Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 14
...Jika, 'ingin tahu' jauh dari lubuk hati ku .. Apa pertemuan singkat itu tidak akan pernah terjadi pada diriku?...
...- Yumnallasha -...
Pesan singkat yang baru saja masuk kedalam handphone Yumna, membuat sang empu mengembangkan senyumannya. Tapi Yumna langsung menyembunyikan lengkungan indah itu. Saat seseorang baru saja berjalan melewatinya.
Menoleh ke arah Vallen yang baru saja duduk dikursi kerjanya, dengan raut wajah lelahnya. "Apa semuanya berjalan lancar?" Sangat hati-hati, Yumna memberi pertanyaan. Karena Yumna tidak mau menjadi bahan pelampiasan Vallen. Saat suasana hati wanita itu tidak baik.
"Mereka yang ingin meminta bekerja sama, dan mereka juga yang ingin memiliki keuntungan paling besar. Kau tahu, aku langsung menolaknya." Senyum jahat terpancar diwajah Vallen. Kini menyandarkan punggungnya dengan bangga.
"Dan Sella pun sangat menyetujui apa yang aku katakan." Sambung Vallen, yang membuat Yumna mengangguk paham, dengan mulut ber'oh'ria.
"Kau sudah makan siang?" Vallen melontarkan pertanyaan.
"Belum. Tapi aku tidak bisa makan siang denganmu. Karena, aku sudah memiliki janji." Tidak begitu cepat Yumna mengatakannya. Dan Yumna sendiri pun juga berharap, jika Vallen tidak marah akan tolakannya.
"Benarkah?" Vallen menipiskan bibirnya. "Apa kau tidak bisa membatalkan? Demi menemaniku makan siang."
"Jika aku bisa, mungkin aku sudah membatalkannya." Senyum canggung Yumna tampilkan. Benar-benar tidak enak melihat Vallen yang akan makan siang sendirian. "Kau bisa bergabung dengan yang lainnya."
"Lebih baik aku makan sendiri, dari pada harus makan berhadapan dengan wajah-wajah jutek itu." Balas Vallen, sebentar melihat Yumna. Dengan sorot mata, 'aku akan baik-baik saja jika makan sendiri. Kau tidak perlu khawatir.'
"Apa yang kau pikirkan belum tentu dengan kenyataannya. Karena raut wajah mu sendiripun juga sama seperti mereka. Jutek, terlihat galak daripada Sella." Yumna hanya ingin bercanda. Karena Yumna tahu, Vallen tidak akan mengambil hati setelah mendengar perkataannya.
"Tapi setidaknya aku lebih baik daripada mereka." Memuji dirinya sendiri adalah suatu hal yang harus Vallen prioritaskan. Karena jika bukan dirinya sendiri, siapa lagi yang akan memberinya pujian seperti itu.
Dan tanpa dua wanita itu sadari, sepasang mata milik Yudha kini menghentikan langkahnya dengan menyeruput minuman cup di tangannya. Pandangannya fokus pada senyum cantik milik Yumna, yang membuat Yudha menarik sedikit sudut bibirnya.
Hal itu membuat Lingga yang berdiri di sampingnya, perlahan mengerutkan samar keningnya. Menatap raut wajah Yudha, terlihat seperti orang yang tengah jatuh cinta. Dan Lingga kini mengikuti arah pandang Yudha, yang masih fokus pada satu wanita didalam ruangan itu.
"Siapa yang kau suka?" Tanya Lingga tanpa basa-basi. Menatap Yudha penuh intimidasi, dan harap akan Yudha memberitahunya.
"Aku juga ingin seperti mereka. Bisa mengobrol bercanda bersama seorang teman." Ucap Yudha yang disadarkan oleh kenyataan. Jika dirinya tidak boleh macam-macam saat di sampingnya ada Lingga. Karena hal itu akan menjadi ancaman bagi dirinya sendiri.
Tanpa melihat Lingga, kini Yudha memilih untuk berjalan ke arah di mana lantai satu berada. Langsung diikuti oleh Lingga yang terus melontarkan perkataan, yang membuat Yudha tersenyum hambar dan memberi elakkan. Agar Lingga diam, tidak berulah.
"Satu di antara mereka. Bukankah saudara dari pak Rama, dan dia juga sangat dekat dengan Pak Tirtha maupun Pak Tama. Jadi, siapa yang kau suka?" Lingga terus saja bertanya tanpa lelah. Langkah kakinya menuruni anak tangga dengan senyuman riang.
"Kau harus memanfaatkan hari ini bersama ku. Karena mungkin esok hari, kau tidak lagi bersama ku." Sebentar Yudha melihat Lingga.
"Jika pun pekerjaan mu bukan lagi untuk mengurus ku. Tapi kau tetap manager ku. Dan aku pastikan kau akan jauh lebih mengutamakan diriku, ketimbang artis baru itu." Tidak ada rasa sedih sedikitpun yang terpancar di wajah Lingga. Karena Lingga tidak mau membuat Yudha begitu berat mengalihkan dirinya pada orang lain.
Tersenyum kecil untuk membalas sapaan dari seorang satpam yang bertugas untuk menjaga pintu menuju parkiran. "Aku tidak akan mengirim mu pesan, jadi tidurlah lebih cepat jika kau sudah berada dirumah. Dan bersikap baiklah pada manager baru mu."
"Dan..." spontan Yudha menghentikan langkahnya. Membuat Lingga mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. "...kenapa kau lebih sopan dengan mereka ketimbang dengan diriku?"
"Pak Tirta, pak Tama, pak Rama. Kau selalu memanggilnya dengan sebutan pak. Tapi saat bersamaku, kau sering menyebut nama ku. Bukankah itu tidak sopan sama sekali?" Tambah Yudha yang ingin tahu alasan dibalik panggilan yang keluar dari mulut Lingga.
"Karena aku melihatmu setiap hari. Dan kau sendiri yang menyarankan ku sejak awal untuk memanggilmu dengan nama. Agar aku tidak merasa canggung, saat bekerja dengan mu." Jawab Lingga, menampilkan wajah polosnya. Karena dia bicara apa adanya. Kini masuk ke dalam mobil.
"Tapi sepertinya aku akan memanggil mereka menggunakan nama mereka. Karena jika dipikir lagi, waktu remaja ku dihabiskan di perusahaan itu." Diam sejenak, kening Lingga mengerut. "Jadi itu tidak akan menjadi masalah. Aku akan bersikap santai mulai saat ini, dan nama perusahaan itu besar juga karena diriku. Bukankah seperti itu?"
Sedangkan Yudha yang mendengar hanya tersenyum hangat. Mengingat dimana dirinya bertemu dengan Lingga tuk pertama kalinya. Bayangan itu masih terlihat jelas di kepala Yudha. Apalagi wajah polos Lingga benar-benar membuat Yudha ingin terus melindungi artisnya itu.
Tapi Yudha juga tidak bisa menolak perintah dari atasannya, jika dirinya harus melepas Lingga sebagai tanggung jawab utamanya mulai esok hari.
"Jika pun kau bukan manager utama ku lagi, sempatkan waktumu untuk menemui ku. Karena mau bagaimanapun, kau harus melihatku." Pinta Lingga kepada Yudha.
"Aku tidak bisa janji untuk hal itu. Dan kau tahu sendiri bukan, betapa padatnya jadwal bagi seorang artis pendatang baru. Mungkin," sekilas Yudha melihat kearah Lingga, sebelum menginjak gas pada mobilnya yang kini mulai melaju meninggalkan area parkiran perusahaan.
"Kita juga akan jarang bertemu. Apalagi kau akan memainkan series baru yang sempat Sella bicarakan padaku." Sambung Yudha. Fokus pada jalan raya didepan matanya saat ini.
"Series baru?" Sebentar Lingga menggaruk dagu bawahnya yang tidak begitu gatal. "Kenapa aku baru mendengarnya? Kenapa Sella tidak mengatakannya padaku? Padahal aku sering sekali melihatnya."
"Dia tengah mendiskusikannya dengan Tirtha. Dan secepat mungkin Sella akan memberitahumu." Positif Yudha, tidak ingin membuat Lingga berpikir yang aneh-aneh.
"Aku akan menunggunya." Balas Lingga tanpa beban. "Tapi ngomong-ngomong. Siapa yang akan menjadi manager ku? Tidak mungkin jika Elvarrio, apalagi Tama. Karena mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing."
"Hari ini ada manajer baru, mungkin kau belum bertemu dengannya. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Jalankan hari-harimu seperti biasa." Hangat Yudha yang akan terus menyakinkan Lingga.
"Jika kau lapar, minumlah. Jika kau lelah, istirahatlah. Bayangkan hal-hal yang menyenangkan saja. Karena dengan itu, semangat mu tidak akan runtuh." Akhir Yudha, dengan lengkungan sempurnanya.
Hari ini Yudha akan menghabiskan waktunya bersama Lingga, walaupun itu menyangkut pekerjaan. Karena esok Yudha tidak lagi sepenuhnya menjadi pengawas untuk Lingga.