NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 22 : Bukti yang Hilang

Langkah kaki Nadira terasa begitu berat saat melewati koridor lantai utama gedung Mahendra Group. Meskipun secara de facto ia telah melangkah keluar dari rumah utama Mahendra akibat pengusiran kejam oleh Ibu Sarah, status hukumnya yang masih terikat sebagai istri CEO membuatnya terpaksa mendatangi kantor pusat untuk menyelesaikan beberapa draf administrasi yayasan yang masih tertinggal.

Namun, atmosfer di gedung pencakar langit itu telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Saat melewati meja resepsionis dan kubikal kerja staf, keheningan yang mencekam langsung menyambutnya. Tatapan-tatapan ramah dan penuh hormat yang ia terima setelah pesta amal tempo hari kini telah menguap tanpa bekas, digantikan oleh pandangan mata yang dingin, sinis, dan penuh penghakiman. Bisik-bisik miring merayap di belakang punggungnya bagaikan desis ular.

"Lihat, itu dia wanita yang menjual dokumen proyek triliunan kita ke Dirgantara Perkasa."

"Padahal tampangnya polos ya, seperti guru TK tanpa dosa. Ternyata dia mata-mata kompetitor."

"Benar-benar tidak tahu diuntung. Sudah diangkat derajatnya oleh Pak Arka, malah menusuk dari belakang."

Mendengar setiap patah kata yang menyayat hati itu, Nadira mengencangkan cengkeramannya pada tali tas jinjingnya. Dadanya terasa sesak, dan ada rasa panas yang mendesak di sudut matanya. Ia merasa sangat dipermalukan di tempat di mana ia pernah mendedikasikan seluruh energinya dengan tulus. Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau menangis histeris untuk membela diri, Nadira memilih untuk menutup rapat bibirnya. Ia melangkah lurus dengan kepala tegak, menelan semua cemoohan itu dalam kesunyian.

Ia tahu, satu saja kata bantahan yang keluar dari mulutnya di depan publik hanya akan memicu konsumsi media yang lebih liar, yang pada akhirnya akan mencoreng nama baik keluarga Mahendra dan reputasi Opa Wijaya yang sangat ia sayangi. Demi menjaga kehormatan nama yang pernah melindunginya itu, Nadira memilih untuk membiarkan dirinya menjadi martir di bawah bayang-bayang fitnah.

 

Sementara itu, di lantai teratas, ruang kerja pribadi Arka Mahendra dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Berbeda dengan seluruh jajaran direksi yang sudah mengetok palu bersalah untuk Nadira, Arka justru menolak mentah-mentah asumsi yang terlalu mudah tersebut. Logika tajamnya menolak mempercayai bahwa seorang wanita sekaku dan sepolos Nadira mampu menyusun strategi spionase industri yang begitu rapi.

"Putar ulang rekamannya. Sekarang," perintah Arka, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, tertuju pada Kepala Keamanan Gedung yang berdiri gemetar di samping meja kerjanya.

Layar monitor besar di dinding menampilkan rekaman CCTV dari koridor depan ruang arsip data utama yang diambil tiga hari lalu. Di dalam video beresolusi tinggi tersebut, terlihat sesosok wanita dengan postur tubuh dan pakaian yang sangat identik dengan yang dikenakan Nadira hari itu—blazer cokelat muda dengan rambut yang disanggul sederhana—melangkah masuk ke dalam ruang arsip dengan gestur yang tampak tergesa-gesa.

"Semua orang yang melihat ini pasti akan langsung menyimpulkan bahwa Nyonya Muda adalah pelakunya, Tuan Arka," ujar Kepala Keamanan dengan hati-hati. "Bukti visual ini sangat kuat."

Arka tidak bergeming. Sepasang manik mata hitamnya menatap tajam ke arah layar, memperhatikan setiap detail terkecil. "Tunggu. Majukan videonya tepat sebelum lemari dokumen master dibuka."

Petugas IT menekan tombol maju. Di layar, sosok wanita itu mulai mendekati lemari besi tempat penyimpanan dokumen fisik. Namun, tepat beberapa detik sebelum tangannya menyentuh sandi kunci digital lemari...

*Zzzt... Bzzzt...*

Layar monitor mendadak berubah menjadi garis-garis statis abu-abu. Gambar bergoyang hebat sebelum akhirnya mati total, menyisakan tulisan *“No Signal / System Error”* di tengah kegelapan layar.

Arka menyipitkan matanya, rahangnya mendadak mengeras. "Berapa lama gangguan sistem ini berlangsung?"

"Tepat dua belas menit, Tuan. Setelah sistem kembali menyala, ruang arsip sudah kosong, dan draf fisik dokumen itu sudah berada dalam posisi yang sedikit bergeser," jawab petugas IT.

Arka memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja dengan aura dominasi yang mengintimidasi. "Sistem keamanan gedung Mahendra Group menggunakan enkripsi berlapis militer dengan server cadangan otomatis. Mustahil bagi sistem kita untuk mengalami kerusakan teknis secara kebetulan tepat di menit-menit krusial seperti itu. Ini bukan gangguan teknis. Ini adalah sabotase."

Arka berbalik menatap Yudha yang berdiri setia di sisi ruangan. "Minta divisi Cyber Security and IT Forensic untuk melakukan audit total pada pelat server pusat sekarang juga. Saya ingin tahu dari terminal mana perintah pemutusan arus CCTV itu dikirimkan."

Yudha mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya akan langsung mendampingi tim forensik."

 

Dua jam berlalu dalam kecemasan yang kian memuncak. Yudha kembali ke ruang kerja Arka dengan raut wajah yang jauh lebih mendung dari sebelumnya. Ia tidak membawa kabar baik.

"Bagaimana hasilnya, Yudha?" tuntut Arka, langsung berdiri dari kursi kebesarannya.

Yudha menghela napas panjang, menunjukkan sebuah tablet digital yang berisi laporan sistem. "Tuan Arka... tim forensik IT menemukan bahwa seluruh log aktivitas, data cadangan, hingga rekaman CCTV asli untuk rentang waktu dua belas menit yang hilang itu telah dibersihkan secara permanen dari server utama."

"Dibersihkan?" Arka mengerutkan dahi tajam. "Siapa yang memiliki otorisasi untuk melakukan penghapusan tingkat tinggi seperti itu?"

"Itulah masalahnya, Tuan," suara Yudha merendah, sarat akan kekhawatiran. "Perintah penghapusan itu menggunakan *Master Access Key* milik internal direksi, yang hanya dimiliki oleh Anda, mendiang Ayah Anda, dan... komputer di ruangan Ibu Sarah yang terhubung dengan akses eksternal keluarga. Pelaku benar-benar tahu bagaimana cara menghapus jejak digitalnya secara total tanpa bisa dilacak oleh tim siber biasa. Tanpa adanya data log tersebut, secara hukum kita tidak memiliki bukti digital sedikit pun untuk membantah bahwa bukan Nyonya Nadira yang masuk ke sana."

Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menghantam permukaan meja marmernya dengan pelan namun sarat akan kemarahan yang tertahan. Seseorang di dalam lingkaran terdekatnya telah merencanakan hal ini dengan sangat matang, menggunakan kekuasaan keluarga untuk mengunci mati posisi Nadira agar tidak bisa membersihkan namanya. Dan Arka tahu persis, siapa dalang berdarah dingin yang paling diuntungkan dari kehancuran martabat istrinya ini.

 

Di saat yang sama, di sebuah kafe mewah bergaya Prancis yang terletak beberapa blok dari gedung Mahendra Group, Selena sedang duduk santai sambil menyesap secangkir *latte* hangat. Di atas meja di hadapannya, layar ponselnya menampilkan ruang obrolan pribadi dengan seseorang yang ia sewa dari divisi IT Mahendra Group—orang dalam yang telah ia suap dengan nominal fantastis untuk menghapus seluruh log server semalam.

Sebuah senyuman kemenangan yang teramat puas dan licik terukir di wajah rupawan Selena.

"Semuanya berjalan dengan sangat sempurna," gumam Selena dalam hati, menyandarkan tubuhnya pada kursi beludru dengan angkuh. "Log server sudah bersih, rekaman CCTV terputus, dan bukti fisik *flashdisk* serta catatan palsu sudah berada di tangan Ibu Sarah. Nadira... jangankan untuk kembali ke sisi Arka, untuk menatap wajah orang-orang di dunia elite saja kamu tidak akan pernah punya muka lagi."

Selena merasa berada di atas angin. Ia sangat yakin bahwa tanpa adanya bukti tandingan, posisi Nadira sebagai terdakwa tunggal dalam kasus spionase ini tidak akan pernah bisa digoyahkan. Pernikahan kontrak yang begitu ia benci itu kini tinggal menghitung hari untuk berakhir di meja pengadilan dengan kehancuran total bagi nama baik keluarga Nadira.

 

Namun, takdir sering kali menyimpan kejutan kecil di sudut-sudut yang paling tidak terduga.

Malam mulai merayap naik, membungkus area parkir bawah tanah lantai B3 gedung Mahendra Group dalam kesunyian dan pencahayaan yang remang-remang. Area ini adalah area parkir khusus bagi para staf logistik dan teknisi maintenance gedung, yang biasanya sudah sepi melompong setelah pukul delapan malam.

Seorang petugas keamanan senior bernama joko sedang melakukan patroli rutin di antara barisan tiang beton kokoh. Sambil mengarahkan lampu senternya ke sela-sela lantai aspal yang gelap, mata Joko mendadak menangkap sebuah pantulan benda kecil yang berkilau di bawah kolong sebuah mobil boks operasional yang terparkir di sudut terluar dekat tangga darurat.

Joko berlutut, mengulurkan tangannya yang bersarung tangan untuk mengambil benda tersebut.

Itu adalah sebuah *flashdisk* logam berwarna hitam legam dengan goresan kecil di bagian ujungnya. Yang menarik perhatian Joko adalah adanya logo kecil berbentuk burung rajawali perak yang terukir samar di permukaannya—logo eksklusif yang biasa digunakan oleh tim siber eksternal yang disewa oleh pihak luar.

Joko yang sudah bekerja selama belasan tahun di Mahendra Group tahu betul mengenai prosedur penemuan barang mencurigakan, terutama di tengah situasi perusahaan yang sedang diguncang isu kebocoran data.

"Ini... bukankah ini tipe perangkat penyimpanan berkecepatan tinggi yang biasa digunakan untuk menyalin data server massal?" bisik Joko pada dirinya sendiri, menatap benda di tangannya dengan dahi mengernyit. Firasatnya mengatakan bahwa benda ini memiliki kaitan erat dengan kekacauan yang sedang menimpa perusahaan atasannya. "Saya harus segera menyerahkan benda ini langsung ke ruangan Tuan Arka di lantai atas."

Joko memasukkan *flashdisk* misterius itu ke dalam saku kemeja seragamnya, lalu berbalik dengan langkah tergesa-gesa menuju koridor lift utama.

Namun, area parkir B3 malam itu ternyata tidak sesunyi yang ia bayangkan.

Tepat saat Joko melangkah melewati pilar beton nomor 14 yang remang-remang, sebuah bayangan hitam besar mendadak melesat keluar dari balik kegelapan dengan kecepatan yang luar biasa. Sebelum Joko sempat bereaksi atau berteriak meminta pertolongan, sebuah pukulan benda tumpul yang sangat keras menghantam bagian belakang lehernya tanpa ampun.

*Brak!*

"Ugh..." Joko mengerang pendek, pandangannya seketika mengabur dan kabur. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, ambruk dengan keras ke atas lantai aspal yang dingin dalam keadaan tidak sadarkan diri sepenuhnya. Senter di tangannya terlepas, menggelinding jauh memancarkan pendar cahaya yang sia-sia ke arah dinding.

Sosok misterius yang mengenakan jaket *hoodie* hitam ketat dan masker wajah itu segera berlutut di samping tubuh Joko. Dengan gerakan yang sangat terlatih dan cekatan, jemarinya meraba saku kemeja seragam petugas keamanan tersebut, lalu menarik keluar *flashdisk* hitam berlogo rajawali perak yang baru saja ditemukan.

Pria bermasker itu menatap benda di genggamannya selama satu detik, memastikan itu adalah barang yang dicarinya, sebelum menyimpannya kembali ke dalam saku jaketnya sendiri.

Tanpa membuang waktu sepeser pun, sosok misterius itu berdiri kembali, melangkah cepat menyusuri bayang-bayang kegelapan koridor tangga darurat, dan menghilang ke dalam keheningan malam, menyisakan tubuh Joko yang terkapar pingsan sendirian di bawah pendar lampu parkir yang remang-remang.

Bukti kunci terakhir yang bisa menjadi titik balik untuk membongkar kebusukan rencana Selena dan membersihkan nama baik Nadira kini telah resmi dicuri kembali, melempar teka-teki misteri kebocoran data Mahendra Group ke dalam pusaran kegelapan yang jauh lebih dalam dan berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!