NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

“Kau… apakah ini benar? Kau tidak sedang membohongiku, kan?”

“Apakah sampai detik ini, ketulusanku masih belum bisa kau rasakan?”

“Hanya saja… keraguanku masih ada sedikit.”

Meskipun di lubuk hatinya Dian sudah sadar ketulusan Joshua, dan rasa kagumnya perlahan berubah menjadi kasih sayang, ia belum berani mengambil keputusan besar. Ia ingin menunggu saat yang tepat—saat ia bisa menerima Joshua sepenuhnya tanpa sedikit pun keraguan tersisa.

“Baiklah, aku mengerti. Kau tidak perlu memaksakan diri. Kita masih punya waktu seminggu lagi sebelum berakhir masa perjanjian satu bulan itu—janjiku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Tapi kumohon satu hal saja: bisakah mulai sekarang kau tidak lagi menolak pemberian atau perhatianku, apa pun bentuknya?”

Dian mengangguk pelan setuju. Jika ia benar-benar ingin membuka hati perlahan, ia pun harus belajar menghargai setiap usaha yang dilakukan pemuda itu.

Sejak percakapan jujur itu, hubungan mereka berubah menjadi jauh lebih akrab. Tak ada lagi sikap menjauh atau penolakan. Saling memberi dan menerima kini menjadi jembatan yang semakin menguatkan ikatan di antara keduanya.

 Meskipun ia masih mempertahankan sikap profesional nya di kantor sebagai asisten Joshua.

“Maaf Pak, nanti malam Bapak harus menghadiri acara pengesahan proyek besar milik keluarga PT Zisomeone. Ini undangan khusus tamu kehormatan.”

“Baiklah. Kamu ikut bersamaku ya.”

“Tapi Pak… acara itu khusus untuk para pemimpin perusahaan. Bagaimana mungkin saya bisa ikut serta?”

“Semua orang yang hadir akan didampingi pasangannya. Masa aku sudah punya calon istri, tapi tidak kubawa dan kuperkenalkan?”

Wajah Dian seketika memerah padam mendengar candaan sekaligus pernyataan tegas itu.

“Hubungan kita kan belum sampai ke tahap itu… kita bahkan belum berpacaran saja.”

Joshua tersenyum lembut, lalu mendekatkan wajahnya perlahan hingga hanya berselang sedikit dari wajah Dian.

“Lalu mulai malam ini, mari kita mulai melangkah ke sana. Aku tidak akan memaksamu menjadi apa pun yang belum kau inginkan. Tapi biarkan semua orang tahu, bahwa hanya kamulah satu-satunya wanita yang ada di hatiku.”

Dian terdiam, jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Tatapan mata Joshua begitu teduh namun penuh keyakinan, membuat keraguan yang selama ini ia rasakan perlahan luluh sedikit demi sedikit.

“Baiklah… aku akan ikut bersamamu,” jawabnya pelan sambil menunduk menyembunyikan senyum kecil yang mulai terbit di bibirnya.

Malam itu, Dian tidak tahu bahwa kehadirannya di samping Joshua akan menjadi awal dari banyak hal baru—termasuk menghadapi orang-orang yang tidak menyukai kehadirannya di sisi pemuda itu.

Dian menunggu di rumah dengan perasaan gelisah. Malam ini adalah pertemuan para pemimpin perusahaan besar—acara yang sangat bergengsi. Ia bingung sekali harus mengenakan apa. Ia tetaplah asisten Joshua, meskipun pemuda itu mengajaknya hadir sebagai pasangannya.

Apa yang harus kulakukan… Di lemari hanya ada dua gaun yang kumiliki, warnanya pun terlalu mencolok dan sederhana sekali. Aku takut kehadiranku malah merusak nama baik dan wibawa Joshua, batinnya sambil membolak‑balikkan pakaian dengan cemas.

Saat ia masih sibuk memikirkan hal itu, tiba‑tiba ketukan pintu terdengar keras, membuatnya terkejut.

“Permisi, Nona. Ada kiriman khusus untuk Anda.”

Dian segera membuka pintu. Di sana berdiri seorang pelayan rapi membawa bungkusan besar yang tampak sangat indah dan berkelas.

“Ini… untuk saya?” tanyanya tak percaya.

“Benar, Nona. Di luar sudah menunggu kendaraan untuk mengantar Anda. Semua ini kiriman dari Tuan Joshua,” jawab pelayan itu sopan.

“Baiklah… terima kasih banyak,” ucap Dian sambil menerimanya dengan senyum tipis yang mulai muncul di bibirnya.

Baru saja ia masuk ke dalam kamar, ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.

Aku sangat menantikan, melihatmu mengenakan pemberianku ini.

Hati Dian terasa hangat dan tersentuh. Joshua selalu mengerti apa yang ia butuhkan tepat pada waktunya.

“Ya Tuhan… semua barang ini pasti sangat mahal. Nilainya jauh melampaui seluruh tabungan yang kumiliki saat ini,” gumamnya pelan. Di dalam bungkusan itu terdapat gaun indah, lengkap dengan sepasang sepatu dan perhiasan yang serasi.

Ia mengeluarkan semuanya satu per satu, lalu mulai mencoba dan menyesuaikan semuanya dengan dirinya.

Saat Dian berdiri di depan cermin mengenakan semuanya, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu membuatnya tampak lembut, cerdas, dan penuh keanggunan—cocok sekali berdiri di samping seseorang sehebat Joshua. Rambutnya yang hitam berkilau disusun rapi ke belakang, membiarkan wajahnya bersinar alami.

Dian turun ke bawah dengan penuh percaya diri. Di lantai dasar, Pak Edo dan Bu Sela sudah menunggunya.

"Akhirnya kalian berdua bisa tampil bersama. Papa sudah tidak sabar menantikan kabar baik," ujar Pak Edo.

"Benar begitu, Pa. Joshua juga sangat perhatian sekali kepada putri kita. Mama yakin tak lama lagi mereka pasti akan menentukan hari pernikahannya," tambah Bu Sela.

Bagi Dian, perkataan kedua orang itu hanyalah seperti angin yang lewat begitu saja—tidak ia hiraukan sedikit pun. Pak Edo dan Bu Sela pun merasa kesal melihat Dian berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun.

Ia langsung masuk ke dalam kendaraan yang dikirimkan Joshua, sama sekali tidak mempedulikan kedua orang tua itu yang masih terus mencaci makinya dari dalam rumah.

"Lihatlah, Pa? Anak itu sekarang menjadi sangat sombong. Bukankah dulu kamu bilang pernikahan ini hanyalah sekadar perjanjian saja? Tapi kenapa aku melihat Joshua begitu menyayangi Dian, sampai-sampai hal-hal sekecil apa pun tentangnya selalu diperhatikan?" tanya Bu Sela.

"Aku sendiri pun mulai ragu akan hal itu. Saat aku meneleponnya dan menanyakan rencana pernikahan, dia menjelaskan akan menunggu sampai Dian benar-benar siap menerima semuanya," jawab Pak Edo.

"Lihat kan, Pa? Sepertinya ada sesuatu yang berubah di antara mereka sejak di kantor. Mungkin pernikahan ini bukan lagi sekadar perjanjian seperti rencana awal. Anak itu sungguh beruntung sekali. Padahal seharusnya anak kandung kitalah yang akan dinikahkan dengan Joshua," ujar Bu Sela dengan nada iri hati.

"Hah... Setelah melihat bagaimana Joshua memperlakukannya, aku pun mulai berharap hal itu terjadi. Anak kandung kita jauh lebih pantas mendapatkan kebahagiaan sebesar itu, bukan Dian. Tapi rasanya kita sudah terlambat—sepertinya mereka berdua sudah saling jatuh cinta," keluh Pak Edo.

"Belum tentu terlambat... belum sampai kita mengubah keadaan ini sesuai keinginan kita. Jika nanti mereka tetap menikah, anggap saja Dian hanya sebagai pengganti sementara bagi anak kita."

Bu Sela tersenyum penuh niat jahat selagi mengutarakan semua isi pikiran jahatnya itu.

"Apa maksud perkataan mu?"

"Kamu akan tahu nanti pa. Dan saat putri kita ada di sana, hal apapun akan semakin mudah bagi kita. Saat ini kita biarkan Joshua jatuh cinta lebih dalam pada Dian. Karena hal itu justru lebih bagus."

"Benarkah?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!