Sebuah rasa, yang mungkin tidak seharusnya ada.
Kenapa? karena aku sadar tidak ada yang bisa memaksa cinta hadir kepada siapa, dan harus seperti apa.
Menikah adalah impian setiap orang. Aku selalu memimpikan menjadi pengantin wanita yang sangat bahagia.
Bagaimana perasaan kalian jika harus menikah, karena keadaan yang memaksa.
Ok, penasaran bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Aku bukan balita
Kirei tengah siap-siap membereskan barang-barangnya, sedangkan Gibran ia tengah membereskan biaya administrasi selama Kirei di rawat.
"Gibran kenapa lama sekali sih?" Kirei menggerutu,ia kini duduk di tepi ranjang sembari mengayunkan kedua kakinya.
Gibran baru saja selesai dengan urusannya, ia segera kembali menuju ruang rawat Kirei.
"Rein, apa kau sudah siap?" tanya Gibran yang baru saja masuk kedalam ruangan.
"Sudah, dari tadi ! Kau lama sekali !" Kirei turun dari tempat tidurnya, ia hendak meraih tas berukuran besar yang berisi barang-barangnya, namun dengan cepat di tepis oleh Gibran.
"Biar aku saja !" Gibran mengambil tas itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih jemari Kirei dan menuntunnya berjalan keluar ruangan.
"Gibran, kita bukan ingin menyebrang jalan ! Kenapa kau harus menuntunku segala?"tanya Kirei yang merasakan tangannya di genggam erat oleh Gibran.
Gibran menoleh ke arah tangannya yang tanpa ia sadari sudah menggenggam erat tangan Kirei, ia gelagapan mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan istrinya tadi.
"Aku, hanya membantumu berjalan !" jawab Gibran terbata-bata.
Kirei mengernyitkan keningnya, jawaban Gibran sungguh ambigu.
"Aku bukan balita Gibran! Kenapa juga kau harus membantuku berjalan?"
Gibran menahan nafasnya, ia kehabisan kata-kata. Tapi, bukan Gibran namanya kalau tidak pandai berkilah.
"Kalau nanti kau tiba-tiba pusing terus terjatuh, bagaimana? Aku juga yang repot! Sudah jangan banyak bertanya lagi!"
Kirei mendengus kesal mendengar jawaban Gibran, ia hanya bisa menuruti perkataan suaminya itu.
Gibran sudah berada di depan mobilnya, ia berjalan menuju bagasi untuk menyimpan barang bawaannya.
"Masuk!" Gibran memberi instruksi, dan di angguki oleh Kirei.
Gibran mulai menyalakan mesin mobilnya, dan segera melajukan kendaraannya.
"Kau mau mampir dulu ke suatu tempat, atau mau langsung pulang ke rumah?"tanya Gibran.
"Aku mau pulang saja!" jawab Kirei seadanya.
Gibran mengangguk, ia kini fokus melajukan kendaraanya. Jalanan sore ini cukup lengang, jadi tidak butuh lama mobil Gibran kini sudah berada di basemen Hotel tempatnya tinggal.
Gibran segera turun dan membukakan pintu untuk Kayla, tak lupa Gibran juga mengambil tas yang tadi ia simpan di dalam bagasi mobil.
"Yuk!" ajak Gibran, lagi-lagi tanpa ia sadari tangannya kembali menggenggam jemari Kirei.
"Gibran, lepaskan tanganku! Aku bisa berjalan sendiri!" Kirei mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Gibran, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga suaminya.
"Sekali lagi kau berontak ! Aku akan menghukummu!"gertak Gibran yang langsung membuat Kirei membungkam mulutnya rapat.
Gibran masuk kedalam lift, dan menekan tombol menuju lantai kamarnya.
Setelah pintu lift terbuka, ia melangkahkan kaki panjangnya menuju Apartemennya.
Kini Kirei sudah berada di dalam Apartemen milik Gibran, ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan langsung menjatuhkan tubuhnya.
"Akhirnya, aku bisa merasakan lagi kasur empuk ini!" Kirei merentangkan tangannya dan mengelus-elus tampar tidur itu, bahkan sesekali Kirei juga berguling-guling.
Gibran terkekeh melihat tingkah lucu istrinya itu, ia berjalan mendekati Kirei sembari memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Kau seperti anak kecil saja!"
"Biarkan saja!" Kirei tak memperdulikan perkataan Gibran, ia tetap menikmati tempat tidurnya.
"Mau makan apa? Biar aku pesankan!" tanya Gibran.
"Tidak usah beli, aku akan memasak saja." Kirei beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju dapur.
"Memangnya kau sudah kuat untuk memasak?"tanya Gibran, ia mengikuti langkah kaki istrinya menuju dapur.
"Kuatlah, aku kan bukan anak manja!" Kirei membuka lemari pendingin, dan mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk di masak.
"Aku akan membantumu!" Gibran berjalan mendekati Kirei yang tengah mencuci sayuran.
"Tidak usah! Kau duduk manis saja disana!" Kirei menunjuk ke sebuah meja makan yang terdapat beberapa kursi disana.
''Baiklah !" Gibran menuruti perkataan istrinya, ia kini duduk sembari terus memandangi Kirei.
"Seandainya aku bertemu denganmu lebih dulu, mungkin kau akan menjadi satu-satunya wanita yang ada di hatiku saat ini, bukan Kayla."
Gibran mengalihkan kembali ingatannya pada Kayla, ia sangat merindukan wanitanya.
"Kayla, kau ada dimana sekarang?"batinnya.
Bersambung..
sad ending ❌
aneh ending ✔️