NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Flashback

Di balik luka bakar yang mengerikan itu, kilasan memori kelam satu tahun lalu berputar kembali di kepala Selena.

Kebencian di matanya kian berkobar saat ia mulai menceritakan rahasia besar yang selama ini terkubur rapat.

Semua ini bermula dari keserakahannya. Selena merencanakan kecelakaan maut untuk dirinya sendiri agar uang asuransi jiwanya cair.

Ia telah menyusun konspirasi rapi, menyiapkan jasad wanita lain yang sudah rusak di dalam mobil, dan meletakkan semua kartu identitasnya di sana.

Namun, takdir mempermainkannya. Saat ia hendak melarikan diri setelah menyabotase mobil tersebut, ledakan tangki bensin terjadi lebih cepat.

Kobaran api menyambar tubuhnya, membuat ia terkena luka bakar yang teramat parah di bagian wajah dan tubuh.

Dengan sisa kekuatan dan wajah yang hancur, Selena terpaksa bersembunyi dari kejaran hukum dan publik.

Saat bersembunyi di Puncak dalam kondisi cacat dan terasing, sebuah kebetulan yang gila terjadi.

Dari balik jendela tempat persembunyiannya, ia melihat Amira yang mempunyai wajah sama persis dengan wajah cantiknya yang dulu sebelum terbakar.

Melihat kehadiran Amira, sebuah rencana baru yang jauh lebih licik dan iblis langsung tercipta di benak Selena yang sudah terganggu.

Ia tidak mau hidup selamanya dengan wajah monster.

Amira adalah tiketnya untuk kembali menjadi nyonya kaya di samping Daniel.

Selena mulai mengintai pergerakan Daniel. Satu bulan lalu, ia menyuap salah satu staf di kantor Daniel untuk menaruh zat penenang ke dalam minuman Daniel.

Itulah penyebab utama kecelakaan Daniel, karena Selena memberikan obat agar Daniel mengantuk saat berkendara di jalur Puncak pada malam hari.

Di saat yang sama, anak buah Selena telah menggiring dan mendorong Amira ke tengah jalanan yang gelap.

Jadi, semuanya sudah Selena rencanakan agar Amira mati ditabrak oleh mobil Daniel malam itu.

Rencana awal Selena sangat sederhana namun kejam: Amira mati tertabrak, jasadnya hancur, dan semua orang akan mengira itu adalah kecelakaan murni.

Setelah Amira tewas, Selena akan mencairkan asuransi baru, menggunakan uang itu untuk operasi rekonstruksi wajah total meniru wajah Amira, lalu kembali ke kehidupan Daniel sebagai "Amira" yang baru.

Namun, rencana itu gagal karena Amira selamat dari kecelakaan maut tersebut dan justru dinikahi oleh Daniel.

"Kamu seharusnya mati malam itu, Amira!" desis

Selena dengan mata melotot gila, menatap Amira yang terbaring di ranjang operasi.

"Tapi tidak apa-apa, jika suamiku tidak bisa membunuhmu dengan mobilnya, maka para dokter ini yang akan menguliti wajah cantikmu hidup-hidup untukku!"

"S-selena... tolong hentikan semuanya," ucap Daniel dengan suara parau, menatap nanar ke arah mantan istrinya.

Air mata mengalir di sela-sela wajahnya yang menegang.

"Aku mohon, jangan sakiti Amira dan Felia. Aku mencintaimu, Selena. Aku selalu mencintaimu."

Kata-kata itu bagai petir di siang bolong bagi Amira.

Di atas ranjang operasi yang dingin, Amira menatap suaminya yang memang tidak pernah mencintainya.

Hatinya yang semula hancur kini mati rasa. Seluruh perhatian, pelukan, dan janji manis Daniel selama satu bulan terakhir ini runtuh tak berbekas.

"Jadi semuanya hanya sandiwara..." gumam Amira lirih, menatap langit-langit gudang dengan pandangan kosong.

Air matanya menetes pasrah. Dia hanyalah sebuah pelarian, pengganti dari sosok wanita yang tak pernah bisa Daniel lupakan.

Daniel sengaja mengabaikan tatapan hancur Amira.

Fokusnya kini adalah mengalihkan perhatian Selena sepenuhnya.

"Apa Mama Gayatri tahu tentang ini?" tanya Daniel, mencoba memancing emosi Selena agar terus berbicara.

Mendengar nama itu, wajah rusak Selena seketika mengencang penuh kebencian.

"Mama? Dia wanita yang aku benci karena selalu menuntut aku agar sempurna!! Wanita tua itu tidak tahu apa-apa! Dia hanya peduli pada gengsi dan hartamu, Daniel!" pekik Selena gila, tertawa melengking hingga membuat para dokter di belakangnya mundur setapak.

Selena tidak menyadari bahwa di balik kata-kata cinta palsunya, Daniel sedang mengulur waktu di mana anak buahnya sudah siap masuk.

Melalui sela-sela jendela gudang yang pecah di lantai atas, moncong senjata dari tim keamanan Daniel sudah membidik ke arah anak buah Selena, menunggu kode terakhir untuk memecahkan keheningan maut tersebut.

"Cepat operasi wajahnya!!" pekik Selena histeris, memberi perintah mutlak kepada para dokter gadungan di sampingnya.

Seringai gilanya semakin melebar melihat Amira yang sudah tidak berdaya.

Salah seorang dokter membius Amira dengan masker yang langsung membekap hidung dan mulutnya rapat-rapat.

Amira sempat meronta, namun gas bius berdosis tinggi itu merayap cepat ke sistem sarafnya.

Dalam hitungan detik, Amira jatuh pingsan, pandangannya kabur lalu menggelap sepenuhnya tepat setelah melihat air mata Felia yang terus menetes.

BRAKK!!

Pintu besi gudang tua itu hancur terlempar ke lantai.

Suara pecahan kaca jendela atas berhamburan laksana hujan kristal.

"ANGKAT TANGAN!! Jangan bergerak!"

Belasan pria bersenjata lengkap dengan pakaian taktis hitam menerobos masuk, langsung mengunci pergerakan anak buah Selena dalam hitungan detik.

Moncong senjata laras panjang kini terarah tepat ke dada Selena dan para dokter.

Selena terkejut ketika melihat anak buah Daniel datang.

Ia mundur selangkah, menatap sekeliling dengan panik sebelum pandangannya tertuju pada Daniel.

Sadar bahwa pengakuan cinta Daniel beberapa menit lalu hanyalah taktik busuk untuk menjebaknya, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa dikhianati.

"Kamu bohong, Mas!! Aku benci kamu!!" teriak Selena melengking, suaranya melengking memenuhi langit-langit gudang, penuh amarah dan kegilaan yang memuncak karena rencananya kembali hancur di tangan pria yang sama.

Anak buah Daniel segera melepaskan ikatan Daniel dan Felia.

Felia langsung menghambur ke pelukan Daniel, menangis tersedu-sedu sambil membenamkan wajahnya di dada sang ayah.

Daniel mendekap putrinya erat, napasnya lega namun matanya masih menatap tajam ke arah Selena yang kini dikerumuni oleh tim keamanan.

"Tangkap wanita ini dan para dokter itu!" perintah Daniel dengan suara dingin dan penuh otoritas.

"Pastikan mereka tidak punya celah sedikit pun untuk lolos. Bawa mereka ke penjara!!"

Selena meronta hebat saat tangannya diborgol, memaki dan berteriak layaknya orang kesetanan, namun suaranya perlahan menjauh seiring tim keamanan menyeretnya keluar dari gudang yang pengap itu.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Daniel segera berlari ke arah ranjang operasi dan melepaskan ikatan Amira.

Tubuh istrinya terkulai lemas akibat pengaruh obat bius yang masih kuat.

Daniel menepuk-nepuk pipi Amira dengan panik, namun wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda sadar.

"Amira... Sayang, bangun!" seru Daniel.

Khawatir akan efek samping obat bius tersebut terhadap kondisi kesehatan Amira, Daniel lekas membawa Amira ke rumah sakit.

Ia menggendong istrinya dengan penuh kehati-hatian menuju mobil, sementara Felia terus mengekor di belakangnya, menggenggam erat ujung kemeja Daniel.

Malam yang mencekam itu akhirnya berakhir, namun luka di hati mereka—terutama setelah mendengar pengakuan Daniel tadi—masih menyisakan retakan yang mungkin butuh waktu lama untuk disembuhkan.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!