NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dua Sisi Kehidupan

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden mewah setinggi langit-langit penthouse memaksa Viona untuk membuka matanya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya, disertai rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya. Viona bergerak perlahan, merasakan halusnya seprei sutra yang membungkus tubuhnya yang polos di balik selimut tebal.

Ingatan tentang malam tadi seketika berputar di otaknya seperti rol film. Sentuhan demi sentuhan, kecupan menuntut yang membakar kulitnya, dan bagaimana Arkan Mahendra memperlakukannya dengan gairah yang begitu intens namun tanpa menyertakan setitik pun kelembutan cinta. Pria itu benar-benar mengambil apa yang telah dia beli dengan uang ratusan juta rupiah.

Viona menoleh ke samping tempat tidur. Kosong. Kasur di sebelahnya sudah mendingin, menandakan bahwa sang pemilik kamar telah lama pergi. Ada sebersit rasa lega sekaligus perih yang aneh di sudut hati Viona. Dia segera bangun, menahan rasa nyeri di tubuhnya, lalu melangkah menuju kamar mandi. Saat menatap cermin, Viona memejamkan mata sesaat melihat beberapa tanda kemerahan yang tertinggal di tulang selangkanya—bukti kepemilikan mutlak dari seorang Arkan Mahendra.

Setelah berganti pakaian dengan terusan sederhana yang telah disiapkan di lemari khusus untuknya, Viona berjalan keluar kamar. Di atas meja makan marmer, sebuah sarapan mewah sudah tersaji hangat bersama sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang kaku namun tegas.

Supir pribadi akan mengantarmu ke mana pun kamu butuh pergi hari ini. Jangan terlambat kembali ke apartemen sebelum jam delapan malam. – Arkan.

Viona meremas kertas itu pelan. "Jadwal yang ketat untuk sebuah barang pajangan," bisiknya miris pada diri sendiri.

Namun, dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Hari ini dia harus bekerja. Viona adalah seorang staf administrasi biasa di sebuah perusahaan manufaktur kelas menengah. Dia membutuhkan pekerjaan itu untuk menjaga agar kehidupan normalnya tidak sepenuhnya hancur, sekaligus menyembunyikan status kelamnya dari dunia luar.

Tepat jam delapan pagi, Viona tiba di kantornya setelah diantar oleh Doni—supir pribadi Arkan—yang menurunkannya dua blok sebelum gedung kantor agar tidak memancing kecurigaan rekan kerjanya. Viona sengaja mengenakan kemeja berkerah tinggi untuk menutupi jejak-jejak malam tadi di lehernya.

"Pagi, Viona! Kamu kok pucat sekali? Sakit?" sapa Siska, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Viona di divisi administrasi, begitu Viona duduk di kubikalnya.

Viona memaksakan sebuah senyuman tipis. "Pagi, Sis. Ah, tidak apa-apa. Hanya agak kurang tidur karena menjaga Ibu kemarin malam."

"Oh ya, bagaimana keadaan Ibumu? Utang-utang yang kamu ceritakan itu... apa sudah ada jalan keluarnya?" tanya Siska dengan gurat kecemasan yang tulus di wajahnya.

Viona menegang sesaat. Lidahnya terasa kelu untuk berbohong pada sahabatnya sendiri. "Sudah... sudah beres, Sis. Ada seorang... kerabat jauh yang berbaik hati meminjamkan uang untuk melunasi semuanya dan memindahkan Ibu ke rumah sakit yang lebih baik."

"Syukurlah kalau begitu! Aku ikut senang mendengarnya. Sumpah, kemarin aku ikut jantungan memikirkan ancaman para preman itu," ucap Siska lega sambil menepuk pundak Viona, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.

Viona mengembuskan napas panjang. Maafkan aku, Siska. Aku terpaksa berbohong, batinnya perih.

Hari berjalan seperti biasa, penuh dengan rutinitas mengetik dokumen dan memeriksa laporan keuangan yang membosankan. Namun, fokus Viona buyar ketika jam makan siang tiba. Suasana kantor mendadak riuh dan kasak-kusuk terdengar di setiap sudut ruangan. Beberapa karyawati tampak merapikan riasan wajah mereka dengan heboh.

"Ada apa sih? Kok semuanya heboh banget?" tanya Viona pada Siska yang baru kembali dari toilet.

"Kamu belum tahu, Vi? Hari ini perusahaan kita kedatangan tamu agung! Investor utama yang baru saja membeli saham mayoritas perusahaan ini sedang melakukan inspeksi mendadak!" bisik Siska dengan mata berbinar-binar. "Katanya dia itu CEO muda yang super tampan, kaya raya, tapi dinginnya minta ampun. Namanya Arkan Mahendra!"

DEG!

Jantung Viona seakan merosot hingga ke perutnya. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa membeku. Arkan? Di sini? Sebelum Viona sempat mencerna rasa syoknya, pintu kaca utama divisi administrasi terbuka lebar. Beberapa jajaran direksi perusahaan berjalan dengan sikap membungkuk hormat, mengawal seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan setelan jas formal tiga potong berwarna biru gelap yang sangat mewah.

Itu Arkan. Pria yang beberapa jam lalu mengungkungnya di atas tempat tidur dengan gairah yang membara.

Aura dominan dan intimidatif yang dipancarkan Arkan seketika membungkam seluruh ruangan. Pria itu melangkah dengan dagu terangkat, mendengarkan penjelasan singkat dari direktur utama dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang setajam elang menyapu seluruh kubikal karyawan.

Viona yang ketakutan setengah mati langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk dengan layar komputernya. Dia berdoa dalam hati agar Arkan tidak mengenalinya atau setidaknya berpura-pura tidak mengenalnya di tempat umum, sesuai dengan poin kontrak yang mereka sepakati semalam.

Namun, takdir tampaknya sedang senang mempermainkan Viona. Langkah sepatu pantofel yang mahal itu terdengar berhenti tepat di koridor tengah divisi administrasi, hanya berjarak dua meter dari kubikal milik Viona.

"Bagaimana performa divisi ini selama kuartal terakhir?" suara berat dan bariton Arkan menggema di ruangan yang sunyi, membuat bulu kuduk Viona meremang.

"Sangat stabil, Tuan Mahendra. Semua staf kami bekerja dengan sangat efisien," jawab sang manajer dengan nada gugup.

Arkan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam justru terpaku pada sosok gadis yang sedang menunduk kaku di depannya. Sudut bibir Arkan terangkat seulas, membentuk seringai tipis yang hampir tak terlihat oleh orang lain. Pria itu sengaja melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kubikal Viona, membuat aroma parfum maskulinnya yang familier langsung mengepung indra penciuman gadis itu.

"Siapa nama staf yang ini?" tanya Arkan dingin, sambil menunjuk dokumen di atas meja Viona dengan jari telunjuknya yang mengenakan cincin berlogo keluarga Mahendra.

Viona terpaksa mendongak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Dia menatap mata hitam kelam Arkan yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang sarat akan kilatan posesif dan kepuasan terselubung.

"S-Saya... Viona, Tuan," jawab Viona dengan suara sesenyap mungkin, mencoba menjaga profesionalitasnya yang hampir runtuh.

Arkan menatap leher Viona yang tertutup rapat oleh kerah kemeja tinggi, tahu persis apa yang sedang disembunyikan gadis itu di baliknya. Kilatan gairah terlarang kembali melintas di mata sang CEO dalam sekejap sebelum kembali berubah dingin.

"Viona," Arkan mengulang nama itu dengan pelan, seolah sedang mengecap rasa manis di lidahnya. "Pastikan laporan kerja dari divisimu dikirim ke meja sekretaris pribadiku sore ini juga. Aku tidak suka keterlambatan."

"Baik, Tuan Mahendra," lirih Viona sambil kembali menunduk.

Arkan kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Viona yang lemas dengan punggung yang basah oleh keringat dingin. Begitu rombongan itu menghilang, Siska langsung menyenggol lengan Viona dengan heboh.

"Wah, Viona! Kamu beruntung banget bisa diajak bicara langsung sama Tuan Arkan! Tapi aslinya beneran bikin merinding ya tatapannya!" seru Siska tanpa tahu badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya.

Viona hanya bisa tersenyum getir. Dia tahu, kunjungan mendadak Arkan ke kantornya bukan sekadar urusan bisnis biasa. Pria itu sedang menegaskan kekuasaannya. Pria itu sedang mengingatkannya bahwa ke mana pun Viona pergi, dia tidak akan pernah bisa lari dari cengkeraman sang CEO dingin tersebut.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!