NovelToon NovelToon
Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Si Kecil Yang Terbuang (Revisi Pelan-pelan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Si Kecil yang Terbuang

Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.

Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.

Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?

Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Bukti Terakhir

Suara sirene ambulans memecah keheningan malam. Hendra segera dilarikan ke rumah sakit dengan luka tembak di bahunya. Arsen ikut mendampingi di dalam ambulans, sementara Aluna dan Ratih berada di mobil Rangga yang mengikuti dari belakang.

Sepanjang perjalanan, Aluna terus menggenggam liontin pemberian Tiara. Air matanya tak berhenti mengalir.

"Semua ini terjadi karena aku..." bisiknya lirih.

Ratih langsung memeluknya.

"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Luna."

"Tapi Pak Hendra terluka saat melindungiku."

"Beliau melakukan itu karena ingin menepati janjinya kepada ibumu."

Aluna menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa besar pengorbanan orang-orang yang bahkan baru dikenalnya demi menjaga dirinya.

Sesampainya di rumah sakit, Hendra langsung dibawa ke ruang operasi.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala terang.

Arsen berdiri dengan wajah tegang.

Rangga menghampirinya.

"Pak, polisi berhasil mengamankan dua anak buah Victor."

"Apakah mereka bicara?"

"Belum. Mereka menolak memberikan keterangan."

Arsen mengepalkan tangannya.

"Victor pasti sudah memperingatkan mereka."

Beberapa saat kemudian, Damar Prasetya datang bersama Surya. Begitu menerima kabar penyerangan terhadap Hendra, ia langsung meninggalkan semua pekerjaannya.

Tatapan Damar langsung tertuju kepada Aluna.

Gadis itu sedang duduk sambil menundukkan kepala.

Entah mengapa, melihat Aluna membuat hatinya terasa begitu hangat sekaligus sesak.

Ia ingin menghampiri, tetapi mengurungkan niatnya.

Belum ada bukti yang benar-benar memastikan bahwa Aluna adalah putrinya.

Dua jam kemudian, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi.

"Siapa keluarga pasien?"

Arsen segera berdiri.

"Saya."

"Operasinya berjalan lancar. Peluru berhasil dikeluarkan."

Semua orang mengembuskan napas lega.

"Tetapi pasien kehilangan banyak darah. Beliau masih belum sadar."

"Terima kasih, Dok."

Setelah dokter pergi, suasana kembali tenang.

Aluna menatap pintu ruang perawatan dengan penuh harap.

"Pak Hendra harus sembuh."

Arsen mengangguk.

"Beliau masih memiliki sesuatu yang ingin disampaikan."

Menjelang dini hari, Hendra perlahan membuka matanya.

Arsen, Aluna, Ratih, dan Tiara segera menghampirinya.

Hendra tersenyum lemah saat melihat mereka.

"Syukurlah... kalian semua selamat."

Aluna menggenggam tangannya.

"Pak Hendra, jangan bicara dulu."

Hendra menggeleng pelan.

"Waktuku mungkin tidak banyak."

"Jangan bilang begitu."

Hendra tersenyum tipis.

"Luna..."

"Iya?"

"Dulu... ibumu meninggalkan satu bukti terakhir."

"Apa itu?"

"Sebuah buku harian."

Semua orang langsung terdiam.

"Buku itu berisi seluruh kejadian malam saat kamu menghilang."

"Di mana buku itu?" tanya Arsen.

Hendra menarik napas pelan.

"Disimpan... di sebuah kapel tua... di Desa Harapan."

"Kapel tua?" ulang Rangga.

Hendra mengangguk.

"Di bawah altar... ada kotak kayu."

"Itu satu-satunya bukti yang belum ditemukan Victor."

Arsen langsung menoleh kepada Rangga.

"Besok pagi kita berangkat."

"Siap, Pak."

Namun, tanpa mereka sadari, seorang perawat yang sedang berdiri di depan pintu diam-diam mengirim pesan melalui ponselnya.

"Mereka sudah mengetahui lokasi buku harian."

Beberapa detik kemudian, sebuah balasan masuk.

"Datang lebih dulu ke kapel. Jangan biarkan buku itu jatuh ke tangan Arsen."

Perawat itu tersenyum tipis.

Ternyata ia adalah anak buah Victor yang telah menyamar selama beberapa bulan di rumah sakit.

Sementara itu, Hendra kembali memejamkan matanya karena kelelahan.

Ia tidak mengetahui bahwa rahasia yang baru saja diungkapkannya telah didengar oleh orang yang salah.

Perlombaan menuju kapel tua kini resmi dimulai. Siapa pun yang lebih dulu menemukan buku harian itu akan memegang kunci untuk membuka seluruh kebenaran tentang masa lalu Aluna.

1
Adinda
mungkin victor simpanan istrinya damar bapak kandungnya Keisha
ժׁׅ݊ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊ꫀׁׅܻ݊݊ꪀ_݊ꪀꪱׁׅ꯱: Terima kasih sudah Like dan Komen ka🙏🙏🙏
total 1 replies
Adinda
semoga Aluna bertemu keluarga sebelah ibunya atau kakeknya
Adinda
Aku harapnya Aluna direbut oleh keluarga dari ibunya atau kakeknya yang Kaya biar ayah kandungnya Tau rasa dibenci oleh anaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!