NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

...~Es Dawet Dan Es Buah Serut~...

"Mas, besok-besok kalau ke pasar harus sama aku," Naira lebih dulu memecah keheningan mereka semenjak melangkah keluar dari los timur.

Langkah kaki keduanya kini mengarah ke area luar pasar yang agak lengang.

Arka melirik sekilas tanpa mengubah temponya. "Kenapa?"

"Dan jangan langsung ambil keputusan bayar sendiri."

Langkah tegap Arka berhenti sesaat. Ia menoleh, menatap calon istrinya bingung. "Ada yang salah?"

"Kamu enggak nego, Mas."

"Memang harus nego?"

Naira membulatkan bibirnya. "Mas, kalau kita enggak nego di pasar, bisa dihajar sama harga yang enggak wajar!"

"Kurasa harga tadi wajar."

"Wajar gimana? Ongkosnya saja bisa buat beli beras berapa kilo itu! Minyak tanah juga bisa dapat lebih dari seliter!" cerocos Naira berapi-api, membela prinsip kehematan kaum hawa.

Mendengar gerutuan panjang itu, Arka justru terkekeh pelan. Sebuah pemandangan langka yang membuat Naira langsung mencebikkan bibirnya. Alis gadis itu bertaut dalam dengan rona wajah yang perlahan memerah kesal karena merasa tidak didengarkan.

Melihat respons Naira, Arka mengangguk kecil, mengalah pada radar ekonomi calon istrinya. "Baik. Besok-besok, kalau ke pasar aku harus sama kamu."

Naira memalingkan wajahnya ke arah lain. Seutas senyum kemenangan terbit di bibirnya.

"Mau beli apa lagi?" tawar Arka kemudian.

Mereka baru saja sampai ke area depan pasar, melangkah menuju parkiran motor. Suasana pasar yang tadinya pengap kini terasa jauh lebih lengang karena matahari kian condong ke barat.

"Pengen es."

Arka menoleh ke arah Naira. "Es apa?"

"Es buah serut."

"Di mana?"

Naira menunjuk ke arah seberang jalan, tepat di dekat gapura masuk sebuah gang perkampungan. "Itu, Mas."

Arka memandang ke arah yang dimaksud. Sebuah gerobak sederhana dengan terpal biru di belakangnya.

"Ya sudah, ayo ke sana."

Angin berembus agak kering. Cuaca hari ini memang cukup terik, tetapi Arka dengan sabar tetap menuntun sepeda motornya pelan-pelan di sisi jalan. Beberapa kali lengan kekarnya memastikan posisi Naira tetap aman berada di sampingnya, terlindung dari laju kendaraan lain.

"Bu, es serut buahnya dua ya. Makan di sini," pesan Naira begitu mereka sampai di bawah terpal biru.

"Aduh, Mbak. Ini tinggal satu porsi saja," sahut si Ibu penjual.

Naira mengerjap sesaat. Netranya melihat ke arah toples kaca yang memang hanya menyisakan sedikit potongan buah di dasarnya. Ia langsung menatap ragu ke arah Arka yang baru saja menyusul masuk ke area warung gerobak.

"Beli saja," ucap Arka menenangkan.

"Mas Arka?"

"Aku beli es dawet di sebelah."

Arka kembali keluar lebih dulu, sementara Naira melanjutkan pesanan es serut buahnya. Beberapa saat kemudian, ketika Naira masih duduk di bangku kayu panjang sesekali dengan mengipaskan tangan demi menghalau gerah, Arka kembali masuk membawa satu mangkok kecil es dawet.

Ketika minuman itu diletakkan tepat di depan mata Naira, perhatian gadis itu justru langsung teralih. Netranya jatuh pada potongan-potongan buah nangka kekuningan yang terlihat manis menggoda di atas gundukan es. Aroma harum khas nangka yang pekat dan manis seketika tercium memenuhi rongga dada.

Arka yang menyadari arah pandang itu menyodorkan sendoknya sedikit. "Kamu mau nyicip?"

Naira spontan meneguk ludahnya pelan, mendadak salah tingkah karena ketahuan. "Enggak usah, Mas."

Namun, Arka tidak menarik kembali tangannya. Pria itu justru mengambil satu suapan dawet; menyendok cendol hijau, ketan yang terlihat lembut, siraman santan gula merah, serta irisan nangka yang cukup banyak.

"Icip saja," ulang Arka dengan suara yang tenang namun tak membantah.

Seperti mendapat godaan tak kasat mata, Naira akhirnya membuka mulut. Ia menerima suapan itu dengan kegugupan yang mendadak membuat ritme jantungnya kembali menggila. Rasa manis gula jawa dan gurihnya santan lumer di lidahnya, berbaur sempurna dengan debar-debar aneh yang kian merayap naik ke pipinya.

Sesaat setelahnya, es buah Naira akhirnya disajikan setelah sang penjual sempat sibuk melayani pembelian dalam bungkus plastik yang berjumlah besar.

Es serut yang menggunung memenuhi mangkok, siraman sirup kental merah, susu, serta beberapa potong buah, serutan blewah, dan irisan jeli tampak tercampur baur menggoda. Naira mengambil satu sendok penuh lalu menyuapnya.

Rasanya jelas berbeda dengan es dawet yang baru saja ia nikmati—dari tangan Arka. Sementara di seberangnya, Arka memperhatikan ekspresi puas gadis itu dengan seulas senyum kecil yang samar.

"Kelihatan enak banget."

"Ini enak banget, Mas. Dulu pas SMA sering mampir ke sini kalau pulang sekolah," cerita Naira.

"Sama siapa?"

"Teman-teman."

"Lelaki?"

Naira malah terkekeh mendengar nada selidik yang disembunyikan dengan sangat rapi itu. "Banyak, lelaki maupun perempuan."

Arka kembali menyuap es dawetnya dengan tenang dan tidak membalas lagi untuk beberapa saat. Suasana di bawah terpal biru itu mendadak hening, hanya menyisakan suara sendok yang beradu dengan mangkok kaca.

"Nai, kamu yakin sama aku?" tanya Arka tiba-tiba, memecah kesunyian dengan pertanyaan yang terhitung berat untuk situasi yang santai ini.

Naira mendongakkan kepala, menatap langsung ke dalam netra gelap calon suaminya. "Yakin," ucapnya mantap, tanpa ada rasa malu atau ragu seperti semalam.

"Beneran?"

"Mas Arka kenapa, sih?" Gadis itu kembali menjawab berapi-api, karena keyakinannya dipertanyakan. "Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik, Mas Arka sendiri yakin sama aku?"

Arka hanya mengangkat satu sudut bibirnya tipis. Tatapannya turun ke arah kantong beludru berisi sepasang cincin yang semenjak tadi ia bawa dari toko, sebelum akhirnya kembali menatap Naira. "Yakin. Kalau enggak yakin, mungkin cincin ini enggak bakal kita beli."

Deg!

Jantung Naira berdegup kencang. Netranya seketika terkunci pada kantong di tangan Arka. Kalimat pria itu sederhana, tetapi entah kenapa terdengar begitu mengikat dan mutlak di telinganya.

"Benar juga," cicit Naira pelan, berusaha menguasai detak jantungnya yang mulai karam.

Arka meletakkan sendoknya, bersedekap. "Kamu pernah pacaran, Nai?"

"Belum."

"Oh..."

Merasa tidak adil jika hanya dirinya yang diinterogasi, Naira memberanikan diri menatap balik. "Kalau Mas Arka sendiri?"

"Sekali."

Naira langsung membulatkan matanya, melupakan es buah di depannya. "Kapan?"

"Kurasa tiga tahun lalu."

Detik itu juga, ritme jantung Naira bergerak semakin kencang. Ada rasa sesak yang tiba-tiba merayap di dadanya, terasa sedikit panas dan tidak nyaman. Sosok perwira di depannya ini ternyata sudah pernah memberikan hatinya pada perempuan lain sebelum dirinya hadir.

Arka tidak menyahut lagi. Pria itu tampak kembali tenang dengan es dawetnya, sementara Naira masih sibuk bergelut dengan gemuruh tidak nyaman yang kian memenuhi dadanya. Mereka menikmati sisa es di mangkok masing-masing dalam diam yang mendadak menggantung kaku. Rasa manis es buah di lidah Naira bahkan mendadak hambar.

"Mas, ayo pulang," ajak Naira lebih dulu, meletakkan sendoknya meski es di mangkoknya belum sepenuhnya habis.

Seolah tidak ingin terlihat lemah ataupun menunjukkan bahwa suasana hatinya baru saja hancur lebur karena cemburu, Naira bergegas berdiri. Ia melangkah cepat ke arah gerobak, merogoh dompet kainnya, lalu membayar semua totalan es mereka secara kilat.

Setelahnya, tanpa menunggu Arka atau menoleh lagi ke belakang, Naira berjalan pergi begitu saja meninggalkan area kedai terpal biru menuju tempat sepeda motor diparkir. Meninggalkan Arka yang sempat terpaku dengan mangkok dawet yang masih tersisa sedikit.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!