Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33: Toko Sistem
System Glitch
Waktu: 15:00 PM
Suasana di lantai 15 Markas Blake Group perlahan mulai tenang setelah jam makan siang yang sibuk.
Tim kreatif Rosewood Media sedang sibuk menyusun timeline produksi, sementara Stella duduk santai di kursi kebesarannya, menikmati secangkir teh putih hangat yang sengaja disediakan oleh staf dapur eksekutif.
"Host, poin Karmamu sudah menumpuk sebanyak 350 poin. Kau tidak mau melihat-lihat katalog barang daganganku?"
Vix tiba-tiba muncul dari balik monitor, melayang turun dan duduk manis di atas keyboard Stella.
Stella meletakkan cangkir tehnya. Ia memang penasaran sejak awal tentang fungsi angka-angka yang terus bertambah setiap kali ia menyelesaikan misi absurd rubah ini.
"Katalog? Maksudmu poin-poin itu bisa ku gunakan?" batin Stella.
"Tentu saja! Kau pikir aku menyuruhmu mempermalukan diri di depan Pangeran Es itu secara cuma-cuma?"
Vix mendengus bangga, ekornya mengibas anggun.
"Buka Toko Sistem. Bilang saja di dalam hatimu."
Buka Toko Sistem, perintah Stella dalam hati.
Seketika, layar holografik biru yang jauh lebih besar dan lebar dari biasanya terbentang di depan mata Stella.
Tampilannya mirip dengan etalase game RPG tingkat tinggi, menampilkan puluhan item yang terkunci dan beberapa yang bersinar terang tanda bisa dibeli.
[ TOKO SISTEM VIX ]
Saldo Poin Karma: 350
[ Kategori: Atribut Dasar ]
Tambahan +10 Stamina Permanen (Harga: 150 Poin)
Tambahan +10 Karisma Permanen (Harga: 150 Poin)
[ Kategori: Skill Permanen ]
Bela Diri Jarak Dekat Lv. 1 (Harga: 200 Poin)
Mata Elang: Deteksi Kebohongan Mikro (Harga: 300 Poin)
[ Kategori: Item Habis Pakai ]
Pil Penawar Racun Tingkat Tinggi (Harga: 100 Poin)
Parfum Manipulator: Membuat target mengatakan jujur selama 1 menit (Harga: 250 Poin)
Mata monolid Stella berbinar melihat deretan kemampuan itu. Otak cerdasnya langsung menganalisis prioritas.
Stamina memang penting, tapi saat ini nyawanya tidak sedang terancam secara fisik.
Mengingat ia berada di lingkungan yang dipenuhi ular bermuka dua seperti Chloe dan para petinggi perusahaan, kemampuan membaca niat buruk adalah senjata yang paling mutlak.
"Beli Skill Mata Elang," perintah Stella mantap.
[ Ding! ]
[ Pembelian Berhasil! Saldo Poin Karma: 50. ]
[ Skill 'Mata Elang: Deteksi Kebohongan Mikro' telah menyatu dengan Host. Kau sekarang bisa melihat getaran kebohongan dari ekspresi wajah seseorang dengan akurasi 98%. ]
Tiba-tiba, pandangan Stella terasa sedikit kabur selama sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali jernih.
Rasanya seperti ada lapisan kabut yang baru saja diangkat dari matanya.
"Pilihan yang sangat cerdas, Nona Tengil," puji Vix, mengunyah ujung ekornya sendiri.
"Kemampuan itu akan sangat berguna. Karena firasat rubah ku mengatakan, musuhmu tidak sedang diam saja."
Firasat Vix tidak pernah salah. Di saat yang sama, di sudut lain kota London, rencana kotor kembali bergulir.
Waktu: 16:30 PM
Gudang Peralatan 'Indie Cam', Pinggiran Kota London
Gudang penyewaan alat penyiaran itu terlihat sepi. Pemiliknya, seorang pria paruh baya bernama Thomas, sedang menghitung stok kamera ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu geser gudangnya.
Chloe Rosewood melangkah turun dari mobil, mengenakan trench coat panjang berwarna gelap, topi bertepi lebar, dan kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya.
Ia melangkah masuk ke dalam gudang yang berbau debu dan logam tersebut, hidungnya mengernyit jijik.
"Maaf, Nona. Kami sudah tutup," sapa Thomas tanpa menoleh.
"Aku tidak datang untuk menyewa, Thomas," suara Chloe terdengar dingin dan penuh perhitungan.
Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap pria itu dengan pandangan merendahkan.
"Aku datang untuk memberimu penawaran
yang akan mengubah hidupmu."
Thomas berbalik, matanya membelalak mengenali wajah salah satu pewaris Rosewood Media yang wajahnya sering wara-wiri di televisi.
"N-Nona Rosewood? Ada yang bisa saya bantu? Tim dari perusahaan Anda baru saja mengamankan kontrak besar dengan kami pagi tadi."
Chloe menyeringai tipis.
Ia merogoh tas tangannya yang mahal dan mengeluarkan sebuah koper kecil, meletakkannya di atas meja kerja Thomas yang berantakan.
Bunyi klik terdengar saat Chloe membuka koper tersebut.
Mata Thomas nyaris melompat keluar melihat tumpukan uang tunai Poundsterling yang tersusun rapi di dalamnya. Jumlahnya setidaknya sepuluh kali lipat dari nilai kontrak yang ia tandatangani bersama Stella.
"Ini adalah lima ratus ribu Poundsterling, Thomas. Tunai. Bersih. Dan tidak bisa dilacak," bisik Chloe, suaranya bagai bisikan iblis.
Thomas menelan ludahnya dengan susah payah. "U-untuk apa uang sebanyak ini, Nona?"
"Tiga hari lagi, tim Stella akan datang ke lokasimu untuk mengambil peralatan broadcasting utama. Jadwal tayang percobaan bersama Blake Group tidak bisa ditunda satu detik pun,"
Chloe mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Aku mau kau menyabotase lensa kamera utama dan sistem audio yang akan mereka sewa. Buat kerusakannya terlihat seperti kecelakaan teknis saat hari penyiaran. Biarkan Stella menanggung malu karena peralatannya mati total saat siaran langsung di depan Neo Hayes Blake."
Thomas pucat pasi. "T-tapi... Nona Stella sudah membuat kontrak penalti. Kalau alat kami rusak saat hari H, perusahaan saya akan menanggung ganti rugi 50% dan nama saya akan hancur di industri ini."
"Berapa pun nilai penalti itu, lima ratus ribu ini lebih dari cukup untuk membayarnya, bahkan cukup untuk membuatmu membuka perusahaan baru di negara lain,"
Chloe memutar matanya malas, kesabarannya mulai menipis.
"Lakukan ini, dan kau akan kaya raya. Tolak tawaranku, dan aku akan memastikan ayahku menggunakan seluruh koneksi Rosewood untuk menutup gudang rongsokan mu ini besok pagi. Pilih mana?"
Keserakahan dan ketakutan akhirnya mengalahkan integritas Thomas. Pria itu mengangguk dengan tangan gemetar, meraih koper berisi uang panas tersebut.
Chloe tersenyum puas, memakai kembali kacamata hitamnya. Bersiaplah untuk jatuh dari tebing yang sangat tinggi, Kakak sayang.
Waktu: 18:00 PM
Lobi Utama Blake Group
Jam kerja telah berakhir. Langit London sudah berubah menjadi gelap, dihiasi rintik hujan yang kembali turun membasahi kaca-kaca gedung raksasa itu.
Stella berjalan keluar dari lift menuju lobi utama, tas kerjanya tersampir elegan di bahu.
Keempat stafnya sudah ia izinkan pulang lebih awal sebagai hadiah karena telah bekerja sangat efisien hari ini.
Ia berniat memanggil taksi untuk kembali ke apartemennya dan tidur tanpa gangguan.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah siluet yang sangat tinggi dan dominan berdiri membelakanginya di dekat pintu putar kaca.
Neo Hayes Blake.
To be Continued