NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: LABIRIN PIPA DAN GEMA MEMORI

​Suara mesin pres di aula pemurnian perlahan memudar di belakang kami, namun keheningan yang menggantikannya justru terasa jauh lebih mengancam. Kami sekarang merayap di dalam pipa raksasa yang berfungsi sebagai jembatan tertutup menuju zona pemrosesan lebih dalam. Di sini, suhu udara meningkat drastis hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu bara yang panas. Keringatku mengucur deras, membasahi baju rumah sakit yang sudah compang-camping dan berlumuran oli hitam.

​"Sersan, kenapa suasananya berubah? Rasanya sepi sekali di sini, tapi bulu kudukku tidak bisa berhenti berdiri," bisikku. Suaraku menggema di dinding pipa logam yang melengkung, memantul bolak-balik menciptakan polifoni yang aneh.

​Sersan tidak langsung menjawab. Dia berjalan di depanku dengan langkah yang tetap waspada, punggungnya tegap seperti batu karang yang tak bisa hancur oleh waktu. "Kita sedang masuk ke area 'Filter Emosi', Haidar. Baron bukan hanya menyerap tenaga jiwamu untuk menggerakkan mesin, tapi juga menyaring memori yang dianggap tidak berguna bagi sistem. Hati-hati, udara di sini mengandung residu uap yang bisa memicu halusinasi tajam."

​Aku mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah "Filter Emosi". Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, aku mendengar suara yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

​"Mas... kenapa belum pulang? Masakannya sudah dingin, lho."

​Aku tersentak hebat. Aku menoleh ke belakang dengan gerakan refleks yang cepat, mengabaikan rasa sakit di leherku. Kosong. Hanya lorong pipa yang gelap dengan uap tipis yang merayap di lantai seperti ular perak. Itu suara Rina, istriku. Suaranya terdengar sangat nyata, persis dengan nada lembutnya saat dia menungguku pulang kerja di teras rumah kami yang sederhana.

​"Rina?" panggilku lirih, nyaris tak terdengar.

​"Jangan menoleh, Haidar! Tetap fokus pada langkahmu!" bentak Sersan tanpa sedikit pun menghentikan ritme jalannya. "Itu bukan istrimu. Itu adalah residu memori yang ditarik secara paksa oleh tekanan uap di distrik ini. Jika kamu berhenti dan menanggapi suara itu, jiwamu akan kehilangan sinkronisasi dengan kenyataan dan terjebak di dalam dinding pipa ini selamanya."

​Aku mencoba menulikan telingaku, mencoba memikirkan hal lain, tapi suara itu justru semakin jelas dan berlipat ganda. Sekarang bukan hanya suara Rina, aku mendengar suara tawa Kinaya yang melengking ceria. Suara kecilnya yang sedang mengeja huruf-huruf di buku cerita bergambar yang kubelikan tahun lalu. Rasa rindu yang tadinya menjadi kekuatanku saat melawan Overseer, kini berbalik menjadi belati yang menusuk-nusuk kesadaranku dari dalam.

​"Ayah... Ayah di mana? Kenapa lampunya mati? Kinaya takut sendirian..."

​Langkahku goyah. Aku terjatuh berlutut di atas lantai pipa yang panas, menekan kedua telingaku dengan tangan hingga terasa sakit. "Hentikan... kumohon hentikan! Ini tidak mungkin nyata!"

​Tiba-tiba, dari dinding pipa yang berkarat, muncul wajah-wajah yang terbentuk dari kumpulan uap panas yang membumbung. Wajah Rina yang menangis tersedu, wajah Kinaya yang menatap kosong ke arahku, hingga wajah ibuku yang tampak sedang merapal doa dengan linangan air mata di samping tempat tidur rumah sakit yang putih bersih. Mereka semua seolah-olah menyalahkanku atas kehancuran yang terjadi pada keluarga kami.

​"Ini salahmu, Haidar... Seharusnya kamu lebih teliti mengecek kendaraan itu..."

"Kamu meninggalkan kami demi ambisi yang sia-sia..."

​"ENGGAK! AKU NGGAK PERNAH INGIN INI TERJADI!" teriakku histeris, suaraku pecah di tengah lorong logam itu.

​Belati hitam di pinggangku bergetar hebat, mengeluarkan hawa panas yang membakar kulit pahaku seolah ikut bergejolak dengan kekacauan mentalku. Namun, kali ini energinya tidak terkendali. Aku tidak bisa menggunakannya karena pikiranku sedang tercerai-berai. Di saat pertahanan mentalku berada di titik nadir, makhluk-makhluk baru muncul dari celah-celah pipa yang bocor. Mereka tidak besar seperti Overseer, tapi wujudnya jauh lebih mengerikan bagi perasaanku.

​Mereka disebut "The Echoes".

​Tubuh mereka transparan, terbuat dari gas pekat yang terus berubah bentuk mengikuti denyut ketakutan terdalam korbannya. Salah satu Echo mendekatiku, mengambil wujud Kinaya yang bajunya berlumuran darah, mirip dengan adegan kecelakaan dalam mimpi burukku.

​"Ayah... kenapa Ayah membiarku menunggu begitu lama?" makhluk itu bicara dengan suara anakku yang terisak.

​Aku terpaku, tanganku lumpuh di atas gagang belati. Bagaimana mungkin aku bisa menebas sosok yang menjadi alasan tunggalku untuk tetap bernapas, meskipun logikaku berteriak bahwa itu hanyalah tipuan keji dari Niskala?

​BUAK!

​Sebuah tendangan keras dari sepatu boot militer menghantam Echo itu hingga terpental jauh dan hancur kembali menjadi kepulan gas tak berbentuk. Sersan berdiri kokoh di depanku, matanya memancarkan amarah yang sangat dingin, seolah dia sudah terbiasa mematikan perasaannya demi bertahan hidup.

​"BODOH! Kamu mau membiarkan dirimu mati hanya karena uap sialan ini?!" Sersan menarik kerah bajuku dengan kasar, memaksaku berdiri dan menyandarkanku ke dinding pipa yang panas hingga aku meringis kesakitan. "Dengar, Haidar! Semua yang kamu lihat di sini adalah sampah penglihatan! Ini adalah cara distrik Baron untuk memecah fokusmu. Mereka tahu mereka tidak bisa mengalahkanmu dengan kekuatan fisik setelah kamu menyerap kekuatan Penjaga, jadi mereka menyerang akal sehatmu!"

​"Tapi Sersan... itu Kinaya... suaranya..." aku terisak, benar-benar berada di ambang kegilaan.

​Sersan menamparku dengan sangat keras. PLAK! Rasa panas menjalar di pipiku, namun tamparan itu justru membuat fokusku kembali dari kabut delusi.

​"Kinaya yang asli ada di dunia nyata, sedang menggenggam tanganmu yang kaku di atas kasur rumah sakit! Dia menunggu ayahnya bangun! Jika kamu menyerah pada hantu uap ini, dia akan benar-benar kehilangan ayahnya untuk selamanya! Apa itu yang kamu inginkan?!" gertak Sersan. "Sekarang, gunakan matamu! Jangan lihat wujud fisiknya, lihat aliran energinya! Di mata Niskala-mu, mereka hanyalah gumpalan parasit emosi!"

​Aku menarik napas panjang dan dalam, mencoba meredam gemuruh di dadaku. Aku memejamkan mata, mengunci rapat pintu memoriku dari suara-suara palsu itu, dan fokus sepenuhnya pada denyut energi di mataku.

​Mata Niskala... Aktif!

​Duniaku seketika berubah menjadi monokrom, hitam dan putih. Saat aku melihat ke arah "Kinaya" yang menangis itu, wujud anakku menghilang sepenuhnya. Di pandanganku, yang ada hanyalah gumpalan uap berwarna ungu kusam yang memiliki inti kecil berbentuk roda gigi hitam di tengahnya. Itu bukan anakku. Itu hanyalah parasit emosi yang haus akan energi kesedihanku.

​"Aku mengerti sekarang..." bisikku dengan suara yang jauh lebih tenang. "Mereka bukan keluargaku. Mereka hanyalah debu mesin yang mencoba mencuri jiwaku."

​Aku menghunuskan belati hitamku. Kali ini, auranya tidak meluap-luap liar seperti saat aku mengamuk di aula pemurnian, tapi lebih stabil, tipis, dan sangat tajam. Aku bergerak maju dengan gerakan yang lebih terukur, menebas inti roda gigi di dalam gumpalan uap ungu itu dengan satu ayunan presisi.

​SHIIIIING!

​Echo itu mengeluarkan lengkingan yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya lenyap tak bersisa. Aku terus bergerak di dalam labirin pipa itu, memburu setiap gumpalan uap yang mencoba mendekat. Sersan hanya mengangguk setuju, dia menjaga punggungku dengan kewaspadaan penuh sembari sesekali menghancurkan pipa-pipa kecil yang mencoba menyemprotkan gas halusinasi ke arah kami.

​Pertempuran di dalam pipa ini tidak melelahkan secara fisik, tapi rasanya sangat menguras jiwaku. Setiap kali aku menebas "halusinasi" itu, aku merasa seolah-olah sedang memotong bagian dari memoriku sendiri agar tidak bisa lagi digunakan sebagai senjata oleh musuh. Aku harus menjadi tega pada diriku sendiri agar bisa tetap melangkah.

​Setelah waktu yang terasa sangat lama merangkak di dalam kegelapan logam, kami akhirnya sampai di sebuah pintu gerbang besar yang terbuat dari tembaga murni yang sudah teroksidasi. Di atas gerbang itu tertulis sebuah peringatan dalam bahasa kuno yang kini bisa kubaca berkat kekuatan Sang Penjaga yang menyatu di saraf mataku: "Tinggalkan Memorimu, Masuki Kehampaan Kerja."

​"Ini adalah gerbang menuju Sektor Logistik," ucap Sersan sambil mencoba memutar tuas pintu yang berukuran raksasa itu. "Di balik ini, rintangan mental akan berkurang, tapi rintangan mekanis yang nyata akan meningkat berkali lipat. Perjalanan kita di Baron masih sangat jauh, Haidar. Kita baru saja mengintip sedikit dari isi distrik ini."

​Aku menyandarkan tubuhku di pintu tembaga itu, mencoba mengatur napas yang masih terasa berat. Mataku kembali terasa panas, dan aku merasakan tetesan cairan hangat mengalir dari sudutnya. Darah. Lagi.

​"Seberapa luas tempat ini, Sersan? Rasanya langkahku sudah ribuan, tapi gerbangnya tidak habis-habis," tanyaku lirih.

​"Niskala tidak punya batas yang masuk akal, Haidar. Baron ini luasnya mungkin melebihi gabungan seluruh kota di provinsi tempat tinggalmu dulu. Kita harus melewati banyak sektor besar lagi sebelum bisa mencapai menara pusat tempat penguasa distrik ini bersembunyi. Sektor Logistik, Perakitan, hingga Penguapan—semuanya harus kita babat habis jika kamu ingin benar-benar pulang."

​Pintu tembaga itu akhirnya terbuka dengan suara derit yang panjang dan menyayat. Di depan kami, terhampar sebuah area gudang logistik yang luasnya sejauh mata memandang, penuh dengan ban berjalan (conveyor belt) raksasa yang bergerak liar dan ribuan peti logam yang melayang di udara ditarik oleh rantai-rantai tak kasat mata.

​Aku menatap hamparan wilayah yang seolah tak berujung itu. Aku mulai paham sekarang. Ini bukan sekadar perjalanan singkat. Ini adalah pengembaraan panjang yang akan memakan ribuan langkah, puluhan pertarungan, dan mungkin ribuan tetes air mata serta darah. Niskala bukan tempat yang ingin membuatmu menang dengan cepat. Tempat ini ingin melihatmu hancur secara perlahan, lapisan demi lapisan, hingga tak ada lagi kemanusiaan yang tersisa dalam dirimu.

​"Mari kita mulai, Sersan. Sektor Logistik menanti," ucapku dengan tatapan yang kini jauh lebih dingin dan mati.

​Kami melangkah masuk ke dalam kekacauan mekanis Sektor Logistik, siap menghadapi ribuan tantangan baja lainnya sebelum bisa mencicipi kekuatan Boss sesungguhnya yang masih sangat jauh di depan sana.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!