"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Kayna
Atmosfer di dalam ruang medis steril itu seketika membeku. Pertanyaan yang dihembuskan dari bibir pucat Damara membuatnya tersentak.
"Mengapa matamu terlihat begitu ketakutan, mijn engel...? Apakah kau takut melihatku terluka... atau kau baru saja menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kau ketahui?"
Sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap milik Mara mengunci netra Kayna tanpa ampun. Meskipun tubuh pria itu melemah akibat kehilangan banyak darah dan efek obat anastesi, aura intimidasi yang keluar dari dirinya tetap terasa begitu pekat dan sanggup mencekik leher Kayna.
Dada Kayna naik turun beraturan, jantungnya berdegup begitu kencang bagaikan drum perang. Di dalam kepalanya, bisikan Dokter Isabela masih menancap tajam, obat yang diberikan Mara adalah penenang untuk menekan ingatannya.
Jika Kayna menunjukkan sedikit saja kecurigaan atau salah dalam melangkah, Mara yang memiliki sifat obsesif dan posesif tanpa batas ini pasti akan menyadari bahwa rahasia besarnya yang lain telah terbongkar. Pria itu tidak akan ragu untuk menggunakan cara yang lebih kejam untuk mengendalikan dirinya.
Kayna harus bertaruh nyawa detik ini juga. Ia harus memainkan peran sebagai wanita polos yang ketakutan dan penuh trauma.
Secara refleks, Kayna membiarkan air matanya menetes makin deras mengalir melewati pipinya. Namun bukannya menunjukkan ekspresi terpojok, Kayna memaksakan raut wajahnya berubah menjadi emosional dan penuh amarah yang dibuat-buat.
Ia menepis pelan jemari Mara yang berada di pipinya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak hebat.
"Bagaimana bisa kau menanyakan hal bodoh seperti itu, Mara?!" suara Kayna pecah, bergetar hebat oleh isolasi emosi yang bercampur aduk.
Mara mengerutkan keningnya, rintihan pelan keluar dari tenggorokannya saat gerakan refleks tubuhnya menarik jahitan di perutnya. "Kayna..."
"Kau ambruk tepat di hadapanku dengan tubuh bersimbah darah!" potong Kayna histeris, menatap Mara dengan mata berair yang memancarkan rasa sakit dan kekecewaan. "Lantai dua mansion ini tiba-tiba memiliki ruang operasi tersembunyi! Ada dua luka tembak menganga di tubuhmu, dan dokter baru saja mencabut peluru dari perutmu! Lalu sekarang, setelah kau terbangun, kau malah menuduhku ketakutan karena 'menemukan rahasia'?"
Kayna mencengkeram tepi tempat tidur, menundukkan kepalanya mendekati wajah Mara hingga napas mereka beradu.
"Aku takut karena aku pikir kau akan mati di depanku, Damara!" teriak Kayna lirih dengan suara serak yang menyayat hati. "Aku ketakutan setengah mati melihat darah di tanganku! Tapi rasa khawatirku malah kau curigai seperti ini?!"
Keheningan kembali menyergap ruangan itu.
Mara terpaku. Sepasang mata abu-abunya mengamati setiap inci raut wajah Kayna, meneliti getaran di bibir wanita itu, bulir air mata yang jatuh di wajahnya, serta noda darah kering yang melekat di gaunnya.
Sebagai ketua Mafia Lexans, Mara adalah master dalam membaca kebohongan orang lain. Namun, kepanikan Kayna terasa begitu nyata. Seakan tidak ada kebohongan di dalamnya.
Mara mengembuskan napas berat. Rasa tegang di garis rahangnya yang tajam perlahan mengendur. Dengan sisa tenaganya, Mara merengkuh pergelangan tangan Kayna, menarik wanita itu perlahan hingga wajah mereka begitu dekat.
"Maafkan aku, mijn engel..." desis Mara dengan suara bariton yang sangat serak, berbisik tepat di samping telinga Kayna.
Kayna menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mara, menyembunyikan senyuman dingin dan kilatan dendam yang mendadak muncul di matanya. Sandiwaranya berhasil. Pria iblis ini percaya.
"Kau sangat kejam, Mara," bisik Kayna berpura-pura terisak pelan di dada Mara. "Kau membuatku hampir gila..."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Kayna. Kau tahu itu," balas Mara posesif, jemari tangannya yang kekar mengelus lembut rambut panjang Kayna.
Namun, kedamaian semu itu tidak berlangsung lama. Pandangan mata Mara yang redup tiba-tiba menyapu meja troli medis yang terletak tepat di sebelah tempat tidur bedah.
Di atas nampan stainless steel, berdiri sebuah botol kaca kecil tanpa label,botol berisi kapsul-kapsul penenang yang selama ini selalu ia berikan pada Kayna dengan dalih 'vitamin pemulih ingatan'.
Usapan tangan Mara di rambut Kayna mendadak terhenti.
"Kau terlihat sangat syok dan gemetar, sayang," kata Mara dengan suara yang mendadak berubah tenang, namun mengandung nada perintah yang mutlak. "Tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Ambilkan botol kaca di atas troli itu... minumlah satu kapsul agar pikiranmu lebih tenang."
Jantung Kayna rasanya berhenti berdetak seketika!
Darah di dalam tubuh Kayna serasa membeku. Ini adalah ujian jebakan yang sebenarnya! Pria ini tidak sepenuhnya membuang kecurigaannya. Mara ingin menguji apakah Kayna masih mau meminum obat yang selama ini mencekik memorinya. Jika Kayna menolak atau ragu-ragu, Mara akan tahu detik itu juga bahwa Isabela telah membocorkan rahasia obat tersebut!
"Sekarang, Kayna," ulang Mara, matanya menatap tajam mengunci setiap gerakan Kayna.
Kayna menarik nafas panjang melalui hidungnya, berusaha keras mengontrol detak jantungnya agar tidak terlihat panik. Ia menegakkan tubuhnya, mengusap air mata di pipinya, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah... kalau itu bisa membuatmu tenang dan berhenti mencurigaiku," ujar Kayna dengan nada pasrah yang dibuat-buat.
Dengan langkah yang diatur tenang, Kayna melangkah mendekati troli medis. Tangannya meraih botol kaca transparan itu, mengambil satu kapsul berwarna putih-biru, lalu menuangkan air mineral dari teko kaca ke dalam gelas.
Di belakangnya, sepasang mata elang Mara memperhatikan tanpa berkedip.
Kayna berbalik membelakangi Mara sebentar saat berpura-pura membuka tutup teko. Dalam hitungan detik yang sangat krusial, Kayna memanfaatkan posisinya. Saat ia memasukkan kapsul itu ke dalam mulutnya di hadapan Mara, ia tidak menelannya!
Ditengah kepanikan, Kayna menyelipkan kapsul keras itu di antara gusi dan dinding pipi bagian dalamnya.
Kemudian, Kayna meneguk air mineral cukup banyak, membuat gerakan menelan di tenggorokannya yang terlihat sangat meyakinkan.
"Glek."
Kayna membuka mulutnya sedikit, mengusap bibirnya dengan punggung tangan, lalu memperlihatkan gelas yang sudah kosong pada Mara.
"Aku sudah meminumnya. Kau puas sekarang, Pak Tua yang posesif?" cetus Kayna dengan nada kesal yang sangat alami.
Melihat Kayna meminum obat itu tanpa keraguan sedikit pun, binar kecurigaan di mata abu-abu Mara akhirnya padam sepenuhnya. Sebuah senyuman tipis yang hangat namun beracun terukir di wajah tampan berdarah Indo-Belanda itu.
"Anak pintar..." gumam Mara lega. Ia mengulurkan tangannya, menarik Kayna kembali mendekat dan mendaratkan ciuman dalam yang terasa begitu posesif di dahi Kayna. "Istirahatlah di sampingku."
Efek lelah, kehilangan darah, dan rasa sakit yang hebat akhirnya menarik Mara kembali jatuh ke dalam ketidaksadaran. Cengkeraman tangannya di jemari Kayna perlahan melonggar, dan napas pria itu kembali teratur dan berat.
Begitu memastikan Mara benar-benar tertidur lelap, Kayna langsung berbalik membelakangi tempat tidur.
Dengan cepat, Kayna mengeluarkan kapsul obat dari balik gusinya, meludahkannya ke telapak tangannya. Kapsul itu sedikit basah, namun belum sempat larut. Kayna mengepalkan tangannya rapat-rapat, menyimpan bukti kebohongan itu.
Kayna berbalik, menatap sosok pria berotot kekar yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Tatapan mata Kayna tidak lagi diliputi oleh ketakutan atau kebingungan. Di balik manik matanya yang indah, kini membara api dendam dan tekad yang begitu dingin.
“Kau salah besar, Mara...” bisik Kayna di dalam hatinya dengan senyuman paling dingin yang pernah ia miliki. “Setelah memastikan keluarga ku aman, aku akan membongkar kebohonganmu dan meninggalkanmu selamanya."
...●Bersambung●...