4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Gedung Tua
Nomor sekali pakai dari ponsel Hendra akhirnya membawa mereka ke sebuah proyek gedung tua di pinggir Kota Purnama.
Bangunan itu dulunya rencana apartemen servis milik salah satu anak perusahaan kecil yang sudah lama mati. Dua puluh lantai beton berdiri setengah jadi, jendela tanpa kaca menganga seperti mata kosong, dan pagar seng berkarat mengelilingi area yang ditumbuhi ilalang. Di papan proyek yang miring, nama kontraktor sudah pudar dimakan panas.
Darren tidak berniat membawa Naomi turun dari mobil.
"Kamu tunggu di sini," katanya.
Naomi menatap gedung itu dari balik kaca. "Aku tahu."
"Kamu bilang begitu dengan nada ingin ikut."
"Karena aku ingin ikut."
"Jawaban ditolak."
"Dar."
Darren menunduk di luar pintu mobil, wajahnya serius. "Kamu baru hampir tenggelam dua hari lalu, lalu hampir diculik hari ini. Biarkan aku punya satu batas normal."
Naomi ingin membantah, tetapi tidak punya argumen yang cukup kuat. Ia akhirnya mengangguk.
Darren mencium punggung tangannya. "Arman tetap di mobil. Dua pengawal di depan, dua di belakang. Aku masuk sepuluh menit."
"Kalau lebih?"
"Kamu telepon Billy."
"Aku telepon kamu dulu."
"Aku akan angkat."
Ia berjalan masuk bersama Billy dan beberapa pengawal. Stik golf hitamnya dibawa salah satu orang, karena sejak kejadian wine, benda itu seperti berubah menjadi tanda bahaya resmi milik Darren.
Naomi duduk di kursi belakang, kotak kayu ibunya di pangkuan. Udara di sekitar gedung tua terasa panas dan berdebu. Dari jauh, ia mendengar suara burung, derit seng, dan langkah sepatu di atas kerikil.
Lima menit berlalu.
Tujuh.
Lalu radio Arman berdesis.
"Gerbang belakang terbuka. Ada pergerakan."
Arman langsung duduk tegak. "Tim dua, posisi?"
Tidak ada jawaban.
Detik berikutnya, sebuah motor tanpa plat melaju dari sisi pagar dan melempar sesuatu ke bawah mobil depan. Asap putih tebal menyembur, menutup kaca dan jalan.
Arman mengumpat. "Nyonya, merunduk!"
Naomi menunduk sambil menekan tombol darurat ponsel. Pintu mobilnya tiba-tiba ditarik dari luar. Kunci tidak terbuka, tetapi kaca samping diketuk keras dengan benda logam.
Arman keluar untuk menghalau, dan dalam kekacauan asap, seseorang membuka pintu dari sisi lain menggunakan alat pemecah kaca kecil. Tangan kasar menarik lengan Naomi.
Naomi menendang, memukul, berteriak, tetapi tenggorokannya yang masih sakit membuat suaranya pecah. Ia berhasil mencakar wajah orang itu sebelum kain menutup mulutnya sebentar. Bukan obat. Hanya kain untuk membungkam. Ia menggigit sampai orang itu melepaskan.
"Jangan pingsan!" bentak suara lain. "Bos bilang jangan rusak barang!"
Barang.
Kemarahan membuat Naomi menendang lebih keras.
Ia diseret melewati pagar seng yang sudah terbuka, masuk ke lantai dasar gedung tua yang gelap dan berdebu. Cahaya matahari masuk dari celah beton, memotong udara menjadi garis-garis pucat. Di suatu tempat, suara Darren berteriak memanggil namanya, tetapi gema bangunan membuat arah suara kacau.
"Naomi!"
"Dar!" Naomi mencoba menjawab, tetapi suaranya serak.
Orang yang menyeretnya mendorongnya ke dekat tangga darurat. Satu pria lain membawa batang besi. Wajah mereka ditutup masker hitam.
"Cepat pindahkan sebelum mereka masuk," kata yang pertama.
Namun sebelum mereka bergerak, suara langkah lain terdengar dari lorong.
Seorang pria berkemeja putih muncul dari bayangan.
Ethan.
Naomi membeku.
Ethan menatap dua pria itu dengan ekspresi tenang yang tidak cocok dengan tempat kotor itu. "Lepaskan dia."
Pria bertopeng mengumpat. "Siapa lagi ini?"
Ethan tidak menjawab. Ia bergerak cepat, jauh lebih cepat daripada yang Naomi kira. Sapu tangan abu-abu terlepas dari tangannya saat ia menangkis pukulan pertama, lalu menendang lutut salah satu pria sampai jatuh. Pria lain mengayunkan batang besi.
Naomi mencoba mundur, tetapi kakinya tersandung batu. Kepalanya berdenyut. Debu masuk ke tenggorokannya. Di antara cahaya patah, kemeja putih, dan suara Darren yang memanggil dari kejauhan, pikirannya yang masih kacau menangkap satu hal: seseorang akan dipukul dari belakang.
Ia melihat punggung putih itu.
Terlalu mirip Darren saat malam di koridor hotel.
"Dar!"
Naomi bergerak tanpa berpikir.
Ia menabrak tubuh Ethan dari samping tepat ketika batang besi turun. Pukulan itu tidak mengenai kepala Ethan, tetapi menghantam bahu Naomi yang sudah lemah. Sakit meledak dari bahu ke leher. Naomi terhuyung.
Ethan menangkapnya.
"Naomi."
Suara itu bukan suara Darren.
Kesadaran Naomi kembali dalam satu hentakan dingin.
Ia mendongak dan melihat wajah Ethan sangat dekat. Untuk pertama kalinya, ketenangan pria itu retak jelas. Bukan panik palsu. Bukan senyum. Matanya benar-benar terkejut.
Lalu suara lain menghantam ruangan.
"Lepaskan dia."
Darren berdiri di pintu beton, stik golf di tangan, wajahnya gelap seperti badai yang menemukan tempat jatuh.
Billy dan pengawal masuk dari belakangnya. Salah satu pria bertopeng mencoba lari, tetapi Arman menabraknya dari samping. Pria dengan batang besi mengangkat tangan lagi.
Darren bergerak.
Stik golf menghantam batang besi dengan bunyi nyaring, membuat senjata itu terpental. Ayunan berikutnya mengenai bahu pria itu sampai ia jatuh berteriak. Darren tidak berhenti di sana. Ia melangkah ke arah Ethan.
Ethan masih memegang Naomi.
Stik golf Darren terangkat.
Naomi cepat berkata, "Darren!"
Ayunan itu berhenti, tetapi tidak sepenuhnya. Ujung stik golf menghantam lengan Ethan, cukup keras untuk membuatnya mundur dan melepaskan Naomi.
Darren menarik Naomi ke pelukannya.
"Kamu terluka?" Suaranya hampir tidak berbentuk.
"Bahu. Tidak parah."
"Tidak parah?" Darren melihat cara Naomi meringis saat bernapas. Matanya makin merah. "Kamu menyebut apa baru parah? Kalau gedung ini runtuh?"
Naomi ingin menjawab, tetapi batuk.
Ethan memegang lengannya yang terkena pukulan. Wajahnya kembali tenang, meski lebih pucat. "Aku menyelamatkannya."
Darren menatapnya seperti ingin mematahkan kata itu. "Kau selalu muncul tepat saat istriku hampir mati. Menarik."
"Aku mengikuti pesan yang masuk ke ponselku. Katanya Naomi dalam bahaya di sini."
"Tentu saja."
Naomi memegang dada Darren. "Aku pikir dia kamu."
Darren menunduk tajam. "Apa?"
"Aku melihat kemeja putih. Gedung gelap. Aku pikir yang mau dipukul itu kamu."
Billy yang sedang mengikat tangan pelaku tiba-tiba berhenti. Arman pura-pura tidak mendengar.
Darren menatap Naomi, lalu Ethan, lalu kembali pada Naomi. "Jadi kamu melindungi dia karena mengira dia aku?"
Naomi lelah, sakit, dan hampir tertawa karena nada Darren terdengar terluka di tengah situasi kacau. "Iya."
"Hebat." Darren memeluk pinggangnya lebih erat. "Aku hampir dipakaikan topi hijau oleh versi palsu diriku sendiri."
Naomi akhirnya benar-benar tertawa, lalu meringis. "Jangan bercanda, sakit."
"Aku tidak bercanda. Ini tragedi rumah tangga."
Ethan menatap mereka berdua. Sesuatu yang aneh lewat di matanya, cepat dan gelap.
Naomi melihatnya.
Darren juga.
Senyum Darren hilang. "Bawa semua pelaku. Kunci gedung ini. Cari siapa yang mengirim pesan ke Ethan."
"Dan ke kita," tambah Naomi pelan.
Darren menatapnya.
Naomi menahan bahunya yang sakit, tetapi pikirannya jernih. "Seseorang ingin kita semua datang ke sini. Termasuk Ethan."
Ethan tersenyum tipis. "Akhirnya kau mempertimbangkan kemungkinan aku juga dijebak?"
Naomi menatapnya. "Aku mempertimbangkan semua kemungkinan. Termasuk kemungkinan kamu yang mengatur jebakan agar terlihat seperti korban."
Untuk pertama kalinya, Ethan tidak langsung menjawab.
Darren mengangkat sudut bibir, dingin dan bangga. "Istriku belajar cepat."
Salah satu pria bertopeng yang ditahan Arman tiba-tiba meronta. "Kami cuma disuruh bawa perempuan itu ke lantai tiga! Bukan bunuh siapa-siapa!"
Darren menoleh.
Pria itu langsung ciut, tetapi sudah terlanjur bicara.
"Siapa yang menyuruh?" tanya Billy sambil merekam dengan ponsel.
"Nomor baru. Kami dapat DP lewat dompet digital. Katanya perempuan itu akan dijaga ketat, tapi nanti asap bikin kacau. Kami cuma perlu tahan sepuluh menit sampai orang lain datang."
"Orang lain siapa?"
"Nggak tahu! Sumpah!"
Pria kedua, yang bahunya terkena stik golf Darren, mengerang dari lantai. "Kami juga dapat foto pria berbaju putih. Katanya kalau dia muncul, jangan pukul terlalu keras. Dia bagian dari rencana."
Semua mata beralih pada Ethan.
Ethan menatap pria itu dengan dingin yang sangat halus. "Aku tidak mengenalnya."
"Dia bilang jangan pukul terlalu keras, tapi lo tetap ayun batang besi," gumam Arman pada pelaku.
"Gue panik!"
Darren menatap Naomi. "Kamu dengar?"
Naomi mengangguk. Bahunya masih sakit, tetapi pikirannya semakin jernih. "Seseorang ingin aku melihat Ethan sebagai penyelamat. Atau ingin kamu melihatku dilindungi Ethan."
"Topi hijau versi kriminal," kata Darren datar.
Naomi menatapnya. "Dar."
"Aku sedang memproses trauma rumah tangga."
Di tengah rasa sakit, Naomi hampir tertawa lagi.
Ethan mengusap lengan yang terkena pukulan Darren. "Lucu sekali kalian bisa bercanda di tempat seperti ini."
Darren menatapnya. "Istriku masih bisa bercanda setelah diseret ke gedung tua. Itu sebabnya dia lebih kuat dari semua orang yang mencoba mematahkan dia."
Kalimat itu membuat dada Naomi bergetar pelan.
Darren kemudian menunduk memeriksa bahu Naomi. Saat jarinya menyentuh bagian yang bengkak, Naomi menghirup napas tajam.
"Rumah sakit," katanya langsung.
"Dar, polisi..."
"Billy urus polisi. Arman urus pelaku. Aku urus kamu." Darren melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Naomi tanpa menyentuh bagian yang sakit. "Kali ini tidak ada negosiasi."
Naomi melihat wajahnya dan tahu ia benar-benar tidak punya ruang untuk menawar malam ini lagi.
Di luar gedung tua, sirene polisi mulai terdengar mendekat.
Namun Naomi tahu, jawaban sebenarnya tidak akan datang semudah itu.