Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Perpisahan yang panjang
...----------------...
Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Langit Jakarta sore itu tampak gelap, awan hitam menggantung rendah, seolah alam pun tahu bahwa akan ada sesuatu yang hancur malam ini. Di dalam mobil, aku terus menggenggam tangan Astrid dengan sangat erat. Telapak tangannya basah oleh keringat, detak jantungnya bisa kurasakan melalui jemarinya yang gemetar.
"Ka, kalau nanti Ayah lu benar-benar marah... biarin gue aja yang nerima semuanya," bisik Astrid pelan. Matanya menatap ke luar jendela dengan sorot yang ketakutan.
"Gak, Strid. Gue udah janji sama kakak-kakak gue buat ngadepin ini bareng. Lu cuma perlu ada di samping gue," balasku meyakinkannya.
...****************...
"Andra sebenernya apa yang mau kamu omongin sekarang" tanya Ayah kepada kak Andra.
"Kita bahas setelah Arka dateng aja yaa yah biar semuanya tau" balas kak andra.
"Udah lah ayah, kita kan lagi ngumpul gini, jarang jarang loh kita kumpul sama anak anak lengkap, mending nikmatin dulu aja ngobrolnya baru bahas hal serius" balas ibu yang mencairkan suasana.
Setelah itu di ruang makan keluarga Albian saling bertukar cerita kepada Ibu, seperti biasa Ibu adalah orang yang ceria dan penuh energi, semua terlihat menikmati obrolan kecuali Ayah yang hanya diam memainkan Ponselnya.
Sesampainya Aku dan Atrid di kediaman utama keluarga Albian, suasana rumah terasa jauh lebih kaku dari biasanya. Kami melangkah melewati gerbang besar, dan saat pintu utama terbuka, aku disambut oleh pemandangan yang membuat nyaliku menciut. Di sana sudah duduk Kak Andra, Kak Zalya, Kak Hendra, dan si bungsu Ellisya. Namun, yang membuat napasku tertahan adalah keberadaan Ibu (Sartika Dewi Albian) yang duduk dengan wajah cemas, dan Ayah (Herman Albian) yang duduk di ujung meja dengan posisi tubuh yang sangat tegak, memegang ponselnya dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus dinding beton.
"Arka, akhirnya kamu dateng juga, kamu ajak siapa itu?" sambut Ibu dengan suara bergetar.
Ayah sama sekali tidak menoleh. Dia masih sibuk dengan ponselnya, bahkan tidak sedikit pun melirik Astrid yang berdiri di belakangku. Kak Andra mulai berbicara, wajahnya tampak sangat lelah namun berusaha tetap tenang. "Ayah, ini Arka dan... Astrid sudah sampai."
Ayah perlahan meletakkan ponselnya. Dia menatapku, lalu tatapannya beralih ke Astrid. Mata elangnya memicing, meneliti wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang sangat merendahkan. Seisi ruangan mendadak hening, seolah oksigen di dalam ruangan itu tersedot keluar.
"Apa maksudnya ini?" suara Ayah berat, rendah, dan sangat dingin. "Kenapa ada orang asing di rumah ini?"
Kak Andra mencoba masuk. "Mungkin kita bisa omongin ini sambil makan dul—"
"CUKUP, ANDRA!" bentak Ayah. Suaranya menggelegar, membuat piring-piring di atas meja sedikit bergetar. "Sudah terlalu lama Ayah menunggu, dan sudah terlalu banyak kebohongan yang kalian tutup-tutupi dari Ayah. Sekarang, jelasin apa maksud dari semua ini!"
Keluarga kami yang biasanya terlihat sempurna di mata publik, kini terasa seperti medan perang. Ellisya, yang baru berusia remaja, tampak sangat ketakutan melihat ayahnya semurka itu. Ia hampir menangis.
"Begini, Yah..." Kak Andra mencoba menjelaskan kembali, namun sekali lagi, ia disanggah dengan kasar.
"Dengar ya! Tidak ada yang boleh menjelaskan selain orang yang punya masalah itu sendiri!" tunjuk Ayah padaku. "Arka, Ini pasti ulah kamu sekarang Jelasin kenapa wanita itu ada di sini."
Astrid menggenggam tanganku dengan sangat erat, kuku-kukunya nyaris menembus kulitku. Panik melanda diriku, namun aku tidak bisa lari lagi. Aku berdiri di depan Ayah, menelan ludah, dan mulai menceritakan semuanya. Lima menit terasa seperti lima jam. Aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Astrid di klub malam, tentang kesalahan fatal yang kulakukan, dan tentang bayi yang kini sedang dikandung Astrid.
Ayah mendengarkan dalam diam. Namun, saat aku menyelesaikan kalimat terakhirku, ketenangan itu pecah. Tanpa peringatan, Ayah meraih piring porselen di depannya dan melemparkannya tepat ke bawah kakiku.
Prang!
Piring itu pecah berkeping-keping, serpihannya melukai kakiku, namun aku tidak peduli.
"Goblok! Anak gak berguna!" Ayah berdiri, dia mulai memaki-maki dengan bahasa yang tidak pernah kudengar sebelumnya dari mulutnya. Dia menghancurkan semua makanan yang ada di atas meja, menyapu bersih gelas, botol minuman, hingga vas bunga dengan tangan kosong.
Ellisya mulai menjerit ketakutan memeluk kak Zalya, Kak Zalya dengan sigap membawa adiknya itu keluar dari ruangan agar tidak melihat ayahnya yang tampak seperti orang kesurupan. Sekarang, di ruang makan yang kini berantakan itu, hanya tersisa aku, Astrid, Ayah, Ibu, Kak Andra, dan Kak Hendra.
"Orang kaya lu gak pantes ada di keluarga Albian! Sekarang pergi, dan jangan pernah anggap keluarga ini sebagai keluarga lu lagi!" raung Ayah, suaranya parau karena amarah.
"Hey hey sayang udah udah, tenang dulu sayang" ucap ibu sambil memeluk ayah untuk menenangkannya.
Astrid, meski tubuhnya gemetar hebat, melangkah maju. "Om... maaf karena sudah mengacaukan kehidupan putra Om. Astrid salah, Astrid paham itu. Astrid mohon, jangan buang Arka dari keluarga ini. Astrid tidak akan minta apa pun dari Om. Astrid janji, setelah ini, Astrid akan menghilang dari kehidupan keluarga Om dan tidak akan pernah menyebut nama Albian lagi."
Ayah menatap Astrid dengan tatapan jijik yang luar biasa. "Berisik! Wanita jalang rendahan kayak lu tahu apa tentang kehormatan keluarga ini? Pergi lu berdua dari sini!"
Mendengar kata 'jalang' meluncur dari mulut sang Ayah, sesuatu di dalam diriku meledak. Rasa hormatku yang kupupuk selama ini hancur seketika. Aku tidak bisa lagi menoleransi penghinaan ini, tidak untuk Astrid.
Dengan amarah yang membakar, aku menyambar gelas kristal di dekatku dan melemparkannya ke lantai dengan tenaga penuh.
PRANG!
Suaranya memekakkan telinga, menciptakan keheningan yang lebih mencekam.
"Di sini Arka yang salah, dan Arka tahu itu, Yah!" teriakku, suaraku menggetarkan ruangan. "Arka rela dibuang dari keluarga Albian! Tapi kalau Ayah menjelek-jelekan Astrid, Arka tidak terima! Ini memang salah kami, tapi Astrid tidak pantas dihina seperti binatang oleh orang yang kelakuannya sendiri bahkan lebih rendah dari binatang!"
Ayah mematung, menatapku tidak percaya. Matanya melebar, napasnya memburu.
Aku melanjutkan, suaraku kini lebih dingin dan penuh ancaman. "Arka siap keluar dari rumah ini sekarang juga. Tapi Ayah harus kasih kompensasi atas warisan yang harusnya jadi hak Arka, meski sedikit. Kalau tidak... Arka tidak akan segan-segan mengungkap bahwa putra dari keluarga albian menghamili seorang gadis yang gak jelas asal usulanya, yang mungkin bakal Ayah simpan rapat-rapat!"
Ancaman itu menghantam Ayah tepat di titik lemahnya. dia tahu aku tidak sedang menggertak. Ayah terdiam sesaat, wajahnya yang merah padam perlahan memucat. Ia menatapku dengan tatapan yang penuh kebencian, namun di balik itu, ada ketakutan yang nyata.
"Ester! (Kepala pelayan kediaman utama keluarga Albian)" panggil Ayah dengan suara gemetar.
Sang kepala pelayan muncul dengan wajah ketakutan. "Iya, Tuan?"
"Siapkan berkas-berkas rumah ke 13 yang berada di Bandung. Pindahkan nama rumah itu atas nama Arka sekarang juga, lalu berikan padanya," perintah Ayah dengan nada sinis yang menyakitkan. "Dan kau, Arka... sekarang keluar dari rumah ini dan bawa semua barang-barangmu. Jangan pernah menoleh ke belakang!"
Ibu menangis tersedu-sedu di pelukan Kak Hendra, sementara Kak Andra hanya bisa menunduk, memejamkan mata dengan tangan terkepal. Mereka semua tahu bahwa ini adalah titik tidak bisa kembali.
Aku tidak membuang waktu. Aku menarik tangan Astrid, keluar dari ruangan makan yang kini mirip zona perang itu. Kami melangkah keluar, melewati lorong-lorong rumah mewah ini untuk terakhir kalinya. Udara malam di luar terasa dingin, namun bagi kami, itu adalah udara kebebasan.
...****************...
Kami sampai di mobil. Aku menyalakan mesin, tanganku masih gemetar hebat. Astrid duduk di sampingku, dia tidak menangis, dia hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Ka... apa kita beneran bakal baik-baik saja?" tanya Astrid pelan saat mobil mulai meninggalkan gerbang rumah keluarga Albian.
"Gue gak tahu, Strid," jawabku jujur, suaraku parau. "Tapi yang gue tahu, sekarang kita cuma punya satu sama lain. Rumah di Bandung itu... itu tempat di mana kita bakal mulai semuanya dari awal. Tanpa aturan mereka, tanpa intimidasi mereka."
"Tapi rumah itu... itu pemberian Ayah lu yang penuh kemarahan," Astrid menatapku dengan khawatir.
"Itu hak gue, Strid. Itu adalah kompensasi atas semua tekanan yang mereka kasih ke gue selama bertahun-tahun. Sekarang lu bakal gue Anterin pulang dulu sementara gue bakal rapihin barang barang gue lalu nanti gue bakal tinggal sebentar di rumah lu ya, gak lama kok paling cuma 3 hari, dan satu hal lagi, fokus kita cuma satu: dedek bayi dan masa depan kita." ucap arka yang menenangkan Astrid sambil memegang pipi astrid.
"Astrid gue serius kali ini, lu mau nikah sama gue ?" ucap Arka.
sambil menangis Astrid menerima Arka "iyaa.. gue mau"
Kami berkendara dalam malam yang panjang. Sepanjang jalan, bayangan wajah Ayah yang marah dan air mata Ibu terus menari di kepalaku. Aku baru saja memutus tali keluarga yang sudah terjalin puluhan tahun hanya dalam hitungan menit. Aku merasa seperti pria paling bodoh di dunia, namun di saat yang sama, aku merasa seperti pria paling beruntung karena Astrid ada di sampingku.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Kak Andra.
Kak Andra: “Arka, maaf gue gak bisa ngebela lu tadi. Ayah udah kalap. Rumah di Bandung udah gue urus surat-suratnya, itu udah sah milik lu. Jaga Astrid baik-baik. Sekarang lu beresin barang lu terus Jangan balik ke rumah sebelum Ayah tenang. Gue bakal kabarin lu kalau ada apa-apa.”
Aku membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Kak Andra, si kaku yang dingin, ternyata masih mempedulikan nasib adiknya.
"Apa kata Kak Andra?" tanya Astrid pelan.
"Dia bilang, kita harus jaga diri baik-baik," jawabku singkat. Aku membelokkan mobil menuju arah rumah Astrid
Perjalanan malam itu terasa begitu berat. Aku tahu besok pagi, seluruh media sosial mungkin akan penuh dengan gosip tentang 'anak keluarga Albian yang diusir'. Aku tahu, reputasiku akan hancur lebur besok pagi. Namun, saat aku melihat Astrid yang tertidur kelelahan di bahuku, aku menyadari bahwa aku tidak lagi peduli pada uang, status, atau kehormatan nama keluarga.
Dunia mungkin menganggapku orang bodoh karena membuang segalanya. Tapi malam itu, aku sadar bahwa aku baru saja membeli kebahagiaan sejati dengan harga yang sangat mahal. Harga yang dibayar dengan kehancuran dinasti Albian yang selama ini kukenal.
Kami melaju menembus malam, menjauh dari lampu-lampu Jakarta yang gemerlap, menuju kegelapan yang penuh dengan ketidakpastian. Aku tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Aku tidak punya pekerjaan tetap sekarang, kami tidak punya tabungan yang cukup untuk hidup mewah, dan aku harus menjadi pria dewasa yang bisa menghidupi wanita yang sedang mengandung bayiku.
Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa siap. Aku tidak lagi harus memakai topeng yang dipasang oleh Ayah. Aku tidak lagi harus jadi 'pion' dalam ambisi bisnis Kak Andra. Aku hanya Arka. Arka yang mencintai Astrid. Dan itu... itu saja sudah cukup untuk saat ini.
Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta mulai memudar di spion tengah mobil. Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya, dan menancap gas lebih dalam. Masa lalu sudah tertinggal di belakang, dan meskipun masa depan masih samar, aku siap melangkahinya, entah seberapa sulit pun jalan yang harus kami tempuh nanti. Malam itu bukan hanya soal kepergian, tapi tentang kelahiran kembali seorang pria yang akhirnya berani memilih hidupnya sendiri.
...----------------...