Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Lembaran Kehidupan
Cahaya matahari siang menerobos masuk melalui jendela kaca sebuah kedai kopi yang lumayan lengang di sudut kota.
Bau sangrai biji kopi dan alunan musik instrumental pelan menyelimuti ruangan, namun tak sedikit pun mampu mencairkan ketegangan di meja pojok tempat Nara duduk.
Di hadapannya, Devino duduk dengan wajah yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan, menandakan pria itu sama sekali tidak tidur semalaman. Namun, ada binar ket ketidaksabaran dan keputusasaan yang membara di matanya.
Nara menatap cangkir teh kamomil di depannya yang mulai mendingin. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan, menahan gemetar. Sejak melangkah keluar dari rumah pagi tadi, meninggalkan Zaid yang hanya menatapnya datar tanpa bertanya satu patah kata pun, perasaan bersalah telah menggerogoti dadanya.
"Terima kasih sudah mau datang, Ra," Devino membuka suara. Suaranya serak, matanya menatap Nara tanpa berkedip, seolah takut wanita di depannya ini akan menghilang jika ia mengedipkan mata.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu cara aku kemarin malam kasar. Tapi aku cuma frustrasi, Ra. Aku nggak bisa membayangkan kamu hidup sama pria lain."
Nara menghela napas panjang, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. Ia menatap Devino lurus-lurus, berusaha mencari sosok pria tegas yang pernah ia cintai selama tiga tahun terakhir, namun yang ada di depannya kini hanyalah seorang pria yang egois dan kalap.
"Vin, kita sudah bahas ini," ucap Nara, suaranya dipelankan agar tak memancing perhatian pengunjung lain. "Aku sudah menikah. Apapun alasannya, situasi kita sudah berubah. Kamu tidak bisa terus-menerus memaksa seperti ini."
"Pernikahan apa, Ra?" potong Devino cepat. Ia memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya namun menekankan setiap kata.
"Kamu dijodohkan! Kamu nggak mencintai Zaid, dan dia juga nggak mencintai kamu. Pernikahan tanpa cinta itu cuma penjara!"
"Itu bukan urusanmu lagi, Devino," tegas Nara.
Devino menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar, lalu merogoh tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah stop map tipis dan mengambil selembar kertas putih bersih dari dalamnya. Ia menggeser kertas itu ke tengah meja, tepat di depan Nara, beserta sebuah pena.
Nara menunduk, mengerutkan dahi melihat lembaran tersebut. Ada beberapa baris tulisan tangan yang rapi di sana.
"Apa ini?" tanya Nara pelan.
"Ini jalan keluar kita, Ra," ujar Devino dengan nada memohon sekaligus penuh keyakinan yang asing.
"Aku sudah pikirkan ini beberapa malam lalu. Aku tahu kamu tidak bisa langsung minta cerai sekarang, orang tuamu pasti akan marah besar dan nama baik keluarga kalian bakal dipertaruhkan. Tapi kita bisa buat strategi."
Nara membaca sekilas kalimat demi kalimat di atas kertas itu. Matanya membelalak tak percaya.
"Perjanjian Kesepakatan Tenggang Waktu
Mempertahankan hubungan pernikahan hanya dalam jangka waktu maksimal 1 (satu) tahun, terhitung sejak tanggal kesepakatan dibuat, sebelum mengajukan perceraian secara baik-baik..."
"Kamu... kamu gila, Vin?" bisik Nara, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Dengar dulu, Ra! Dengarkan aku dulu," potong Devino, meraih jemari Nara yang dingin di atas meja, namun Nara dengan cepat menarik tangannya kembali. Devino menelan ludah, lalu melanjutkan dengan berapi-api.
"Kamu buat surat pengajuan ini. Anggap saja seperti kontrak kerja atau komitmen terselubung. Berikan kertas ini ke Zaid. Buat dia setuju untuk bertahan cuma satu tahun."
"Kenapa aku harus melakukan hal sekonyol ini?" tanya Nara, matanya mulai memanas oleh emosi yang membendung.
"Satu tahun itu waktu yang cukup untuk meredam kekagetkan orang tuamu,"
Jelas Devino tanpa keraguan, seolah rencananya adalah hal paling rasional di dunia. "Dalam waktu satu tahun itu, kamu dan Zaid pura-pura menjalani pernikahan ini di depan publik. Setelah satu tahun berakhir, kalian pisah secara resmi. Dan saat kamu sudah benar-benar lepas dari Zaid..."
Devino menarik napas dalam-dalam, menatap mata Nara dengan kesungguhan yang justru terasa memuakkan.
"...aku janji, Ra. Aku sendiri yang bakal datang menemui papah dan bundamu. Aku yang akan berdiri di depan mereka, minta maaf, dan bertanggung jawab. Aku bakal melamar kamu secara terhormat dan menikahi kamu. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi, sesuai rencana kita dulu."
Hening.
Suasana kedai kopi terasa lenyap seketika dari pendengaran Nara. Hanya ada dentang keheningan yang menyakitkan di dalam kepalanya. Nara menatap selembar kertas di meja, lalu beralih menatap wajah Devino.
Pria di depannya ini... pria yang selama dua tahun terakhir ia agungkan, pria yang dengannya ia pernah membayangkan masa depan yang indah, kini sedang menyodorkan sebuah skenario seolah hidup Nara adalah sebuah naskah drama yang bisa disunting sesuka hati.
Tiba-tiba, sebuah tawa kecil lolos dari bibir Nara.
Bukan tawa bahagia, melainkan tawa sumbang yang sarat akan kepahitan dan keheranan. Tawa yang berasal dari sudut terdalam hatinya yang paling hancur.
"Ra?" Devino mengerutkan dahi, bingung melihat respon Nara.
Tawa kecil itu berubah menjadi kekeh lirih, sebelum akhirnya air mata Nara menetes tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya yang pucat. Nara menutup mulutnya dengan sebelah tangan, bahunya bergetar hebat.
Betapa lucunya hidup ini, pikir Nara.
Hampir tiga tahun ia menyerahkan hatinya pada Devino, dan pada akhirnya, Devino menganggapnya tak lebih dari sebuah objek yang bisa diatur jalannya.
Orang tuanya mengatur hidupnya dengan menjodohkannya bersama Zaid demi sebuah tanggung jawab dan nama baik. Dan kini, pria yang ia cintai dengan naifnya menyusun sebuah "kontrak" untuk mengatur kapan ia harus bertahan dan kapan ia harus berpisah.
Siapa sebenarnya Nara? Apakah ia cuma sebuah boneka kayu yang dipasangi tali di tangan dan kakinya, siap digerakkan oleh siapa saja yang merasa berhak menentukan arah hidupnya?
"Ra, kenapa kamu malah ketawa? Tolong, jangan seperti ini..." suara Devino terdengar cemas.
Nara menyapu air matanya dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Devino dengan mata yang memerah dan tatapan hampa. Tawa kepahitannya mereda, menyisakan kerapuhan yang teramat sangat.
"Aku cuma sedang menertawakan diriku sendiri, Vin," ucap Nara, suaranya bergetar parah, nyaris tenggelam oleh sedu-sedan yang ia tahan. "Aku menertawakan betapa hebatnya kalian semua mengatur hidupku."
"Aku melakukan ini demi kita, Ra! Demi masa depan kita!" pangkas Devino membela diri.
"Demi kita? Atau demi rasa egomu yang tidak terima kalau aku bukan lagi milikmu?" cecar Nara. Tangannya terkepal kuat di atas pangkuan.
"Kamu minta aku menyodorkan kertas ini ke Zaid? Kamu minta aku mempermainkan sebuah ikatan pernikahan seolah-olah ini cuma kontrak sewa rumah?"
Nara menggelengkan kepala perlahan, air matanya menetes semakin deras. Ia tidak menjawab 'ya', ia juga tidak menjawab 'tidak' atas permintaan gila Devino. Rasa kecewa yang begitu hebat telah melumpuhkan lidahnya untuk berdebat lebih jauh.
Ia menyadari satu hal yang teramat menyakitkan. Hampir tiga tahun yang ia lewati cinta kasihnya bersama Devino tidak pernah benar-benar membebaskannya. Pria itu tidak melihatnya sebagai manusia utuh yang punya perasaan dan harga diri.
Nara berdiri dari kursinya dengan gerakan pelan. Ia meraih tas tangannya, membiarkan kertas perjanjian konyol itu tetap tergeletak di atas meja kayu yang dingin.
"Ra! Mau ke mana? Kita belum selesai bicara!" Devino ikut berdiri, hendak meraih lengan Nara.
"Jangan sentuh aku, Vin," bisik Nara tajam. Langkahnya mundur satu tapak. Matanya menatap Devino dengan keputusasaan yang teramat dalam. "Aku punya tujuan hidup, Devino. Dan aku sangat ingin bahagia. Tapi bahagia yang aku cari... bukan dengan cara menjadi boneka yang diputar balikkan jalurnya oleh orang lain. Bukan dengan cara seperti ini."
Tanpa menunggu balasan dari Devino, Nara membalikkan badannya. Ia melangkah cepat meninggalkan meja itu, mengabaikan panggilan Devino yang menggema pasrah di belakangnya.
Nara mendorong pintu kaca kedai kopi dan melangkah keluar menuju terik matahari siang.
Angin jalanan menyapu wajahnya yang basah oleh air mata. Dada Nara terasa sesak luar biasa, seolah diremas oleh kenyataan pahit bahwa hidupnya telah menjadi benang kusut yang tak tahu di mana ujungnya.
Namun di tengah rasa hancur itu, ada satu kesadaran kecil yang menyala di benaknya. Ia tidak boleh lagi biarkan siapapun. baik orang tuanya, Devino, atau bahkan Zaid, memegang kendali atas lembar kehidupan yang seharusnya ia tulis sendiri.
🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻
❤️Hidup bukanlah panggung sandiwara tempat kita terus-menerus melakoni naskah yang dituliskan oleh orang lain. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah ditemukan dalam kendali orang lain, melainkan dalam keberanian untuk mengambil alih kemudi hidup kita sendiri, meskipun langkah awalnya harus diawali dengan kepedihan.❤️
🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏