek atupun menakutkan. Hingga membuat seseorang mengerutkan sebentar keningnya. Berjalan menghampiri Yudha yang masih diam melihat sekitarnya. Hingga matanya kini tertuju pada sang artis yang telah berdiri di hadapan Yudha dengan senyum kecilnya.
"Kau perlu sesuatu?" Tanpa basa-basi, Yudha memberikan tawaran untuk Malla. Karena sebagai manajer seorang artis Yudha harus bergerak cepat melebihi siapapun.
"Tidak!! Aku__" bukannya Malla tidak sanggup menuntaskan perkataannya. Hanya saja, Malla sedikit ragu. Karena Malla tidak mau menyinggung perasaan Yudha melalui ucapannya.
Sedangkan Yudha yang masih menunggu kelanjutan dari Malla, hanya diam mengangguk kecil tanpa melupakan senyumannya. Tapi sampai detik ini, telinga Yudha tidak mendengar suara Malla lagi. Membuat pria itu mau tidak mau membuka suaranya untuk bertanya lagi. "Katakan. Jika ada yang kau mau, aku akan mencarikannya untuk mu."
"Tidak!!" Cepat Malla yang tersenyum canggung. Karena membuat managernya terlihat seperti tertekan sendiri akan perkataan dari Malla yang tidak tuntas. "Aku hanya begitu senang, karena dirimu yang menjadi manager ku. Ku kira sejak awal kau akan terus terang menolak apa yang di katakan atasa mu. Tapi ternyata, kau menerimanya tanpa alasan. Aku bersyukur untuk hal itu."
Yudha yang mendengar semakin menarik sudut bibirnya. Hingga bulan sabit tidak begitu jelas itu terlihat dipipi kirinya. Itu membuat Malla terus-menerus mengucap syukur, arena telah dipertemukan orang-orang baik di sekitarnya.
"Mungkin perkataan ku akan terdengar sedikit kasar. Dan aku harap, kau bisa memaklumi hal itu. Apalagi jika kau memilih diam tidak bicara denganku, saat kau mendapat skandal." Yudha menelan ludah lebih dulu, sebelum melanjutkan perkataannya. "Entah benar atau tidak, au harus tetap jujur padaku. Karena bekerja dengan penuh kebohongan itu tidak akan bertahan lama."
"Aku paham, Rama juga selalu memperingati ku untuk hal itu. Apapun masalahnya, aku harus mengatakannya padamu. Agar kau tidak bekerja dengan sia-sia saat bersama ku." Kepala Malla mengangguk paham. Dan akan terus berkata pada dirinya sendiri untuk tetap hati-hati saat bicara ataupun bertingkah didepan siapapun. Supaya mereka menilai Malla sebagai gadis yang memiliki kepribadian baik.
"Jika kau tahu, jangan pernah menutup mulutmu. Jika kau tidak suka, kau bisa langsung bilang padaku. Agar aku dapat membantumu secepat mungkin." Ucap Yudha yang sedikit memberi saran pada Malla.
Sedangkan Malla mengangguk kecil, tersenyum simpul mendengar apa semua kalimat yang keluar dari mulut Yudha. Kepala Malla mengingat satu postingan saudaranya, membuat rasa yakin itu semakin menjadi. Tapi Malla tidak bisa bertanya lebih lanjut. Karena untuk saat ini Malla masih harus menjaga batasan.
Mungkin jika Malla sudah bekerja cukup lama bersama Yudha, gadis itu akan bersikap seperti seorang adik yang senang cerita ini itu kepada kakaknya.
"Aku harus kembali, aku tidak bisa lama-lama mengobrol dengan mu saat ini. Karena, aku harus mencari teman lebih dulu." Cetus Malla yang memang harus menghadirkan dirinya lingkungan para selebriti. Jikapun Malla tidak begitu mengenal mereka, tapi sebisa mungkin Malla menyesuaikan diri untuk dekat dengan mereka. Walaupun akhirnya nanti Malla hanya kenal sebatas nama.
Kepala Yudha mengangguk kecil. "Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Karena jika kau melakukannya demi mendapat teman. Pikiran mu yang akan jadi kacau. Jadi bersikaplah seolah-olah dirimu sudah memiliki banyak teman, agar mereka berjalan mendekat ke arah mu dengan sendirinya."
Malla hanya menyunggingkan senyumannya dengan kepala yang mangut-mangut mengerti. Mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Yudha, sebelum membalikkan tubuhnya. Berjalan mendekati beberapa orang yang tengah duduk sembari mengobrol satu sama lain itu.
Waktu istirahat masih lama, tapi Malla ingin belajar untuk bisa akrab dengan banyak orang tanpa adanya tekanan dari siapapun. Dan berusaha untuk menerima setiap perkataan mereka, tanpa menaruhnya di hati dan pikiran.
Kening Yudha mengerut samar, membaca balasan pesan dari Elvarrio. Merasa heran dengan Tirtha yang terlihat begitu cepat menambah karyawan baru di perusahaan itu. Apa Tirtha akan menjalankan rencana awalnya?
Yudha menyimpan handphonenya, melihat kearah Malla sebentar untuk memastikan jika gadis itu aman dan baik-baik saja. Hadir di antara para artis senior itu. "Dia akan mendapat teman banyak." Gumam Yudha sembari mengangguk kecil.
Kini Yudha melangkah untuk mencari keberadaan Elvarrio. Karena ada hal yang harus Yudha tanyakan pada temannya. Agar rasa ingin tahu dikepalanya berkurang. Sayangnya niat Yudha terurung saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobil putih. Diikuti empat anak buahnya yang menampilkan wajahnya riang mereka.
"Mereka benar-benar pencari perhatian. Tapi itu lebih baik, dan memudahkan Malla bergaul." Monolog Yudha. Melangkah mendekat untuk membantu para tim humas yang tengah mengeluarkan beberapa macam cemilan dari mobil itu.
"Apa kalian harus melakukan hal seperti ini untuk artis baru perusahaan?" Cetus Yudha yang ingin menggoda para tim humas. Membuat semua mata disana melihat ke arah Yudha dengan sorot mata berbeda.
"Kita harus melakukannya. Karena bersikap tidak adil itu juga akan merugikan perusahaan sendiri. Apalagi, Malla pendatang baru yang menarik perhatian publik. Dan__" diam sejenak, Sella mendekat akan dirinya kearah Yudha. "Tirtha yang memintaku untuk melakukan ini, karena saham perusahaan naik dratis."
Tanpa menunggu tanggapan dari Yudha, Sella membantu anggotanya. Tapi telinganya masih mendengar apa yang di katakan Yudha. "Apa itu sebabnya? Tirtha menyetujui apa yang Elvarrio katakan."
Seketika Sella mendekati Yudha kembali dengan wajah khawatirnya. Dan itu membuat Yudha tersenyum kecil melihat tingkah Sella. "Memangnya apa yang Elvarrio akukan pada Tirtha? Jangan bilang jika dia membawa orang baru ke perusahaan?"
Tidak langsung memberi sahutan, Yudha mengambil alih cemilan makaroni yang terbungkus plastik besar dari tangan Sella. "Kenapa? Kau khawatir jika harus bekerja lembur lagi?"
Setiap hari aku lembur kerja. Jadi katakan apa yang diajukan Elvarrio pada Tirtha?" Rasa tidak ingin menunggu itu sangat terlihat jelas di wajah Sella saat ini.
"Dia sedang bernegosiasi dengan artis sebelah." Tanpa Yudha menyebut nama, mungkin Sella tahu siapa yang Yudha maksud. Karena gosip itu sudha menyebar luas di dalam perusahaan ataupun para publik. Hingga banyak media yang terus membahasnya. Mungkin itu juga menjadi alasan Tirtha menyetujui apa yang Elvarrio sarankan.
Sella membuang napas lega. "Kukira Elvarrio membawa orang baru untuk dijadikan artis di perusahaan. Tapi dia mengambil artis lama dari perusahaan lain."
"Bukannya mengambil, tapi memberinya surat kerja sama. Karena kontrak artis itu dengan perusahaannya hampir selesai. Tapi tidak menutup kemungkinan dia memperpanjang kontraknya. Jadi kita juga tidak bisa berharap lebih untuk hal itu." Jelas Yudha, kini mulai melangkah beriringan dengan Sella yang diikuti empat anggotanya dari belakang dengan tangan masing-masing mereka membawa cemilan yang mereka beli bersama.
"Jika dia terkecoh dengan perkataan Elvarrio, itu akan semakin menaikan saham perusahaan. Dan bisa jadi, banyak brand yang ingin bekerja sama dengan artis perusahaan. Itu memudahkan Malla mendapat peluang untuk kariernya." Sedikit terselip keriangan di setiap kata yang keluar dari mulut Sella.
Itu membuat anggota humas yang berjalan di belakang Sella hanya bisa mengangguk, pasrah jika pekerjaan mereka semakin menumpuk. Tapi tidak dengan Yumna. Wanita itu malah menyunggingkan senyumannya. Karena dia bisa memastikan, jika jalan Malla tidak sesulit seperti apa yang ada di pikirannya.