"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.12. Darah di lantai
Kara sedang memakan sarapan nya di meja makan bersama Putri yang juga duduk menemaninya makan di meja makan. Putri bahkan belum menjawab pertanyaan Kara yang bertanya apakah Putri pernah melihat hantu atau tidak.
"Kenapa teteh bertanya begitu? Memang nya teteh lihat apa?" Tanya Putri, Kara yang sebelum nya bertanya malah kini mengurungkan niat nya untuk bercerita.
Kara berpikir jika dia cerita pada Putri.. bukan tidak mungkin Putri juga akan ketakutan, dan jika itu terjadi.. bisa - bisa Putri tidak mau datang lagi kesana, pikir Kara. Akhir nya Kara memilih menggelengkan kepalanya sambil tersenyum..
Kara juga sangat ingin bertanya kenapa kakak nya Putri yaitu Nurma.. memiliki sikap yang bertolak belakang dengan Putri yang ceria dan normal sewajar nya. Tapi Kara juga khawatir itu akan menyinggung Putri dan keluarga nya, apalagi mereka bahkan baru bertemu beberapa kali.
"Teteh ada butuh sesuatu nggak? Nanti kalo pengen sesuatu bisa Putri bawain." Ucap Putri, lagi - lagi Kara menggeleng.
"Kalo jalan - jalan ke luar.. boleh nggak Putri?" Tanya Kara, dia sangat ingin mengenal lingkungan sekitar rumah nya.
"Boleh atuh, ayo nanti Putri temani. Tapi teteh jangan bilang kalo teteh tinggal nya di rumah ini, bilang saja teteh kerabat nya Putri, gitu ya.." Ucap Putri, akhir nya Kara mengangguk.
Tapi.. seolah alam tidak mengijinkan Kara untuk keluar dari rumah.. hari itu sejak pagi sampai sore, hujan.Hujan turun tidak biasa, kabut nya menyelimuti sekitar dan udara berubah menjadi dingin, alhasil Kara pun tidak bisa keluar dan hanya bisa berdiam di rumah bersama Putri.
Selama ada Putri, setidak nya Kara bisa merasa tenang.. tapi Putri pada akhir nya harus tetap pulang. Berulang kali Kara meminta Putri untuk menginap dan menemani nya Putri selalu menolak karena pada malam nya dia harus membantu ibunya memasak bahan jualan nya.
"Teteh, Putri pamit pulang ya." Putri akhir nya pamit, Kara pan mau tidak mau mengiyakan, dia juga tidak bisa memaksa Putri.
"Hati - hati di jalan ya, Put." Ucap Kara dan Putri mengiyakan.
Putri menggunakan jas hujan warna merah muda dan kemudian mengendarai motor nya keluar dari gerbang rumah kakek nya Kara. Di sana, Kara kembali merasa kesepian lagi, akhir nya Kara pun masuk ke dalam.
Kara duduk di sofa sambil mengotak atik hp nya, dan berkirim pesan pada teman - teman nya. Kara tersenyum saat membaca kabar baik dari teman - teman nya yang mengatakan mereka akan datang ke tempat Kara, besok.
"Alhamdulillah.. Akhir nya mereka mau kesini." Gumam Kara.
Hari semakin gelap, Kara pun menyalakan lampu dan menutup semua jendela seperti biasanya.. Tapi dia terkejut saat dia baru menyadari ada cairan merah yang menggenang di lantai dapur, padahal Putri baru membersihkan rumah.
Saat Kara mendekat dan menyentuh nya, tekstur nya tidak seperti air, tapi agak sedikit kental dan berbau anyir.. Dari situ Kara pun sadar, itu bukan air tapi..
"Darah!" Gumam Kara, dia langsung bangun dan mencuci tangan nya.
"Kok bisa ada darah di sini, darah siapa!?" Gumam Kara, dia mulai panik dan ketakutan.
Kara yang ketakutan akhir nya keluar dan kembali ke sofa, baru lah dia kembali terkejut dengan kemunculan Nurma yang berdiri di ambang pintu.
"Eh, teteh udah dateng." Ucap Kara, Nurma tersenyum.
"Teteh nggak kehujanan? Di luar hujan nya deres banget, Putri juga belum lama pulang." Ucap Kara, Nurma berjalan masuk dan mendekati Kara.
"Nggak kok, teteh nggak kehujanan." Jawab nya, lagi - lagi cara Nurma menatap Kara membuat Kara merinding.
"Ooh, teteh pakai jas hujan juga ya." Ucap Kara, dia berpikiran positif, Nurma tersenyum.
"Mm, maaf teh.. di dapur ada noda darah, aku nggak tau darah nya siapa.. Teteh tolong bersihin, ya. Aku naik ke atas dulu.." Ucap Kara, Nurma masih diam dan tersenyum.
Kara pun berjalan pergi membawa hp nya dan naik ke atas, dia masih membatin di dalam hati nya dengan keanehan yang terjadi di dapur..
'Darah nya siapa, ya..' Batin Kara, dan tiba - tiba ada suara perempuan yang menjawab.
"Darah saya!"
"DEG!!"
Kara langsung menoleh ke belakang tapi tidak ada siapapun, padahal dengan jelas tadi dia mendengar ada suara perempuan yang menjawab pertanyaan di hatinya.
Menyadari ada yang janggal lagi, Kara akhir nya buru - buru naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar nya.
KE ESOKAN HARINYA.
Pagi harinya, Kara bangun di atas ranjang nya. Ternyata dia tidak di ganggu seperti malam yang sudah - sudah.. Dia bisa tidur meski dia terganggu dengan mimpi nya, lagi - lagi dia bermimpi di rumah lama nya dan justru di mimpinya itu lah dia kembali mendengar teriakan perempuan dari dalam kamar orang tua nya.
Tapi karena mengira itu hanya mimpi, Kara tidak begitu mengkhawatirkan nya. Hari ini.. Dia akan menyambut kedatangan teman - teman nya yang akan menginap di sana.
"Temen teteh ada banyak? Kalo banyak teh biar Putri siapin kasur yang banyak." Ucap Putri, sambil dia menyiapkan makanan Putri.
"Nggak kok, cuma dua. Mereka biar tidur sama aku aja di kamar, cukup kok." Ucap Kara, Putri pun tersenyum.
"Oo, ya sudah atuh kalo begitu mah. Nanti biar Putri siapkan selimut lebih." Ucap Putri, dan Kara manggut - manggut.
Hingga akhir nya hp Kara pun berdering, itu adalah panggilan dari teman nya, Kara pun dengan girang mengangkat panggilan itu.
"Ra, kami di depan rumah paling ujung yang kamu bilang." Ucap teman nya, Kara langsung bergegas keluar.
"Oke - oke, aku keluar." Ucap Kara, dia pun berjalan menuju gerbang.
Saat Kara membuka pintu gerbang dan mempersilahkan teman - teman nya yang datang menggunakan mobil itu masuk, saat yang sama juga Kara kembali mendapat tatapan penuh curiga dari warga yang melihat nya.
Tapi Kara tidak begitu memperdulikan nya dan hanya menyapa sebatas senyum saja lalu kembali menutup gerbang rumah nya.
"Karaaa.. Ya ampun, kangen banget." Ucap teman Kara yang bernama Usi.
"Wahh.. Ra, kok aku baru tau kamu punya kakek di sini, rumah kakekmu keren banget iki, era - era kolonial." Ucap teman Kara yang lain, Caca.
"Aku aja baru tau kalo punya kakek, yuk masuk." Ajak Kara, sambil mengapit kedua lengan teman - teman nya.
Usi dan Caca adalah teman dekat Kara, bisa dikatakan bestie sejak dari jaman SMP dulu. Dan daei kedua nya, Usi adalah orang yang lumayan peka dengan hal tak kasat mata.
Sejak masuk kesana, Usi merasa tidak nyaman.. Tidak tahu kenapa. Tapi karena menghargai sahabat nya, Usi memilih tidak mengatakan apapun..
"Akhir nya aku punya temen tidur.." Ucap Kara penuh haru.
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk